Bijak Menggunakan Media Sosial di Masa Pandemi Covid-19

 

Perkembangan teknologi komunikasi seiring dengan perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, terutama sejak kemunculan internet. Kehadiran internet telah membuat perubahan besar dalam kehidupan manusia, dimana dunia berada dalam genggaman kita. Internet jugalah yang mempengaruhi perkembangan media sosial. Melalui media sosial kita dapat memberikan informasi kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun tanpa ada batasan ruang dan waktu. Hampir semua kalangan masyarakat mengenal dan menggunakan media sosial, arus informasi di media sosial yang begitu tinggi sehingga tidak dapat dibendung lagi. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018, menginformasikan masyarakat Indonesia yang terhubung dengan internet bertambah dari 143,26 jiwa menjadi 171,17 juta orang di tahun 2019. Sayangnya penggunaan internet khususnya media sosial digunakan untuk menulis rumor, kabar hoax, manipulasi, penipuan cyber crime dan perang informasi atau melanggar privasi orang lain.

Banyaknya media sosial yang dapat diakses oleh masyarakat sering kali menimbulkan sejumlah keresahan. Hal ini dikarenakan masih kurangnya edukasi dan rendahnya literasi informasi yang dimiliki masyarakat, terutama di tengah pandemi saat ini. Seperti yang kita ketahui saat ini, dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Dilansir di situs resmi Covid-19 di Indonesia sendiri sampai dengan awal Oktober 2020 terdapat 340.622 jiwa yang terkonfirmasi positif Covid-19, sebanyak 263.296 jiwa dinyatakan sembuh, dan 12.027 jiwa meninggal dunia. Terkadang  informasi yang beredar di masyarakat tidak sesuai dengan fakta dilapangan. Untuk itu, masyarakat harus cermat dan teliti setiap menerima informasi.

Di zaman sekarang, media sosial sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, dimana media sosial menjadi salah satu wadah komunikasi dan penyebaran informasi yang banyak digunakan oleh masyarakat. Banyaknya jejaring sosial yang tersedia seperti facebook, whatsapp, twitter, telegram, Instagram, tiktok dan lain sebagainya, sangat menguntungkan masyarakat, karena dapat mempercepat penyebaran informasi serta masyarakat dapat berinteraksi dengan mudah tanpa memikirkan jarak dan waktu walaupun interaksi hanya satu arah.

Adanya anjuran Work From Home (WFH) dari pemerintah di masa pandemi Covid-19, menjadikan media sosial sangat penting serta angin segar bagi masyarakat. Mengapa demikian? Karena, walaupun tidak dapat berinteraksi dan bersosialiasi secara langsung kita masih bisa berkomunikasi meskipun secara virtual. Artinya, interaksi sosial baik itu antar individu atau kelompok masih dapat dilakukan. Media sosial juga dapat dijadikan sebagai penghibur di tengah kejenuhan masyarakat, salah satunya dengan memanfaatkan kehadiran youtube.

Bekerja dari rumah bukan berarti kita tidak dapat berkreativitas, beragam bentuk media sosial yang ada dapat digunakan untuk berkreativitas serta berekspresi, misalnya dengan menulis artikel atau cerita di blog. Kehadiran media sosial juga dapat mempermudah proses belajar mengajar baik itu oleh guru maupun dosen, yaitu dengan memanfaatkan berbagai aplikasi sepeti zoom meeting, google meeting bahkan whatsapp. Maraknya bisnis online yang merupakan salah satu keuntungan dari hadirnya media sosial di tengah-tengah masyarakat, melalui media sosial produsen dapat menyalurkan atau memasarkan hasil karya atau barang dagangannya.

Hal yang paling memprihatinkan dengan kehadiran media sosial adalah penyebaran informasi bohong atau hoax, terutama di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Secara tidak langsung berita hoax atau bohong tersebut dapat meresahkan masyarakat umum, terutama masyarakat awam yang ketika mendapatkan informasi langsung ditelan begitu saja tanpa adanya penelusuran lebih lanjut tentang kebenarannya. Penyebaran berita-berita hoax atau ujaran kebencian melalui media sosial tidak jarang dilakukan oleh perorangan atau kelompok orang yang tidak bertanggung jawab, seperti kasus baru-baru ini yang diungkap oleh kepolisian terkait dengan penolakan Undang-Undang Cipta Kerja yang berujung dengan kerusuhan dan anarkisme.

Selain itu, adanya informasi yang menyatakan bahwa Covid-19 tidak menyebabkan orang meninggal dunia serta beredarnya informasi terkait dengan harga vaksin Covid-19 yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Banyaknya informasi yang disebarluaskan melalui media sosial menuntut masyarakat untuk meningkatkan kemampuan literasi dan berpikir kritis agar dapat mengolah informasi yang diterima, sehingga tidak terprovokasi dari paparan berita hoax terutama di masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia seperti yang kita rasakan saat ini.

Melalui peningkatan literasi, masyarakat dapat mengetahui apakah berita atau informasi yang diperoleh itu benar atau hoax. Berita atau informasi hoax biasanya dapat kita lihat melalui sumber informasi yang tidak jelas, informasi yang disebarkan menyudutkan pihak tertentu, memaksa pembaca untuk menyebarkan informasi tersebut, apabila ada gambar atau video maka gamar atau video yang muncul tidak tampak jelas dan tidak ada informasi pasti kapan kejadian itu terjadi.                            

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menerima informasi agar tidak terjebak dalam berita hoax, antara lain: 1) Jangan mudah percaya terhadap kabar atau informasi yang datang dari media sosial tanpa memeriksa terlebih dahulu kebenarannya; 2) Jangan menyebarkan kembali informasi yang kita terima tanpa diketahui sumber dan kevalidan berita tersebut; 3) Jangan mudah terprovokasi dengan ajakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain yang disebarluaskan melalui media social; 4) Bila sudah merasa bingung dan cemas dengan lalu lintas informasi di media sosial, sebaiknya membatasi diri dari media social; 5) Untuk mendapatkan informasi yang valid terkait Covid-19, carilah informasi yang akurat dengan memfollow akun resmi pemerintah atau badan resmi lainnya yang kredibel seperti web World Health Organization (WHO).      

Penulis: 
Darma, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
Sumber: 
DKPUS BABEL