Inisiatif Pustakawan dalam Pemanfaatan Layanan Storytelling di Masa Covid-19

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi setiap manusia. Pembatasan aktivitas, rutinitas dan efektivitas dalam menjalankan roda kehidupan terganggu dengan adanya wabah yang melanda dunia. Wabah atau pandemi Covid-19, yang pertama kali bermula di Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, China merupakan virus jenis baru yang hingga saat ini telah mewabah hampir semua negara, termasuk Indonesia. Akibatnya, hampir setiap negara mengambil kebijakan seperti menutup pintu masuk negara, menjaga jarak atau karantina sosial, pembatasan sosial baik berskala kecil ataupun besar.

Dengan kebijakan dan inisiasi itulah setidaknya diyakini dapat memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Hal ini, mampu mengubah gaya dan pola hidup masyarakat secara global. Tetap bersilaturahmi meskipun tak berjabat tangan, tetap bertemu meskipun hanya melalui panggilan video, dan tetap belajar serta bekerja mesikupun hanya di rumah. Semua telah dilakukan sebagai upaya menjaga satu sama lain. Adapun dampak yang dihasilkan sangat luar biasa, salah satu contohnya sekolah diliburkan hingga waktu yang tidak pasti. Salah satu tempat yang juga ikut terdampak ialah perpustakaan. Perpustakaan apapun dan di mana pun itu, pada masa pandemi tidak bisa membuka pintunya untuk memberikan layanan. Dengan kemajuan teknologi informasi yang makin baik saat ini, perpustakaan harus tetap berdiri di depan memberikan informasi-informasi bermanfaat kepada masyarakat. Istilahnya, pagar sekolah boleh tutup, namun perpustakaan tidak boleh tutup. Maksudnya, bukan berarti pustakawan harus dipaksa bekerja di tengah pandemi, akan tetapi dalam artian layanan informasi perpustakaan harus tetap ada dan tersedia. Salah satu layanan yang harus kita berikan adalah layanan anak, layananan bercerita, mendongeng atau kegiatan Storytelling.

Sesuai amanat UU RI No. 43 Tahun 2007 dinyatakan bahwa Perpustakaan Umum diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa, serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat. Perpustakaan Umumlah tempat dimana semua lapisan masyarakat dari segala umur, balita sampai  usia lanjut bisa terus belajar tanpa dibatasi usia.

Perpustakaan Umum hadir sebagai tempat pembelajaran non formal yang mampu menyediakan informasi serta pengetahuan bagi masyarakat. Hal ini, dilakukan agar kebutuhan informasi mereka dapat terpenuhi dengan baik melalui berbagai macam layanan dan kegiatan yang ada didalamnya. Di Perpustakaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dikenal dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung misalnya, menyediakan layanan anak, yaitu layanan storytelling yang ditujukan untuk anak-anak PAUD/TK. Layanan ini bermaksud memperkenalkan buku atau bahan bacaan lainnya yang ada di Perpustakaan melalui media bercerita. Sumber cerita diambil dari buku-buku yang ada di Perpustakaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Storytelling adalah kegiatan yang perlu digalakkan untuk mengenalkan perpustakaan dan membaca kepada anak sejak usia dini. Peran storytelling terhadap anak sangat signifikan. Hal ini, dikarenakan pada masa kanak-kanak adalah usia keemasan yang menjadi fase penting dalam pembentukan karakter anak. Dengan pembentukan pola dan karakter sejak usia dini, maka dapat membantu membentuk akhlak  yang baik guna membangun karakter bangsa Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini perpustakaan juga mengalami perubahan, kalau dahulu perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk meminjamkan buku ataupun bahan pustaka lainnya, namun saat ini perpustakaan semakin berkembang fungsinya. Hal ini terbukti dengan jenis layanan yang disediakan oleh perpustakaan yang semakin beragam, contohnya adalah layanan bercerita, mendongeng atau yang lebih sering disebut dengan istilah storytelling. Menurut Pellowski ( 1997 ), Storytelling adalah seni dari sebuah keterampilan bernarasi dalam bentuk syair dan prosa yang dipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang di hadapan audience secara langsung di mana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan dengan atau tanpa musik, gambar, ataupun iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak ataupun sumber rekaman mekanik.

Secara umum, semua anak-anak senang mendengarkan cerita. Menyajikan storytelling yang menarik bagi anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih lagi anak-anak hanya dapat berkonsentrasi mendengarkan cerita hanya dalam waktu singkat karena jika waktu mendongeng terlalu lama, akan membuat anak merasa cepat bosan dan tidak antusias lagi untuk mendengarkan. Dunia kehidupan anak itu penuh dengan suka cita, maka kegiatan bercerita harus diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu dan mengasyikan. Ada beberapa macam teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain, dapat membaca langsung dari buku gambar, menggunakan papan flanel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita. Ada beberapa Jenis-Jenis Storytelling, antara lain: a) Storytelling Pendidikan. Dongeng pendidikan adalah dongeng yang diciptakan dengan suatu misi Pendidikanbagi dunia anak-anak. Misalnya, menggugah sikap hormat kepada orang tua; b) Fabel, adalah dongeng tentang kehidupan binatang yang digambarkan dapat bicara   seperti manusia. Cerita-cerita fabel sangat luwes digunakan untuk menyindir perilaku manusia tanpa membuat manusia tersinggung. Misalnya; dongeng kancil, kelinci, dan kura-kura.

 

Manfaat Storytelling bagi Anak-anak

Berbicara mengenai manfaat storytelling ada beberapa manfaat dari kegiatan tersebut. Tak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya. Dari proses storytelling kepada anak ini, banyak manfaatnya yang dapat dipetik. Menurut Josette Frank (dalam Asfandyar, 2007:98) Storytelling ternyata merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) anak. Banyak sekali manfaat storytelling, diantaranya adalah: Pertama, penanaman nilai-nilai. Storytelling merupakan sarana untuk “mengatakan tanpa mengatakan”. Maksudnya, storytelling dapat menjadi sarana untuk mendidik tanpa perlu menggurui.

Pada saat mendengarkan dongeng, anak dapat menikmati cerita dongeng yang disampaikan sekaligus memahami nilai-nilai atau pesan yang terkandung dari cerita dongeng tersebut tanpa perlu diberitahu secara langsung atau mendikte. Dua, mampu melatih daya konsentrasi. Storytelling sebagai media informasi dan komunikasi yang digemari anak-anak, melatih kemampuan mereka dalam memusatkan perhatian untuk beberapa saat terhadap objek tertentu. Ketika seorang anak sedang asyik mendengarkan dongeng, biasanya mereka tidak ingin diganggu. Hal ini menunjukkan bahwa anak sedang berkonsentrasi mendengarkan dongeng. Tiga, mendorong anak mencintai buku dan merangsang minat baca dan menulis.

 

Garda Informasi Terdepan

Pustakawan merupakan salah satu unsur penggerak mekanisme organisasi atau lembaga kerja yang disebut Perpustakaan. Menurut Sulistyo-Basuki (1993:159) Pustakawan adalah tenaga profesional yang dalam kehidupan sehari-hari berkecimpung dengan dunia buku. Pustakawan memiliki tanggung jawab, dalam arti bahwa kegiatan yang dilakukan Pustakawan tidak hanya sekadar melakukan tugas rutin, tetapi melakukan kegiatan yang bermutu dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan lewat prosedur kerja yang benar. Pustakawan harus bisa membuka diri dan mampu menyampaikan informasi yang akurat kepada para pemustaka meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Bahkan seharusnya bisa dijadikan momentum untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada penggunanya.

Tak hanya mengolah buku, mencatat judul dan administrasi kelengkapan identitas buku yang akan didata melalui buku induk atau aplikasi, Pustakawan juga harus mampu menempatkan diri sebagai garda informasi terdepan di tengah pandemi covid ini. Kenapa pentingnya Pustakawan dalam menyampaikan informasi? Tugas pokok Pustakawan bukan hanya menginventaris bahan pustaka, mengecap koleksi, menganalisis subjek, menentukan Nomor Panggil, membuat katalog (Katalogisasi) dan lain sebagainya. Pustakawan juga berperan penting dalam menyampaikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Menjadi Pustakawan bukan hanya melulu mengurusi administrasi buku, tetapi Pustakawan harus mampu mengolah layanan yang bukan hanya layanan peminjaman dan pengembalian buku saja.

Masih ada juga layanan untuk pemustaka yaitu salah satunya yang dibahas pada tulisan ini adalah layanan anak layanan bercerita, mendongeng atau yang sering dikenal dengan layanan Storytelling pada anak-anak usia dini atau pra sekolah. Pustakawan juga memilik tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan menyediakan layanan dan koleksi untuk anak-anak, serta memberikan bimbingan membaca bagi anak-anak. Pustakawan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga memiliki tugas sebagai Stroryteller pada kegiatan layanan Storytelling untuk anak PAUD/TK.

Pustakawan dapat menyampaikan inisiatifnya serta mengajukan usulan kepada Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provisi Kepulauan Bangka Belitung untuk dilaksanakannya lagi kegiatan publikasi minat baca, yaitu melalui kegiatan Storytelling kepada anak-anak dengan sasarannya adalah siswa-siswi PAUD/TK Se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di tengah masa pandemi saat ini. Ada banyak inovasi yang bisa dilakukan, terutama dalam pemanfaatan teknologi, informasi dan komunikasi. Banyak ajang untuk melakukan seminar secara daring, pembelajaran secara daring, rapat secara daring dan lain sebagainya melalui media sosial, aplikasi yang menunjang panggilan video serta berbagai pemanfaatan media yang dapat memudahkan komunikasi banyak arah.

Memang sudah sepatutnya kegiatan Storytelling masih bisa dilakukan walaupun tidak bisa mengundang anak-anak atau siswa-siswi datang langsung ke Perpustakaan, tetapi kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan cara virtual atau daring, bisa menggunakan aplikasi zoom meeting dengan mengadakan kegiatan webinar, kemudian bisa juga dengan memanfaatkan sosial media seperti yang dipunyai Dinas Kearsipan dan Perpustakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu dengan melakukan Storytelling secara live atau mengadakan siaran langsung di Facebook, Instagram, Youtube Channel serta menyebarkan informasi dan jadwal kegiatannya juga bisa melalui website resmi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ataupun dengan mengadakan kerja sama dengan Sekolah Paud/TK Se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan begitu, seluruh masyarakat Bangka Belitung bahkan masyarakat luar Pulau Bangka Belitung pun bisa ikut serta menyaksikan acara kegiatan storytelling atau bercerita tanpa harus datang ke Perpustakaan langsung. Hal itupun menguntungkan juga bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  karena dapat menambah dan meningkatkan jumlah kunjungan pemustaka yang ikut joint dan bergabung secara virtual atau daring. Itu artinya, mereka sudah termasuk dan menjadi pengunjung Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pustakawan juga dapat bekerja sama dengan para pemenang lomba bercerita siswa SD tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan para pemenang lomba bercerita bagi masyarakat umum se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti yang telah diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setiap tahunnya, lalu juga bisa bekerja sama dengan para Pendongeng dan Pegiat literasi Bangka Belitung untuk menjadi Pencerita atau Storyteller dalam kegiatan storytelling yang diadakan secara langsung ataupun melalui virtual, dengan membuat jadwal mendongeng tiap minggunya. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak yang menyaksikan acaranya tidak merasa jenuh dan bosan. Melalui  kegiatan layanan storytelling secara virtual atau dengan menggunakan sosial media diharapkan bisa meredam kecemasan anak terhadap situasi yang sedang terjadi akibat wabah Covid-19.

 

Saran

Bercerita atau Storytelling dengan menggunakan buku akan mengakrabkan anak-anak dengan buku, dan membuat anak-anak mulai mencintai buku. Bercerita juga dapat menjadi stimulasi yang efektif untuk menumbuhkan minat baca bagi anak-anak. Mendorong anak untuk mendengarkan cerita ternyata memiliki efek positif terhadap kecerdasan bahasanya, termasuk minat bacanya yang juga akan meningkat. Hal ini menandakan bahwa ada hubungan positif antara membaca dengan bercerita. Bercerita bagi anak kecil merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting. Dikatakan penting, karena ia bisa belajar mengasah kemampuan verbalnya dengan mendengar cerita dan bercerita. Namun, di tengah masa pandemi wabah virus Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini, rasanya sangat tidak mungkin untuk bisa melakukan kegiatan dengan mengumpulkan anak-anak dalam jumlah yang besar, karena memikirkan berbagai macam risiko yang dapat ditimbulkan dikemudian hari. Oleh karena itu, Pustakawan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai inisiatif, ide dan gagasan untuk mengaktifkan kembali layanan Storytelling di tengah pandemi Covid-19 secara virtual, daring, siaran langsung di sosial media ataupun jika memang menginginkan anak-anak tetap bisa berkunjung ke perpustakaan dengan menjadwalkan dan membuat giliran untuk sekolah datang ke perpustakaan dengan jumlah anak yang tidak terlalu banyak, dan tetap wajib mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Beberapa saran bagi pihak-pihak yang terkait mengenai pemanfaatan kegiatan layanan storytelling untuk menumbuhkan minat baca anak di tengah pandemi covid-19, diantaranya sebagai berikut : 1) Pustakawan harus lebih bisa mendekatkan diri dengan anak-anak,  memperkenalkan kepada anak-anak bahwa perpustakaan adalah tempat yang menarik, tempat belajar yang menyenangkan dapat menambah pengetahuan; 2) Dibutuhkan pendidikan dan pelatihan agar memiliki keahlian dan keterampilan yang lebih baik untuk menjadi seorang storyteller yang baik  bagi pustakawan,  karena sejatinya belajar adalah hal yang tidak pernah ada batasnya; 3) Dinas Kearsipan dan Perpustakaan atau Perpustakaan hendaknya menambah koleksi bahan pustaka yang lebih lengkap dan terbaru sesuai dengan kebutuhan anak-anak, terutama buku cerita untuk anak. 4) Promosi merupakan langkah yang ditempuh perpustakaan untuk memberitahukan kepada pemustaka mengenai fasilitas dan layanan untuk anak yang ada di perpustakaan; 5) Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang pelaksanaan kegiatan storytelling, seperti menyediakan perangkat pengeras suara, cerita, alat peraga. Apabila sarana dan prasarana telah memadai maka kegiatan storytelling akan berhasil sesuai dengan yang diharapkan. (***).

Penulis: 
ANGGYA DWIE PERMATASARI
Sumber: 
DKPUS Babel