Upaya Orang Tua dalam Menggairahkan Minat Baca Anak Disleksia

Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari berprilaku sederhana menjadi berprilaku kompleks, dan suatu  proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan ketika anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek seperti gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi, baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.

Setiap orang tua pasti menginginkan anak yang sehat dan sempurna. Akan tetapi, terkadang harapan itu tidak terwujud karena terjadinya berbagai faktor dan penyebab. Salah satunya adalah memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus memiliki kondisi dan menghadapi problem-problem khas yang berbeda dengan anak normal. Anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang tua dan keluarga. Memberikan bimbingan dan perhatian yang diberikan orang tua diharapkan anak dengan berkebutuhan khusus tidak akan gagap dan minder ketika menghadapi dunia luar dan lingkungannya.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentunya anak berkebutuhan khusus mengalami hambatan-hambatan seperti hambatan fisik, mental, intelektual, dan motorik yang membuat anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian lebih dan layanan pendidikan yang berbeda untuk dapat mengembangkan berbagai kecakapan hidup (life skills). Pengembangan life skill yang berjalan dengan baik akan memberikan hasil yang optimal, sehingga membantu dalam upaya peningkatan kualitas hidup anak berkebutuhan khusus dan mengurangi ketergantungan mereka kepada orang-orang disekitarnya.

Kecakapan hidup akan menumbuhkan rasa percaya diri anak, sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan bahagia. Dengan memberikan bekal keterampilan yang memadai akan mengantarkan anak mampu mandiri, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan terus berjuang dalam meraih mimpi dan cita-citanya, meskipun yang bersangkutan dalam kondisi kekurangan dan keterbatasan dalam meraih masa depan yang cerah.

 

Karakteristik Anak

Pandangan setiap orang tentang anak cenderung berubah dari waktu ke waktu dan berbeda satu sama lainnya. Ada yang memandang anak sebagai mahluk yang sudah terbentuk oleh bawaannya, ada juga yang memandang anak sebagai makluk yang dibentuk oleh lingkungannya. Ada juga anggapan bahwa anak merupakan miniatur orang dewasa dan individu yang berbeda dari orang dewasa. Beberapa pandangan para ahli di bidang pendidikan dan psikologi bahwa periode anak usia dini merupakan periode penting yang memerlukan penanganan sedini mungkin.

Masa 1000  hari pertama kehidupan (HPK) seorang manusia, yakni pada usia 0-3 tahun merupakan bagian terpenting dalam tumbuh kembangnya, baik karakter, prestasi, dan pertumbuhan fisik. Orang tua memiliki peran penting untuk memberikan perawatan dan pengasuhan yang berkualitas sesuai dengan tahap perkembangan anak. Psikolog dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengatakan, ada hal-hal yang perlu dilakukan orang tua agar tumbuh kembang anak terjaga dengan baik, yakni dengan memupuk adaptasi bayi dengan lingkungan, membangun kedekatan bayi dan orang tua, memastikan gizi optimal pada bayi,  melatih gerak fisik dan kepercayaan diri pada bayi. Anak-anak  pada usia tersebut, tergolong anak-anak usia bayi yang memerlukan kasih sayang orang tua dalam pertumbuhannya menjadi anak-anak dewasa. 

Maria Montessori (Elizabeth B. Hurlock, 1978:13) berpendapat bahwa usia anak 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa peka pada anak, yaitu suatu periode ketika suatu fungsi tertentu perlu diarahkan, sehingga tidak terhambat perkembangannya. Misalnya, masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terlewati, anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan berbahasa untuk periode selanjutnya. Masa-masa sensitif anak pada usia ini, menurut Montessori mencakup sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan, mengekplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan, berjalan, sensitivitas terhadap objek-objek kecil dan detail serta terhadap aspek-aspek sosial kehidupan.

Erik H. Erikson (helms & Turner, 1994:64) memandang periode usia 4-6 tahun sebagai fase sense of initiative. Pada periode ini, anak harus didorong untuk mengembangkan prakarsa, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat, di dengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapatkan hambatan dari lingkungannya, anak akan mampu mengembangkan prakarsa, dan daya kreatifnya, dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang digemarinya.

Sementara Froebel (Roopnaire,J &L Johnson, J.E., 1993:56) berpendapat bahwa masa anak merupakan fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia (anoble and malleable phase of human life). Oleh karena itu, masa anak sering di pandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggara pendidikan. Masa anak merupakan masa yang fundamental bagi perkembangan individu, karena pada fase inilah terjadi peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Selain itu, menurut Froebel, jika orang dewasa mampu menyediakan suatu “taman” yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaaan anak, anak akan berkembang secara wajar.

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak sangat aktif, dinamis, antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar.

 

Pengertian

Disleksia adalah suatu kondisi yang menyebabkan masalah dalam persepsi, terutama yang mempengaruhi kemampuan membaca. Disleksia mempengaruhi 1 (satu) dari setiap 10 (sepuluh) orang. Kebanyakan orang dewasa dengan disleksia tidak tahu bahwa mereka memilikinya, mereka tidak pernah diuji atau didiagnosis. Setelah didiagnosa, ada banyak cara efektif untuk mengimbangi dan mengatasi efek disleksia. Tanpa diagnosis orang dexlexic akan terus menderita dari membaca dan cacat lainnya. Hal ini menyebabkan minimnya  prestasi yang diraih dibangku sekolah, tidak mencapai potensi yang diharapkan, serta merasa rendah diri.

Istilah dyslexia atau dalam bahasa Indonesia diadaptasi menjadi disleksia, pertama kali ditemukan sekitar 130 tahun lalu oleh seorang ahli penyakit mata, oftalmologis, berkebangsaan Jerman dan professor di Stuttgart, Rudolf Berlin. Dalam praktiknya, Berlin mengobservasi kesulitan yang dihadapi oleh beberapa pasien dewasa untuk membaca tulisan cetak. Namun, ia tidak menemukan kesalahan apapun dengan mata pasien. Menggunakan landasan observasi tersebut, ia berspekulasi bahwa kesulitan membaca yang dialami oleh pasien ini bukan karena masalah mata namun, karena hal lain yang disebabkan oleh perubahan fisikal dalam otak. Istilah yang Rudolf Berlin gunakan untuk menggambarkan gangguan tersebut dapat diartikan sebagai kesulitan membaca. Hal itu karena kata dyslexia sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘dys’ yang berarti ‘salah’ atau ‘menyimpang’ dan ‘lexia’, yang berarti ‘kata’ atau ‘bahasa’. Namun sayangnya, Rudolf Berlin tak lebih terkenal dari istilah disleksia itu sendiri.

Jack M. Fletcher ilmuan di Departement of Psychology, University of Houston berpendapat bahwa terdapat evolusi definisi dari disleksia. Ia menuliskan definisi awal dari disleksia yang ditawarkan oleh World Federation of Neurology adalah gangguan membaca yang dialami seseorang karena teridentifikasi pada tingkat intelegensi rata-rata, instruksi atau pengajaran konvensional, dan karena status sisi ekonomi. Definisi tersebut terbukti problematik, karena definisi tersebut bahkan menuntun pada hal-hal yang tidak termasuk atau menunjukkan disleksia. Definisi tersebut juga gagal memberikan kriteria inklusi pada penderita gangguan membaca.

Menurut Fletcher, definisi disleksia yang sekarang banyak digunakan adalah dari International Dyslexia Association (IDA), yaitu kesulitan mengenal kata dengan akurat dan atau lancar serta kemampuan mengeja dan dengan kode yang buruk. Kesulitan-kesulitan ini biasanya diakibatkan oleh defisit dalam komponen fonologis bahasa yang seringkali tak terduga berhubungan dengan kemampuan kognitif dan penyediaan pengajar yang efektif dalam kelas. Perubahan dalam definisi disleksia menggambarkan perubahan mendasar dalam pemahaman saintifik pada kesulitan belajar (learning disabilities) yang telah terjadi selama 25 tahun terakhir. Meski belum ada definisi yang konsensus tentang disleksia, International Classification of Mental Disorders dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders memberikan kriteria diagnosis yang dapat digunakan untuk membantu membuat diagnosa pengidap gangguan membaca ini disebabkan oleh metode pendidikan dan bukan masalah neurologis atau psikologis.

 

Peran Orang Tua

Orang tua memiliki peran penting dalam pendidikan anak, tentunya pendidikan yang dimulai dari anak-anak usia dini. Disebutkan bahwa disleksia pada anak tidak dapat disembuhkan. Namun, kita bisa menggunakan terapi disleksia untuk menemukan cara belajar yang tepat bagi anak. Sebagai upaya menemukan cara belajar yang tepat, dibutuhkan peran guru maupun orang tua di lingkungan keluarga. Peran guru dibutuhkan saat anak berada di sekolah, sedangkan peran orang tua adalah melengkapi peran guru ketika berada di rumah.

Untuk menghadapi anak disleksia, orang tua dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: Mengusahakan agar jangan menunjukan kelemahan anak disleksia di depan umum, seperti memintanya membaca di depan kelas karena akan menurunkan motivasi anak tersebut; Menggunakan peta pikiran (mind map) untuk membantu menstrukturisasi ide; Menggunakan kosakata kunci ketika menjelaskan pelajaran sekolah, seperti matematika atau ilmu pengetahuan alam; Menyampaikan  informasi secara visual dengan diagram alur, Menghindari penggunaan kalimat panjang; Memberikan instruksi dengan jelas dan singkat; Memberikan waktu tambahan dalam mengerjakan tugas atau mencatat materi yang diberikan; serta Memberikan alat bantu, seperti perekam suara, daftar kata kunci atau kartu alfabet agar si anak mudah meniru dan mengikuti metode pembelajaran yang disampaikan orang tua.

Selain itu, agar lebih efektif dalam membantu anak disleksia dalam belajar, maka orang tua juga perlu memberikan dukungan seperti: 1) Membaca keras setiap hari. Jika anak masih usia kanak-kanak, maka orang tua dapat membacakan buku cerita bergambar bersama anak dan menunjuk setiap kata yang sedang dibacakan. Cara ini, tentunya dapat digunakan pada anak dengan usia yang lebih besar. Namun bahan bacaannya berbeda, misalnya majalah atau artikel Koran. Hal ini dilakukan agar anak terbiasa melihat tulisan sekaligus mendengarkan bunyi kata pada bacaan; 2) Fokus pada ketertarikan anak misalnya dengan memberikan pilihan bahan bacaan yang sesuai dengan ketertarikan dan tingkat pemahaman anak, contohnya buku komik, cerita misteri, buku resep, majalah, cara membuat mainan, dunia hewan, dan lain sebagainya; 3) Menggunakan audiobook atau buku yang memberikan rekaman suara. Anak dapat belajar memahami cerita sambil melihat kata-kata yang diucapkan oleh alat perekam; 4) Fokus pada usaha bukan hasil. Orang tua harus menghargai usaha anak untuk mencoba dan belajar. Dukung anak untuk terus belajar mempraktikkan membaca dengan cara memberikan pelukan, hadiah kecil lain setiap kali anak berhasil mencoba membaca; 5) Memberikan dorongan kepercayaan diri pada anak. Ikutkan anak pada kegiatan hobi atau ekstrakulikuler agar anak dapat mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan atau keterampilan lainnya yang dapat memberikan prestasi bagi anak tersebut.

 

Kesimpulan

Dorongan orang tua dalam mendidik anak sangatlah penting. Upaya memberikan motivasi yang besar agar anak dapat tumbuh normal sangat diharapkan. Hal ini terlihat dari berbagai upaya orang tua agar si anak mampu untuk mengapresiasikan diri agar dapat disejajarkan dengan anak lainnya. Orang tua dituntut kreatif agar dapat memberikan pendidikan sejak dini di lingkungan keluarga yang kemudian diturunkan kreativitas dan bakatnya kepada si anak. Pada intinya adalah kekuatan dan motivasi orang tua memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak agar anak yang dididik sejak usia dini akan berpengaruh pada karakter dan prestasi anak dimasa mendatang.

 

Penulis: 
Dian Ekatama, S.I.Pust
Sumber: 
DKPUS BABEL