Primary tabs

Meningkatkan Budaya Literasi, Membangun Bangsa

Literasi, satu kata yang tak asing di dengar, selalu diucapkan baik oleh pejabat pemerintah, pelajar/mahasiswa, masyarakat, bahkan guru – guru di sekolah selalu menekankan kata literasi untuk membangkitkan semangat anak didiknya dalam meningkatkan minat baca. Literasi kerap hanya diartikan sebatas membaca saja, padahal literasi memiliki makna yang lebih luas dari itu semua.

Dikutip dari pendidikan.co.id, literasi adalah suatu kegiatan atau aktivitas untuk lebih membudidayakan gerakan membaca serta juga menulis. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dimaksud literasi itu tidak hanya membaca buku saja, namun melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru, untuk kemudian dapat dibuat sebuah karya. Proses itu terjadi terus menerus sepanjang hayat (kemendikbud.go.id,22/08/2019).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dimaksud literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian lain dari literasi menurut Elizabeth Sulzby (1986), literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang untuk berkomunikasi baik itu dalam hal membaca, berbicara, menyimak dan menulis, dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Menurut National Institute for Literacy, literasi diartikan sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Dalam definisi ini literasi dimaknai dari perspektif yang lebih kontekstual, dan masih banyak lagi pengertian dari literasi. Namun, dapat diambil satu kesimpulan bahwa arti literasi tidak sekadar membaca dan menulis saja. Literasi sebagai suatu kegiatan memiliki makna jauh lebih besar yaitu bagaimana seseorang melalui membaca dan menulis dapat memiliki perspektif yang lebih luas yang kemudian dari hal tersebut dapat menghasilkan suatu karya, untuk kemudian disampaikan kepada orang lain sesuai dengan tujuannya.

 

Pentingnya Literasi bagi Bangsa

Mengapa literasi begitu penting bagi suatu bangsa? Mengapa literasi perlu dibudayakan khususnya kepada generasi muda? Apakah tidak cukup dengan teknologi informasi yang ada sekarang ini? Pertanyaan - pertanyaan yang terkadang muncul di dalam masyarakat yang tingkat pemahaman literasinya masih rendah. Kita harus paham bahwa salah satu ciri bangsa yang maju adalah tingginya tingkat literasi. Literasi akan mampu meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan wawasan seseorang. Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang tegak lurus terhadap kualitas bangsa. Menurut Permatasari (2015) tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan prilaku seseorang.

Kecerdasan dan pengetahuan masyarakat menentukan kualitas suatu bangsa, sedangkan hal tersebut dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, dan ilmu pengetahuan itu di dapat dari informasi yang diperoleh baik dari lisan maupun tulisan. Bagaimana kualitas suatu bangsa akan baik jika kecerdasan masyarakatnya tidak terbentuk, pengetahuan dan wawasan yang diterima berasal dari informasi bohong (hoaks), hasil dari kemajuan teknologi informasi sekarang ini tanpa kemampuan menyaring karena rendahnya literasi masyarakat di negara tersebut.

Sejauh mana literasi bangsa Indonesia yang akan memasuki usia 76 tahun ini, dengan jumlah penduduk yang berdasarkan sensus penduduk BPS tahun 2020 mencapai 270,20 jiwa. Fakta menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menjadi salah satu bangsa dengan tingkat literasi yang masih rendah di dunia. Menurut UNESCO, Indonesia berada diurutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Artinya,  minat baca sangat rendah. Masyarakat Indonesi memiliki minat baca hanya 0,001%. Hal tersebut dapat diartikan bahwa dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca, sangat memprihatikan. Data ini menyatakan bahwa masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun.Sangat jauh bila dibandingkan negara ASEAN lainnya.

Berdasarkan riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked (WMLN) yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 9 Maret 2016, Indonesia berada diperingkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca, tepat berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Peringkat ini jauh dibandingkan dengan negara tengga kita seperti Australia yang ada diposisi (16) atau tetangga dekat kita Singapura (36).

Namun ironisnya, menurut Kementerian Komuninikasi dan Informamatika meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari (kominfo.go.id). Berdasarkan survei Kominfo 66,3% masyarakat Indonesia memiliki gadget. Dikutip dari tempo.co berdasarkan survei yang dilakukan Pew Research Center, Indonesia berada diurutan ke 24 dari 27 negara yang disurvei, dengan jumlah kepemilikan smartphone 66% (usia 18-34 tahun) dan 13% (usia 50 tahun ke atas).

Dikutip dari katadata.co.id, berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Menjadi satu pertanyaan apakah dengan begitu besarnya persentase kepemilikan smartphone dan pengguna sosial, berbanding lurus dengan tingginya tingkat literasi secara digital. Ternyata, berdasarkan Hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional 2020 yang dilaksanakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama katadata.co.id didapat hasil bahwa indeks literasi digital di Indonesia secara nasional, masih berada pada level “sedang” belum mencapai skor “baik” (4.00). Informasi dan literasi data paling rendah skornya dari sub indeks penilaian lainnya.

 

Membangun Bangsa Melalui Literasi

Ketika informasi telah melewati batas – batas teritorial melalui canggihnya teknologi informasi, ketika pengetahuan begitu terbuka dan dengan mudah diakses oleh siapa saja, menjadi kerugian besar untuk bangsa kita, ketika masyarakat tidak mampu memanfaatkan itu semua. Kita harus akui, jika isu literasi tidak semenarikh isu politik dan ekonomi, bahkan kalah menarik dengan isu stunting yang u menjadi prioritas oleh pemerintah untuk ditekan.

Rendahnya kebiasaan membaca ditengarai sebagai sebagai faktor utama dan mendasar penyebab rendahnya budaya literasi. Padahal, dengan menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca (reading society) akan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan global yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Bayangkan jika berdasarkan 70,72% penduduk Indonesia sensus penduduk tahun 2020 di usia produktif 15-64 tahun memiliki tingkat literasi tinggi, betapa kuat dan majunya Indonesia.

Sejatinya dukungan politik dari Pemerintah dan DPR dibutuhkan untuk mendukung budaya literasi. Mengapa hal itu penting dan menjadi perhatian serius, karena budaya literasi berkaitan dengan masa depan bangsa. Selama ini apa yang dilakukan oleh pemerintah masih bersifat temporer dan bersifat seremoni. Kualitas bangsa Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat baca masyarakat, sebab dengan rendahnya minat baca, kita akan tertinggal dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia.

Perlu bagi kita untuk merubah cara berpikir (mindset) masyarakat bahwa membaca bukan sekedar pekerjaan iseng untuk menghabiskan waktu (to kill time), tetapi suatu kebiasaan dalam mengisi waktu (to full time) dengan sengaja. Rendahnya minat baca pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Menjadi ironi ketika para remaja lebih memilih menghabiskan waktu menongkrong di pinggir jalan, daripada duduk manis membuka lembar-lembar buku di dalam perpustakaan. Alangkah ruginyan ketika telpon pintar tidak membuat kita menjadi pintar, karena hanya kita digunakan sebatas untuk medsos, tidak untuk menambah informasi dan pengetahuan yang lebih berguna.

Bagaimana cara kita meningkatkan minat baca? Pertama yang harus kita lakukan  dan yang terpenting adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan fasilitas pendidikan di setiap daerah untuk mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi. Kedua, membangun lebih banyak perpustakaan di semua daerah, selain menambah koleksi buku, jadikan perpustakaan menjadi tempat yang nyaman tidak hanya untuk membaca tetapi juga kegiatan yang berkaitan dengan literasi. Ketiga, memberikan edukasi kepada anak – anak sejak usia dini pentingnya membaca misalnya dengan mengajak ke toko buku. Keempat, pentingnya peran pemerintah maupun masyarakat umum mendukung gerakan budaya baca, dan tidak sekedar acara seremoni. Kelima, memperkuat pengawasan dan pentingnya arahan orang tua kepada anaknya tehadap penggunaan teknologi informasi.

Mari bersama kita meningkatkan budaya literasi untuk membangun peradaban bangsa yang lebih baik. Selain itu, dengan budaya literasi kita ciptakan generasi muda Indonesia yang berkualitas.

 

Penulis: 
Drs. Zulkifli, Pustakawan Muda DKPUS Prov. Kep.Babel
Sumber: 
DKPUS Prov. Kep. Babel

Artikel

05/04/2019 | Runi Alcitra amalia
2,368 kali dilihat
01/11/2019 | Jan Frist Pagendo Purba
682 kali dilihat
22/10/2020 | Darma, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
414 kali dilihat
12/03/2019 | Anggya Dwie Permatasari
345 kali dilihat

ArtikelPer Kategori