Primary tabs

Pengaruh Pemanfaatan Gadget Sebagai Media Pengganti Buku Dimasa Covid 19

Setiap orang tentunya pasti mengenal yang namanya gadget. Hampir semua orang memiliki alat komunikasi yang kini mau tidak mau menjadi kebutuhan hidup. Gadget ini ada banyak macamnya, seperti smartphone, tablet dan sebagainya. Keberadaannya dianggap bermanfaat karena memberikan banyak manfaat positif bahkan negatif. Alat elekronik ini berukuran relatif kecil, mudah dikantongi serta mudah dibawa kemana-mana. Gadget merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi pada saat ini. Dulunya kita mengenal perangkat telekomunikasi yakni salah satunya berupa telepon rumah yang penggunaannya harus terhubung dengan rangkaian kabel.

Zaman sekarang alat canggih tersebut telah “bertransformasi” menjadi lebih canggih yang memberikan multi manfaat bagi penggunanya. Semua informasi elektronik terkandung didalamnya, sehingga penggunanya tidak harus repot mencari informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau project besar seperti finishing skripsi, tesis ataupun disertasi. Selain itu, gadget juga merupakan alat yang berfungsi sebagai sarana hiburan. Alat tersebut didisain sebaik mungkin untuk menarik konsumen agar memilikinya. Berbagai fitur  menarik seperti hearing musik, watching vidio dan fitur-fitur lainnya yang mau tidak mau kita memang harus memilikinya karena memberikan banyak kemudahan bahkan berbelanja online pun dapat dilakukan melalui smartphone tersebut jika memiliki fitur NFC (near field comunication).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai Pustaka, Buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong. Sedangkan menurut Oxford Dictionary, buku adalah hasil karya yang ditulis atau dicetak dengan halaman-halaman yang di jilid pada suatu hasil karya ditujukan untuk penerbitan. Buku yang dianggap berhasil jika dapat menggugah minat baca dari khalayak ramai, kemudian paham akan isi dari buku tersebut. Untuk mendukung keberhasilan sebuah buku diperlukan sebuah desain yang dapat mencerminkan maksud dan tujuan dari isi buku tersebut. Sedangkan menurut Unesco pada tahun 1964, dalam H.G Andriese, memberikan pengertian buku sebagai publikasi tercetak, bukan berkala, yang sedikitnya memiliki 48 halaman.

Di perpustakaan, buku merupakan jantung kehidupan bagi penyelenggaraan sebuah institusi perpustakaan. Buku disusun berdasarkan nomor klasifikasi yang telah ditetapkan dari nomor klasifikasi 000 (karya umum) sampai dengan nomor klasifikasi 900 (sejarah) sesuai dengan standar klasifikasi perpustakaan. Buku yang ada tersedia tersusun rapi dan dapat dimanfaatkan oleh penggunanya. Seiring dengan perkembangan dibidang dunia informatika, buku/bahan pustaka perpustakaanpun telah “bertransformasi” menjadi buku digital yang kita kenal dengan istilah e-book atau (buku elektronik) yang pemanfaatannya mengandalkan perangkat elektronik seperti PC komputer, media laptop, komputer tablet, telepon seluler dan lainnya, serta menggunakan perangkat lunak tertentu untuk membacanya. Seiring dengan perkembangan teknologi tersebut, buku tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Salah satu fungsi tercetak bahan pustaka buku adalah sebagai bahan fisik yang merupakan bukti riil literatur tercetak. Pengaruh perkembangan teknologi yang begitu pesat tidah mengharuskan kita untuk mengabaikan keberadaan fisik tercetak. Tentunya, antara buku tercetak dan buku elektronik memang memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Salah satu keunggulannya adalah jika fisik buku hilang bahkan hancur, kita masih bisa memanfaatkan isi buku melalui e-book. Disamping itu, jika e-book susah untuk direading, kita masih memiliki fisik buku untuk dibaca sebagai sumber infomasi yang memberikan manfaat. Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat person untuk berperan aktif agar dapat memilah-milah konsumsi informasi positif baik melalui sarana buku maupun e-book.

Manfaat Gadget

Di era covid 19 permintaan alat komunikasi mengalami kenaikan. Salah satu alat komunikasi tersebut adalah gadget  yang laris pangsa pasar dengan berbagai merek dan harga yang bervariasi tergantung spesifikasi dari alat tersebut. Dulu, untuk memperoleh informasi pengguna lebih banyak membaca surat kabar dan menonton televisi. Kini para pengguna lebih suka memanfaatkan gadget sebagai sumber informasi yang up to date, terpercaya dan mudah didapatkan. Di masa covid 19, keberadaan alat komunikasi tersebut salah satunya gadget/ smartphone lebih banyak digandrungi anak-anak milenial, terutama para pelajar baik pelajar sekolah maupun mahasiswa. Salah satu contoh adalah para pelajar yang menjalankan tugasnya secara online seperti penyampaian materi oleh guru bidang studi, kehadiran tatap muka, dan sebagainya. Contoh lainya adalah pelaksanaan sosialisasi, webinar, bimbingan teknis, diklat kepegawaian serta pidato kenegaraan yang dilakukan secara online dimasa covid 19. Bagi pengguna yang gagap teknologi harus cepat menyesuaikan diri agar tidak ketinggalan informasi dan cepat tanggap terhadap tugas yang diinformasikan melalui smartphone.

Dapat disimpulkan bahwa keberadaan buku sebagai informasi monograf dan e-book serta gadget merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan, karena kebutuhan masing-masing pengguna sangat bervariatif. Dengan memanfaatkan sarana-sarana di atas, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan menambah wawasan serta informasi bagi pengguna. Sebagai pengguna smartphone kita harus bijak “mengonsumsi” informasi positif  dan meninggalkan hal negatif yang dapat menurunkan kadar keimanan serta mengambil banyak hal-hal positif yang dapat meningkatkan kualitas diri sebagai generasi penerus bangsa  berkualitas, berpotensi dan bermartabat.

Penulis: 
Dian Ekatama, S.I.Pust, Pustakawan DKPUS Prov. Kep. Babel
Sumber: 
DKPUS Prov. Kep. Babel

Artikel

05/04/2019 | Runi Alcitra amalia
2,368 kali dilihat
01/11/2019 | Jan Frist Pagendo Purba
682 kali dilihat
22/10/2020 | Darma, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
414 kali dilihat
12/03/2019 | Anggya Dwie Permatasari
345 kali dilihat

ArtikelPer Kategori