Primary tabs

Pengaruh Pengolahan Bahan Pustaka Terhadap Peningkatan Kunjungan dan Kepuasan Pemustaka

 

Kemajuan teknologi informasi di era global sekarang peran perpustakaan terutama di lingkungan Pemerintah Daerah terasa semakin dibutuhkan dan penting keberadaannya. Hal tersebut suka atau tidak suka pengolahan bahan pustaka harus bisa mengatur strategi yang tepat sebagai penyedia informasi agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh pemustaka.

Perpustakaan didirikan untuk kepentingan umum, berarti bahan bacaan maupun jenis layanan yang tersedia harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pemustaka. Jika Perpustakaan diperuntukkan untuk kepentingan umum, maka bahan pustaka maupun jenis layanan yang disediakan harus lebih beragam, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemustaka. Hal ini sejalan dengan Undang - Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 22 ayat 2 yang berbunyi: “Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/kota menyelenggarakan perpustakaan umum daerah yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya daerah masing - masing dan menfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajaran sepanjang hayat”. Lebih lanjut pada pasal 12 ayat 1 juga menjelaskan bahwa “Koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi”.

Pengolahan adalah salah satu aset penting yang harus diperhatikan di dalam pengimplementasian suatu perpustakaan. Karena titik dari keberhasilan suatu perpustakaan dapat dilihat dari segi pengolahannya, karena Setiap perpustakaan memiliki tugas menyediakan bahan pustaka serta mengolahnya agar dapat disajikan kepada pengguna, sehingga bahan pustaka tersebut dapat bermanfaat bagi pengguna perpustakaan. Sebelum bahan pustaka dilayangkan kepada pengguna terlebih dahulu diolah dan disusun secara sistematis untuk memudahkan pengguna dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Bahan pustaka merupakan aset yang sangat penting dan menjadi salah satu daya tarik bagi pemustaka. Oleh karena itu, Perpustakaan dituntut untuk menyediakan dan mengembangkan bahan pustaka yang memadai baik dari segi kualitas, kuantitas, jenis dan ragam yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Tanpa adanya penyediaan dan pengembangan bahan pustaka, lambat laun perpustakaan akan menjadi semakin tidak menarik, bahkan besar kemungkinan akan ditinggalkan oleh pembacanya. Untuk menjaga agar bahan pustaka senantiasa menarik bagi masyarakat, perlu adanya upaya penyediaan dan pengembangan bahan pustaka yang terencana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut Perpustakaan untuk dapat menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Aneka ragam tuntutan pengguna akan bahan bacaan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu wajib difasilitasi oleh pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah. Kegiatan pengolahan dan pengembangan bahan pustaka yang relevan harus dapat memotivasi kegemaran membaca masyarakat, serta dilakukan secara berkesinambungan. Upaya pengolahan dan pengembangan bahan pustaka yang dapat mencapai keadaan koleksi perpustakaan selalu up to date, current dan relevan akan mendukung tujuan penyelenggaraan perpustakaan yang hakiki, mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 pasal 8 poin a menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan. Kewajiban menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat sebagaimana dalam pasal 8 poin c menjadi suatu yang harus dilakukan secara berkelanjutan oleh setiap perpustakaan agar senantiasa tetap pada fungsinya sebagai tempat belajar sepanjang hayat dengan tetap memiliki fungsi pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi masyarakat.

Pengolahan bahan perpustakaan menurut (Sutarno, 2006:103) yaitu pengolahan koleksi perpustakaan diterima perpustakaan sampai dengan siap dipergunakan oleh pemustaka, tujuannya agar semua koleksi dapat ditemukan/ ditelusur dan dipergunakan dengan mudah oleh pemustaka. Pengolahan juga adalah kegiatan berbagai macam bahan koleksi yang diterima perpustakaan berupa buku, majalah, buletin, laporan, skripsi/tesis, penerbitan pemerintah, surat kabar, atlas manuskrip dan sebagainya. Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang dapat berfungsi secara optimal dalam hal penyediaan berbagai koleksi. Kelengkapan koleksi perpustakaan menjadi salah satu kunci tercapainya layanan yang bermutu (Mathar, 2012:113).

Pengolahan bahan perpustakaan merupakan kegiatan yang paling pokok dalam penyelenggaraan perpustakaan. Kegiatan ini memproses koleksi supaya dapat dipergunakan dan dimanfaatkan secara optimal oleh pemustaka guna memperoleh informasi yang dibutuhkan. Menurut P. Sumardji kegiatan pengolahan berbagai macam bahan pustaka yang diterima diperpustakaan berupa buku, majalah, bulletin, laporan, skripsi, thesis, penerbitan menjadi dalam keadaan siap diatur pada tempat-tempat tertentu, disusun secara sistematis sesuai dengan sistem yang berlaku dan dipergunakan oleh siapa saja yang memerlukan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengolahan bahan pustaka merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara serius pada sebuah perpustakaan, sehingga dalam memberikan pelayanan peminjaman dan pengembalian bahan pustaka dapat berjalan dengan baik, lancar dan tertib.

Kegiatan pengolahan bahan pustaka di perpustakaan harus dilakukan minimal sebagai berikut :  Pertama, Kegiatan Inventarisasi, kegiatan pencatatan bahan perpustakaan yang sah milik perpustakaan. tujuannya agar pustakawan maupun orang yang berkepentingan dengan perpustakaan mengetahui jumlah koleksi yang dimiliki dan dari mana koleksi tersebut diperoleh. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pemeriksaan Koleksi, dilakukan untuk menghindari adanya koleksi yang cacat/terdapat sebagian halaman yang hilang, termasuk memeriksa kesesuaian antara jumlah judul dan eksemplar yang dipesan dan yang diterima; b) Pengelompokan Koleksi, dilakukan agar memudahkan bagian pekerjaan berikutnya; c) Pengecapan, dilakukan untuk memberikan identitas pada bahan perpustakaan bahwa bahan pustaka tersebut adalah milik perpustakaan, minimal ada tiga cap kepemilikan dibubuhkan pada setiap bahan pustaka, yaitu pada halaman judul, halaman tertentu di tengah-tengah dan halaman terakhir; dan d) Pencatatan, dilakukan pada buku induk atau pada database computer. Minimal memuat informasi terkait nomor urut, tanggal pencatatan, nomor inventaris, asal bahan pustaka, pengarang, judul, dan keterangan tambahan.

Kedua, Kegiatan Klasifikasi, sistem yang digunakan untuk Klasifikasi Koleksi, pengelompokkan buku berdasarkan subyek atau isi bahan pustaka adalah dengan menggunakan sistem klasifikasi DDC. Setiap koleksi bahan pustaka akan diberikan nomor klasifikasi berdasarkan sistem DDC, dan sekaligus nomor tersebut sebagai nomor panggil bagi setiap buku. Dengan menggunakan label, nomor panggil tersebut ditempel pada bagian punggung buku. Ketiga, Kegiatan Input Data, meliputi Katalogisasi Koleksi, Scan cover / sampul koleksi, Barcoding, dan Tes Barcoding. Keempat, Kegiatan Labelling, Pemberian label pada punggung buku/koleksi, berupa nomor klasifikasi maupun nomor kode buku atau yang sering dikenal dengan nomor buku. Keempat, Kegiatan Shelving. Ini merupakan kegiatan akhir dari seluruh proses pengolahan bahan pustaka yaitu proses penyusunan koleksi bahan pustaka pada rak-rak yang telah tersedia. Penempatan koleksi pada rak disesuaikan berdasarkan penomoran yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu nomor klasifikasi. Dengan demikian, pemustaka akan tahu harus mencari buku ke rak mana ketika mereka telah mendapatkan nomor panggil buku tersebut yang diperoleh dari katalog.

Kegiatan pengolahan bahan pustaka adalah proses penyelesaian koleksi pustaka yang telah diperoleh agar dengan mudah dapat diatur ditempat-tempat atau di rak-rak yang telah disediakan untuk dilayangkan kepada pemustaka. Oleh karena itu pengolahan bahan pustaka sangat penting dilakukan untuk memudahkan temu balik informasi dan memperlancar kegiatan kepustakawanan. Apabila pengolahan bahan pustaka tidak diperhatikan dengan baik, maka akibatnya salah satu tujuan perpustakaan yaitu membantu masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan melalui jasa pelayanan perpustakaan tidak terwujud, sehingga dapat mempengaruhi kunjungan pemustaka ke perpustakaan, dan  kepuasan para pemustaka tidak dapat dicapai karena bahan pustaka yang dibutuhkan tidak tersedia di perpustakaan.

Menurut Lasa, Kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakan dengan harapannya. Kepuasan pemustaka dipengaruhi oleh kinerja layanan, respon terhadap keinginan pemustaka, kompetensi petugas, pengaksesan, mudah, murah, cepat, dan tepat, kualitas koleksi, ketersediaan alat temu kembali dan waktu layanan. Kepuasan pemustaka adalah fungsi dari pengharapannya dan kualitas jasa yang dirasakan oleh pemustaka. Pengharapan pemustaka dibentuk berdasarkan pengalaman masa lalu, informasi dari orang-orang terdekat dan promosi yang dilakukan oleh perpustakaan. Pemustaka memilih memanfaatkan jasa harapan tersebut dan setelah menikmati jasa tadi mereka akan membandingkannya dengan apa yang mereka harapkan. Apabila jasa yang mereka nikmati ternyata berada jauh dibawah yang mereka harapkan, maka mengakibatkan ketidakpuasan. Makin besar kesenjangan antara harapan dengan kenyataan maka semakin besar pula ketidakpuasan pemustaka.

Ada tiga tingkat kepuasan pemustaka terhadap perpustakaan, yaitu  1) Tingkat Kepuasan Pemustaka terhadap koleksi perpustakaan meliputi unsur-unsur yang berkaitan dengan antara lain: Jenis koleksi, kerelevansian koleksi, Kelengkapan koleksi, Kemuktakhiran koleksi, Kepuasan terhadap koleksi, dan Jumlah koleksi; 2) Tingkat kepuasan pemustaka terhadap fasilitas perpustakaan meliputi unsur-unsur antara lain: Sarana penitipan tas, Meja, Kursi baca, Kenyamanan dan ketenangan diruang perpustakaan, Sarana penelusuran informasi, dan Fasilitas pendukung layanan; dan  3) Tingkat kepuasan pemustaka terhadap layanan perpustakaan daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meliputi unsur-unsur antara lain: Sistem layanan yang diterapkan, Jenis layanan yang ada, Ketepatan waktu layanan peminjaman dan pengembalian, Proses transaksi peminjaman dan pengembalian; dan Layanan informasi.

Setelah mencermati ulasan di atas, Perpustakaan Umum seperti Perpustakaan Daerah Provinsi, Perpustakaan Daerah Kabupaten/kota, maupun Perpustakaan Desa perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melakukan kegiatan pengolahan bahan pustaka berupa seleksi, pengumpulan, dan pengadaan bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Apabila bahan pustaka selalu tersedia dan kebutuhan pemustaka terpenuhi, maka kunjungan pemustaka ke perpustakaan akan meningkat dan pada akhirnya kepuasan pemustaka akan terwujud sebagaiamana tujuan perpustakaan.

Kepuasan pemustaka merupakan salah satu tujuan perpustakaan untuk menyedikan bahan pustaka yang selalu tersedia sesuai kebutuhan pemustaka. Apabila bahan pustaka di perpustakaan selalu tersedia maka para pemustaka akan timbul rasa ingin berkunjung kembali ke perpustakaan, bahkan mendorong pemustaka lainnya untuk berkunjung ke perpustakaan. Karena pemustaka adalah titik sentral orientasi perpustakaan, maka usaha-usaha untuk lebih memahami pemustaka dalam berbagai aspek, termasuk perilaku dan harapan-harapan merupakan persoalan yang sangat kritis.

Salah satu unsur dari kepuasan pemustaka adalah dengan dilakukannya pengolahan bahan pustaka dengan baik, guna memberikan pelayanan yang maksimal dan sempurna. Hal tersebut tentu saja akan tercapai apabila didukung oleh unsur-unsur yang memadai seperti : Pertama, Pustakawan dan tenaga teknis pustakawan. Pustakawan berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Kedua, Koleksi / bahan pustaka. Koleksi / bahan pustaka merupakan unsur utama dalam penyelenggaraan kegiatan perpustakaan. Dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, hendaknya secara terus menerus melakukan pengembangan koleksi agar informasi yang tersedia sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi.

Ketiga, Pemustaka. Pemustaka merupakan unsur utama dalam kegiatan perpustakaan, yang mana memiliki peran penting atas keberhasilan dan keberlangsungan perpustakaan. Mengingat Kondisi pandemi covid 19 seperti sekarang ini, para pemustaka sulit untuk datang langsung ke perpustakaan, pemustaka lebih memanfaatkan fasilitas menghubungi pustakawan melalui whatsapp, email ataupun telepon daripada mengunjungi perpustakaan secara langsung ataupun mengunjungi Open Public Access Catalog (OPAC). Keempat, Sarana dan Prasarana. Ketersediaan sarana prasarana adalah factor penentu untuk menarik minat pemustaka untuk berkunjung ke Perpustakaan. Apabila sarana prasarana tidak lengkap dan menarik, ditambah lagi koleksi bahan pustaka yang tidak memadai dan sulit ditemukan, tentu saja mengurangi kenyamanan pemustaka. Kelima, Anggaran. Pada dasarnya semua perpustakaan apapun bentuknya, berapapun jumlahnya, untuk dapat berjalan mengemban tugas dan fungsinya harus didukung dengan anggaran yang memadai. Tanpa anggaran yang memadai Perpustakaan akan sulit untuk mengembangkan diri.

Berdasarkan analisis permasalahan yang ada, pengolahan bahan perpustakaan memerlukan penanganan yang lebih baik lagi, mengingat pengolahan bahan perpustakaan sangat berpengaruh terhadap kunjungan dan kepuasan pemustaka. Karena Perpustakaan adalah sebagai tempat dalam proses penelitian, penyelesaian studi mahasiswa, dan hal lainnya karena informasi yang terdapat diperpustakaan berkembang secara cepat sesuai dengan perkembangan waktu.

Namun pada kenyataannya, disamping terkendala dengan kondisi pandemi  covid-19, perpustakaan ternyata kurang diminati pemustaka untuk berkunjung. Dari data lapangan dapat diidentifikasikan bahwa ketersediaan bahan pustaka yang tidak beragam dan lengkap sebagai permasalahan bagi pemustaka dan juga permasalahan ruangan koleksi perpustakaan yang kurang menarik sehingga pemustaka kurang nyaman untuk berkunjung ke perpustakaan.

Diharapkan dalam pengelolaan bahan pustaka yang baik di Perpustakaan akan berdampak positif terhadap tingkat kunjungan dan kepuasan pemustaka. Peningkatan kunjungan dan kepuasaan pemustaka harus diutamakan. Jika pemustaka sudah merasa senang dan nyaman dengan apa yang disediakan oleh perpustakaan, maka pemustaka akan datang lagi berkunjung ke perpustakaan, bahkan dapat mempromosikan perpustakaan kepada pemustaka lainnya..

Penulis: 
Padli, S.IP, Pustakawan Ahli Madya DKPUS Prov. Kep. Babel
Sumber: 
DKPUS Prov. Kep. Babel

Artikel

05/04/2019 | Runi Alcitra amalia
4,620 kali dilihat
22/10/2020 | Darma, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
752 kali dilihat
01/11/2019 | Jan Frist Pagendo Purba
725 kali dilihat
03/10/2020 | Jan Frist Pagendo Purba, Pustakawan UBB
521 kali dilihat

ArtikelPer Kategori