Primary tabs

Perpustakaan bagi Generasi Millennial

Paradigma Perpustakaan saat ini telah bergeser ke arah generasi millennial. Millennials yaitu sebuah generasi dimana pemustaka berperilaku sebagai seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Paradigma perpustakaan generasi millennial ini dicirikan adanya masyarakat pembelajar yang selalu berinteraksi dengan internet dimanapun dan kapanpun membutuhkan informasi. Adanya kemajuan iptek, maka perpustakaan harus selalu mencari jalan dengan pemanfaatan inovasi teknologi informasi terbaru agar kualitas layanan menjadi semakin terus meningkat. Pemustaka yang dalam kehidupannya selalu bersinggungan dengan peralatan teknologi sering diistilahkan dengan generasi gadget. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang begitu cepat jelas berdampak secara signifikan terhadap eksistensi perpustakaan.

Sebuah perpustakaan harus tanggap mengenai trend TIK (Teknologi Informatika dan Komunikasi) tersebut. Tuntutan kemudahan akses informasi yang serba instan, tepat, dan adanya ketersediaan fasilitas yang diaplikasikan akan merepresentasikan sistem layanan informasi yang dilayankan perpustakaan. Untuk merubah paradigma dalam wajah baru perpustakaan era millennial. Bentuk aplikasinya antara lain adalah ; Perpustakaan harus menyediakan wifi area atau hotspot area, sehingga memungkinkan pemustaka mudah untuk berselancar mencari informasi melalui internet. Perpustakaan sudah saatnya mulai mengubah atmosfer perpustakaan agar menjadi pusat belajar bagi masyarakatnya.  

Perpustakaan sebaiknya tidak hanya nampak dengan paradigma lama yang terkesan kaku dengan fasilitas gedung megah, perabot, rak, meja, ataup lebih mengedepankan nilai seni/artistik desain interiornya. Bentuk rak yang unik dipadu dengan furnitur serta perpaduan cat warna ruangan yang mengandung nilai seni akan membuat pemustaka merasa nyaman berada di dalam corner tersebut menimbulkan kesan bahwa berada di ruang perpustakaan sangat menyenangkan seperi layaknya berada di rumah.

Perpustakaan seharusya juga menyediakan fasilitas untuk belanja makanan, minuman. Misalnya: soft drink, pop mie, roti, permen, dan makanan ringan lainnya. Pasti Pemustaka akan merasa senang, karena jika lapar sementara posisi sedang browsing informasi di perpustakaan, maka tidak perlu repot keluar dari area perpustakaan. Syukur perpustakaan juga menyediakan air minum (galon) yang gratis untuk pemustaka. Seharusnya sudah tidak ada lagi sistem aturan perpustakaan yang terlalu birokratis, misalnya prosedur foto kopi, prosedur jadi anggota, prosedur membuat kartu, dan prosedur lainnya yang banyak persyaratan dan berbelit-belit. Aturan sistem perpustakaan yang sederhana akan memudahkan pemustaka dan bisa mempersuasif orang lain untuk akses ke perpustakaan. Selain itu, diera Milenial ini Perpustakaan harus terus mengembangkan dengan inovasi teknologi informasi terbaru, baik meliputi infrastuktur dan fasilitasnya. Perpustakaan harus membangun link dan jejaring dengan perpustakaan lainnya, serta memperbanyak melanggan e-journal dan e-books.

Perpustakaan harus adaptable with change, friendly dengan pemustakanya, mampu “jemput bola’ dengan mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pemustakanya.

Menjadi tugas berat bagi para pustakawan, karena untuk melayani pemustaka di era generasi millennial ini dibutuhkan suatu kompetensi dan keprofesionalan dalam menguasai teknologi  informasi. Agar tidak terjadi kesenjangan antara pustakawan dan pemustaka, maka pustakawan tidak  boleh ‘gaptek’. Pustakawan harus mampu menerapkan kompetensinya, yang meliputi pengetahuan ketrampilan dan sikap dalam melayani pemustakanya. Karena bagaimanapun ujung tombak perpustakaan di generasi millennial ini adalah di bagian layanan perpustakaannya.

Era generasi millennial saat ini berprinsip bahwa mengakses informasi bisa dilakukan dengan mudah dengan berselancar internet kapan dan dimana saja, tidak harus ke perpustakaan. Jadi agar perpustakaan tidak ditinggal pemustakanya, maka perpustakaan harus berbenah dalam penyediaan berbagai sarana prasarana, fasilitas, infrastuktur, dan aspek kebijakan organisasi perpustakaan yang mendukung generasi millennial. Selain itu, yang tidak boleh ketinggalan pengelola perpustakaan dan pustakawannya juga harus information literate terhadap adanya pergeseran perubahan generasi millennial dalam kajian informasi saat ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kamil, Harkrisyati & Sonda, Endang Wiwik. Makalah yang disampaikan dalam Seminar “Menghadirkan Perpustakaan Untuk Generasi Millennial (Presenting a Library for Millennial Generation)” tanggal 19 Februari 2019” di DKPUS PANGKALPINANG.

Penulis: 
Anggya Dwie Permatasari
Sumber: 
Pustakawan DKPUS Provinsi Kep. Bangka Belitung

ArtikelPer Kategori