Primary tabs

Perspektif Pustakawan Terhadap Wawasan Kebangsaan di Era Generasi Digital

Pada umumnya setiap negara memiliki wawasan kebangsaannya masing-masing. Demikian juga dengan bangsa Indonesia yang memiliki kekhasan wawasan kebangsaannya. Jadi secara etimologi menurut Profesor Muladi wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya. Sedangkan menurut Suhady, wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai sudut pandang atau cara memandang yang mengandung kemampuan seseorang atau kelompok orang untuk memahami keberadaan jati diri sebagai suatu bangsa dalam memandang dirinya dan bertingkah laku sesuai falsafah hidup bangsa dalam lingkungan internal dan lingkungan ekternal. Dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa wawasan kebangsaan ialah cara memandang seseorang maupun kelompok terhadap jati diri bangsa Indonesia dalam lingkungan internal maupun eksternal.

Wawasan kebangsaan perlu diketahui setiap warga negara agar menyadari pentingnya hidup bersama sebagai bangsa atas dasar kesamaan hak dan kewajiban didepan hukum. Wawasan kebangsaan diperlukan untuk meningkatkan kembali kesadaran berbangsa dan bernegara. Selain itu melalui wawasan kebangsaan diharapkan warga negara menatap masa depan bangsa secara arif dan bijaksana. Wawasan kebangsaan juga memiliki tujuan yang mulia yaitu menghidupkan kembali kehidupan yang harmonis, mendorong terwujudnya cita-cita dan tujuan nasional.

Pada dasarnya wawasan kebangsaan bertitik tolak dari empat konsensus dasar  sebagaimana yang telah diwariskan oleh pendiri bangsa yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Keempat ini merupakan dasar konstitusi berdirinya bangsa Indonesia. Jika dirangkum keempat dasar konsensus ini memiliki nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnnya yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan yang sekaligus merupakan hakekat Pancasila. Sedangkan UUD 45 hakekatnya secara konstitusi memiliki aturan yang harus dilaksanakan oleh segenap bangsa Indonesia sacara ringkas UUD 45 mengandung nilai nilai kebangsaan yaitu nilai demokrasi, kedaulatan berada ditangan rakyat. Nilai kesamaan derajat setiap warga negara terhadap ketaatan hukum dan berlaku sama didepan hukum.

Wawasan kebangsaan juga berbicara mengenai NKRI, konsepsi NKRI telah mengilhami tumbuhnya cara pandang masyarakat mengenai berdirinya bangsa dan tanah air yang terkandung dalam nilai-nilai NKRI antara lain nilai kesatuan wilayah, nilai persatuan Indonesia, nilai kemandirian. Hakekat dari NKRI secara historis dan filosofis dapat dipahami beberapa hal yaitu kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan, negara didirikan atas kehendak Bersama, negara dibangun untuk tujuan nasional. Sedangkan konsensus yang terakhir yaitu Bhineka Tunggal Ika esensi nilai nilai bhineka tunggal ika yaitu berupa nilai pluralis dan multikulturalis.

Keempat konsensus dasar tersebut merupakan wawasan kebangsaan yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia yang berada di tanah air Indonesia. Berbicara warga negara seorang ASN juga termasuk didalamnya, dimana peran ASN adalah sebagai pelayan terhadap warga negara. ASN juga memiliki Tusi (Tugas dan Fungsi) masing-masing dalam melayani warga negara. Penulis berbicara sebagai ASN Fungsional Pustakawan jika dilihat dari UU No 43 tahun 2007 diketentuan umum mengatakan bahwa Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui Pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.

Pada hakekatnya pustakawan memiliki tugas melayani penggunanya dengan sebaik-baiknya, seorang pustakawan yang bekerja di perpustakaan harus memiliki rasa tanggunag jawab dan pengetahuan mengenai wawasan kebangsaaan. Mengapa? Pustakawan dan perpustakaan itu merupakan satu kesatuan yang memiliki tujuan memberikan layanan kepada pemustaka dalam meningkatkan gemar membaca dan wawasan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa hal ini juga tertuang didalam UU No 43 tahun 2007 pada pasal 4.

Perkembangan perpustakaan pada masa kini tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat. Perubahan yang terjadi, juga memaksa perpustakaan berbenah dalam melayani penggunanya. Perpustakaan harus bergerak maju dan menawarkan pelayanan kepada pemustaka dalam hal ini generasi milenial. Generasi ini lahir diera tahun 1995-2000-an. Generasi ini sering disebut dengan generasi Z. Generasi ini terbiasa dengan memanfaatkan teknologi dan mudah beradaptasi dengan situasi apapun yang berkaitan dengan teknologi. Perubahan teknologi yang sangat cepat dan perubahan kebutuhan pemustaka tersebut menjadi tantangan bagi perpustakaan.  

Nah, bagaimana metode atau strategi pemantapan wawasan kebangsaan pada generasi milenial saat ini di perpustakaan? Ada beberapa metode yaitu, 1)  Perpustakaan sebagai tempat Pendidikan sepanjang hayat; 2) Perpustakaan sebagai tempat mencurahkan kreativitas, diskusi maupun sosialisasi yang ramah dan menyenangkan; 3) perpustakaan sebagai tempat pembudayaan gemar membaca; 4) Perpustakaan sebagai tempat pemberdayaan pemustaka agar memiliki empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar;  5) Perpustakaan sebagai tempat kerjasama dalam menanamkan nilai nilai wawasan kebangsaan.

Demikianlah perspektif Pustakawan terhadap wawasan kebangsaan di era generasi milenial atau digital saat ini.

 

 

Penulis: 
Janfrist Pagendo Purba,S.Sos, Pustakawan UBB
Sumber: 
DKPUS Prov. Kep. Babel

Artikel

05/04/2019 | Runi Alcitra amalia
6,323 kali dilihat
22/10/2020 | Darma, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
1,245 kali dilihat
21/08/2019 | Fatmawati
965 kali dilihat
01/11/2019 | Jan Frist Pagendo Purba
753 kali dilihat
03/10/2020 | Jan Frist Pagendo Purba, Pustakawan UBB
725 kali dilihat

ArtikelPer Kategori