KEPULAUAN LEPAR – Akhirnya, Tim Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKPUS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) didampingi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Bangka Selatan, bisa mengunjungi dan mencapai lokasi koleksi sejarah bangsa yang ada di Pulau Lepar, Bangka Selatan.

Dalam kunjungan yang dilaksanakan Selasa (4/10/2022) tersebut, Tim DKPUS Provinsi di pimpin Kepala DKPUS Babel Rakhmadi diwakili Kabid Pelestarian Koleksi Nasional dan Pelestarian Naskah Kuno DKPUS Babel Mirdayati didampingi Pustakawan, dan tiga anggota tim penelusuran dan penggalian koleksi naskah kuno DKPUS Babel.

Turut serta dalam kunjungan tindaklanjut dari hasil diskusi bersama DPK, Disdik Bangka Selatan, sejumlah unsur masyarakat diantaranya tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, penggiat literasi dan elemen terkait lainnya itu, Kepala DPK Bangka Selatan Sumadi.

Kedatangan Tim DKPUS Provinsi Babel Bersama Kepala DPK Bangka Selatan ke Pulau Lepar, setelah menempuh perjalanan dari Kota Pangkalpinang selama lebih kurang 3 jam, disambut langsung Camat Lepar, Fery Edwar dan Kepala Desa Penutuk Joniarso, dan Kepala Desa Labu Pindo Putra Yandi.

Didampingi Camat Lepar, penggalian koleksi sejarah bangsa yang ada di Pulau Lepar dimulai dari Desa Penutuk.

Di Desa Penutuk, Tim DKPUS didampingi Kepala DPK Bangka Selatan, Camat Lepar, Kepala Desa Penutuk mengawali kunjungan ke kediaman tokoh masyarakat Desa Penutuk Dulhamat Bin Husein berusia 78, guna menggali langsung informasi berkenaan dengan Benteng Penutuk.

Dihadapan Tim DKPUS Provinsi, Dulhamat menceritakan sekilas bahwa salah satu peninggalan sejarah yang ada di Desa Penutuk adalah Benteng Penutuk, saat ini menjadi potensi cagar budaya.

Diungkapkannya, Benteng Penutuk merupakan Benteng Raja Melayu, Cik Kanang yang merupakan pertahanan sang raja kala itu dari penjajah.

Di Benteng itu terdapat tiga Meriam, dimana letak antar satu dengan lainnya tak begitu jauh, dan berada tepat di pinggiran bukit penutuk menghadap kearah laut.

Sebenarnya, disebutkan Dulhamat, di Desa Penutuk tidak hanya ada Meriam, tetapi juga ada ada barang antik, duit perak dan lainnya. Hanya saja, benda-benda itu saat ini sudah tidak tersimpan lagi.  

Setelah mendapatkan informasi dari Dulhamat, Tim DKPUS Babel didampingi Kepala DPK Bangka Selatan, Camat Lepar, dan Kepala Desa Penutuk langsung menyasar lokasi koleksi sejarah bangsa sebagaimana disebutkan Dulhamat.

Di Kawasan Benteng, Tim DKPUS melihat langsung tiga buah Meriam peninggalan sejarah dari Raja Melayu Cik Kanang, yang berada di atas bukit persis di pinggir pantai, dan menghadap ke laut.

Dari Benteng, Tim DKPUS melanjutkan perjalanan ke Makam Raja Melayu Bernama Syekh Abbas, yang lokasinya berada di bawah bukit tak jauh dari Benteng Penutuk.

Usai dari Makam Raja Melayu, Tim DKPUS melanjutkan penggalian koleksi nasional atau koleksi sejarah bangsa ke Desa Labu. Di Desa Labu, Tim DKPUS diterima Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat setempat.

Hasan Basri (67) menceritakan bahwa di Desa Labu atau tepatnya di Pantai Labu ada sebuah bangunan berupa rumah Belanda beserta satu mercusuar terbuat dari besi. Namun, saat ini bangunan itu sudah rusak, dan mercusuarnya yang terbuat dari besi sudah hilang diambil oknum masyarakat.   

Didampingi Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat Labu, Tim DKPUS Babel langsung diajak ke lokasi untuk meninjau sebuah bangunan peninggalan Belanda yang berada di dekat bibir Pantai Labu tersebut.  

Camat Lepar Fery Edwar mengucap syukur karena ada perhatian dari Tim DKPUS Provinsi tentang peningalan sejarah. Kedua, ini keuntungan dengan adanya Tim DKPUS Provinsi ke Kecamatan Lepar, bisa mengangkat lepar.

Kepala Desa Labu Pindo Putra Yandi menyambut baik kunjungan Tim DKPUS Babel ini. Kepala Desa Labu, saat ini peninggalan sejarah bangsa yang ada di Desa Labu sekarang berupa bangunan belanda yang sudah tidak utuh lagi.

 

Berharap Masuk Cagar Budaya

Kendati begitu, Pindo mengharapkan bangun belanda yang berada dikawasan Pantai Labu tersebut, agar ke depan bisa di tata ulang, biar masyarakat tahu ade sejarahnya, begitu pula dengan mercusuarnya, bisa dibuatkan duplikatnya.

“Saat ini, dari desa telah menyiapkan lahan 5 hektar dan mendapatkan DAK 20 miliar rupiah untuk pengembangan wisata kawasan Tanjung Labu pada 2023,” ujarnya.

Disamping itu, Pindo berharap bangunan sejarah peninggalan belanda di pinggir Pantai Labu, bisa diusulkan menjadi cagar budaya.

Kepala Desa Penutuk Joniarso mengucap terima kasih kepada Tim DKPUS Provinsi Babel yang telah menelusuri dan menggali berkenaan dengan koleksi naskah kuno dan koleksi etnis budaya di Desa Penutuk.

“Benteng di Desa Penutuk ini memang menjadi salah satu peninggalan sejarah Raja Melayu, dimana area ini telah menjadi objek wisata Desa Penutuk,” katanya.

Ia berharap peninggalan sejarah bangsa yang juga menjadi objek wisata Desa Penutuk ini bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun pemerintah daerah.

Kepala Desa Penutuk siap membantu untuk menyampaikan informasi-informasi berkenaan dengan koleksi naskah kuno dan koleksi etnis budaya ini.

Kepala DPK Basel Sumadi yang ikut mendampingi kunjungan tersebut mengatakan, pihaknya siap mendukung kegiatan penelusuran dan penggalian naskah kuno dan koleksi etnis budaya yang dilakukan Tim DKPUS Babel di wilayah Bangka Selatan.

Sumadi mengimbau kepada perangkat pemerintahan baik di level kecamatan, desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, apabila memiliki informasi naskah kuno agar dapat menyampaikannya ke Tim DKPUS Babel atau DPK Bangka Selatan.

“Naskah kuno itu bukan untuk kami miliki, melainkan hanya sekadar dititipkan untuk bisa dijaga dan dirawat keberadaan serta keasliannya,” ujarnya.

 

Akan Ada Tempatnya

Sementara itu, Kepala DKPUS Babel diwakili Kabid Pelestarian Koleksi Nasional dan Pelestarian Naskah Kuno DKPUS Babel Mirdayati mengatakan, kunjungan ini sebagai tindaklanjut penelusuran naskah kuno yang dilakukan di Toboali beberapa waktu sebelumnya.

“Kedepan, kami akan ada tempatnya. Barang-barang peninggalan sejarah bangsa atau naskah kuno yang kami dapatkan nanti akan kami simpan di tempat penyimpanan di provinsi,” ungkap Mirdayati.

Selain Naskah Kuno, Tim DKPUS Provinsi ditegaskan Mirdayati,  juga akan menelusuri dan menggali koleksi etnis budaya.

Oleh karena itu,  Mirdayati mengharapkan bantuan Kepala DPK, Camat, Kepala Desa berkenaan dengan nakah kuno dan etnis budaya yang ada di daerahnya masing-masing.