PANGKALPINANG - Pulau Bangka bukan hanya memiliki adat istiadat dan budaya Melayu yang masih kental, namun terkenal memiliki beragam wisata alam terutama pantai.

Begitu pula di Desa Teluk Limau yang terkenal sebagai salah satu desa wisata karena berada di pesisir pantai, dan Pulau Punai yang menjadi destinasi sayang jika tidak dikunjungi ketika berkunjung ke daerah tersebut.

Desa yang terletak 100 km dari pusat Kabupaten Bangka Barat itu, masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai petani dan pekerja timah.

Di tengah potensi alam yang terhampar di Desa Teluk Limau, hadir Perpustakaan Desa Teluk Limau  “Teluk Harapan” yang berdiri pada tahun 2012 melalui APBDes.  Perpustakaan Desa Teluk Limau pada awalnya jarang dikunjungi oleh masyarakat setempat, karena belum banyak yang menyadari peran penting perpustakaan desa serta stigma yang masih melekat jika perpustakaan hanya sebagai tempat pinjam buku saja.

Semenjak bermitra dengan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), pengelola perpustakaan mulai berbenah dan konsisten melakukan inovasi layanan dimulai dengan menata ruangan, menambah koleksi bahan pustaka (cetak dan digital) dan menambah 1 buah fasilitas laptop yang bisa digunakan masyarakat dan meningkatkan frekuensi pemberian doorprize kepada pengunjung.  

Tidak berhenti disitu, pengelola perpustakaan pun melaksanakan beragam lomba  dan kegiatan bagi anak-anak, melaksanakan kegiatan pelatihan untuk kelompok perempuan bekerja sama dengan TP PKK maupun kegiatan rutin kelas ibu hamil serta kegiatan pembelajaran bersama kelompok pemuda terutama dalam pemanfaatan limbah.

Pengelola perpustakaan pun secara aktif mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan potensi desa berupa pemanfaatan buah asam yang tumbuh subur tanpa perlu dibudidaya oleh masyarakat setempat.

Didukung oleh Pemerintah Desa  dan TP PKK Desa Teluk Limau, mereka melaksanakan pelatihan pengolahan buah asam menjadi bumbu pelengkap.

Salah satu peserta yaitu bu Asiati (41 tahun), seorang buruh cuci mempunyai 3 orang anak dan suami yang bekerja sebagai buruh harian pekerja timah dengan upah yang tidak menentu.

Di masa pandemi ditambah pendapatan keluarga yang tidak menentu, bu Asiati mempraktekkan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan pengolahan buah asam menjadi bumbu pelengkap masakan.

Pada awal penjualan menggunakan kemasan sederhana berupa plastik biasa (kresek) dengan hasil penjualan kurang lebih Rp200.000 per bulan. Tentu saja pendapatan ini masih dirasa kurang oleh bu Asiati dalam pemenuhan kebutuhan keluarganya.

Ibu Asiati kemudian datang ke perpustakaan untuk melihat media social berupa Youtube didampingi petugas perpustakaan mencari cara pengemasan yang bagus terhadap produknya.

Akhirnya Asiati terinspirasi menggunakan cup plastik untuk mengemas asam penjualannya agar lebih rapi dan bagus. Hasilnya penjualan asam Asiasi cukup meningkat dan berimbas pada penghasilannya menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya menjadi Rp400.000 per bulan.

Melihat kondisi tersebut, perpustakaan kembali berinisiatif melakukan pelatihan pelabelan di kemasan yang juga diikuti oleh ibu Asiati. Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan pengemasan dan pelabelan serta pendampingan pengelola, Asiati mencoba mengemas produk bumbu masakan buah asam dengan cup plastik.

Itu Ia lakukan agar kemasan semakin menarik, diberi label yang dibantu pembuatannya oleh Perpustakaan Desa Teluk Limau. Tentu dengan kemasan lebih menarik dari sebelumnya mampu meningkatkan harga dari bumbu tersebut, dan terjadi peningkatan pendapatan dari Rp400.000 per bulan menjadi Rp600.000 per bulan.

Berkat penjualan bumbu buah asam tersebut, selain membantu meningkatkan pendapatan keluarga, Ibu Asiati juga mampu menyekolahkan anak pertamanya ke perguruan tinggi saat ini.

Keberhasilan Ibu Asiati mengolah dan memasarkan bumbu buah asam tersebut, memotivasi 4 orang perempuan lainnya untuk mengikuti jejaknya. Bu Asiati dan  pengelola perpustakaan berinisitiaf mengajak 4 orang perempuan yang terdiri dari ibu  Sa’ria, (IRT),  Ibu Asmawati (buruh cuci), Ibu Santi  (pedagang),  ibu Mirana Novianti (guru PAUD) untuk bersama-sama memproduksi bumbu buah asam untuk memenuhi kebutuhan pembeli.

Empat orang dari IRT yang mengikuti jejak ibu Asiati, juga merasakan manfaat dari pejualan asam tersebut, bisa membantu menambah penghasilan ekonomi keluarga, yang dulu penghasilan ibu-ibu hanya sekitar Rp150 per bulan, sekarang bisa mencapai Rp400.000 per bulan.

Mereka pun mempunyai keinginan seperti ibu Asiati menyekolahkan anak mereka ke perguruan tinggi. 

Testimoni tersebut, diungkapkan Ibu Asiati dihadapan peserta Stakeholder Meeting Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di SwissBell Hotel, Pangkalpinang, Kamis (10/8/2023).