PAYUNG – Di pekan terakhir bulan November tepatnya Senin (28/11/2022), Tim DKPUS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Kembali melanjutkan penelusuran koleksi budaya etnis. Lokus yang ditelusuri adalah Desa Pangkal Buluh, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.
Kedatangan Tim DKPUS yang terdiri dari Dian, Decy, Dini, dan Rizki tersebut diterima Kepala Desa Pangkal Buluh, Marjan dan Kasi Pelayanan Masyarakat Desa, Rusli.
Dian, koordinator tim yang juga Pustakawan DKPUS Babel mewakili Kepala DKPUS Babel Rakhmadi dihadapan Kepala Desa Pangkal Buluh mengatakan kunjungan Tim DKPUS ke Pangkal Buluh untuk menelusuri budaya etnis yang terdapat di daerah tersebut.
Koleksi budaya etnis ini, disebut Dian, rencananya akan dihimpun dalam sebuah buku. Dengan begitu anak cucu atau generasi di masa mendatang dapat mengetahui sejarah budaya etnis yang ada di negeri setumpun sebalai, khususnya di daerah Pangakl Buluh.
Kades Pangkal Buluh Marjan menyambut positif kehadiran Tim Penelusuran Budaya Etnis DKPUS Babel. Marjan dalam kesempatan itu menyampaikan informasi sejumlah budaya etnis yang terdapat di daerahnya, diantaranya “ngeruah”. Adat ini tidak semua desa melaksanakannya.
Dijelaskannya, sebelum acara “ngeruah” diawali dengan kegiatan gotong royong massal membersihkan makam, dan keesokan harinya masyarakat melaksanakan kegiatan “nganggung” bersama seraya membaca tahlil, tahmid dan doa dengan mengundang masyarakat setempat beserta masyarakat desa tetangga untuk ikut serta memeriahkan kegiatan tersebut.
Marjan berharap koleksi budaya etnis yang ada di Desa Pangkal Buluh itu bisa dimasukkan kedalam sebuah buku sebagaimana rencananya akan di cetak oleh DKPUS Provinsi Babel.
“Dengan di bukukan, maka anak cucu kita ke depan, tidak hanya dari Desa Pangkal Buluh, namun daerah lain juga dapat mengetahui bahwa di Desa Pangkal Buluh terdapat budaya etnis ini,” ungkapnya.
Di tempat terpisah, Kasi Layanan Masyarakat Desa Rusli, menginformasikan selain “ngeruah”, ada peristiwa lain yang wajib didokumentasinya, yaitu acara khataman Alquran dan Isra’ Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
“Acara ini, dirayakan setiap tahun, karena tidak semua desa merayakanya. Kami berharap kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahun, agar tetap lestari dan acara adat ini tidak tergerus oleh canggihnya teknologi," ujarnya.