BANGKA BARAT - Penerapan kartu anggota perpustakaan berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) akan memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan layanan perpustakaan guna meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan pengetahuan serta kecerdasan kehidupan bangsa.

Berkenaan dengan hal itu, Perpustakaan Daerah Bangka Barat siap menjadi yang terdepan dalam memberikan layanan perpustakaan.

Guna mendukung itu, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI telah menerapkan Kartu Anggota Perpustakaan, (KTA) berbasis NIK.

KTA ini bertujuan pengintegrasian data anggota perpustakaan, penyederhanaan sistem keanggotaan perpustakaan, perluasan akses koleksi Perpustakaan Nasional, peningkatan kualitas kualitas layanan perpustakaan dan penguatan jejaring perpustakaan serta mengurangi keterbatasan akses bahan bacaan di daerah.

Sebagai tindaklanjut di daerah, Perpusnas RI mensosialisasikan Layanan Perpustakaan dan Integrasi Data Keanggotaan SAKTI (Satu Kartu Terintegrasi) di Perpuda Bangka Barat, dan dibuka Sabrizal selaku Plt Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekretariat Daerah Pemkab Bangka Barat, Kamis (2/5/2024).

Sabrizal menyampaikan, Pemkab Bangka Barat sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena ini akan membuka wawasan untuk masyarakat. Karena, selama ini untuk pergi ke perpustakaan atau mendapatkan akses – akses atau mendapatkan informasi yang bersifat terkini sangat minim, dengan terbatasnya bahan pustaka.

“Harapan nanti, ketika Kartu Tanda Anggota berbasis NIK ini diterapkan, semua masyarakat mempunyai akses yang sama. Artinya, tidak ada lagi diskriminasi dalam rangka mendapatkan ilmu pengetahuan kedepannya. Harapan kami,  nanti Perpusda ini akan  dikelola dengan baik, dalam arti jumlah pemustaka di tingkatkan,” harapnya.

Agus Utoyo, Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas RI mengharapkan, dengan adanya peluncuran Kartu Sakti di Bangka Barat ini, seluruh masyarakat di Bangka Barat bisa lebih mudah dalam mengakses informasi baik secara onside maupun online.

“Secara online, bisa lebih luas lagi mendapatkan informasi – informasi secara digital, lebih mudah, lebih banyak, karena kemudahan – kemudah itu  diberikan oleh Perpusnas hingga masyarakat di seluruh Indonesia. Khususnya Bangka Barat ini tidak ada lagi kata yang ketinggalan informasi secara digital,” pesan Agus.  

Terkait dengan naskah kuno yang belum terdaftar, kata Agus seperti Pak Suryan di Bangka Barat, dia punya koleksi naskah kuno belum terdaftar, nanti pihaknya akan mendaftarkan.

“Kami iventarisasi, kemudian ada tim kami dari pelestarian yang akan mengalih mediakan nanti koleksi- koleksi yang dimiliki Pak Suryan. Bisa juga dimiliki Perpustakaan Bangka Barat. Jadi, jejaringnnya Pepusnas melalui kelembagaan tidak langsung ke Pak Suryan, tapi melalui Perpustakaan Bangka Barat. Nanti programnya di digitalisasi masuk lah ke Khasanah Pustaka Nusantara,” saran dia.

Jadi, dibeberkannya, itulah salah satu kemudahan – kemudahan yang bisa diakses oleh masyarakat di Bangka Barat dengan adanya Kartu Sakti.

“Kemudian perpustakaan digital lainnya banyak seperti Ipusnas, eresouces, Bintang Pusnas, itu sangat mudah sekali bagi para pemustaka di Bangka Barat,” tambah dia.

Farouk Yohansyah, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat menyebutkan, pihaknya telah menyiapkan tim untuk penerapan kartu sakti ini. “Pada dasarnya tidak begitu ribet, karena sebelumnya kita sudah menggunakan aplikasi INLIS LITE yang sebagai basic untuk kartu sakti ini,” terangnya.

Untuk kelangsungan kartu sakti ini, diungkapkannya, tim sudah dibentuk untuk mengaplikasi dari kartu INLIS LITE ini ke kartu Sakti ini.

“Manfaat yang bisa diambil yang pertama bahwa kita bisa mendapatkan koleksi di Perpusnas, yang mana jika hanya mengandalkan koleksi di Bangka Barat saja itu masih terbatas. Kedua, kita menawarkan kepada kawan -kawan semua Perpustakaan Desa dan Perpustakaan Sekolah agar dapat terkoneksi dengan kartu Sakti ini, sehingga kartu sakti ini sebagai penyebaran ilmu pengetahuan yang manfaatkan literasi ini bisa tersebar luas khususnya dikabupaten Bangka Barat,” papar Farouk.

Kabupaten Bangka Barat ini terpilih, disebutkan dia, sebenarnnya lebih ke kesiapan saja. “Kita sudah berkomunikasi, sudah menyiapkan perangkat – perangkatnnya termasuk perangkat hukumnya, termasuk dengan SK Petugas. Kita sudah didukung dengan peralatan yang ada melalui DAK maupun melalui APBD,” beber Farouk.

“Kita, termasuk perpustakaan yang jumlah kunjungannya baik jumlah kunjungan digital maupun kunjungan ofline itu tinggi, dibandingkan dengan jumlah penduduk kita, termasuk tinggi kunjungan mencapai 20 ribu dengan penduduk 200 ribu. Karena sudah beberapa persennya sudah mengakses Perpustakaan,” tutupnya.

Sementara itu DKPUS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rakhmadi berpendapat bahwa kartu sakti ini dalam satu integrasi membaca litersi perpustakaan ini sangat penting, dan bangga OPD Perpusda Bangka Barat  sudah melakukan sosialisasi sekaligus akan menggunakan aplikasi tersebut bergabung dengan jejaring sakti yang ada di PERPUSNAS.

“Tentunnya provinsi mau tidak mau, dan di era keterbukaan di dunia digital ini kita harus menyesuaikan dengan kemajuan teknologi. Apalagi kalau dilihat keberadaan sarpras di gedung layanan Perpusprov dengan buku baru berjumlah 17 ribu-an sementara tuntutan penyediaaan buku di GLP ini harus 70 ribu bahan pustaka, maka bagaimana caranya kita membuat dengan percepatan kemajuan teknologi di banyak program aplikasi yang disediakan oleh perpusnas,” ujar Rakhmadi.

Jadi, menurutnya, program sakti ini Perpusprov Babel juga harus mempersiapkan dengan serius. “Saya inginkan dalam waktu dekat sarana dan prasarananya itu didukung oleh IT di daerah, terutama IT di Diskominfo Provinsi sebagai server seluruh OPD yang ada di wilayah provinsi. Kita harus mampu memberikan layanan tersebut, dari DKPUS sendiri akan selalu siap jika daya dukung sarana dan prasananya memadai,” imbuhnya.