BELITUNG – Usai mengunjungi Museum Kabupaten Belitung, Senin (21/11/2022), Tim DKPUS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melanjutkan penelusuran koleksi budaya etnis masih di daerah yang sama.

Lanjutan telusur budaya etnis di hari kedua tepatnya Selasa (22/11/2022), Tim DKPUS Babel menyambangi Klenteng dan Museum Kerajaan Badau, Kabupaten Belitung.

Lokus pertama yang dikunjungi adalah Klenteng Hok Tek Che di Jalan Siburik Timur Tanjung Pandan, dibangun pada tahun 1868.

Kedatangan Tim DKPUS ke klenteng yang bangunan dihiasi mural delapan dewa pada dinding depan, sepasang Ciok Say (Singa) dihalaman dan sepasang arca Naga di atas wuwungan itu, diterima pengurus sekaligus penjaga klenteng.

Pengurus Klenteng Hok Tek Che menyambut positif kehadiran Tim DKPUS Babel. Dijelaskan, Klenteng Hok Tek Che merupakan Benda Cagar Budaya yang dilindungi kelestariannya oleh Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992.

Dihadapan Tim DKPUS terdiri dari Anggya, Fatmawati, Nurma Dwi Murtya, Agi Destari, pengurus klenteng memperlihatkan sejumlah barang-barang bersejarah etnis tionghoa yang ada di klenteng tersebut.

Budaya Etnis itu diantaranya ada sebuah alat yang digunakan untuk menunjukkan waktu ibadah yang disebut dengan CUNG dibunyikan seperti gong, TAKU dengan cara dipukul.

“Masyarakat Tionghoa Belitung melaksanakan Sembahyang di Klenteng Hok Tek Che setiap tanggal 1 dan 15 pada setiap bulannya, kemudian ada juga acara sembahyang Rebut yang dilaksanakan pada bulan Juli setiap tahunannya, ini merupakan adat istiadat masyarakat Tionghoa dari turun temurun,” kata salah seorang pengurus klenteng yang minta namanya tidak disebutkan.

Bahasa yang digunakan masyarakat Tionghoa Belitung, kata dia, adalah bahasa Khek. Bahasa Khek pada dasarnya memang bahasa dari daratan China. Tetapi berbeda dengan bahasa Mandarin, namun terdapat kosa kata yang mirip.

Selesai dari Klenteng Hok Tek Che, Tim DKPUS menyambangi Museum Kerajaan Badau di Desa Badau, Belitung. Tim diterima Djohar, keturunan kesembilan silsilah Raja-raja Badau.

Di tempat tersebut, Tim Penelusuran Budaya Etnis DKPUS Babel juga mendapatkan penjelasan dan diperlihatkan sejumlah peninggalan dari Kerajaan Badau.

Peralatan dan perlengkapan hidup pada zaman Kerajaan Badau diantaranya keris mini yang digunakan sebagai jimat, alat perlengkapan rumah tangga pada zaman Kerajaan Badau yakni tombak, tempayan, ling, kendi, gantang, periode tanah.

Terdapat juga alat kesenian tradisional yang disebut Kelinang alat kesenian beripat dari Pulau Belitung.

Di Museum Kerajaan Badau tim juga mendapatkan informasi dan melihat langsung adanya Puncak Kubah Masjid Badau terbuat dari Kayu Bulin.

“Masjid Badau merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Syekh Abu Bakar Abdullah di Pulau Belitung,” jelas Djohar, keturunan kesembilan silsilah Raja-raja Badau.

Tim Penelusuran Koleksi Budaya Etnis Anggya mewakili Kepala DKPUS Babel Rakhmadi mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Klenteng Hok Tek Che dan Keturunan Kerajaan Badau, yang telah menerima dan memberikan informasi secara gamblang kepada Tim DKPUS Babel.

“Kami senang dan berterima kasih karena berkesempatan langsung untuk dapat mengunjungi Museum Belitung, Klenteng Hok Tek Che, dan Museum Kerajaan Badau, untuk menelusuri informasi tentang koleksi Budaya Etnis di Kabupaten Belitung,” ungkapnya.

Semoga, kata dia, informasi yang didapatkan ini bermanfaat bagi masyarakat di Babel, terutama bagi generasi penerus Babel ke depan.

“Kami berjarap kegiatan ini dapat berlanjut di tahun 2023, karena masih banyak informasi berkenaan dengan budaya etnis di Babel yang belum tergali secara maksimal,” harapnya.