DKPUSBABEL, PANGKALPINANG – Kabupaten Bangka Selatan (Basel) menjadi salah satu Kabupaten yang mendapatkan Penghargaan Terbaik untuk implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).

Asyraf Suryadin selaku Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKPUS) Babel yang menerima secara langsung Penghargaan Kabupaten Terbaik Inklusi Sosial di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 2020 itu, menyerahkan kembali kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Selatan (Basel), Marsanti.

Penyerahan Plakat Penghargaan yang berlangsung di Ruang Kerja Kepala DKPUS Babel, Jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang, Kamis (10/12/2020) siang tersebut, disaksikan Pejabat Administrator (eselon III), Pustakawan Ahli Madya DKPUS Babel dan Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Basel.

Asyraf mengatakan, penghargaan yang diserahkan ini, merupakan kegiatan di Medan, Bangka Selatan tidak bisa hadir, akhirnya diwakili, dan kembali diserahkan.

“Harapan kita Penghargaan dari Perpusnas ini, akan memacu lebih baik kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan di Basel. Mudah-mudahan pada tahun 2021 nanti akan menerima penghargaan lagi. Saya yakin dan percaya apa yang dilakukan Kabupaten/Kota selama 1 tahun ini, sudah cukup baik,” kata Asyraf.

Tahun ini, kegiatan inklusi social diterima 3 kabupaten, yakni Bangka Barat, Bangka Tengah dan Bangka Selatan, dan kegiatan ada di tingkat kabupaten. Mudah-mudahan, harap Asyraf, tahun 2021 Dinas Perpustakan dan Kearsipan membina perpustakaan desa yang ada di Basel.

“Kita harus memotivasi mereka terus menerus, sehingga perpustakaan di Basel betul-berul menjadi bagian dari inklusi sosial, seperti ditemakan dalam kegiatan di Medan, “Literasi untuk Kesejahteraan”. Jadi, semakin banyak membaca buku, dan semakin banyak diaplikasikan, maka secara tidak langsung kesejahteraan masyarakat akan bertambah,” tutup Asyraf.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Basel, Marsandi mengungkapkan, penghargaan ini, memberikan motivasi bagi Dinas yang dipimpinya bagaimana mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi social ke depan.

“Kami telah melakukan hal-hal yang disarankan oleh Perpusnas RI melalui inklusi sosial, yaitu melakukan advokasi terhadap komunitas-komunitas yang ada di Basel, terutarama komunitas bidang seni, budaya, fotografi, serta pembuatan panganan (kue) yang berasal dari daun talang,” ujarnya.