PANGKALPINANG – Bimbingan Teknis (Bimtek) SPP-TIK bagi 20 PIC dan Penglola Perpustakaan di Bangka Belitung, yang berlangsung selama 4 hari di Swiss-Belhotel Pangkalpinang, resmi ditutup oleh Kepala DKPUS Babel, Rakhmadi diwakili Kabid Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DKPUS Babel, Abu Hapas, Rabu (22/5/2024).

Kegiatan yang dilaksanakan sejak 19 Mei 2024 tersebut diikuti 20 orang peserta utusan dari 1 PIC Bangka dengan 3 Pengelola Perpustakaan Desa, 1 PIC Bangka Selatan dengan 2 Pengelola Perpustakaan Desa, 1 PIC Bangka Barat dengan 5 Pengelola Perpustakaan Desa, 1 PIC Belitung Timur dengan 5 Pengelola Perpustakaan Desa.

Bimtek SPP-TIK yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (perpusnas) RI kerja sama dengan DKPUS Babel kali ini, dan merupakan bagian dari Program  Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), menghadirkan dua fasilitator ahli, diantaranya Runi ALcitra Amalia dari DKPUS Babel, dan Yulianti dari DKP Kabupaten Bangka Barat.

Kepala DKPUS Babel Rakhmadi diwakili Kabid Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DKPUS Babel Abu Hapas dalam sambutan penutupan Bimtek SPP-TIK dan Perpustakaan menyebutkan, Bimtek SPP-TIK dan Bimtek Perpustakaan Umum yang berlangsung selama 4 hari di Pangkalpinang, itu merupakan langkah konkret dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme para pengelola perpustakaan di seluruh Indonesia.

Dengan dukungan semua pihak, perpustakaan dapat menjadi pusat belajar dan sumber informasi yang memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Saat ini, sebagaimana data BPS, jumlah desa/kelurahan seluruh Indonesia mencapai 83.971. Berdasarkan Data Perpusnas tahun 2023 jumlah perpustakaan desa/kelurahan sebanyak 17.429 desa/kelurahan. 

Atas kondisi tersebut, menurut Abu, Ini adalah panggilan bagi semua untuk bertindak lebih proaktif dan holistik dalam mendirikan serta mengembangkan perpustakaan di setiap sudut desa.

Salah satu upaya pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yaitu melalui Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, yang memuat kewajiban pemerintah untuk memastikan seluruh masyarakat tanpa terkecuali mendapatkan hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dan informasi untuk membangun kehidupan yang berkualitas. 

Untuk itulah, Perpusnas terus mendorong peningkatan pelayanan perpustakaan hingga di tingkat desa/kelurahan.

Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dan Bahan Bacaan Bermutu Tahun 2024, merupakan salah satu kegiatan utama Perpusnas RI dalam upaya Penguatan Budaya Baca dan Literasi hingga di tingkat desa/kelurahan. 

Program ini, ulas Abu, adalah strategi pemerintah dalam memerangi rendahnya budaya literasi, inovasi, dan kreativitas dengan kondisi lanjutan, seperti: Pertama, Literasi memiliki kontribusi positif dalam rangka membantu menumbuhkan kreativitas dan inovasi, serta meningkatkan keterampilan dan kecakapan sosial yang sangat dibutuhkan pada era revolusi industri 4.0.

Kedua, Angka membaca selain kitab suci baik cetak maupun elektronik baru mencapai 45,72%. Ketiga, Nilai Tingkat Kegemaran Membaca 52,92 (Perpusnas, 2018). Keempat, Penduduk yang mengakses internet masih sebesar 43,47% (Susenas MSBP 2018).

Dengan kondisi tersebut, penajaman program Perpustakaan Nasional yang salah satunya yaitu penguatan kegemaran dan budaya literasi melalui kegiatan bantuan bacaan bermutu untuk perpustakaan desa/kelurahan dan taman bacaan masyarakat dapat betul-betul dimanfaatkan dalam rangka peningkatan pengetahuan masyarakat.

TPBIS, ulasnya lebih lanjut, adalah peningkatan peran dan fungsi Perpustakaan melalui pelibatan masyarakat sebagai wahana belajar sepanjang hayat, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pengguna perpustakaan. 

Program TPBIS adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh Perpusnas RI yang melibatkan pemerintah daerah baik provinsi maupun Kabupaten/Kota, untuk mengembangkan fungsi dan peran perpustakaan dalam memberikan pelayanan, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan.

“Bimtek SPP-TIK dan Bimtek Pengelola Perpustakaan Umum Tahun 2024 ini, merupakan upaya peningkatan kapasitas bagi tenaga perpustakaan desa/kelurahan dan Taman Baca Masyarakat (TBM), sebagai bentuk pendampingan bantuan sehingga para tenaga perpustakaan mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan bagi masyarakat,” ungkapnya. 

 

2.000 Penglola Perpustakaan Ikuti Bimtek Luring

Selain itu, perpustakaan yang dikelola dapat mendukung berprosesnya transfer pengetahuan dan menjadikan perpustakaan sebagai wadah bagi masyarakat untuk menemukan solusi dalam permasalahan-permasalahan yang ada melalui membaca dan bertukar informasi.

“Sejumlah 2.000 pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan TBM dijadwalkan mengikuti Bimtek secara luring di 34 Provinsi di Indonesia dalam 4 gelombang yang dimulai dari tanggal 19 Mei hingga 14 Juni 2024,” sebutnya. 

Untuk memperluas manfaat bantuan Program TPBIS dan Bahan Bacaan Bermutu, 8.000 pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan TBM lainnya akan mengikuti Bimtek serupa mulai bulan Juni 2024 secara daring. 

Bimtek akan diampu oleh 189 Pelatih Ahli yang berasal dari seluruh Indonesia, dan telah mendapatkan pelatihan khusus persiapan Bimtek SPP TIK dan Bimtek Pengelola Perpustakaan Umum.

“Dengan memberikan bimbingan teknis kepada para perpustakaan desa/kelurahan dan TBM, Perpusnas berharap seluruh peserta Bimtek dapat menyerap setiap ilmu yang diberikan, dan dapat menerapkannya langsung dalam penyelenggaraan perpustakaan yang dikelola oleh para peserta Bimtek,” harap dia. 

Pengetahuan mengenai pengelolaan perpustakaan, pelibatan masyarakat, dan advokasi, ditambahkannya, merupakan hal-hal mendasar yang perlu dimiliki oleh pengelola perpustakaan, agar pelayanan perpustakaan yang berkualitas dapat diselenggarakan oleh perpustakaan secara berkelanjutan.