DKPUSBABEL, PANGKALPNANG – Program Pemerintah Pusat melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) berupa Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, untuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), saat terus diimplementasikan.
Walaupun masih belum masksimal, Patonah (33) Ibu Rumah Tangga yang tinggal di Desa Pemali, Kecamatan Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), kini mulai “menikmati” berkah dari hasil kerajinan tangannya yang merupakan implementasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.
Menariknya, Patona sebelum menekuni sebagai seorang pengrajin tangan berbahan barang-barang beks tersebut, adalah sebagai seorang Guru PAUD.
“Awalnya saya baca-baca buku di perpustakaan Desa Pemali, terus saya tertarik dengan kerajinan barang-barang bekas. Kerajinan yang saya buat saya padukan bahan kain warna-warni yang disukai anak-anak milenial,” tutur Patona, disela-sela Kegiatan Pemasyarakatan Perpustakaan dan Minat Baca yang diselenggarakan di PIA Hotel Pangkalpinang belum lama ini.
Produk-produk kerajinan tangan yang dihasilkan Patona seperti gantungan kunci, bros, celengan, tempat tisu dan lainnya itu, Ia pasarkan melalui media online.
“Banyak produk yang sudah saya hasilkan dari implementasi Program Transformasi Bebasis Inklusi Sosial ini, mulai dari gantungan kunci, bros, celengan, tempat tisu dan lainnya. Biasanya kalau mau lebaran ada toples yang dipesan khusus. Saya memasarkannya secara online. Jadi, sesuai permintaan konsumen. Jadi, saya buat berdasarkan pesanan,” jelas Patonah.
Untuk mempelajari itu semua, Patonah menegaskan, Ia memanfaatkan Perpustakaan Berlian Desa Lemali. “Misalnya, saya ada permintaan karakternya doraemon dari masyakat, saya kan kurang begitu bisa menggambar, jadi saya mau tidak mau harus ke perpustakaan, saya buka buku juga internet melalui komputer di perpustakaan, untuk memelajari itu, lalu saya print,” ujarnya.
“Saya menerapkan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial ini, sudah dua tahunan. Namun untuk memanfaatkan internet di perpustakaan baru ada tahun lalu. Jadi, sambil jemput anak sekolah, saya manfaatkan waktu untuk ke perpustakaan dan baca-baca buku di sana,” ungkap Patona.
Ia mengatku, sebelum terjadinya Pandemi Covid-19, omset yang berhasil diraupnya per bulan jutaan rupiah. Namun, di masa Covid ini, hanya ratusan ribu.
Oleh karena itu, Ia sebagai ibu rumah tangga, mengajak masyarakat yang ada di Babel, untuk tidak ragu-ragu mengunjungi perpustakaan di daerah masing-masing. Manfaatkan perpustakaan sebagai wadah untuk menggali ilmu dan menerapkannya sesuai dengan potensi diri.
Sebab, katanya, selain mendapatkan ilmu dari membaca, ketika diaplikasikan ke hal yang produktif, tentu akan bernilai ekonomi.