Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY AT STATE ELEMENTARY SCHOOL 10 SUNGAILIAT, BANGKA REGENCY
9 Apr 2020

THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY AT STATE ELEMENTARY SCHOOL 10 SUNGAILIAT, BANGKA REGENCY

To increase reading interest since an early age, the mobile library of the Agency of Archives and Library of the Bangka Belitung Islands visiting some schools in the area of Bangka Island. On March 5, 2020. The mobile library and team are opened their service at the State Elementary School 10 Sungailiat, Bangka Regency. The librarian who is in charge is Mr. Samsul Bahri, S.Pd. They open their service from 08.00 until 11.30 wib. At this time, there are 201 students who are very enthusiastic take the advantages of the service. Some of them are having fun to see the picture of the book and moving from one book to another. But, some of them are seriously reading their favorite book. Most of them can read 2-3 books title per student. Hopefully, this activity can add their knowledge, insight, and self-confidence.

Samsul Bahri (Translated by Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY AT STKIP MUHAMMADIYAH, MANGKOL, PANGKALAN BARU SUB DISTRICT
8 Apr 2020

THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY AT STKIP MUHAMMADIYAH, MANGKOL, PANGKALAN BARU SUB DISTRICT

To increase reading interest since an early age, the mobile library of the Agency of Archives and Library of the Bangka Belitung Islands visiting some schools in the area of Bangka Island. On February 27, 2020. The mobile library and team opened their service at SD STKIP Muhammadiyah, Mangkol Village, Pangkalan Baru District. The librarian who is in charge is Mr. Danuar, S. Sos. There are 210 students who are very enthusiastic take the advantages of the service. Some of them are having fun to see the picture of the book and moving from one book to another. But, some of them are seriously reading their favorite book. Hopefully, this activity can add their knowledge, insight, and self-confidence.

Danuar (Translated by Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
TATA RUANG, PERABOT DAN PERLENGKAPAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
7 Apr 2020

TATA RUANG, PERABOT DAN PERLENGKAPAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Salah satu upaya untuk peningkatan mutu pendidikan sebagai mana disebutkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tersurat bahwa setiap satuan pendidikan jalur sekolah baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar. Salah satu sumber belajar yang sangat penting adalah perpustakaan, dari mulai tenaga kependidikan, peserta didik maupun staf penyelenggara sekolah memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk memperdalam pengetahuan dengan membaca bahan pustaka yang diperlukan baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan maupun sekedar untuk hiburan. Sebagaimana kita tahu bahwa pepustakaan tidak hanya sebagai sumber belajar yang sangat penting, perpustakaan juga berfungsi sebagai pusat pelayanan bahan pustaka, tempat bimbingan membaca, pusat belajar mengajar, pusatinformasi, pusat penelitian sederhana dan pusat rekreasi. Sekarang ini sangat kita sadari bahwa peran penting perpustakaan ini belum merupakan prioritas utama baik dari pihak sekolah maupun pemerintah karena perpustakaan sekolah yang ada sekarang belum dapat dikatakan memadai dari sisi sarana maupun prasarana termasuk gedung/ruang perpustakaan dan perlengkapannya. Keberadaan perpustakaan sekolah masih kurang mendapatkan perhatian. Seperti halnya Sekolah Dasar ( SD )di Pangkalpinang ini, masih banyak sekolah yang keadaan perpustakaannya belum memadai, baik dari segi keadaan bangunannya maupun perlengkapan koleksi bukunya. Kondisi ini menyiratkan bahwa, penentu kebijakan di sekolah belum memprioritaskan perpustakaan sekolah sebagai program sekolah yang perlu mendapat perhatian lebih untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Untuk dapat sedikit mengatasi kendala-kendala yang ada dan memaksimalkan fungsi perpustakan perlu direncanakan pengaturan tata ruang dan perlengkapan perpustakaan dengan baik. Pendirian gedung perpustakaan perlu mempertimbangkan tujuan yang telah ditetapkan serta fungsi perpustakaan yang bersangkutan. Fungsi perpustakaan juga mempunyai pengaruh terhadap kebutuhan dan susunan ruangan yang diperlukan, karena untuk menampung semua aktivitas perpustakaan, suatu perpustakaan bukan hanya menyediakan ruang kemudian mengisi dengan koleksi yang diatur berdasarkan suatu system tertentu serta siap dipinjamkan tetapi lokasi perpustakaan, aspek penataan ruang, penataan perabot dan perlengkapan, alur petugas dan pengguna serta penerangan perlu diperhatiankan oleh penyelenggara pepustakaan. Suatu perpustakaan agar dapat menarik perhatian masyarakat yaitu terciptanya suasana ruangan yang aman, nyaman, dan menyediakan akses yang cepat dan tepat waktu ke aneka ragam koleksi sumber daya yang terorganisasi, dirancang dan dikelola sehingga secara estetis pengguna tertarik dan kondusif dalam hiburan serta pembelajaran, dengan panduan dan tanda-tanda yang jelas dan menarik. Dan dimana tata letak semua perlengkapan di ruangan tersusun secara rapi seperti, letak meja, kursi, rak buku, loker tempat penitipan tas dan barang lain sebagainya. Selain itu, tersedianya peralatan perpustakaan yang diperlukan secara langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Yang termasuk dalam perlengkapan perpustakaan seperti , buku pedoman perpustakaan, buku klasifikasi, kartu catalog, buku Induk,kantong buku, lembar tanggal kembali, label,  cap inventaris, cap perpustakaan, dll.   DAFTAR PUSTAKA Kosasih, A., Sos, S., & Pertama, P. (2010). Tata Ruang, Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah. Malang: Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Diakses dari www. google. com tanggal, 13. ( Diakses Pada Tanggal 1 April 2020 )

Runi Alcitra Amalia Baca Selengkapnya
THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY OF ARCHIVES AND LIBRARY AGENCY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE AT STATE ELEMENTARY SCHOOL  1 AIR GEGAS, AIR BARA, SOUTH BANGKA REGENCY
1 Apr 2020

THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY OF ARCHIVES AND LIBRARY AGENCY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE AT STATE ELEMENTARY SCHOOL 1 AIR GEGAS, AIR BARA, SOUTH BANGKA REGENCY

Mobile library service is one of the services which regularly organized by the Provincial Library of Bangka Belitung Province. This service aims to overcome the information gap for local communities and a way to make them closer with the library. Besides that, the Agency of Archives and Library as the local government tries to give information services for society and all at once to achieve its missions: fostering and developing a culture of reading. On Tuesday, March 10, 2020, the target of mobile library service is visiting the State Elementary School 1 Air Gegas, Air Bara, South Bangka Regency. Some procedures are required before doing the service: selected the duty officers (a librarian from The Agency Of Archive And Library), prepared the letters of duty signed by the head of the agency, and visited the target of mobile library service.  At this trip, there are about 175 students from the total of 361 students. They are taking turns to select the reading material starting from level 1 to level 5. For level 6 students, they are having Try Out (TO) for preparing the National Test (UN). The student’s favorite collections are various, including fiction and non-fiction books. Most of them can read 2-3 books. This mobile library service is expected can ease society in obtaining information, a way to spread the information service until the remote areas, building a good cooperation among social, education and  local government to improve the intellectual and cultural society.

Hari Budiman (Translated by Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY OF ARCHIVES AND LIBRARY AGENCY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE AT STATE VOCATIONAL SCHOOL  1 SIMPANG KATIS, TERAK, CENTRAL BANGKA REGENCY
28 Mar 2020

THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY OF ARCHIVES AND LIBRARY AGENCY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE AT STATE VOCATIONAL SCHOOL 1 SIMPANG KATIS, TERAK, CENTRAL BANGKA REGENCY

A mobile library service is one of the services which regularly organized by the Provincial Library of Bangka Belitung Province. This service aims to overcome the information gap for local communities and a way to make them closer with the library. Besides that, the Agency of Archives and Library as the local government tries to give information services to society and all at once to achieve its missions: fostering and developing a culture of reading. On Thursday, February 20, 2020, the target of mobile library service is visiting State Vocational School 1 Simpang Katis, Terak, Central Bangka Regency. Some procedures are required before the officers do the mobile library service: selected the duty officers (a librarian of the agency of archive and library), prepared the letter of duty signed by the head of the agency, and visited the target of mobile library service.  At this trip, there are only 105 students enjoy the services and they are coming from X grade. For the IX grade students, they have field work practices for 3 months and the XI grade students have UNBK simulation. The student’s favorite collections are various, including fiction and non-fiction books. Most of them can read 2-3 books. This mobile library service is expected can ease society in obtaining information, a way to spread the information service until the remote areas, building a good cooperation among social, education and  local government to improve the intellectual and cultural society.

Anggya Dwie Permatasari (Translated by Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
9 Mar 2020

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Sekolah pada dasarnya sebagai wahana pengembangan minat baca siswa. Minat baca siswa akan tumbuh dan berkembang jika telah menjadi kebutuhan bahkan kegemaran bagi para siswa. Untuk memacu minat baca siswa perlu dilakukan antara lain: (1) menumbuhkan kegemaran membaca siswa sejak dini, (2) menciptaan kondisi yang mendukung untuk membaca, dan (3) menyediakan sarana dan prasarana membaca. Tujuan, Peran dan Fungsi Perpustakaan            Maksud dan tujuan dibentuknya perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut: 1. Menyediakan buku-buku yang menunjang kegiatan pembelajaran bagi pengguna jasa perpustakaan, baik untuk publik, guru/dosen maupun para siswa/mahasiswa. 2. Menjadi sumber informasi yang berguna bagi keperluan penelitian, penulisan, atau studi suatu bidang ilmu tertentu maupun topik khusus yang berkaitan dengan keperluan belajar-mengajar atau untuk penyebarluasan informasi kepada publik atau pengguna jasa perpustakaan. 3. Memberikan layanan yang berkaitan dengan informasi tertulis, digital, maupun bentuk media lainnya yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. 4. Memberikan layanan referensi yang membantu pengguna perpustakaan untuk mencari sumber informasi lainnya di luar perpustakaan.              Selanjutnya perpustakaan sekolah memiliki peran dan fungsi sebagai berikut: 1. Sebagai salah satu pusat sumber belajar. 2. Sebagai pusat dokumentasi informasi-edukatif. 3. Sebagai pusat layanan informasi-edukatif. 4. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. 5. Pusat Belajar Mandiri bagi siswa. Standar Sarana dan Prasarana: Perpustakaan Sekolah             Amanat yang terkandung di dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, berkait dengan perpustakaan sekolah antara lain sebagai berikut: 1. Standar Tenaga Pendidik & Kependidikan: SDLB, SMPLB, dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, tenaga kebersihan sekolah, teknisi sumber belajar, psikolog, pekerja sosial, dan terapis. 2. Standar Sarana & Prasarana: a. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. b. Standar buku perpustakaan dinyatakan dalam jumlah judul dan jenis buku di perpustakaan satuan pendidikan. c. Standar jumlah buku teks pelajaran di perpustakaan dinyatakan dalam rasio minimal jumlah buku teks pelajaran untuk masing-masing mata pelajaran di perpustakaan satuan pendidikan untuk setiap peserta didik. d. Standar sumber belajar lainnya (antara lain jurnal, majalah, artikel, website) untuk setiap satuan pendidikan dinyatakan dalam rasio jumlah sumber belajar terhadap peserta didik sesuai dengan jenis sumber belajar dan karakteristik satuan pendidikan. 3. Standar Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas 4. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 Tanggal 23 Mei 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah perlu: a. menyediakan petunjuk pelaksanaan operasional peminjaman buku dan bahan pustaka lainnya b. merencanakan fasilitas peminjaman buku dan bahan pustaka lainnya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan pendidik c. membuka pelayanan minimal enam jam sehari pada hari kerja d. melengkapi fasilitas peminjaman antar perpustakaan, baik internal maupun eksternal e. menyediakan pelayanan peminjaman dengan perpustakaan dari sekolah atau madrasah lain baik negeri maupun swasta. Strategi Pengelolaan Perpustakaan             Strategi untuk memelihara eksistensi maupun mengembangkan perpustakaan, menurut Mulyani A. Nurhadi (2004), ada lima kita, yaitu: layanan bermutu, demand driven, public relation, bekerja berdasarkan rencana, akuntabilitas internal, akuntabilitas publik, never retreat (maju terus dan tidak putus asa). 1. Layanan Bermutu. paradigma layanan gratis harus dirubah menjadi layanan bermutu, walaupun harus membayar. 2. Demand Driven. Merubah pola layanan perpustakaan dari supply driven menjadi demand driven. Dasar untuk memberikan layanan informasi kepada pemakai bukannya apa yang dipunyai, tetapi apa yang diinginkan oleh pemakai. 3. Public Relation. Bekal pengetahuan tentang bagaimana mengelola perpustakaan perlu dilengkapi dengan bekal untuk berhadapan dengan pemakai dalam bentuk pelajaran public relation atau hospitality sehingga memberikan kenyamanan bagi pemakai perpustakaan. 4. Bekerja Berdasarkan Rencana. Perencanaan yang baik adalah dilakukan dengan menggunakan perencanaan strategi (strategic planning) karena sangat memperhatikan stakeholders, termasuk pemakai perpustakaan. Hasil perencanaan yang lengkap mencakup visi, misi, program, rencana pengembangan dan kegiatan, rencana anggaran yang diperlukan, beserta tolok ukur keberhasilannya. 5. Akuntabilitas Internal. Akuntabilitas ke pimpinan. Sebaik apapun rencana program dan kegiatan dibuat, tetapi kalau tidak memperoleh persetujuan dari pimpinan akan tidak dapat berjalan. 6. Akuntabilitas publik dan transparansi. Perpustakaan harus mempertanggungjawabkan penggunaan uang tersebut kepada seluruh stakeholders secara transparan sehingga apa yang diperoleh dari publik berapa dana yang diberikan dapat dimengerti benar peruntukannya. 7. Never Retreat (maju terus dan tidak putus asa). Dalam perkembangannya, mengelola perpustakaan untuk menjadi menarik bagi pemakai membutuhkan waktu, perubahan tingkah laku dan sikap terhadap informasi, dan wawasan tentang penguasaan ilmu pengetahuan. Meningkatkan Minat Baca          Seringkali yang terjadi masalah perpustakaan adalah masalah ‘ketiadaan’ atau ‘ketidakberdayaan’ fasilitas. Mulai dari ketiadaan tempat, ketiadaan koleksi, ketiadaan sarana pendukung, dan sarana prasarana lainnya. Namun yang penting dalam pengelolaan fasilitas harus diperhatikan 3 hal yakni: (1) nyaman, (2) terbuka, dan (3) kemudahan bagi pengguna. Ketika kita merancang sebuah fasilitas untuk perpustakaan sekolah, setidaknya ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi: 1. Tata letak harus dapat menunjukkan bahwa perpustakaan dapat difungsikan dengan baik. 2. Desain harus memperhatikan aspek estetika dan ergonomis. 3. Akses ke bahan pustaka ruang, dan informasi harus mudah bagi semua pengguna. 4. Harus diperhatikan masalah arus ‘lalu-lintas’ pengguna, keselamatan dan keamanan. 5. Ruangan sedapat mungkin mengakomodirisasi kebutuhan pengguna, juga tentunya untuk keperluan penyimpanan dan pengolahan.            Berikut ini beberapa strategi yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah dan guru kelas dalam membangkitkan minat baca anak didik: 1. Guru kelas dan kepala sekolah harus mempunyai kontribusi dan komitmen yang tinggi terhadap perpustakaan sekolah. 2. Membuat program minat baca yang sudah diintegrasikan dengan kurikulum pembelajaran. 3. Guru kelas membentuk kelompok diskusi anak ke dalam beberapa kelompok kecil. 4. Pihak sekolah harus menjalin kerjasama dengan orang tua/wali murid. 5. Mengadakan lomba perpustakaan seperti karya tulis, madding, dan jenis kegiatan lainnya. 6. Berilah penghargaan terhadap anak didik yang rajin membaca 7. Diupayakan media internet di perpustakaan sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan siswa.   Daftar Pustaka Arif Surachman. (tth.). http://arifs.staff.ugm.ac.id/mypaper/manpersek.pdf. http://library.site88.net/. Mulyani A. Nurhadi. (2004). “Strategi Memberdayakan Perpustastakaan”. Makalah             disampaikan pada Workshop tentang Strategi Pemberdayaan Perpustakaan,             diselenggarakan oleh KPI tanggal 24-25 Juni 2004, di Jakarta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 Tanggal 23 Mei 2007              Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan               Menengah. PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Tatang M. Amirin. (2004). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. FIP UNY.  

Runi Alcitra Amalia Baca Selengkapnya
THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY AT STATE SENIOR HIGH SCHOOL  1 SUNGAI SELAN, BANGKA REGENCY
4 Mar 2020

THE OPERATION OF MOBILE LIBRARY AT STATE SENIOR HIGH SCHOOL 1 SUNGAI SELAN, BANGKA REGENCY

A Mobile Library of The Agency of Archive and Library of Bangka Belitung Province is one of the activities that provide reading services for schools and villages using a mobile library car. This service aims to help users who want to utilize the public library services but live far away from the library. On February 12, 2020, a mobile library and team visits State Senior High School 1 Sungai Selan, Central Bangka Regency. There are 238 users who are very enthusiastic with the presence of the mobile library car. At this trip, a librarian who is in charge is Mr. Danuar.

Danuar (Translated by Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
Kreativitas Pustakawan dalam Pengelolaan Pepustakaan
4 Mar 2020

Kreativitas Pustakawan dalam Pengelolaan Pepustakaan

Dalam pengelolaan perpustakaan, seorang pustakawan membutuhkan kreativitas. Pustakawan harus kreatif dan bisa menciptakan berbagai ide dan metode untuk menarik dan memacu minat masyarakat terhadap berbagai fasilitas bacaan yang disiapkan perpustakaan. Kreativitas diperlukan untuk menjadikan koleksi perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh pemustaka dengan baik dan benar. Pustakawan harus mampu melaksanakan perencanaan penyelenggaraan kegiatan perpustakaan khususnya yang berhubungan dengan tugas pada bagian layanan koleksi perpustakaan, mengingat kegiatan layanan koleksi perpustakaan hanya akan berhasil jika pustakawan punya kreativitas yang tinggi. Kreativitas itu bisa dilakukan dengan mempromosikan koleksi perpustakaan kepada pemustaka agar mereka mengetahui, mampu memanfaatkan dengan baik dan benar, termasuk menggunakannya untuk keberhasilan pembelajaran. Pustakawan dituntut mampu membuat suatu program serta terobosan yang dapat membuat penggunanya sering mengunjungi perpustakaan dan mencintai perpustakaan. Pustakawan harus menciptakan suasana perpustakaan yang  nyaman, sehingga pengguna perpustakaan yang membaca merasa betah berada di perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan harus dikelola oleh pustakawan yang profesional, sanggup menjawab kebutuhan para penggunanya dengan penyediaan koleksi buku yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan. Sehingga perpustakaan mampu dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat pengguna dan dapat mengurangi angka buta di berbagai wilayah. Pustakawan perlu mengupayakan tetap menyediakan waktu berkualitas untuk bertemu dengan berbagai kolega. Pertemuan tersebut mendatangkan energi kreativitas pustakawan. Sikap utama yang dibutuhkan dalam membina kerjasama yang positif adalah ”sikap rendah hati”. Mau mendengar pendapat dan dapat menghargai kelebihan orang lain. Sering berdiskusi dan berinteraksi dengan banyak orang akan menyulut ide yang memunculkan kreativitas inovatif sesuai dengan perkembangan zaman. Pustakawan harus kreatif mengembangkan berbagai akitivitas baru, manajemen baru yang belum pernah terlintas dibenak siapapun dalam mengembangkan perpustakaan. Banyak aktivitas yang dapat mendukung majunya sebuah perpustakaan seperti kegiatan worskhop menulis, launching dan bedah buku, temu penerbit dan penulis buku, bahkan tidak kalah menarik adalah mengadakan lomba membaca dan tulis buku dengan pemberian penghargaan serta hadiah kepada anggota perpustakaan setiap berkunjung atau pengunjung yang berpartisipasi besar terhadap citra perpustakaan supaya pengguna tidak mudah bosan. Dari sinilah pustakawan harus bisa berpikir inovatif dan kreatif dalam menciptakan hal yang baru, supaya pengguna betah dan nyaman berkunjung diperpustakaan. Munandar (2002: 26) mengutip Rhodes yang mengategorikan kreativitas menjadi 4 (empat) bagian: 1) Person (pribadi kreatif), menjadi motor sekaligus pondasi bagi tumbuhnya aktivitas-aktivitas kreatif; 2) Process (proses kreatif) menghasilkan atmosfir kerja untuk selalu menghasilkan ide-ide dalam mendukung aktivitas kreatif; 3) Press (dorongan/ dukungan lingkungan), mempengaruhi variasi/aneka ragam aktivitas kreatif; 4) Product (produk kreatif), menjadi andalan bagi aktivitas kreatif untuk selalu dimanfaatkan pelanggan perpustakaan. Lebih lanjut Sund (dalam Munandar 1987: 37) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri: 1) Hasrat ingin tahu yang besar. Seseorang yang kreatif tentunya mempunya hasrat ingin tahunya sangat tinggi dan besar; 2) Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru. Baginya pengalaman merupakan guru yang terbaik; 3) Panjang akal. Artinya dia berpandangan luas dan tidak sempit memandang suatu persoalan; 4) Keinginan untuk menemukan dan meneliti. Karena hasrat ingin tahunya besar, maka dia mempunyai keinginan untuk meneliti suatu persoalan yang dihadapinya; 5) Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit. Dia menyukai tantangan dan tugas yang bisa membuatnya berpikir secara kreatif dan inovatif; 7) Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan; Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas; 8) Berpikir fleksibel; 8) Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak; 9) Kemampuan membuat analisis dan sintesis; 10) Memiliki semangat bertanya serta meneliti; 11) Memiliki daya abstraksi yang cukup baik, dan 12) Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas. Berdasarkan uraian di atas, maka point utama kreativitas pustakawan adalah bagaimana implementasi berpikir positif dan bersikap kreatif pustakawan dalam menjalani tugas pokok dan fungsinya di dunia kepustakawanan. Sehingga dengan adanya kreativitas pustakawan diharapkan mampu beradaptasi dengan kemajuan di era digital seperti sekarang ini. Pada dasarnya, secara konkret upaya pustakawan membangun kreativitas inovatif bisa dilakukan dengan: a) Mengikuti perkembangan teknologi informasi. Artinya pustakawan harus punya keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi; b) Memiliki keterampilan komputer. Era digital seperti sekarang ini, komputer merupakan salah satu sarana akses ke era digital. Oleh karena itu penguasaan komputer bagi seorang pustakawan menjadi suatu keharusan; c) Meminta izin kepada pimpinan untuk studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi di dalam dan luar negeri. Hal ini untuk mengimbangi perkembangan zaman dan tuntutan karir; d) Mengikuti pelatihan kepustakawanan yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional dan lembaga lainnya. Hal ini dilakukan untuk memperluas wawasan dan keterampilan serta kompetensi seorang pustakawan; e) Kunjungan atau studi banding ke perpustakaan yang lebih besar dan maju baik dalam maupun luar negeri. Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Dengan studi banding maka ada pelajaran dan pengalaman yang bisa diambil dan kemudian diterapkan di perpustakaan; f) Peningkatan kompetensi berbahasa asing, minimalnya bahasa inggris; g) Peningkatan jumlah dan kualitas terbitan ilmiah dan penelitian bagi pustakawan. Hal ini dilakukan untuk menunjang referensi pustakawan untuk mengembangkan ide-ide kreatifnya. Dari paparan di atas, Pustakawan memegang peran yang sangat penting dalam pengelolaan perpustakaan. Terutama di era digital seperti sekarang pustakawan harus kreatif inovatif, harus selalu melihat perkembangan perpustakaan dan kepustakawanan, harus mampu mengamati perkembangan lingkungan lokal dan nasional. Kemudian pustakawan jangan terkekang dengan lingkungan perpustakaan saja. Pustakawan harus mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu membangkitkan kreativitas seperti membangun jaringan dengan lembaga swadaya masyarakat, komunitas dan bahkan bakti sosial. Pustakawan jangan takut dengan hal-hal baru yang dihadapi. Kreativitas dan inovasi juga dapat ditingkatkan dengan cara mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan pengalaman. Lakukan hal baru itu sebagai sebuah permainan, sehingga pustakawan merasa senang melakukannya, serta lebih siap menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Perasaan senang itu merupakan kunci meningkatkan daya kreativitas. Serta pustakawan hendaknya selalu mengikuti secara kontinu pelatihan, pengembangan diri, dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.    

Uliarta Simanjuntak, S.Sos, Pustakawan Ahli Muda Pada DKPUS Baca Selengkapnya
Pengembangan Literasi Informasi Bagi Masyarakat Melalui Layanan Pendidikan Pemakai di Perpustakaan
20 Feb 2020

Pengembangan Literasi Informasi Bagi Masyarakat Melalui Layanan Pendidikan Pemakai di Perpustakaan

Keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses terbentuk masyarakat yang cerdas. Perpustakaan mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena perpustakaan bertugas mengumpulkan mengelola dan menyediakan rekaman pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari. Dengan perpustakaan akan tertolonglah masyarakat ekonomi lemah dalam mengakses informasi yang mereka perlukan. Dalam kasus ini perpustakaan dapat dikatakan menjadi sarana mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaan perpustakaan juga merupakan penghayatan falsafah negara kita yaitu Pancasila (Sudarsono, 2006). Guna menggambarkan perpustakaan sebagai sesuatu yang mempunyai peran penting di masyarakat atau bangsa, maka perpustakaan mendapatkan sebutan yang baik dan dapat dikatakan mempunyai makna yang tinggi, antara lain; perpustakaan gudangnya ilmu dan informasi, perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi, perpustakaan membangun kecerdasan bangsa, perpustakaan sebagai terminal informasi, perpustakaan membuka cakrawala pengetahuan dunia dan lain sebagainya. Namun secara realita, masyarakat dalam memanfaatkan perpustakaan masih sangat rendah, baik itu di perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah atau perpustakaan khusus lainnya. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya apresiasi, kunjungan dan pemanfaatan fasilitas koleksi yang ada di perpustakaan. Masyarakat yang memiliki literasi informasi adalah masyarakat yang telah mengerti, menyadari, memahami, dan menggunakan tulisan (bacaan dan sumber informasi). Dengan kata lain, selain mempunyai budaya lisan/tutur yang telah dibawa sejak turun-temurun, ratusan bahkan ribuan tahun. Mereka telah mengembangkan budaya baca dan tulis (Sutarno NS, 2006). Masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi harus terus diimbangi dengan penyediaan fasilitas seperti perpustakaan dan bahan bacaan yang memadai sesuai kebutuhan masyarakat (Priyanto, 2007). Hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadi pemburu informasi dan ”melek informasi” dalam memenuhi kebutuhannya. Tantangan terbesar bagi perpustakaan adalah merubah paradigma perpustakaan menjadi tempat belajar yang menarik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masa kini. Perpustakaan agar lebih maju, lebih menarik dan memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu; peningkatan fasilitas, materi pembelajaran, dan kapasitas layanan. Masyarakat literasi, merupakan pendukung efektif bagi berkembangnya budaya belajar. Perpustakaan yang baik seharusnya bisa berfungsi sebagai pusat pembelajaran, bahkan bisa juga berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change) bagi masyarakatnya. Keberadaan perpustakaan sangat diharapkan untuk dapat berperan sebagai agen pengembangan modernisasi masyarakat (Kartosedono, 1995). Kondisi semacam itu hanya bisa ditemui dalam masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi. Keberadaan perpustakaan tidak akan berpengaruh dalam masyarakat yang memiliki budaya baca rendah. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangun literasi masyarakat pada perpustakaan. Satu diantara cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan pemakai. Menurut Hak (2008) mengutip Maskuri (1995) pendidikan pemakai atau seringkali disebut user education adalah suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia. Pemanfaat perpustakaan oleh masyarakat saat ini masih rendah, yaitu ditandai dengan sedikitnya jumlah pengunjung perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi. Salah satu faktor sedikitnya jumlah pengunjung dalam memanfaatkan informasi adalah literasi informasi masayarkat dalam menggunakan perpustakaan. Literasi informasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif. Oleh karena salah satu cara yang digunakan untuk membangun literai informasi di perpustakaan dengan pendidikan pemakai. Pendidikan pemakai suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia. Dalam hal ini bentuk pendidikan pemakai yang digunakan melalui orientasi perpustakaan, yaitu pendidikan jangka pendek dalam upaya membangun pengetahun pengguna dalam menggunakan perpustakaan. Dengan muatan materinya antar lain untuk mengetahui perpustakaan dan sistem pelayanan perpustakaan, dan cara menggunakan fasilitas di perpustakaan. Sehingga dengan pendidikan pemakai ini literasi masyarakat penggunan akan baik dan familier dalam memanfaatkan informasi diperpustakaan. Informasi merupakan sebuah entitas yang berpotensi untuk menjadi sebuah kekuatan sekaligus sumber kebingungan bagi banyak orang. Setiap hari kita ditantang untuk berhadapan dengan informasi yang melimpah ruah dan melaju dengan kencang, dalam berbagai format yang terhitung pula jumlahnya. Keterampilan dasar dalm melek informasi yang tidak lain adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dari berbagai sumber secaraefektif, menjadi sebuah keahlian yang teramat penting dan harus dikuasai oleh semua pihak baik pustakawan maupun pengguna. Setiap orang dalam menjalani kehidupannya pasti dihadapkan pada berbagai macam permasalahan dan pilihan yang terkadang membingungkan. Selanjutnya letak perbedaannya adalah seberapa besar masalah tersebut dan bagaimana seseorang menyikapinya. Misalnya: seseorang yang sedang membutuhkan berbagai referensi pada saat akan memulai usaha wiraswasta beternak lobster, siswa yang bingung mau melanjutkan studi kemana, pustakawan yang mau memulai menulis tapi kurang literatur, mahasiswa yang kesulitan mencari bahan untuk menyelesaikan tugas, ibu-ibu yang ragu antara memilih tempat belanja barang yang dirasa murah dan berbagai masalah lainnya yang biasa kita hadapi sehari-hari. Oleh karena itu tulisan singkat ini kami tulis dengan maksud agar kita menyadari betapa pentingnya ’literasi informasi’ agar permasalahan tersebut semuanya dapat kita selesaikan dan kita putuskan penyelesaiannya secara bijak. Selanjutnya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan tersebut, solusi yang tepat adalah segera akses ke perpustakaan merupakan alternatif sebagai sarana mendukung literasi informasi tersebut. Padahal seseorang yang datang ke perpustakaan juga dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang beraneka macam bentuk dan kemasannya. Selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana kita dituntut untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat dengan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, sehingga dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. Semakin kita bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang menimpa kita dengan mengambil keputusan yang tepat, maka semakin menunjukkan tingkat kemandirian dan kedewasaan kita. Selain itu keputusan yang kita ambil akan menjadi baik tergantung pada bagaimana informasi itu bisa kita peroleh secara tepat. Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah literasi informasi (information literacy). Literasi informasi dapat diistilahkan juga dengan istilah ’melek informasi’ maupun ’keberaksaraan informasi’. Bahkan di berbagai pertemuan/forum ilmiah juga sering didiskusikan mengenai literasi informasi ini. Oleh karena itu, dalam rangka menanggapi kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan kompleks serta untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat informasi, maka kita memerlukan adanya literasi informasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup (lifelong learning). Akibat dari terus berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, maka dalam waktu 24 jam sejak kita bangun pagi sampai tidur malam hari jutaan informasi telah menyebar kemana-mana. Apalagi saat ini di perpustakaan sebagai sarana pendukung literasi informasi, ada banyak sekali sumber media yang bisa kita akses. Misalnya: perpustakaan selain menyediakan media cetak yang berupa buku, jurnal, majalah, surat kabar, juga menyediakan media noncetak seperti radio, televisi, internet maupun berbagai jenis bentuk multimedia lainnya. Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang berkaitan satu  sama lain. Maksudnya bahwa literasi informasi tidak akan sempurna tanpa kehadiran perpustakaan yang memadai. Namun pernahkah kita sadari bahwa keberadaan perpustakaan yang menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu ternyata membawa dampak yang sangat positif dan sangat membantu literasi informasi bagi masyarakat.   DAFTAR PUSTAKA file:///C:/Users/Asus/Downloads/2-3-1-SM.pdf https://www.kompasiana.com/pustakawan/5512daf08133113644bc601b/membangun-literasi-informasi-perpustakaan-melalui-pendidikan-pemakai

Runi Alcitra Amalia Baca Selengkapnya