Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE  AT SDN 6 TEMPILANG, WEST BANGKA REGENCY
27 Nov 2019

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE AT SDN 6 TEMPILANG, WEST BANGKA REGENCY

Mobile library service which organized regularly by provincial library of Bangka Belitung province is one of service to overcome the information gap of local communities and made them closer with library. Through this activity, the Agency of Archives and Library as the local government is trying to achieve its mission: fostering and developing a culture of reading by providing information services proactively. The target of mobile library service on Monday, October 31, 2019, is visiting SDN 6 Tempilang, West Bangka regency.  But before that, some procedures are required:  selected the duty officer (a librarian from the Agency of Archive and Library), prepared the letter of duty signed by the head of the Agency and visited the target of mobile library service.  At SDN 6 Tempilang, the visitors are 93 students from the total of 136 students. It means 68% from the total of the students. They are really enthusiastic with this activity as they are never been visited by local mobile library service or provincial mobile library service. At this school, the student’s favorite collections are various, including fiction and non-fiction books. For fiction books, they like to read story book and comic. And for non-fiction books, they like to read science, agriculture, plantation and craft. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, building a good cooperation among social, educational and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan, Translated by: Maria Ulfah Baca Selengkapnya
 THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE  AT SDN 1 MERAWANG, BANGKA REGENCY
27 Nov 2019

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE AT SDN 1 MERAWANG, BANGKA REGENCY

Mobile library service which organized regularly by provincial library of Bangka Belitung province is one of service to overcome the information gap of local communities and made them closer with library. Through this activity, the Agency of Archives and Library as the local government is trying to achieve its mission: fostering and developing a culture of reading by providing information services proactively. The target of mobile library service On Monday, October 14, 2019, is visiting SDN 1 Merawang, Bangka regency.  But before that, some procedures are required:  selected the duty officer (a librarian from the Agency of Archive and Library), prepared the letter of duty signed by the head of the Agency and visited the target of mobile library service.  At SDN 1 Merawang, the visitors are 93 students from the total of 232 students. It means 40% from the total of the students. Most of the students are interested in both fiction and non-fiction books. More and less, they can read 2 books per students. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, building a good cooperation among social, educational, and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan, Translated by: Maria Ulfah Baca Selengkapnya
Eprints sebagai Institusional Repository pada UPT Perpustakaan  Universitas Bangka Belitung
25 Nov 2019

Eprints sebagai Institusional Repository pada UPT Perpustakaan Universitas Bangka Belitung

Perpustakaan merupakan salah satu sarana pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Keberadaan pepustakaan dalam suatu lembaga menjadi sangat penting tidak terkecuali di perguruan tinggi, bahkan kemajuan suatu perguruan tinggi dapat dilihat dari kemajuan perpustakaannya. Begitu pentingya perpustakaan sehingga perpustakaan dkatakan sebagai jantungnya perguruan tinggi, artinya tanpa adanya perpustakaan sebuah perguruan tinggi akan sangat sulit menciptakan generasi cerdas baik moral, intelektual maupun spiritual. Disamping itu perpustakaan berupaya memberikan dan melengkapi fasilitas baik itu untuk kepentingan pendidikan, rekreatif maupun penelitian. Melalui beberapa proses kegiatan mulai dari mengumpulkan, melestarikan, mengolah, memanfaatkan dan menyebarluaskan informasi. Kemajuan teknologi dan informasi menuntut Perpustakaan harus terus berkembang dan berinovasi agar tidak ditinggalkan oleh penggunanya, tidak terkecuali perpustakaan perguruan tinggi. Dalam UU No. 43 tahun 2007 dijelaskan bahawa Perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Setiap perguruan tinggi menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan standar nasional pendidikan, dimana keberadaan perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk mendukung program Tri dharma Perguruan Tingi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unit pelaksana teknis yang bersama-sama dengan unit lain turut mendukung dan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni melalui penyediaan dan penyebarluasan sumber informasi. Sebagai salah satu penyedia informasi yang keberadaannya sangat penting di dunia pendidikan, perpustakaan perguruan tinggi harus mampu mengelola setiap informasi baik yang dihasilkan oleh sivitas akademika sendiri maupun yang bersumber dari luar universitas. Adapun hasil karya nyata dari proses pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah karya ilmiah berupa skripsi, tesis, disertasi, hasil penelitian dan lain-lain merupakan asset yang berharga bagi institusi Perguruan Tinggi tidak terkecuali di Universitas Bangka Belitung, oleh karenanya hasil karya ilmiah tersebut perlu dikelola dan dilestarikan. Dalam rangka mengelola hasil karya sivitas akademika di lingkungan Universitas Bangka Belitung, Perpustakaan mengambil peran agar hasil karya tersebut dapat dilestarikan dan disebarluaskan dengan pengelolaan koleksi dalam format digital dalam sebuah repository institusi. Menurut lynch (2003), repository intitusi berbasis universitas adalah satu set layanan yang ditawarkan universitas kepada anggota komunitasnya dalam pengelolaan dan penyebaran materi digital yang dibuat oleh lembaga dan anggota komunitasnya. Sedangkan Crow (2002: 4) dalam Ezema (2011: 476) menyebutkan bahwa repositori intitusi adalah menyimpan dan melestarikan koleksi digital hasil intelektual dari komunitas single atau multi-universitas dimana memberikan respon untuk dua isu strategis yang dihadapi institusi akademik. Jadi dapat disimpulkan bahwa repositori intitusi adalah suatu layanan yang bertujuan untuk menyimpan serta menyebarkan koleksi hasil karya sivitas akademika dalam bentuk digital agar dapat dimanfaatkan baik oleh civitas akademika sendiri maupun masyarakat luas. Bagi perguruan tinggi repository dapat memberikan manfaat antara lain, sebagai sarana untuk showcase (menunjukkan hasil riset unggulan), meningkatkan prestige (nama harum lembaga) dan meningkatkan visibility. Riset-riset unggulan universitas dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat melalui repository. Pengakuan komunitas akademis terhadap riset-riset tersebut akan mengharumkan nama lembaga (prestige). Pada giliranya, prestige ini dapat menarik minat bayak calon mahasiswa untuk menempuh study pada perguruan tinggi tersebut. Ada banyak perangkat lunak atau software yang dapat digunakan untuk repository institusi, baik yang berbayar maupun open source (tak berbayar). Di perpustakaan perguruan tinggi Indonesia perangkat lunak repository institusi yang banyak digunakan GDL, Dspase dan Eprints. Perpustakaan Universitas Bangka Belitung menggunakan Eprints dalam mengelola hasil karya sivitas akademika. Eprints merupakan salah satu software yang open source, dimana fitur-fitur pada eprints dapat dikembangkan sesuai kebutuhan perpustakaan. Eprints sebagai repository institusi dapat diakses dimanapun dan kapanpun oleh pemustaka melalui laman http://repository.ubb.ac.id/, keberadaannya diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pemustaka dalam memperoleh referensi atau bahan rujukan baik untuk kebutuhan studi dan riset. Adapun koleksi yang tersedia di ropositori institusi Universitas Bangka Belitung berupa karya tulis dosen dan tenaga kependidikan baik buku maupun hasil penelitian serta karya ilmiah mahasiswa berupa skripsi.     DAFTAR PUSTAKA http://repository.ubb.ac.id/ Lynch, Clifford A. 2003. Institutional Repositories: Essential Infrastructure for Scholarship in the Digital Agr. Washington : The Scholarly Publishing and Academic Resources Coalition.  http://www.arl.org/resources/pubs/br/br226/br226ir.shtml Pramudyo, Gani Nur, dkk. 2018. Penerapan Eprints sebagai repository institusi pada Perpustakaan Universitas Muhammadyah Malang. http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/khizanah-al-hikmah/article/view/3789 Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan

Peran Perpustakaan di Era Revolusi Industri 4.0  bagi Generasi Millenial
12 Nov 2019

Peran Perpustakaan di Era Revolusi Industri 4.0 bagi Generasi Millenial

           Perpustakaan merupakan ladang ilmu yang sangat penting bagi para generasi muda dan penerus bangsa. Sedangkan buku merupakan jendela dunia, dan kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela tersebut agar kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dunia yang belum kita ketahui sebelumnya. Tanpa kita sadari, manfaat membaca buku dapat memberikan banyak inspirasi bagi kita. Namun sayangnya, kegiatan membaca buku akhir-akhir ini telah banyak diabaikan berbagai kalangan dengan alasan kesibukan, maupun karena adanya media yang lebih praktis untuk mendapatkan informasi seperti televisi, radio, maupun media internet.             Peran perpustakaan sebenarnya sangat penting bagi kaum generasi millenial apalagi pada saat ini dunia sudah memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Dimana Era revolusi industri 4.0 ini, terjadi pada masa dimana internet menjadi suatu keniscayaan atau menjadi sesuatu yang harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, maka terjadi perub  ahan perilaku generasi millenial yang semakin terbiasa dengan penggunaan teknologi informasi.             Di era serba digital saat ini, perpustakaan harus bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui penggunaan teknologi informasi, sehingga dampak positifnya terhadap pengembangan sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat bisa dirasakan. Pada Era Revolusi Industri 4.0 ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat, untuk memperoleh informasi sangat mudah didapatkan, semua bisa diakses dengan mudah melalui media sosial. Dengan mudahnya, semua jenis informasi yang didapatkan, kita tidak boleh melupakan pentingnya budaya literasi di kalangan generasi penerus bangsa. Menuntut layanan yang serba cepat dan lebih bersikap aktif.             Pergeseran perkembangan perpustakaan menjadi simbol berubahnya tingkat peradaban. Perubahan dari yang semula apapun konteksnya serba diawali huruf e-(electronic) di depannya, saat ini rupanya sudah mulai bergeser menjadi m-(mobile). Sehingga perpustakaan di era revolusi indutri 4.0 ini disebut dengan M-Library (mobile libray) atau perpustakaan digital yang bisa diakses melalui media internet.             Pada era revolusi industri 4.0 teknologi semakin canggih dengan berkembangnya cyber physical system, kecerdasan buatan (artificial intelligent), dan teknologi terkini lainnya. Volatility harus direspons dengan tindakan yang cepat. Uncertainty harus direspons dengan tindakan risk literacy. Complexity harus direspons dengan skill complex problem solving. Sedangkan, Ambiguity harus direspons dengan tindakan clarity atau informasi yang jelas dan lengkap.             Generasi millenial yang ada dalam ekosistem demikian kita kenal sebagai kelompok digital natives. Mengenai pengertian digital native ini Pratama mengutip Oblinger & Oblinger yaitu “seseorang yang dalam kehidupan sehari-harinya sering menggunakan teknologi informasi, dan mereka sudah mengenalnya sejak dini. Sehingga mereka sangat terbiasa menggunakan bantuan teknologi informasi dalam kesehariannya termasuk dalam akses informasi. Generasi yang hidup pada masa inilah disebut sebagai generasi millennial atau orang menyebutnya generasi Y. Generasi ini adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1980 - 1990, atau pada awal 2000. Dengan kata lain, generasi millennial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 19-39 tahun. Mengapa kita perlu mengenali ciri-ciri generasi millennial? Kita perlu mengenali ciri-ciri generasi ini karena kita berhadapan dengan kelompok generasi ini.            Di dalam memberikan layanan perpustakaan tentu kita harus mempertimbangkan sifat dan ciri-ciri generasi ini agar layanan yang kita berikan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Generasi millennial ini memiliki ciri seperti: (1) Gampang bosan pada barang yang dibeli; (2) Sangat bergantung pada Gadget (No Gadget No Life); (3) Hobi melakukan pembayaran non-cash; (4) Suka dengan yang serba cepat dan instan; (5) Memilih pengalaman daripada aset; (6) Berbeda perilaku dalamgrup satu dan yang lain; (7) Jago multitasking; (8) Kritis terhadap fenomena sosial; (9) Dikit-dikit posting; (10) Tapi, bagi millennial sharing is cool. Perpustakaan harus menyikapinya secara positif sehingga perpustakaan tidak ditinggalkan oleh para penggunanya. Era industri 4.0 ini menjadi cambuk bagi perpustakaan dan pustakawan untuk berbenah dan melakukan yang terbaik untuk eksistensi perpustakaan di tengah masyarakat sehingga bisa memberikan kontribusi yang positif bagi generasi-generasi yang akan datang.   DAFTAR PUSTAKA             https://www.idntimes.com/life/inspiration/sinta-wijayanti-d/10-ciri-dasar-generasi-millennial-c1c2            https://www.mimbarsumut.com/sumut/tebingtinggi/wabup-sergai-perpustakaan-merupakan-ladang-ilmu.html

Runi Alcitra Amalia Baca Selengkapnya
KEBERADAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH  YANG TERABAIKAN
12 Nov 2019

KEBERADAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH YANG TERABAIKAN

Secara umum perpustakaan berfungsi sebagai sarana atau pusat penyimpanan dan pelestarian, pendidikan, penyedia materi penelitian, informasi, rekreasi,  dan menyediakan bahan pustaka dalam berbagai bentuk. Perpustakaan sekolah sebagai gudang ilmu pengetahuan dan informasi selayaknya menjadi tempat sumber belajar yang digunakan oleh guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Perpustakaan sekolah/ madrasah adalah perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan di sekolah/ madrasah (UU RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan: pasal 1, ayat 11). Perpustakaaan sekolah merupakan perpustakaan yang berada pada lembaga pendidikan dasar dan menengah, yang merupakan bagian integral dari sekolah sebagai pusat sumber belajar mengajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah. Keberadaan perpustakaan di sekolah mempunyai peran pen­ting dalam pelaksanaan pembelajaran, untuk itu perpustakaan sekolah harus selalu siap setiap saat untuk menunjang dan terlibat dalam pelaksanaan proses pembelajaran, baik di dalam jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran. Sayangnya masih banyak perpustakaan sekolah yang dianggap hanya sebagai pelengkap saja di sekolah tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya perhatian pihak sekolah terhadap perpustakaan. Sebagai contoh, gedung perpustakaan sering ditempatkan di pojok sekolah yang letaknya jauh dari ruang kelas dan ruang guru, membuat siswa menjadi malas berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan sering dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi, terkesan seperti gudang. Pihak sekolah juga harus mempunyai gudang, agar barang-barang yang sudah tidak terpakai, dapat diletakkan di dalam gudang, bukan di perpustakaan. Pustakawan atau pengelola perpustakaan sering dilibatkan untuk membantu pekerjaan Tata Usaha (TU) dan pengelola perpustakaan juga sering merangkap menjadi TU, apabila TU di sekolah tersebut tidak ada, sehingga pekerjaan di perpustakaan sering terbengkalai dan tidak maksimal dikerjakan. Pustakawan atau pengelola perpustakaan sebaiknya tidak dilibatkan atau merangkap pekerjaan TU. Hal ini dilakukan agar pengelola perpustakaan bisa dengan fokus dan konsentrasi mengerjakan pekerjaan yang ada di perpustakaan. Setiap sekolah/ madrasah berkewajiban untuk mengalokasikan dana paling sedikit 5% (lima persen) dari anggaran belanja operasional sekolah/ madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan (UU RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan: pasal 83). Hal ini sering tidak dilakukan oleh pihak sekolah, yang menyebabkan buku atau koleksi di perpustakaan sekolah tidak bertambah. Pengembangan koleksi di perpustakaan sekolah harus diperhatikan oleh pihak sekolah agar siswa dan guru tidak merasa bosan dan jenuh dengan koleksi atau buku yang ada di perpustakaan tersebut. Perpustakaan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merupakan sarana pendukung untuk kemajuan dunia pendidikan di sekolah. Pihak sekolah hendaknya lebih memperhatikan perkembangan perpustakaan, dengan tidak hanya memperhatikan perkembangan pembangunan sekolahnya saja. Pengembangan koleksi perpustakaan minimal 5% (lima persen) harus dilakukan pihak sekolah minimal 1 (satu) tahun sekali. Agar koleksi atau buku yang ada di perpustakaan semakin bertambah dan dengan adanya koleksi atau buku baru di perpustakaan, siswa dan guru semakin bersemangat untuk berkunjung ke perpustakaan. Koleksi atau buku perpustakaan yang akan diadakan atau dibeli harus sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru di lingkungan sekolah tersebut. Selain itu pihak sekolah juga harus bisa menentukan letak atau lokasi perpustakaan. Letak atau lokasi perpustakaan harus strategis seperti berdekatan dengan ruang kelas/ pusat pembelajaran dan juga dekat dengan ruang guru sehingga perpustakaan tersebut mudah dijangkau oleh siswa dan juga guru. Pengelola perpustakaan dan pihak sekolah sebaiknya melakukan kerjasama untuk mengembangkan kemajuan perpustakaan. Baik kerjasama dalam bentuk internal maupun eksternal. Contoh kerjasama internal yaitu mengatur jadwal kunjungan perkelas ke perpustakaan, selalu melakukan promosi perpustakaan kepada siswa dan guru, selalu mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan perpustakaan. Sedangkan contoh kerjasama eksternal yaitu kerjasama dengan perpustakaan sekolah lain, baik kerjasama dalam bentuk tenaga, layanan dan koleksi. Pengelola perpustakaan harus aktif dan bisa menghidupkan suasana perpustakaan, agar siswa tidak merasa bosan dan jenuh untuk berkunjung ke perpustakaan.     DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan  

PENTINGNYA AKREDITASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH
4 Nov 2019

PENTINGNYA AKREDITASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Dictionary for Library and Information Science, disebutkan bahwa perpustakaan sekolah adalah suatu perpustakaan di sekolah dasar dan lanjutan, baik milik pemerintah maupun swasta, yang memberikan jasa layanan untuk memenuhi kebutuhan informasi para siswa dan kebutuhan pemenuhan kurikulum para guru dan karyawan sekolah tersebut, dengan mengelola koleksi perpustakaan sekolah berupa buku, terbitan berkala ,dan media lainnya yang cocok untuk tingkatan sekolah tersebut (Reitz, 2004). Perpustakaan sekolah sebagai gudang ilmu pengetahuan dan informasi selayaknya menjadi tempat sumber belajar yang digunakan oleh guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Perpustakaan harus selalu siap setiap saat untuk menunjang dan terlibat dalam pelaksanaan proses pembelajaran, baik didalam jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran. Dalam rangka memberikan layanan, perpustakaan diharapkan dapat memberikan layanan minimal sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan (SNP). SNP membutuhkan sarana untuk melihat aspek-aspek penyelenggaraan perpustakaan, apakah sesuai dengan SNP. Adapun sarana yang dibutuhkan tersebut berupa akreditasi perpustakaan. Akreditasi adalah rangkaian kegiatan proses pengakuan formal oleh lembaga akreditasi yang menyatakan bahwa suatu lembaga telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan sertifikasi tertentu (UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan: pasal 1, ayat 3). Akreditasi adalah proses jaminan mutu dikendalikan oleh standar, kebijakan dan prosedur (O’Brien, 2010). Akreditasi perpustakaan merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh lembaga akreditasi perpustakaan terhadap suatu perpustakaan yang sudah memenuhi persyaratan tertentu. Dengan adanya akreditasi perpustakaan, diharapkan setiap perpustakaan sekolah mengetahui kualitas perpustakaan yang dimiliki sehingga dapat melakukan perbaikan terhadap kualistas perpustakaan tersebut. Lembaga yang berwenang untuk melaksanakan akreditasi perpustakaan sekolah adalah Perpustakaan Nasional. Setiap tahun Perpustakaan Nasional melaksanakan akreditasi perpustakaan sekolah. Ada 9 (Sembilan) komponen yang dinilai dalam penilaian akreditasi perpustakaan sekolah, yaitu: Layanan,   Kerjasama, Koleksi, Pengorganisasian bahan perpustakaan, Sumber daya manusia, Gedung/ ruang dan sarana prasarana, Anggaran, Manajemen perpustakaan, Perawatan koleksi perpustakaan.   Setiap komponen akan dinilai menggunakan indikator atau aspek penilaian yang telah ditetapkan. Setiap komponen memiliki bobot penilaian tersendiri dan memiliki bobot nilai yang berbeda. Besarnya bobot penilaian dari setiap indikator dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1 Bobot penilaian akreditasi perpustakaan sekolah NO KOMPONEN PENILAIAN BOBOT NILAI (%) KETERANGAN 1 Layanan 20 Unsur pokok 2 Kerjasama 5 Unsur penunjang 3 Koleksi 15 Unsur pokok 4 Pengorganisasian bahan perpustakaan 10 Unsur penunjang 5 Sumber daya manusia 15 Unsur pokok 6 Gedung/ ruang, sarana prasarana 10 Unsur penunjang 7 Anggaran 10 Unsur penunjang 8 Manajemen perpustakaan 10 Unsur penunjang 9 Perawatan koleksi perpustakaan 5 Unsur penunjang   Jumlah 100%     Setelah proses penilaian selesai, maka nilai akreditasi akan dicocokkan dengan predikat akreditasi. Perdikat akreditasi terdiri dari terakreditasi A, terakreditasi B, terakreditasi C dan tidak terakreditasi. Nilai akhir akreditasi perpustakaan diperoleh dari penjumlahan bobot nilai masing-masing komponen penilaian. Berikut ini adalah tabel dan predikat penilaian.   Tabel 2 Tabel Nilai dan Predikat Penilaian Akreditasi NILAI PREDIKAT PENILAIAN 91 - 100 Akreditasi A (Amat Baik) 75 - 90 Akreditasi B (Baik) 60 - 75 Akreditasi C (Cukup) ˂ 60 Belum terakreditasi   Akreditasi perpustakaan merupakan peluang bagi perpustakaan sekolah untuk melakukan perbaikan kualitas perpustakaan sekolah. Akreditasi perpustakaan sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola perpustakaan atau pustakawan, tetapi menjadi tanggung jawab semua yang ada di sekolah tersebut. Agar akreditasi perpustakaan sekolah mendapatkan hasil yang maksimal, maka semua pihak yang ada di sekolah tersebut harus  kerjasama dan melakukan  strategis sehingga dapat memperoleh nilai yang maksimal. Setiap perpustakaan sebaiknya diwajibkan untuk akreditasi. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan pengunjung perpustakaan atau pemustaka terhadap kinerja perpustakaan dan menjamin konsistensi kualitas kegiatan perpustakaan yang bersangkutan.   DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu. https://www.kompasiana.com/iswararusniady0177/5d79c03f097f36013420f992/suatu-suatu-cara-untuk-meningkatkan-peran-dan-fungsi-perpustakaan-sekolah?page=all# O’Brien, Karen L. 2010. Accreditation of library and information science education. https://slideplayer.info/slide/11907769/  

Internet of Things dalam Perpustakaan
1 Nov 2019

Internet of Things dalam Perpustakaan

Teknologi yang berkembang saat ini menjadi kebutuhan mendasar masyarakat milenial atau Millenial generation atau generasi Y dan juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada kondisi tertentu dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para ahli menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Kebutuhan informasi generasi milenial saat ini beragam dan sangat cepat berkembang, bahkan sampai tidak terbendung dan bisa dibayangkan keberagaman itu ada dalam jaringan internet yang kapan saja dimana saja dapat diakses melalui mobile.   Generasi milenial merupakan generasi yang tanggap akan perkembangan teknologi Informasi, generasi milenial juga sangat bergantung dengan  teknologi informasi dalam setiap kegiatan, bisa dilihat banyaknya pemuda yang sangat menguasai teknologi bahkan usaha start up yang sangat berkembang saat ini adalah buah dari pemanfaatan teknologi informasi. Teknologi informasi yang dirasakan saat ini sudah banyak menyentuh disetiap lini pekerjaan baik transportasi, belanja barang, makanan bahkan yang berkaitan dengan informasi. Informasi seperti apa yang sangat dibutuhkan masyarakat milenial saat ini adalah informasi yang cepat, akurat dan dapat diakses real time dengan perangkat mobile yang terhubung dengan internet. Jika berbicara informasi tidak terlepas dengan perpustakaan, perpustakaan yang bergelut dengan informasi baik itu cetak maupun elektronik berfungsi sebagai pengolah, penyimpan dan penyebar informasi agar informasi tersampaikan kepada pengguna perpustakaan. Generasi milenial saat ini sangat membutuhkan jaringan internet dalam melakukan setiap kegiatannya peluang ini harus diambil oleh perpustakaan jika tidak mau ditinggalkan penggunannya. Konsep perpustakaan diharapkan mengarah kekebutuhan tersebut, mengapa?  karena pengguna perpustakaan keperpustakaan sangat tergantung dengan jaringan internet yang disediakan, koleksi yang memadai serta kenyamanan dalam menggunakan layanan yang ada. Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat membaca buku tetapi perpustakaan suatu saat nanti menjadi tempat generasi milenial untuk bekerja dan menghasilkan ide. Defenisi Internet of Things Ungkapan Internet of Things (IoT) pertama kali dikenalkan pada tahun 1999 setelah munculnya Internet pada 1990-an, berbicara internet of things tidak lepas dari defenisi IoT tersebut ada yang mengatakan IoT adalah a network of networks where, typically, a massive number of objects/things/sensors/devices are connected through communications and information infrastructure to provide value-added services. Sedangkan beberapa ahli dalam jurnalnya mengatakan IoT adalah a dynamic global information network consisting of internet-connected objects, such as RFIDs, sensors, actuators, as well as other instruments and smart appliances that are becoming an integral component of the future internet. Jika ditarik kesimpulan dari kedua pengertian diatas IoT adalah jaringan dimana benda-benda terhubung melalui infrastruktur komunikasi dan informasi (internet) misalnya seperti RFID, sensor serta instrument lainnya dan aplikasi pintar yang menjadi komponen integral dari internet masa depan. Internet memiliki peran yang sangat banyak dalam dunia perpustakaan. Perpustakaan dibeberapa daerah telah banyak menggunakan RFID dan Sensor dalam memanagement koleksinya. RFID dan sensor jika terhubung dengan internet dapat menciptakan konsep perpustakaan masa depan, dibeberapa daerah sudah menyatukan konsep perpustakaan dengan konsep smart city walaupun masih skala kecil, hal ini dilakukan agar koneksi disetiap layanan masyarakat dapat terhubung dengan satu aplikasi dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan mudah dalam jaringan internet. Jika konsep (IoT) ini diterapkan, maka Perpustakaan dan Pustakawan  harus berbenah, pustakawan harus cakap dalam menggunakan teknologi informasi, pustakawan setidaknya tidak kalah bersaingan dengan pengguna perpustakaan. Pustakawan harus mampu jika penerapan IoT ( internet of  Things) benar benar terjadi di perpustakaan, IoT memiliki manfaat yang sangat besar ketika diimplementasikan. Meskipun demikian, dalam implementasinya IoT juga memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi, di antaranya: 1. Keberadaan manusia yang akan tergantikan oleh mesin, di beberapa negara maju perpustakaan telah berkembang dengan pesat bahkan setiap koleksi telah diberi RFID dan memiliki sensor dimana pengguna dapat melakukan pencari koleksi hanya dengan aplikasi dan diarahkan pada letak koleksi dengan sebuah peta. dalam hal pemilahan jenis koleksi telah menggunakan robot, koleksi yang telah dikembalikan dapat diklasifikasi kedalam kode tertentu dan secara otomatis masuk melalui rel yang berjalan dan ditempatkan sesuai dengan troli yang ada. Bisa dibayangkan jika setiap kegiatan pada perpustakaan sudah menggunakan teknologi robot, satu sisi pengguna dapat dengan mudah mencari koleksi disisi lain pustakawan sebagai representasi dari perpustakaan akan semakin tidak dibutuhkan. 2. Keamanan data akan berkurang, data ataupun database perpustakaan akan dapat diakses melalui jaringan internet, jika sistem keamanan data tidak terjaga maka data maupun database tersebut dapat di akses oleh orang lain dan dapat disalah gunakan dan yang. 3. Besarnya biaya yang diperlukan untuk implementasi teknologi, jika perpustakaan menerapkan maka dipastikan membutuhkan biaya yang sangat besar dan SDM yang mumpuni, serta infrastruktur baik sarana dan prasarananya juga mendukung. Penerapan IoT pada perpustakaan sebuah keharusan yang tidak dapat dibendung dan akan menjadi kebutuhan bagi pengguna perpustakaan, pengguna perpustakaan yang beragam membutuhkan akses ke informasi yang cepat dan aman dengan kualitas internet yang cepat juga. Perpustakaan harus dapat menawarkan hal tersebut agar pengguna mau berkunjung ke perpustakaan. Penggunaan IoT juga sangat baik digunakan di perpustakaan karena dapat mengatasi beberapa masalah yang dapat mengefisienkan waktu dan tenaga sehingga membuat pengguna merasakan peran perpustakaan dalam mencari informasi semakan maksimal dan dapat memecahkan segala kebutuhan informasi pengguna dengan baik.   Daftar Pustaka Alavi, Amir H., Pengcheng Jiao, William G. Buttlar, and Nizar Lajnef. 2018. “Internet of Things-Enabled Smart Cities: State-of-the-Art and Future Trends.” Measurement: Journal of the International Measurement Confederation 129(July):589–606. Ande, Ruth, Bamidele Adebisi, Mohammad Hammoudeh, and Jibran Saleem. 2019. Internet of Things: Evolution and Technologies from a Security Perspective. Elsevier Ltd. Danu Jaya Saputro. 2018. “Mengenal Internet Of Things (IoT) Yang Akan Diimplementasikan Pada Hampir Semua Aspek Kehidupan.” https://warstek.com/2018/05/26/iot/ Hidayat, Arif Dwi, Bambang Sudibya, and Catur Budi Waluyo. 2019. “Pendeteksi Tingkat Kebisingan Berbasis Internet of Things Sebagai Media Kontrol Kenyamanan Ruangan Perpustakaan.” Avitec 1(1):99–109. Hui, Terence K. L., R. Simon Sherratt, and Daniel Díaz Sánchez. 2017. “Major Requirements for Building Smart Homes in Smart Cities Based on Internet of Things Technologies.” Future Generation Computer Systems 76:358–69. Kraeling, Mark and Michael C. Brogioli. 2019. Internet of Things At-a-Glance. Second Edi. Elsevier Inc. Perera, Charith, Chi Harold Liu, and Srimal Jayawardena. 2015. “The Emerging Internet of Things Marketplace from an Industrial Perspective: A Survey.” IEEE Transactions on Emerging Topics in Computing 3(4):585–98. Rizki Vadilla. 2016. “KutuBuku, Inovasi Perangkat IoT Untuk Perpustakaan Di Indonesia.” https://www.reviewsotoy.com/2016/06/kutubuku-inovasi-perangkat-iot-untuk-perpustakaan.html Rodin, Rhoni. 2019. “Analisis Kesiapan Dan Tantangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam Di Indonesia Menghadapi Era 4 . 0.” Media Pustakawan 26(2):81–90. Wilianto, Wilianto and Ade Kurniawan. 2018. “Sejarah, Cara Kerja Dan Manfaat Internet of Things.” Matrix : Jurnal Manajemen Teknologi Dan Informatika 8(2):36.    

Jan Frist Pagendo Purba Baca Selengkapnya
The best Librarian competition level Bangka Belitung Province of 2019
31 Okt 2019

The best Librarian competition level Bangka Belitung Province of 2019

The Archive and Library of Bangka Belitung Province has conducted the best librarian competition level Bangka Belitung Province of 2019 on Wednesday, June 19, 2019 at the Civil Service and Human Resource Development Agency of Bangka Belitung Province (BKPSDMD). The aim of this activity is to motivated librarians to be more enthusiastic in working and creating, innovating and high achiever to lift the image of the librarian can be equal with other profession.   Below are name of the winners: Juara I : Jantayu Nova Mukti, A.Md from The Archive and Library of Belitung Regency Juara II : Runi Alcitra Amalia, S.Sos from The Archive and Library of Bangka Belitung Province Juara III : Cahya Tri Wulan, S.IP from The Archive and Library of Bangka Belitung Province Juara Harapan I : Dewi Astuti, A.Ma Pust from The Archive and Library of Belitung Regency Juara Harapan II : Yundarti Indriani, A.Md from The Archive and Library of West Bangka Regency   Congratulation for all the winners and for Mr. Jantayu Nova Mukti, hopefully can win a best librarian of 2019 in National level. 

Diah Widyastuti (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
Menghalau Hoax Melalui Peningkatan Literasi Digital
31 Okt 2019

Menghalau Hoax Melalui Peningkatan Literasi Digital

Kemajuan teknologi informasi yang terjadi di zaman sekarang ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari, mau tidak mau masyarakat harus menerimanya. Dengan kemajuan teknologi informasi tersebut setiap orang bebas mengakses, menyebarkan dan memanfaatkan informasi tanpa batas. Begitu banyak informasi yang disebarluaskan melalui jaringan internet yang menimbulkan kekacauan terutama dalam kehidupan bermasyarakat. Dikutip dari detik news, tanggal 25 Mei 2019 disebutkan bahwa kementerian komunikasi dan informatika (kominfo) menemukan 30 berita bohong atau hoax selama 21-22 Mei 2019, yang disebarkan melalui media sosial. Hal ini menimbulkan salah satu kekhawatiran bagi pemerintah karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan baik pribadi, masyarakat, berbangsa maupun bernegara. Seperti kita ketahui bahwa ancaman di dunia digital saat ini tidak sedikit, masyarakat pengguna internet dikepung oleh pemberitaan yang beragam, sehingga perlu kecerdasan multi dimensi untuk dapat menyaringnya. Banyaknya berita bohong (hoax) hingga informasi yang menyesatkan (mislead) yang menggiring masyarakat kearah tindakan-tindakan tidak terpuji hingga maraknya kriminalitas dijagat maya (cyber crime). Terkait hal tersebut  menteri komunikasi dan informatika Rudiantara menekankan pentingnya literasi digital. Istilah literasi digital (digital literacy) pertama kali dikemukanan oleh Paul Glitser (1997), Ia mengemukakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti akademik, karier dan kehidupan sehari-hari. Lebih rinci dan komprehensif mengenai literasi digital dijelaskan oleh Bawden (2001) yang menyusun kosep literasi digital berbasis pada literasi kompuetr dan informasi. Ia menyebutkan bahwa literasi digital menyangkut beberapa aspek, yaitu : Perakitan pengetahuan yaitu kemampuan membangun informasi dari berbagai sumber yang  terpercaya Kemampuan menyajikan informasi termasuk di dalamnya berpikir kritis dalam memahami informasi dengan kewaspadaan terhadap validitas dan kelengkapan sumber dari internet. Kemampuan membaca dan memahami materi informasi yang tidak berurutan (non sequential) dan dinamis Kesadaran tentang arti penting media konvensional dan menghubungkannya dengan media berjaringan (internet) Kesadaran terhadap akses jaringan orang yang dapat digunakan sebagai sumber rujukan dan pertolongan Penggunaan saringan terhadap informasi yang datang Merasa nyaman dan memiliki akses untuk mengkomunikasikan dan mempublikasikan  informasi Jika melihat pendapat Bawden (2001) di atas maka digital literasi lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami dan menyebarluaskan informasi. Jadi literasi digital dapat disimpulkan sebagai ketertarikan, sikap dan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Dalam literasi digital itu bukan hanya sekedar kemampuan mencari, menggunakan dan menyebarkan informasi akan tetapi, diperlukan kemampuan dalam membuat informasi dan evaluasi kritis, ketepatan aplikasi yang digunakan dan pemahaman mendalam dari isi informasi yang terkandung dalam konten digital tersebut. Di sisi lain literasi digital mencakup tanggung jawab dari setiap penyebaran informasi yang dilakukannya karena menyangkut dampaknya terhadap masyarakat. Seseorang yang memiliki literasi digital tidak akan mudah terprovokasi oleh berita bohong atau hoax, sebagai contoh di dunia maya sering kali muncul gambar yang terkadang tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya, dengan kemampuan literasi digital seseorang dapat mengecek keaslian gambar tersebut menggunakan https://images.google.com/ Guna meningkatkan literasi digital masyarakat, ada delapan elemen penting (AJ. Bellshaw 2011), yakni elemen kultural, kognitif, konstruktif, komunikatif, kepercayaan diri, kreatif, kritis dan bertanggung jawab secara sosial. Artinya diperlukan pendekatan multi dimensi dalam proses pembelajaran masyarakat agar terdidik secara digital, melek teknologi sekaligus cerdas, kreatif dan berbudaya. Di tengah sebaran informasi di media digital, maka kemampuan literasi digital menjadi sesuatu yang strategis serta perlu dikembangkan di sekolah dan masyarakat sebagai bagian dari pembelajaran sepanjang hayat. Dengan demikian masyarakat akan lebih selektif, tidak mudah percaya dan terpengaruh serta selalu menelusur kebenaran setiap berita yang disebarluaskan dan diterima baik melalui media cetak maupun digital. Hal yang paling penting melalui peningkatan literasi digital adalah meningkatnya kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.     DAFTAR PUSTAKA   https://jurnal.ugm.ac.id/jpkm/article/view/25370 https://news.detik.com https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/30/193015920/menkominfo-mulailah-literasi-digital-dari-keluarga https://www.kompasiana.com http://staffnew.uny.ac.id/upload/132309682/pengabdian/membangun-karakter-bangsa-melalui-literasi-digital.pdf