Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON APRIL, 2019
21 Okt 2019

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON APRIL, 2019

Mobile library service is one of services organized by provincial library of Bangka Belitung Province regularly. This service is intended to overcome the information gap of local communities who are difficult to reach library. Besides, the local governments are trying to provide information services proactively to achieve one mission of the Agency of Archives and Library:   fostering and developing a culture of reading. The procedures of mobile library service are:  selected the duty officers (a librarian and a staff from the agency of archive and library, prepare the letter of duty signed by the head of the Agency and come to the location of mobile library service.  For this month, the targets of mobile library service are visiting 2 (two) places in one departure of Elementary School / MI in the regencies: Bangka, South Bangka, and West Bangka. Here are the target of mobile library services on April, 2019:           NO TARGET DAY, DATE NUMBER OF VISITORS OFFICERS 1 SDN 8 KELAPA KAB. BANGKA BARAT SELASA, 09 APRIL 2019 43 AGUS AFANDI DAN BAGUS PRAMBUDI 2 SDN 9 KELAPA KAB. BANGKA BARAT SELASA, 09 APRIL 2019 42 AGUS AFANDI DAN BAGUS PRAMBUDI 3 SDN 2 BENCAH AIR GEGAS, KAB. BANGKA SELATAN KAMIS, 11 APRIL 2019 209 YULIDAR DAN RIRI BUDIARTI 4 SDN 3 TEBING KELAPA KAB. BANGKA BARAT SELASA, 16 APRIL 2019 151 JUNITA DEWI KUSRINI DAN DONTA GUSTINA 5 SDN 8 MENDO BARAT KAB. BANGKA KAMIS, 18 APRIL 2019 170 RIYAD DAN ASEP SUNDAMAR 6 SDN 1 TEMPILANG KAB. BANGKA BARAT SELASA, 23 APRIL 2019 185 NURUL SAPARITA DAN ANGGYA DWIE   For this month, mobile library has success to carry out 6 time services and reach 800 students. It is expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, build a good cooperation among social, educational, and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE
21 Okt 2019

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE

Mobile library service is one of services organized by provincial library of Bangka Belitung Province regularly. This service is intended to overcome the information gap of local communities who are difficult to reach library. Besides, the local governments are trying to provide information services proactively to achieve one mission of the Agency of Archives and Library:   fostering and developing a culture of reading. The procedures of mobile library service are:  selected the duty officers (a librarian and a staff from the agency of archive and library, prepare the letter of duty signed by the head of the Agency and come to the location of mobile library service.  For this month, the targets of mobile library service are visiting 2 (two) places in one departure of Elementary School / MI in the regencies: Bangka, Central Bangka, and West Bangka. Here are the target of mobile library services on March, 2019: NO TARGET DAY, DATE NUMBER OF VISITORS OFFICERS 1 SDN 1 MENDO BARAT KAB. BANGKA SELASA, 12 MARET 2019 110 AIMA DAN BUDI 2 SDN 2 MENDO BARAT KAB. BANGKA SELASA, 12 MARET 2019 35 AIMA DAN BUDI 3 SDN 2 PANGKALAN BARU KAB. BANGKA TENGAH KAMIS, 14 MARET 2019 168 JUNITA DEWI KUSRINI DAN EMA RISKIKA 4 SDN 1 KELAPA KAB. BANGKA BARAT SELASA, 19 MARET 2019 110 NURUL SAPARITA DAN BAGUS PRAMBUDI 5 MIN KELAPA KAB. BANGKA BARAT SELASA, 19 MARET 2019 72 NURUL SAPARITA DAN BAGUS PRAMBUDI 6 SDN 11 KELAPA KAB. BANGKA BARAT KAMIS, 21 MARET 2019 151 SURYATI DAN ASEP SUNDAMAR   For this month, mobile library has success to carry out 6 time services and reach 646 students. It is expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, build a good cooperation among social, educational, and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
MEMBANGUN UBB LIBRARY MOBILE BERBASIS WEB
3 Okt 2019

MEMBANGUN UBB LIBRARY MOBILE BERBASIS WEB

Berbicara tentang teknologi mobile saat ini tentu sangat menyenangkan. Ini karena perkembangan device mobile sangat cepat dan menarik. Salah satunya device android. Perkembangan android yang cepat ini selain karena kecanggihannya juga karena android merupakan sistem operasi mobile yang gratis dan open source atau kode sumbernya terbuka. Android merupakan sistem operasi yang dikembangkan untuk perangkat mobile oleh perusahaan bernama Android, Inc. yang didirikan di Palo Alto, California pada bulan Oktober 2003 oleh Andy Rubin, Rich Miner, Nick Sears, dan Chris White. Perusahaan ini sendiri memang sedari awal sudah didukung secara keuangan oleh Google, sebelum akhirnya dibeli pada tahun 2005. Walaupun sudah dibeli oleh Google, tapi para pendiri Android seperti Rubin, Miner dan White tetap bekerja di perusahaan, akhirnya pada tahun 2007 dirilislah sistem operasi pertama Android dengan ditandai juga didirikannya Open Handset Allience (OHA) yang tidak lain dan tidak bukan adalah bekerja untuk melakukan pengembangan standar terbuka bagi perangkat seluler. Di tahun 2008, akhirnya dirilislah HTC Dream, HP pertama yang menggunakan sistem operasi Android. Pengembangan sistem operasi dan aplikasinya sendiri mengacu pada 4 prinsip yaitu terbuka, semua aplikasi dibuat sama, mendongkrak batasan batasan aplikasi, pengembangan aplikasi yang cepat dan mudah. Dari sejarah dan ulasan diatas maka dicoba membangun UBB Library Mobile berbasis web dengan sederhana. Ada beberapa cara membangun aplikasi android yaitu dengan coding biasa menggunakan android studio yang mana harus memiliki spesifikasi komputer yang mumpuni, atau dengan membangun tanpa coding dengan hanya mendesain layar dan menyatukan block yang telah tersedia. Keterbatasan pengetahuan bahasa pemprograman menjadi kendala, tetapi dari berbagai sumber literatur yang ada, dari cara cepat membuat aplikasi tanpa codinglah yang dipilih dan berbagai video yang ada di youtube menjadi tambahan bagaimana membangun aplikasi android tanpa coding secara sederhana. Aplikasi UBB Library Mobile dibuat salah satunya untuk memudahkan pengguna perpustakaan mengakses layanan apa saja yang ada di perpustakaan UBB. Aplikasi ini berbasis web, dimana semua informasi yang ada sudah tersedia di website perpustakaan, Akan tetapi demi memudahkan pengguna melihat layanan perpustakaan maka dibuatlah aplikasi UBB Library Mobile dengan harapan pemustaka baik itu civitas akademik, masyarakat umum maupun tenaga kependidikan mengakses layanan apa saja yang ada di perpustakaan. aplikasi mobile ini dibangun menggunakan App Inventor,  mengapa app inventor? Karena App Inventor memungkinkan pengguna baru untuk memprogram komputer untuk menciptakan aplikasi perangkat lunak bagi sistem operasi Android. App Inventor menggunakan antarmuka grafis, yang memungkinkan pengguna untuk men-drag-and-drop objek visual untuk menciptakan aplikasi yang bisa dijalankan pada perangkat Android. App Inventor adalah aplikasi web sumber terbuka yang awalnya dikembangkan oleh Google dan saat ini saat ini dikelola oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT). Aplikasi UBB library dibangun atas dasar kemudahan tersebut, UBB Library juga tersedia di google playstore dan dapat diunduh secara gratis, aplikasi ini diharapkan kedepannya dapat berkembang dan diupdate sesuai perkembangan dunia perpustakaan.     DAFTAR PUSTAKA Hermawan S, Stephanus. 2011. Mudah membuat aplikasi android. Yogyakarta: Andi Irsyad, Hanif. 2015. Aplikasi android dalam 5 menit: cara cepat membuat aplikasi android tanpa coding. Jakarta: Elex Media Komputindo. Rumate Dennis Axel, Xaverius Najoan, Brave A. Sugiarso. 2017. “Rancang Bangun Aplikasi Berbasis Android Untuk Informasi Kegiatan Dan Pelayanan Gereja.” E-Journal Teknik Elektro Dan Komputer 6 (1): 1–6. Sari, Marti Widya, and Hafid Hardyanto. 2016. “Implementasi Aplikasi Monitoring Pengendalian Pintu Gerbang Rumah Menggunakan App Inventor Berbasis Android.” Eksis 09 (1): 20–28. Wiyardi, Hendro Welas Setiawan. Rafael Sri. 2015. “Education Berbasis Android Sebagai Media Pembelajaran.” Journal of Education 4 (1): 24–30.  Wahana Komputer. 2012. Membuat aplikasi android untuk tablet dan handphone. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Jan Frist Pagendo Purba Baca Selengkapnya
RENDAHNYA MINAT BACA SISWA
3 Okt 2019

RENDAHNYA MINAT BACA SISWA

Kata perpustakaan merupakan suatu hal yang tidak asing didengar malahan sangat lumrah. Dan juga siapa sih yang tidak kenal yang namanya perpustakaan pasti semua orang tahu apa itu perpustakaan. Perpustakaan sendiri  merupakan suatu tempat atau ruangan yang berisi kumpulan buku atau sekumpulan buku. Menurut Sutarno NS, (2006:11) Perpustakaan adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung / bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca. Di Indonesia sendiri minat baca masyarakatnya sangat rendah. Menurut data UNESCO pada tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Minat baca Indonesia berada di peringkat 60. Tidak terkecuali, siswa juga  kurang minat dalam membaca. Minat baca adalah sumber motivasi kuat bagi seseorang untuk menganalisa dan mengingat serta mengevaluasi bacaan yang telah dibacanya, yang merupakan pengalaman belajar menggembirakan. Minat baca mempengaruhi bentuk serta intensitas seseorang dalam menentukan cita-citanya kelak dimasa yang akan datang, hal tersebut juga adalah bagian dari proses pengembangan diri yang harus senantiasa diasah sebab minat membaca tidak diperoleh dari lahir. Rendahnya minat baca sangat berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan. Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri, seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri. Sementara faktor eksternal yaitu sarana dan prasarana, kurangnya atau minimnya ketersediaan buku yang membuat siswa kurang minat untuk berkunjung di perpustakaan, sehingga siswa harus membeli sendiri buku dan juga perpustakaan sekolah menyediakan buku yang kurang menarik bagi anak-anak. Buku yang menarik bagi anak ialah yang mempunyai tampilan warna-warni dan beraneka macam gambar. Sementara itu, buku yang tersedia di perpustakaan sebagian besar telah usang, jenis tulisannya kecil, tidak terdapat gambar, dan hanya berupa narasi yang membosankan bagi anak. Selain itu, kurangnya budaya membaca di keluarga, masyarakat dan di lingkungannya tersebut. Hal ini, bisa membuat siswa tersebut kurang minat dalam membaca. Dan juga salah satu faktornya yaitu akibat dari teknologi dan internet, misalnya bermain video game dan sosial media (sosmed), kita tahu sendiri di era milenial ini semuanya serba teknologi dan internet. Akibatnya nasib buku-buku di perpustakaan tak ubahnya susunan debu sebagai sarang hantu. Teknologi informasi boleh beranak pinak menggerogoti buku-buku di muka bumi, akan tetapi minat membaca jangan sampai musnah. Karena membaca akan memberikan dampak positif bagi pengarang atau penulis dan meningkatkan roda perekonomian secara merata. Padahal dengan membaca siswa menjadi tahu apa yang sebelumnya belum diketahui.  Dan secara umum untuk meningkatkan pengertian, pemahaman dan pengetahuan tentang pelajaran dalam menguasai informasi dan perkembangan teknologi adalah dengan kegiatan membaca. Apabila siswa tersebut sudah malas untuk membaca maka hal tersebut juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa tersebut. Namun semua masalah tersebut bisa diatas secara perlahan, tidak bisa langsung instan. Berikut ini ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan minat baca pada siswa antara lain: 1. Literasi pagi hari Literasi pagi hari adalah kegiatan yang dilakukan sebelum proses pembelajaran berlangsung. Siswa diberikan kesempatan untuk membaca buku, baik berupa bacaan fiksi maupun nonfiksi. Untuk siswa kelas rendah dapat dilakukan dengan cara mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru. Guru tidak harus menyelesaikan bacaannya. Tujuannya agar siswa penasaran isi cerita selanjutnya. Dengan demikian siswa akan berusaha mencari buku yang sesuai dengan apa yang dibacakan oleh guru di perpustakaan. 2. Pojok baca Pojok baca adalah tempat yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan membaca di dalam kelas. Pojok baca berada di salah satu sudut ruangan kelas yang didesign seperti mini perpustakaan. Pada pojok buku disediakan sebuah rak kecil untuk meletakkan buku-buku bacaan. Buku yang diletakkan adalah buku bacaan milik siswa yang dibawa ke sekolah. Tujuannya agar siswa dapat saling meminjam buku satu dengan yang lainnya. Pojok baca dimanfaatkan siswa setiap jam istirahat. Dengan demikian, perpustakaan sekolah yang penuh bisa dihindari. 3. Kunjungan Perpustakaan Siswa diajak untuk ke perpustakaan. Ruangan perpustakaan yang terbatas dapat dihindari dengan melakukan penjadwalan untuk masing-masing kelas. Setiap kelas dibuat secara bergantian. Misalkan, hari Senin untuk kelas I, Selasa untuk kelas II, Rabu untuk kelas III, Kamis untuk kelas IV, Jumat untuk kelas V, dan Sabtu untuk kelas VI. Melalui penjadwalan ini siswa akan terbiasa untuk mengunjungi perpustakaan. Ketika pelaksanaan guru kelas wajib untuk mendampingi. Guru memantau buku yang dibaca oleh anak. Setiap anak membawa satu buku yang telah mereka pilih. Mereka dapat membawa pulang untuk melanjutkan membacanya. Target penyelesaiannya satu minggu ke depan. Sehingga pada hari yang sama di minggu berikutnya siswa dapat mengembalikan dan meminjam buku yang baru untuk dibacanya. 4. Pohon Literasi Pohon literasi adalah media yang digunakan guru untuk memotivasi siswa melakukan kegiatan membaca. Guru membuat gambar sebuah pohon yang kemudian ditempel di dalam kelas. Setiap siswa wajib menempelkan daun pada rantingnya. Daun itu berisi judul buku yang telah berhasil siswa baca selama satu minggu. Guru sebagai fasilitator memperhatikan setiap daun yang ditempel. Guru mencatat siswa yang telah berhasil membaca satu buku dalam waktu satu minggu. Kegiatan menggunakan pohon literasi ini akan memotivasi siswa yang belum mampu menyelesaikan target membaca untuk segera menyelesaikannya. 5. Perpustakaan rumahku Perpustakaan rumahku artinya menjadi perpustakaan itu seperti layaknya rumah. Ruangan perpustakaan dibuat senyaman mungkin sehingga siswa menjadi betah ketika berada di perpustakaan sekolah. Koleksi buku yang ada di dalam perpustakaan ditata rapi di rak, sehingga siswa mudah mencari buku yang dibutuhkan. Tempat membaca disesuaikan dengan kondisi ruangan. Apabila memungkinkan perpustakaan sekolah mempunyai tempat membaca di luar ruangan. 6. Koleksi buku perpustakaan Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang menyediakan berbagai jenis buku, baik majalah, tabloid, koran, maupun buku bacaan lainnya. Perpustakaan yang memiliki koleksi buku lengkap akan menumbuhkan minat baca siswa. Terutama di sekolah dasar, koleksi buku disesuaikan dengan tingkat usianya. Siswa akan lebih tertarik untuk meminjam buku apabila buku itu sesuai dengan umur mereka. Perpustakaan sekolah dasar hendaknya menyediakan koleksi buku yang berisi tentang dunia anak. Dapat disimpulkan bahwa kurangnya minat baca pada siswa terjadi akibat dari faktor internal dan eksternal. Dan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa salah satunya menyediakan koleksi buku yang bervariasi.   DAFTAR PUSTAKA https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/08/pengertian-perpustakaan Menurut-para-ahli.html https://astutik084054.gurusiana.id/article/2017/10/menumbuhkan-minat-baca-di-sekolah-dasar-676144 https://edukasi.kompas.com/read/2019/06/23/07015701/literasi-baca-indonesia-rendah-akses-baca-diduga-jadi-penyebab

Runi Alcitra Amalia Baca Selengkapnya
BIG DATA DAN TANTANGAN PUSTAKAWAN
1 Okt 2019

BIG DATA DAN TANTANGAN PUSTAKAWAN

Perkembangan teknologi saat ini membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap perkembangan informasi terutama informasi dalam bentuk digital. Informasi menjadi sangat penting dan menjadi kebutuhan masyarakat milenial saat ini, pertumbuhan informasi baik media cetak maupun online sangat pesat dan beragam, ada istilah siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Dunia informasi yang beragam dapat diakses melalui jaringan internet yang merupakan dampak perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi telah masuk ke berbagai lini sentral pelayanan masyarakat[1], salah satu fasilitas yang dapat digunakan masyarakat milenial yaitu perpustakaan. Perpustakaan merupakan gudang ilmu pengetahuan serta tempat untuk mendapatkan sumber informasi didalam pendidikan, pengajaran dan penelitian. Perpustakaan merupakan pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya. Dalam Undang Undang No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak,dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi,dan rekreasi para pemustaka. Sedangkan Darmono (2001) mendefinisikan perpustakaan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku-buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar[2]. Perpustakaan harus mampu melakukan reformasi informasi dalam segala aspek agar fungsi fungsi manajemen perpustakaan dapat diimplementasikan dan mutu pelayanan perpustakaan dapat ditingkatkan. Peningkatan mutu pelayanan perpustakaan tidak terlepas dari teknologi informasi yang berkembang saat ini, begitu banyaknya aplikasi teknologi yang dapat dimanfaatkan perpustakaan dalam mengelolah dan memanagement data yang ada di perpustakaan agar informasi tersebut tersampaikan kepada penggunanya. Perpustakaan memiliki peran dalam peningkatan pelayanan dan memacu produktifitas demi kemajuan perpustakaan. Kemajuan dan Perkembangan perpustakaan tidak terlepas dari peran pustakawan, seorang pustakawan harus selalu mengupdate pengetahuan yang dimiliki  serta melakukan inovasi agar kemajuan teknologi dapat merespon kebutuhan dari pemustaka. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai penghasil penelitian baik hasil kolaborasi maupun perseorangan haruslah dapat diorganisasikan dengan baik agar kebutuhan pemustaka terpenuhi. Hasil Penelitian yang sangat banyak kuantitas, variatif dan tingkat pertumbuhan data yang sangat cepat harus dilakukan pengelolaan yang khusus agar data yang besar dapat dimanfaatkan oleh pemustaka[3].  Istilah data yang sangat banyak, lazim disebut sebagai Big Data, Ed Dumbill, dalam jurnal big data tahun 2013 memberikan pengertian big data sebagai berikut: “Big data is data that exceeds the processing capacity of conventional database systems. The data is too big, moves too fast, or doesn’t fit the structures of your database architectures. To gain value from this data, you must choose an alternative way to process it[4]. jika diartikan secara sederhana yaitu data yang melebihi kapasitas pemprosesan sistem data konvensional, data terlalu besar, bergerak cepat, tidak sesuai dengan struktur basis data dan harus memilih cara alternative untuk memprosesnya. Dari pengertian diatas jika ditarik kedalam konsep perpustakaan maka setiap data yang dihasilkan perpustakaan harus diproses dan diolah menggunakan teknologi alternative yang berkembang saat ini. Konsep Big data sering dikaitkan dengan data science, data mining, maupun data processing. Namun, Big data melibatkan infrastruktur dan teknik data mining atau data processing yang lebih canggih dari sebelumnya. Dalam mengimplementasikan teknologi Big data di suatu organisasi termasuk perpustakaan, ada 4 faktor penting yang menjadi tantangan, jika diimplementasikan kedalam perpustakaan yaitu: Volume = Perpustakaan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, baik dari media cetak, media sosial, media yang berkaitan dengan kebutuhan pemustaka. Velocity (Kecepatan) =  data ataupun informasi diproses dengan cepat demi kebutuhan pemustaka, hal ini dikarenakan begitu derasnya informasi yang berkembang dan real time. Variety (Keberagaman) =  informasi yang ada terdiri dari berbagai format dan hampir semua jenis format data tersedia, baik data terstruktur, numerik dan data dari database tradisional hingga dokumen teks tidak terstruktur seperti video, audio dll. Variabilitas =  Selain meningkatnya kecepatan dan keberagaman data, aliran data juga tidak konsisten sesuai periodenya. Dikarenakan data atau informasi didapatkan berdasarkan keadaan atau peristiwa. Keempat faktor big data yang menjadi tantangan perpustakaan di era teknologi yang berkembang saat ini, saling berkaitan, dan erat hubungannya dengan pustakawan serta sumberdaya yang dimilikinya. Pustakawan sebagai pengelola data yang sangat besar tersebut harus memiliki keahlian, keterampilan dibidang teknologi informasi, dimana pustakawan harus dapat menciptakan atau menggunakan teknologi tersebut untuk kemudahan pemustaka dalam mancari informasi (data) yang diinginkan. Pustakawan bertanggung jawab mendesiminasikan informasi (data) secara terbuka, berasas keberlanjutan dan asas legalitas yang dapat dipercaya, sehingga pustakawan dapat memiliki peran penting dalam mengelolah data yang sangat besar tersebut.   DAFTAR PUSTAKA Ali, Irhamni. “Big Data : Apa Dan Pengaruhnya Pada Perpustakaan ? ( What Is Big Data and Its In Fl Uence to Library ).” Media Pustakawan 22, no. 4 (2016): 19–23. https://www.researchgate.net/publication/308881200_Big_Data_Apa_dan_pengaruhnya_pada_perpustakaan_What_is_Big_Data_and_its_Influence_to_Library. Aribowo, Handy, and Dan Alexander Wirapraja. PERAN PUSTAKAWAN DI PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYEDIA DATA DAN INFORMASI DALAM MENUNJANG PENELITIAN BISNIS, n.d. Farida, Umi. “Pengelolaan Big Data Pada Perpustakaan : Tantangan Bagi Pustakawan Di Era Perpustakaan Digital.” Journal Net. Library and Information 1, no. 1 (2018): 19–29. Islah, Khikmatul. “Peluang Dan Tantangan Pemanfaatan Teknologi Big Data Untuk Mengintegrasikan Pelayanan Publik Pemerintah.” Jurnal Reformasi Administrasi 5 (2018): 130–138.  

Jan Frist Pagendo Purba Baca Selengkapnya
The best Librarian competition level Bangka Belitung Province of 2018
25 Sep 2019

The best Librarian competition level Bangka Belitung Province of 2018

The Archive and Library of Bangka Belitung Province through library resource development division has conducted the best librarian competition level Bangka Belitung Province of 2018.This competition has been conducting from 29 August to 30 August 2018 at the Civil Service and Human Resource Development Agency of Bangka Belitung Province (BKPSDM). Congratulation for all the winners: - Juara I :Putra Pratama from Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat - Juara II :Jantayunova Mukti from Perpustakaan Daerah Kabupaten Belitung - Juara III :Dewi Astuti from Perpustakaan Daerah Kabupaten Belitung - Juara Harapan I :Runi Alcitra Amalia from Perpustakaan Provinsi Kep. Bangka Belitung - Juara Harapan II :Achmad  Adam from Sekwan Provinsi Kep. Bangka Belitung Just for the information, the 1st winner, Mr. Putra Pratama who represents Bangka Belitung Province has success to reach a third runner up of the best librarian of 2018 in National level. Thank you and congratulation for all the winners.

Dian Ekatama (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
Local Language story telling competition level Bangka Belitung Province of 2018
25 Sep 2019

Local Language story telling competition level Bangka Belitung Province of 2018

The Archive and Library of Bangka Belitung Province through Library Material Development and Library service division has implemented the Local Language story telling competition level Bangka Belitung Province of 2018. This competition has been conducting from 29 August to 30 August 2018 at the Civil Service and Human Resource Development Agency of Bangka Belitung Province (BKPSDM). This competition was participated by 20 groups at the elimination round and will left 5 groups at the final round. Below are the winners: Juara I             : Selasih,from Bangka Regency Juara II            : Teater Lidi Satu Atap from MAN 1 Pangkalpinang Juara III            : Saseka, from  SDN 1 Payung Harapan I         : Rumah Panggung, from West Bangka Harapan II        : Teater Gita Persada, from SMAN1 Pangkalpinang All the winners will get trophy, certificate and cash money Thank you and congratulation to all participants.

Dian Ekatama (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
Book Aid Survey for Village Library of 2018
25 Sep 2019

Book Aid Survey for Village Library of 2018

The Archive and Library of Bangka Belitung Province implemented book aid survey for 6 (six) village libraries around Bangka Belitung area from 20 September to 04 October 2018. The purpose of this activity is to survey the sixth village libraries that are going to receive the aid (books and shelves). Through this activity is expected could support children learning activity around the village, increased peoples reading interest by spending their leisure time to read and creating dynamic, productive, creative, and independent village communities.

Dian Ekatama (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
Library Science?
25 Sep 2019

Library Science?

The piece of these mainstream chat: “Where do you study? What University ..., what major? Library science and closing with silence instantly are almost experienced by all colleague students who are un-purposely taking library science or seriously taking information, communication and technology department. Usually, the word “hah”, frowned and continued with mainstream question “what department is that?”, “what are you going to study? What are you will be? Taking care of books? Until you heard worse and sad question “hah, I never heard that department?” Actually, those questions are still normal as people asked you many questions show that they are awareness or maybe not familiar with this study program. To all college students or graduate students of the library science department are expected could explain about this major to public. This department is considered as a rare department is not because of its age which reached more than 60 years. In Indonesia, librarian education began in 1952 marked by the opening of a Library Employee Education Course managed by the Library Bureau of the Ministry of Education, Teaching and Culture (Sulistyo Basuki: 2013). However, the establishment of the library science department through the Institute of Education manage by the University was taking place from1961 up to 1969. The University of Indonesia (UI) was the first university opened a library science department. Recently, there are around 32 institutions in Indonesia that run library and information science education, starting from diploma 2, diploma 3, undergraduate 1, and undergraduate 2 which spread in many universities and colleges both (public and private) in Indonesia. In the year of 2012/2013, University of Gajah Mada (UGM) Yogyakarta was the only university in Indonesia which opened Doctoral Degree of library science department in the study program of Culture Media and the Faculty of Cultural Science. For Master’s Degree, there have been five universities of library science, namely: University of Indonesia, University of Padjadjaran, University of  Gadjah Mada, University of Bogor Agricultural Institute and University of Sunan Kalijaga State Islamic Yogyakarta (Wahid Nashihuddin: 2014) What will you study in this department? This department is the only one study program which established to meet the needs of professional labor in the field of library management which make library as their object of study, ranging from the activities of library technicians, management until information technology applications. In this department, you will also learn about library, documentation, and information (pusdokinfo). The goals of this department are to produce an expert student in all types of libraries, information institutions, documentation or in the archives and record management institutions too. What is that means? It means a promised job opportunity. It was proved by almost all institutions/ministries and local governments from Sabang to Merauke had formation for librarian or archivist when they open civil servant vacancies. In a simple word, we can say that since every public or private company are still issued a document, there’s still a big opportunity for librarians and archivists. For that reasons, all sources of information such as organize, process, disseminate, serve, and preserve will greatly assist career development. Trust me, it works. DAFTAR PUSTAKA Sulistyo Basuki. 2013. Ilmu Perpustakaan dan Informasi : Perkembangan dan Tantangannya di Indonesia. https://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/03/25/ilmu-perpustakaan-dan-informasi-perkembangan-dan-tantangannya-di-indonesia/.   Wahid Nashihuddin. 2014. “Perkembangan Pendidikan Ilmu Perpustakaan Indonesia: Dari Masa Ke Masa” . Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 13 No. 1

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya