Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

STRATEGI PERPUSTAKAAN MENGHADAPI VUCA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
25 Apr 2019

STRATEGI PERPUSTAKAAN MENGHADAPI VUCA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Pekembangan teknologi termutakhir selalu menimbulkan perubahan yang sangat dahsyat seperti mengubah gaya hidup dan kebiasaan sebelumnya. Teknologi Informasi merupakan peluang dan tantangan yang akan dihadapi oleh perpustakaan. Informasi yang ada akan terus dan semakin berkembang. Seiring dengan perkembangan TI, pustakawan akan dihadapkan pada suatu tatanan masyarakat “baru,” yakni masyarakat haus informasi. VUCA merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity. VUCA menjadi lebih terasa di era Revolusi Industri 4.0. dengan kemajuan TI yang berjalan lebih cepat. VUCA berkaitan dengan cara orang melihat kondisi saat membuat keputusan, merencanakan, mengelola risiko, mendorong perubahan, dan memecahkan masalah. Oleh karena itu, VUCA dinilai dapat mendorong kapasitas sebuah perpustakaan dalam menghadapi perubahan dinamis pada era transformasi digital seperti saat ini. Kondisi tersebutlah yang harus dihadapi oleh perpustakaan. Bagaimana perpustakaan menghadapi tantangan tersebut? Dalam menghadapi tantangan vuca, perpustakaan perlu memberikan Pelatihan Dan pendidikan kepemimpinan dan SDM yang mengakomodasi perubahan cepat yang terjadi dengan memunculkan pembekalan unsur kognitif, kreativitas, dan spiritualitas. Ledakan informasi yang melibatkan seluruh lapisan infrastruktur informasi membuat pustakawan mempunyai “saingan.” Persaingan ini dapat menjadikan pustakawan sebagai peluang atau tantangan, bagi pustakawan yang kreatif, memiliki dedikasi tinggi dan kemampuan untuk mengaplikasikan teknologi informasi akan menjadi ujung tombak dalam penyebaran informasi, sedangkan bagi pustakawan yang malas dan tidak kreatif akan semakin tertinggal oleh perkembangan infromasi yang ada. Tantangan kedepan bagi pustakawan semakin berat, karena dituntut selalu berupaya melaksanakan tugasnya di bidang informasi, terutama dalam rangka menjalankan fungsi pendidikan. Ada 4 strategi yang dapat membuat kita lebih baik dalam menghadapi VUCA ini. Pertama, Agile Learning, belajar terus menerus dengan tangkas. Karena perubahan TI tidak ada habisnya, maka perbaikan dan pembelajaran jadi kunci utama suatu keberhasilan. Menciptakan suasana bejalar yang kondusif di perpustakaan, mempelajari hal-hal yang bukan bidang perpustakaan, serta memperkaya skills kita dalam banyak hal akan membuat kita semakin mampu menghadapi perubahan yang cepat ini. Kedua, Adeptness to Ambiguity. Mampu menghadapai ketidakpastian. Bisa beradaptasi pada hal-hal yang rumit dan kompleks. Punya keyakinan pribadi yang baik, dapat selalu bangkit dari kegagalan - kegagalan yang dilalui. Punya kelebaran pemikiran dan daya adaptasi tinggi terhadap perubahan dan prosesnya. Ketiga, Thinking Strategically. Mampu berpikir secara strategis. Mampu mengerjakan permintaan yang sulit dalam informasi yang tidak lengkap. Bisa berpikir lebih panjang dari yang diharapkan. Bisa menginspirasi orang lain akan masa depan dan pencapaian hal yang positif. Keempat, Drive to Execute. Mendorong Eksekusi. Berani mengambil resiko yang diperhitungkan dan mendorong pelaksanaan strategi dengan tegas dan cepat. Mampu mendorong dan mempengaruhi orang lain untuk menyelesaikan semua tantangan. Pimpinan juga harus bisa mendorong anak buahnya supaya mau dan mampu mengambil resiko tertentu dalam mengeksekusi hal-hal yang sifatnya untuk kemajuan perpustakaan. Diharapkan ke-empat strategi tersebut dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi, fleksibel dalam pelaksanaan dan tetap fokus pada tujuan perpustakaan. Walaupun tidak selalu bisa menghadapi semua hal yang berubah dengan cepat, tetapi setidaknya 4 hal ini mampu membuat kita menjadi lebih “sakti” dalam menjalankan perpustakaan kita dijaman ini.   DAFTAR PUSTAKA : Supriyatna, Iwan. 2018. Strategi Perusahaan Agar Tak Gagap Hadapi Era Revolusi Industri 4.0. [Internet]. Tersedia di : https://www.suara.com/bisnis/2018/12/13/174653/strategi-perusahaan-agar-tak-gagap-hadapi-era-revolusi-industri-40. Wasitarini, Dewi Endah. 2018. Peran Pustakawan Dalam Era Library 4.0. Jurnal Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan. 4(2): 16-24.

Uliarta Simanjuntak Baca Selengkapnya
Sepintas tentang Hak dan Kewajiban Pustakawan
23 Apr 2019

Sepintas tentang Hak dan Kewajiban Pustakawan

Dalam Undang-Undang Perpustakaan, Profesi Pustakawan sebagai pekerja Perpustakaan mulai diakui eksistensinya baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Bagimana dengan Pustakawan,ada apa gerangan dengan profesi yang satu ini, apakah masyarakat kita belum mengenal atau malah mencibirkan profesi ini ? Padahal pustakawan merupakan profesi yang langka dengan kompeten keilmuannya sama halnya dengan profesi lainnya. Pustakawan memang tidak seharusnya menuntut hak-haknya saja tetapi juga dibebankan akan kewajibannya terhadap negara dan masyarakat. Jika profesi ini menginginkan dihargai sebagai profesional maka perlu ada regulasi mengenai sebutan pustakawan tersebut dan apa saja hal dan kewajibannya. Pemberian apresiasi terhadap suatu profesi sebaiknya juga diperhatikan oleh pemerintah. Guna memberikan gambaran kepada pustakawan untuk meningkatkan kompetensi dirinya agar mendapatkan pengakuah dari masyarakat, maka pustakawan hendaknya mengetahui hak dan kewajiban sebagai seorang yang profesional. Hak seorang Pustakawan seperti yang tertuang dalam pasal 31, UU No.43/2007 adalah : Penghasillan dan jaminan kesejahteraan sosial Pembinaan karir sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas Kesempatan untuk menggunakan sarana prasarana dan fasilitas perpustakaan, untuk menunjang kelancaran tugasnya. Sedangkan kewajiban pustakawan adalah : Memberikan layanan prima terhadap pemustaka Menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif Memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukan sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya. Jadi, sudah sepatutnya Pustakawan harus dicitrakan sebagai sebuah profesi yang memiliki kelayakan untuk sejajar dengan profesi lain. Masalah citra itu perlu kita bangun untuk merebut keprcayaan masyarakat bahwa pustakawan juga dalah agen perubahan yang paling berhak untuk memegang amanat kekuasaan. Apa yang harus pustakawan lakukan adalah meningkatkan kapasitas internalnya agar pustakawan memperbaiki kinerjanya sebagai agen perubahan yang memang layak diberi kepercayaan oleh masyarakat.   Daftar Pustaka : Purwono (2013). “Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan”. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Anggya Dwie Permatasari Baca Selengkapnya
PENGEMBANGAN MINAT BACA DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH
18 Apr 2019

PENGEMBANGAN MINAT BACA DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Keberadaan perpustakaan sekarang ini menjadi begitu penting dengan dikeluarkannya Undang-undang no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Undang-undang yang menjadi payung hukum bagi segala aktifitas kinerja perpustakaan dan seluruh elemen pendukung kegiatannya,  meliputi pustakawan, gedung, koleksi, dan pemustaka. Sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang no 43 tahun 2007, dalam pasal 3 dikatakan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Bertolak dari fungsi perpustakaan tersebut tentunya sebuah tantangan bagi pengelola perpustakaan untuk menciptakan   sebuah perpustakaan yang bisa  menjadi tempat menggali ilmu sekaligus tempat rekreasi yang menyenangkan sehingga terwujud masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Dan begitu pun sebaliknya, akan menjadi sebuah kondisi yang memprihatinkan, apabila keberadaan Undang-undang tersebut tidak bisa membuat kinerja perpustakaan lebih maksimal karena sepi pemustaka. Dengan kata lain,  perpustakaan hanya menjadi sebuah gudang buku yang statis dan kurang menarik perhatian pemustakanya A.        Faktor penyebab rendahnya minat masyarakat terhadap perpustakaan Kondisi demikian juga tidak disebabkan oleh faktor perpustakaannya saja karena ada faktor lain yang turut mempengaruhi aktifitas kinerja perpustakaan yaitu minat baca masyarakat sebagai pemustakanya. Kurangnya minat baca masyarakat turut mempengaruhi tinggi rendahnya aktifitas layanan perpustakaan. Ketika minat baca sudah tinggi, sebuah perpustakaan akan lebih berdaya guna apabila dibarengi dengan tindakan promosi ke masyarakat. B.        Strategi untuk meningkatkan daya tarik masyarakat pada perpustakaan 1. Pemasyarakatan Gerakan Peningkatan Minat Baca Gerakan peningkatan minat baca merupakan unsur penting yang perlu mendapat perhatian serius di semua kalangan. Minat baca tidak bisa  muncul tiba-tiba tapi harus dipupuk sejak dini dan perlu upaya-upaya yang maksimal untuk mewujudkannya. Seperti yang dilansir oleh Taufik Ismail, Bahwa Negara kita adalah bangsa dengan minat baca yang rendah di antara bangsa-bangsa di dunia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses peningkatan minat baca karena bangsa kita bangsa yang lebih familiar dengan budaya tutur. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan  minat baca masyarakat ialah: a. Sosialisasi bacaan ke keluaraga Peningkatan minat baca bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dari keluarga inilah diharapkan orangtua mulai menanamkan kecintaan anak-anaknya untuk mencintai bacaan, misalnya dilakukan dengan membacakan buku cerita pada anak-anak menjelang tidur. Apabila dilakukan secara kontinyu, kegiatan ini lambat laun akan menggugah anak untuk membaca sendiri. Peran perpustakaan di sini bisa dilakukan dengan jalan mengadakan lomba mendongeng orang tua kepada anaknya. Ketika kebiasaan membaca sudah tertanam di setiap keluarga maka kebutuhan akan bahan bacaan akan meningkat dan diharapkan mereka akhirnya akan mencari tempat sumber koleksi bacaan. Dari sinilah perpustakaan diharapkan  untuk menangkap kegelisahan masyarakat yang haus akan bacaan. b. Mengundang anak TK/PAUD Kunjungan ke Perpustakaan Kegiatan ini bisa berupa; mewarnai, membaca, dan bisa juga melihat film yang diputar di perpustakaan. Aktivitas ini secara tidak langsung bisa memberikan pengalaman kepada anak-anak mengenai aktivitas perpustakaan. Anak-anak secara tidak langsung akan mengamati perilaku pengunjung dan petugas perpustakaan ketika mereka berada di ruang perpustakaan. Dari sini diharapkan mereka tidak canggung lagi ketika harus berkunjung sendiri ke perpustakaan kelak.   c. Mengadakan lomba membaca naskah sastra Lomba membaca naskah sastra merupakan salah satu kegiatan yang dapat merangsang minat baca. Ini disebabkan karena masing-masing individu mempunyai selera yang berbeda. Mereka akan memilih dan memilah jenis bacaan yang sesuai dengan perasaannya. Dari beberapa poin di atas diharapkan nantinya bisa tercipta kebiasaan membaca di masyarakat sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat ( long life education ). 2. Promosi Perpustakaan Promosi perpustakaan adalah kegiatan pengenalan sosialisasi mengenai seluk beluk dunia perpustakaan. Tujuan dari promosi perpustakaan ini adalah: Untuk menginformasikan kepada pemakai layanan dan program kegiatan yang ada di perpustakaan; Untuk menbangkitkan minat dan keinginan pemakai terhadap perpustakaan dan layanannya; Untuk memelihara kesadaran pemakai terhadap layanan perpustakaan; Untuk meningkatkan penggunaan perpustakaan. Jika melihat dari tujuan promosi perpustakaan tersebut maka diperlukan cara-cara yang jitu sebagaimana cara-cara promosi di dunia usaha supaya promosi perpustakaan bisa tepat sasaran dan menghasilkan hasil yang optimal. C.        Beberapa Sarana Promosi 1. Menggunakan media elektronik a. Media televisi Media televisi sangat efektif dipakai untuk memromosikan suatu produk barang atau jasa karena jangkauannya yang luas dan juga karena bentuk medianya yang audio visual.   b. Internet Yaitu melalui penggunaan website yang menarik bagi perpustakaan yang bersangkutan akan memancing user untuk mendatangi perpustakaan tersebut. Website ini bisa menjadi perwakilan perpustakaan di dunia maya.  Di sini bisa ditunjukkan seluk beluk perpustakaan mulai dari cara pendaftaran, Gedung, daftar koleksi, dan informasi lainnya. c. Radio Bagi perpustakaan lokal bisa memanfaatkan media radio untuk  perpustakaannya. Mengingat radio adalah media audio maka bentuk atau isi iklannya dititik beratkan pada informasi-informasi insidental. Misalnya program perpustakaan yang berlangsung hanya mingguan. 2. Media Cetak a. Surat kabar Media surat kabar ini bisa dipakai untuk mendisplaikan buku-buku terbaru atau buku-buku yang sedang best seller di pasaran dan sudah dimiliki oleh perpustakaan. b. Majalah Majalah bisa dipakai untuk menampilkan profil singkat perpustakaan serta apa saja keunggulan maupun kekhasan sebuah perpustakaan yang bersangkutan yang tidak dimiliki oleh perpustakaan lainnnya. c. Brosur Brosur sangat efektif dipakai untuk memberikan informasi yang sifatnya beralur misalnya, cara menjadi anggota, di situ ditunjukkan prosesnya mulai dari datang ke perpustakaan sampai mendapat kartu anggota hinnga terjadi proses transaksi meminjam buku. 3. Pameran Pameran buku merupakan ajang yang bagus untuk memancing masyarakat datang ke perpustakaan. Dengan rajin mengikuti pameran buku maupun mengadakan pameran sendiri akan membuat perpustakaan dikenal secara langsung oleh masyarakat   DAFTAR PUSTAKA Bunanta, Murti, Buku, Mendongeng dan Minat Baca, Jakarta: Pustaka Tangga, 2004. Donald, Melkion, Kerjasama dan Promosi Perpustakaan Dinas/Rumah Ibadah, Makalah Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Dinas dan Rumah Ibadah, Hotel Victory, Batu, Malang, 25-27 Juni 2008. H.S., Lasa, Manajemen Perpustakaan, Yogyakarta: Gama Media, 2005.

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
INPASSING JFT PUSTAKAWAN NAIK DAUN
12 Apr 2019

INPASSING JFT PUSTAKAWAN NAIK DAUN

Mulai tahun 2016 telah dibuka inpassing/penyesuaian untuk jabatan fungsional tertentu pustakawan. Berdasarkan Permenpan dan Reformasi Birokrasi No.26 Tahun 2016 tentang Pengangkatan ASN dalam Jabatan Fungsional Melalui Penyesuaian/Inpassing. Pertimbangan Permenpan RB No.26 Tahun 2016 dalam rangka pengembangan karier, profesionalisme dan peningkatan kinerja organisasi, serta guna memenuhi kebutuhan jabatan fungsional, perlu mengangkat PNS yang memenuhi syarat melalui inpassing/penyesuaian pada kementerian lembaga dan pemerintah daerah. Inpassing/penyesuaian adalah pengangkatan pegawai negeri sipil kedalam jabatan fungsional tertentu guna memenuhi kebutuhan organisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu tertentu. Inpassing merupakan kesempatan ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk memilih jalur fungsional antara lain JFT (Jabatan Fungsional Tertentu) Pustakawan, bagi ASN yang menduduki jabatan pelaksana atau struktural apabila memenuhi syarat untuk mengukuti inpassing. Fenomena inpassing JFT Pustakawan ini ternyata begitu diminati, banyak pejabat struktural maupun pelaksana yang mendaftar untuk mengikuti inpassing. JFT Pustakawan yang dahulu tidak dipandang dan di pedulikan kenapa sekarang kemudian menjadi primadona dan diingikan, apa karena pustakawan dianggap pekerjaan yang mudah dan tidak memerlukan keterampilan atau keahlian khusus sehingga siapa saja bisa menjadi pustakawan. Pada kenyataannya pustakawan instan dari inpassing ini rata-rata hanyalah “kutu loncat” ASN yang akan memasuki usia pesiun dan pejabat struktural yang sudah mentok jabatannya agar pensiunnya bisa di perpanjang dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Apakah ASN yang akan memasuki usia pensiun biasa bekerja dengan efektif dan mau belajar dari awal lagi tentang ilmu perpustakaan yang baru. Jadi apakah inpassing ini efektif hanya untuk memenuhi kebutuhan jabatan fungsional tapi tidak dengan fungsinya dalam lembaga. Bukankah ini semakin memperburuk citra pustakawan. Pada kenyataannya inpassing ini tidak adil untuk pustakawan dengan basic ilmu perpustakaan yang belajar dan memulai karir dari awal sebagai pustakawan yang benar-benar ingin melayani, berkarya, berinovasi, berkinerja, berprestasi tinggi dan berpartisipasi aktif turut membangun lingkungannya untuk meningkatkan citra pustakawan, agar sejajar dengan profesi lainnya. Sementara saat ini pustakawan Indonesia di tuntut untuk bersaing dengan Pustakawan dari negara ASEAN lainnya. Kompetensi dan profesionalisme Pustakawan Indonesia harus terus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan pasar global. Apakah bisa pustakawan instan memiliki kompetensi dan profesionalisme untuk bersaing dari negara ASEAN di usia menjelang pensiun. Seharusnya pemerintah bukan hanya memikirkan tentang pemenuhan kebutuhan JFT Pustakawan tetapi “kompetensi dan profesionalisme” lebih penting. Semoga ASN yang mengikuti inpassing JFT pustakawan benar-benar menyukai dunia perpustakaan, ingin belajar dan memenuhi kompetensi sebagai putakawan. Menjadi pustakawan bukan karena alasan tunjangan JFT atau untuk memperpanjang usia pensiun.

Utami Wisnu Wardhani Baca Selengkapnya
Tantangan Pustakawan di Era Globalisasi
11 Apr 2019

Tantangan Pustakawan di Era Globalisasi

Globalisasi informasi merupakan proses yang berlangsung paling cepat karena kemajuan teknologi media cetak dan elektronik, komputerisasi, sistem digital, dan sebagainya. Perkembangan globalisasi sebagai hasil dari perkawinan kepentingan ekonomi dan kemajuan teknologi membawa banyak dampak persoalan, salah satunya mengenai nasib institusi pendidikan. Di mana dunia pendidikan tidak terlepas dari peran perpustakaan. Semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dewasa ini sangat membantu kebutuhan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Peran perpustakaan sebagai penyedia informasi ditandai dengan kemudahan bagi orang untuk mengakses berbagai informasi dengan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tantangan dan tuntutan baru di era global dengan teknologi informasi khususnya bagi para pekerja informasi dan lembaga informasi seperti perpustakaan adalah bagaimana perpustakaan menyalurkan informasi dengan cepat, tepat dan akurat. Perpustakaan sebagai salah satu media penampung dan penyedia informasi yang keberadaannya sangat penting di dunia informasi, mau tidak mau harus juga berpikir mengenai bentuk yang tepat untuk menanggapi tantangan ini. Banyak peran yang masih bisa dimainkan oleh lembaga perpustakaan di era informasi global. Perpustakaan memang harus menyesuaikan dengan tuntutan itu. Dalam era globalisasi saat ini ditambah dengan kecanggihan teknologi informasi, pekerjaan seorang pustakawan tidak hanya bersifat teknis tetapi pustakawan dituntut untuk dapat berpikir inovatif dan kreatif karena pustakawan  adalah para manajer informasi dan pengetahuan. Pustakawan dituntut untuk lebih cerdas dalam menyediakan informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh pemustaka. Karena pada era informasi saat ini, informasi dapat di akses dengan cepat dan mudah melalui search engine dimanapun berada. Selain itu pustakawan juga bukan hanya orang yang menunggu pemustaka untuk datang ke perpustakaan melainkan pustakawan yang mendatangi pemustaka untuk datang ke perpustakaan (bring users in) melalui penyediaan fasilitas yang ada. Di bidang kepustakawanan saat ini masih intens dan menarik untuk membicarakan tentang kompetensi dan profesionalisme pustakawan. Hal ini disebabkan karena profesi pustakawan di era globalisasi ini merupakan profesi yang sangat strategis dan mendapat perhatian yang sangat luas di kalangan perpustakaan.  Kompetensi dan profesionalisme bagi yang menyandang profesi ini merupakan sebuah tantangan dan menjadi bahan diskusi di berbagai forum kepustakawanan di era global. Pustakawan diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik sebagai alat komunikasi dengan menguasai bahasa internasional yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, sehingga bisa dan mampu berperan dalam forum kepustakawanan baik skala nasional, regional, internasional, bahkan tingkat dunia sekalipun, sehingga pustakawan tidak hanya terlena dan asyik dengan pekerjaan teknisnya saja meskipun itu tidak bisa dihindari. Kesiapan pustakawan menghadapi era digital dalam memenuhi kebutuhan pemustaka yang sangat beragam akan informasi yang dibutuhkan pemustaka tersebut. Sebagai pengelola informasi, pustakawan di era informasi saat ini  dituntun untuk kompetensi dan profesionalisme sebagaimana definisi pustakawan yang tertuang di dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan / atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Dikarenakan tuntutan yang semakin beragam pada era globalisasi saat ini, perpustakaan perlu mempersiapkan pustakawan yang profesional dan kompeten dibidangnya . Pustakawan harus terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan agar dapat mengembangkan dan memperbaiki profesionalitas diri yang bertujuan mendapatkan hasil terbaik sehingga dapat  memberikan solusi yang terbaik pula bagi masalah yang ada, yang hasilnya dapat bertahan dan bahkan berkembang menjadi lebih baik lagi.   DAFTAR PUSTAKA https://www.researchgate.net/publication/329783285_Dinamika_dan_Tantangan_Pustakawan_di_Era_Globalisasi  

PENGEMBANGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN
5 Apr 2019

PENGEMBANGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN

Pengembangan koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bahan pustaka apa saja yang harus diadakan di perpustakaan. Sebelumnya muncul istilah seleksi buku, buku dalam pengertian yang lebih luas yang mencakup monografi, majalah, bahan mikro dan jenis bahan pustaka lainnya.  Menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983)  Pengertian Pengembangan koleksi adalah:  A term which encompasses a number of activities related to the development of the library collection, including the determination of the library collection, including the determination and coordination of selection policy, assessment of needs of users and potential users, collection evaluation, identification of collection needs, selection of materials, planning for resource sharing, collection maintenance, and weeding.  Jika pengertian Pengembangan Koleksi menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983) di atas diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia yaitu; sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan.  Di awal tahun 1970-an pengembangan koleksi Perpustakaan merupakan istilah yang mempunyai konotasi lebih luas dari pada seleksi buku dan pengadaan bahan pustaka. Hal ini mengacu pada pengetahuan untuk mengadakan koleksi perpustakaan yang meliputi seleksi bahan pustaka yang harus ditambahkan secara cermat, dan pengadaan fisik bahan pustaka yang telah ditentukan. Didalam proses pengembangan tersebut termasuk kegiatan seleksi dan pengadaanbuku(Sharma&Singh,1991).  Sedangkan menurut Sulistyo_Basuki (1991 : 427) pengertian pengembangan koleksi lebih ditekankan pada pemilihan buku. Pemilihan buku artinya memilih buku untuk perpustakaan. Pemilihan buku berarti juga proses menolak buku tertentu untuk perpustakaan. Selanjutnya pengertian pengembangan koleksi mengalami perubahan perkembangan bidang kepustakawanan. Pengembangan koleksi, seleksi dan pengadaan menjadi istilah-istilah yang saling melengkapi. Tujuan Pengembangan Koleksi  Tujuan pengembangan koleksi adalah untuk menambah koleksi perpustakaan yang baik dan seimbang, sehingga mampu melayani kebutuhan pengguna yang berubah dan tuntutan pengguna masa kini serta masa mendatang.Tujuan pengembangan koleksi perpustakaan perlu dirumuskan dan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan pengguna agar perpustakaan dapat secara berencana mengembangkan koleksinya.  Pengembangan koleksi adalah awal dari pembinaan koleksi perpustakaan bertujuan agar koleksi tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna dan jumlah bahan pustaka selalu mencukupi. Mutu perpustakaan dibentuk oleh kegiatan pengembangan koleksi ini.  KEGIATAN PENGEMBANGAN KOLEKSI 1. Pemilihan atau Seleksi Bahan Pustaka  Proses pemilihan bahan pustaka merupakan kegiatan yang harus dibatasi oleh tujuan dan sarana yang ingin dicapai perpustakaan. Dimana kegiatan pemilihan bahan pustaka merupakan proses mengevaluasi bahan pustaka yang akan dipilih sesuai dengan kebijakan perpustakaan. Kemampuan pengguna yang dilayani, dana, tenaga, dan pengolah yang tersedia di perpustakaan.  Dalam buku Pedoman Pembinaan Koleksi Perpustakaan (Siregar 1999 : 86) dan pengetahuan Literature dinyatakan bahwa adapun cara pemilihan bahan pustaka adalah :  1.    Pemilihan dilakukan berdasarkan sarana pengguna perpustakaan  2.    Pemilihan buku dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu pemilihan buku  3.    Pemilihan buku dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi buku secara langsung.  Berdasarkan hasil pembicaraan atau diskusi tentang buku yang dikelompokkan dari kelompok diskusi atau media komunikasi.  Untuk melakukan pemilihan bahan pustaka di perlukan alat bantu seleksi. Menurut Sulistyo-Basuki (1991 : 432) karena seleksi bahan pustaka merupakan kegiatan penting yang perlu dilakukan dan berhubungan dengan mutu perpustakaaan yang bersangkutan, alat bantu seleksi antara lain :  1.    Silabus mata kuliah  2.    Katalog penerbit/berita buku  3.    Bibliografi  4.    Daftar perolehan buku  5.    Tinjauan dari resensi buku  6.    Iklan dan selebaran terbitan baru  7.    Book inprint  8.    Pangkalan data  9.    Situs Web  Setiap perpustakaan memiliki struktur organisasi tersendiri, sehingga dalam menentukan seleksi bahan pustaka atau struktur organisasi. Secara garis besar alat bantu seleksi bahan pustaka terdiri atas dua bagian :  Alat Bantu Seleksi  Yaitu alat yang dapat membantu pustakawan untuk memutuskan apakah bahan pustaka diseleksi. Karena informasi yang diberikan dalam alat bantu tersebut tidak terbatas pada data bibliografis, tetapi juga mencakup keterangan lain diperlukan untuk mengambil keputusan. Informasi ini bisa diberikan dalam bentuk notasi singkat saja, bisa berupa tinjauan (review) dengan panjang dan bervariasi.  Contoh alat bantu seleksi yaitu :  1.    Tinjauan buku/bahan pustaka lain Daftar judul untuk jenis perpustakaan tertentu ( core, list, subjek tertentu atau kelompok tertentu).  2.    Katalog Perpustakaan dan Indeks, misalnyabook review indeksdansebagainya.  3.    Alat indeks dan verifikasi  Yaitu alat bantu seleksi yang hanya mencantumkan data bibliografi bahan pustaka (kadang-kadang dengan harga) alat seperti ini di pakai untuk mengetahui judul yang telah diterbitkan atau yang akan di terbitkan dalam bidang subjek tertentu alat bantu ini dapat dipakai untuk mengetahui verifikasi apakah judul atas nama pengarang, beberapa harganya, tebitan berseri atau bahan pandang dengar, masih ada dipasaran dan verifikasi atau tidak.  Tahapan seleksi bahan pustaka dilakukan untuk keberhasilan kegiatan pengembangan koleksi. Seleksi bahan pustaka merupakan langkah penting untuk menciptakan mutu koleksi yang memiliki kualitas.Menurut Soedibyo (1998 : 301), menyatakan bahwa ”Book selection”adalah seleksi pemilihan atas buku-buku yang diambil serta diyakini akan berguna dan tempat bagi perpustakaan dimana kita bertugas.”  Pemilihan bahan pustaka yang tepat untuk pengguna perpustakaan Permintaan pengguna Pemilihan bahan pustaka harus benar-benar dapat mengembangkan dan memperkaya pengetahuan pengguna. Setiap bahan pustaka harus dibina berdasarkan rencana tertentu. Selain alat bantu yang disebut di dalam kutipan di atas. Alat bantu lain yang juga dapat dijadikan acuan dalam seleksi adalah brosur buku dari penerbitan, resensi buku dan majalah, surat kabar, dan media lain. Tim seleksi (selector) tinggal melihat alat bantu mana yang sesuai dengan kebutuhan agar mekanisme kerja maksimal.  Menurut Siregar (1998 : 6) dalam melaksanakan seleksi bahan pustaka hendaknya memperhatikan pedoman dalam penentuan kebijakan pengembangan koleksi, antara lain :  1.    Relevansi (kesesuaian)  Pemilihan dan pengadaan bahan pustaka terkait dengan kepuasan pengguna yang direlevansi dengan kebutuhan pengguna.  2.    Kelengkapan.  Koleksi perpustakaan tidak hanya terdiri dari buku-buku teks saja tetapi juga menyangkut bidang ilmu lain yang berkaitan dengan bahan penelitian.  3.    Kemuktahiran.  Perpustakaan harus selalu mengadakan pemburuan dalam koleksi, sehingga informasi yang disajikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh kemuktahiran koleksi tersebut dapat dilihat dari tahun terbit.  4.    Kerjasama.  Perlunya kerjasama yang baik dan harmonis sehingga pelaksanaan kegiatan pengembangan koleksi berjalan dengan baik. Dalam kerjasama ini melibatkan beberapa pihak yang berkompeten agar koleksi yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan pengguna.  Apakah sesuai dengan pengguna. Ketetapan pemilihan koleksi ditentukan oleh beberapa prinsip penyeleksian bahan pustaka, antara lain :  Pemilihan bahan pustaka yang tepat untuk pengguna perpustakaan Permintaan pengguna Pemilihan bahan pustaka harus benar-benar dapat mengembangkan dan memperkaya pengetahuan pengguna. Setiap bahan pustaka harus dibina berdasarkan rencana tertentu. Selain alat bantu yang disebut di dalam kutipan di atas. Alat bantu lain yang juga dapat dijadikan acuan dalam seleksi adalah brosur buku dari penerbitan, resensi buku dan majalah, surat kabar, dan media lain. Tim seleksi (selector) tinggal melihat alat bantu mana yang sesuai dengan kebutuhan agar mekanisme kerja maksimal.  Menurut Siregar (1998 : 6) dalam melaksanakan seleksi bahan pustaka hendaknya memperhatikan pedoman dalam penentuan kebijakan pengembangan koleksi, antara lain :  5.    Relevansi (kesesuaian)  Pemilihan dan pengadaan bahan pustaka terkait dengan kepuasan pengguna yang direlevansi dengan kebutuhan pengguna.  6.    Kelengkapan.  Koleksi perpustakaan tidak hanya terdiri dari buku-buku teks saja tetapi juga menyangkut bidang ilmu lain yang berkaitan dengan bahan penelitian.  7.    Kemuktahiran.  Perpustakaan harus selalu mengadakan pemburuan dalam koleksi, sehingga informasi yang disajikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh kemuktahiran koleksi tersebut dapat dilihat dari tahun terbit.  8.    Kerjasama.  Perlunya kerjasama yang baik dan harmonis sehingga pelaksanaan kegiatan pengembangan koleksi berjalan dengan baik. Dalam kerjasama ini melibatkan beberapa pihak yang berkompeten agar koleksi yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan pengguna.  9.    Alat bantu seleksi.  Untuk memudahkan mengetahui informasi koleksi secara lengkap hendaknya pemilihan koleksi menggunakan alat bantu yang tepat.  Prinsip Pemilihan Bahan Pustaka  Dalam pemilihan bahan pustaka harus memiliki beberapa prinsip, dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna secara efisien dan optimal. Menurut Soeatimah (1992:76) ada empat prinsip dalam pemilihan bahan pustaka yang harus di pilih secara cermat dan disesuaikan dengan :  a. Minat dan kebutuhan masyrakat pemakai.  b. Tujuan fungsi dan ruang lingkup layanan perpustakaan.  c. Kemajuan pengetahuan dan kekayaan jiwa dalam arti yang positif.  d. Pustaka yang mmenuhi kualitas dan persyaratan.    Kebijakan pengembangan koleksi  Koleksi yang baik hanya berasal dari pemilihan bahan perpustakaan yang baik pula. Untuk itu, diperlukan kebijakan yang memandu pengembangan koleksi. Dengan kebijakan pengembangan koleksi, yang secara resmi disahkan oleh pimpinan sekolah, perpustakaan memiliki pegangan untuk mengembangkan koleksinya. Selain itu, perpustakaan juga akan memiliki kekuatan resmi untuk menjalin hubungan dengan berbagai pihak, baik didalam maupun diluar lembaganya. Pengembangan koleksi haruslah selalu didasari asas tertentu,yang harus dipegang teguh. perpustakaan harus menjaga agar koleksinya berimbang sehingga mampu memenuhi kebutuhan kepala sekolah, guru, siswa, dan peneliti. Demikian pula kebutuhan kurikulum perlu diperhatikan. Sebab itu, asas pengembangan koleksi perlu diperhatikan dalam memili bahan perpustakaan, antara lain, kerelevanan, berorientasi kepada kebutuhan pengguna, kelengkapan, kemuktahiran, dan kerja sama.  Berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan, perpustakaan memilih dan mengadakan bahan perpustakaan. Kegiatan ini melibatkan pustakawan, kepala sekolah, guru, siswa, serta pihak lain yang berkepentingan dengan perpustakaan. Pemilihan bahan perpustakaan harus cermat sebelum sampai kepada langkah pengadaannya. Setiap judul yang diusulkan untuk dipesan harus diperiksa kebenaran data bibliografinya agar tidak menyulitkan pengadaan bahan pustaka tersebut. Pengadaan bahan perpustakaan merupakan proses yang panjang dan mahal karena melibatkan berbagai pihak,disamping harga buku yang terus meningkat.Proses yang panjang dan mahal ini biasanya tidak didasari oleh pengguna. Bahan perpustakaan yang diterima dibuatkan kedalinya yang berupa katalog, Dengan katalog, perpustakaan dapat mengenali seluruh koleksinya. Melalui katalog, pengguna dapat mengetahui koleksi perpustakaan. Di sinilah peranan penting pengkatalogan dan pengklasifikasian bahan pustaka perpustakaan. Selain mengendalikan koleksi, kedua hai itu sekaligus juga menginformasikan koleksi bahan perpustakaan. Setelah selesai diolah, bahan perpustakaan diserahkan ke bagian pelayanan.  Kebijakan pengembangan koleksi didasari asas berikut:  1. Berorientasi kepada kebutuhan pengguna. Pengembangan koleksi harus ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan pengguna. Pengguna perpustakaan sekolah adalah tenaga pengajar, tenaga administrasi,siswa, yang kebutuhannya akan informasi berbeda-beda.  2. Kelengkapan. Koleksi hendaknya jangan hanya terdiri atas buku ajar yang langsung dipakai dalam pembelajaran, tetapi juga meliputi bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada secara lengkap (lihat Kep.Mendiknas, No. 0234/U/2000, tentang Pedoman Pendirian sekolah).  3. Kemutakhiran. Koleksi hendaknya mencerminkan kemutakhiran. Ini berarti bahwa perpustakan harus mengadakan dan memperbaharui bahan perpustakaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.  4. Kerja sama. Koleksi hendaknya merupakan hasil kerja sama semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi, yaitu antara pustakawan, tenaga pengajar, dan siswa. Dengan kerja sama, diharapkan pengembangan koleksi dapat berdaya guna dan berhasil guna.  5. Rangkaian Kegiatan.Pada umumnya, pengembangan koleksi meliputi rangkaian kegiatan sebagai berikut:  a. Menentukan kebijakan umum pengembangan koleksi berdasarkan identifikasi kebutuhan pengguna sesuai dengan asas tersebut di atas. Kebijakan ini disusun bersama oleh sebuah tim yang dibentuk dengan keputusan yayasan dan anggotanya terdiri atas unsur perpustakaan, sekolah, dan unit lain  b. Menentukan kewenangan, tugas, dan tanggung jawab semua unsur yang terrlibat dalam pengembangan koleksi.  c. Mengidentifikasi kebutuhan akan informasi dari semua anggota sivitas akademika yang dilayani.:  d. Memilih dan mengadakan bahan perpustakaan lewat pembelian, tukar-menukar, hadiah, dan penerbitan sendiri menurut prosedur yang tertib  e. Merawat bahan perpustakaan f. Menyiangi koleksi  g. Mengevaluasi koleksi.  Untuk melaksanakan semua kegiatan tersebut, diperlukan anggaran yang memadai, karyawan yang cakap dan berdedikasi, struktur organisasi yang mantap, dan alat bantu pemilihan bahan perpustakaan yang relevan.   Perumusan Kebijakan pengembangan koleksi  Menurut Yulia (1993 : 25) tujuan Pengembangan koleksi perpustakaan perlu dirumuskan dan disesuaikan dengan kebutuhan sivitas akademika di sekolah agar perpustakaan dapat secara terencana mengembangkan koleksinya.Yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan kebijakan pengembangan koleksi, antara lain:  1    Kriteria bahan perpustakaan  2.    Jumlah eksemplar  3.    Bahasa  Kewenangan merumuskan kebijakan pengembangan koleksi dipercayakan kepada:  a. Pustakawan  b. Wakil sivitas akademika  c. Wakil unit penelitian dan unit lain yang terkait.  Yang berhak untuk mengusulkan pembelian bahan perpustakaan adalah:  a. Pustakawan  b. Tenaga pengajar dan peneliti  c. Siswa  d. Pihak atau unsur unit kerja lain, bila diperlukan  Apakah sesuai dengan pengguna. Ketetapan pemilihan koleksi ditentukan oleh beberapa prinsip penyeleksian bahan pustaka, antara lain :  1.    Pemilihan bahan pustaka yang tepat untuk pengguna perpustakaan  Permintaan pengguna Pemilihan bahan pustaka harus benar-benar dapat mengembangkan dan memperkaya pengetahuan pengguna. Setiap bahan pustaka harus dibina berdasarkan rencana tertentu. Selain alat bantu yang disebut di dalam kutipan di atas. Alat bantu lain yang juga dapat dijadikan acuan dalam seleksi adalah brosur buku dari penerbitan, resensi buku dan majalah, surat kabar, dan media lain. Tim seleksi (selector) tinggal melihat alat bantu mana yang sesuai dengan kebutuhan agar mekanisme kerja maksimal.  Menurut Siregar (1998 : 6) dalam melaksanakan seleksi bahan pustaka hendaknya memperhatikan pedoman dalam penentuan kebijakan pengembangan koleksi, antara lain :  1. Relevansi (kesesuaian)  Pemilihan dan pengadaan bahan pustaka terkait dengan kepuasan pengguna yang direlevansi dengan kebutuhan pengguna.  2. Kelengkapan.  Koleksi perpustakaan tidak hanya terdiri dari buku-buku teks saja tetapi juga menyangkut bidang ilmu lain yang berkaitan dengan bahan penelitian.  3. Kemuktahiran.  Perpustakaan harus selalu mengadakan pemburuan dalam koleksi, sehingga informasi yang disajikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh kemuktahiran koleksi tersebut dapat dilihat dari tahun terbit.  4. Kerjasama.  Perlunya kerjasama yang baik dan harmonis sehingga pelaksanaan kegiatan pengembangan koleksi berjalan dengan baik. Dalam kerjasama ini melibatkan beberapa pihak yang berkompeten agar koleksi yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan pengguna.  5. Alat bantu seleksi.  Untuk memudahkan mengetahui informasi koleksi secara lengkap hendaknya pemilihan koleksi menggunakan alat bantu yang tepat.  Prinsip Pemilihan Bahan Pustaka  Dalam pemilihan bahan pustaka harus memiliki beberapa prinsip, dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna secara efisien dan optimal. Menurut Soeatimah (1992:76) ada empat prinsip dalam pemilihan bahan pustaka yang harus di pilih secara cermat dan disesuaikan dengan :  a. Minat dan kebutuhan masyrakat pemakai.  b. Tujuan fungsi dan ruang lingkup layanan perpustakaan.  c. Kemajuan pengetahuan dan kekayaan jiwa dalam arti yang positif.  d. Pustaka yang mmenuhi kualitas dan persyaratan.    DAFTAR PUSTAKA Daan T, 2005. Kompetensi Membaca. Jakarta : Buletin Pusat Perbukuan. Darmono. 2001.  Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Mbulu, Yoseph. 2000. Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Majalah Pendidikan, Cet. XIX.  

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
PERPUSTAKAAN PERLU MENGIKUTI SELERA GENERASI MILENIAL
29 Mar 2019

PERPUSTAKAAN PERLU MENGIKUTI SELERA GENERASI MILENIAL

Era informasi dan keterbukaan saat ini semakin menunjukkan bahwa betapa pentingnya informasi. Perpustakaan dan teknologi informasi laksana mata rantai yang saling berhubungan, tak terpisahkan satu dengan lainnya. Pengembangan  perpustakaan bertujuan  untuk  membuka  akses  informasi seluas-luasnya  yang  sudah  bahkan  yang  belum  dipublikasikan.  Semakin  besar  jangkauan  dan  informasi  yang  dapat  dilayankan  ke  masyarakat,   semakin   besar   peran   perpustakaan   dalam mencerdaskan masyarakat.   Peran   perpustakaan  yang  menerapkan  teknologi  informasi  harus  mampu  memenuhi  tuntutan  kebutuhan generasi  millenial. Pemanfaatan teknologi informasi di Perpustakaan secara tepat guna dan tepat sasaran, menjadi modal dasar dalam mewujudkan layanan yang sesuai selera generasi millennial.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring (KBBI-Daring) disebutkan bahwa milenial adalah berkaitan dengan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an. Secara umum ciri-ciri generasi milenial adalah : berpendidikan tinggi, rasa "diri" yang kuat, melek secara digital, diperkaya dengan teknologi, serta sadar akan layanan perpustakaan. Millennial  adalah  nama  lain  dari  generasi  Y.  Sebuah  generasi  dimana  mereka  berperilaku  sebagai seseorang yang haus akan ilmu. Selalu menanyakan hal-hal baru mengenai informasi yang menjadikan gaya hidup dan perilaku masyarakat berubah. Perubahan gaya hidup dari masyarakat tersebut, mengharuskan pustakawan untuk mengetahui dan mengikuti kebutuhan generasi milenial dengan menjadikan perpustakaan bukan lagi tempat untuk mencari buku semata, namun menjadi tempat untuk ajang berkumpul dan diskusi. Generasi milenial sekarang ini sangat suka informasi yang sifatnya detail hal ini dipengaruhi cara berpikir mereka yang cepat dan responsif. Sehingga sebagai penyedia informasi, perpustakaan harus meningkatkan fasilitas dan layanan senyaman mungkin agar mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan juga perlu merespons perilaku generasi milenial dengan menyediakan konsep coworking space yaitu konsep ruang kerja yang dapat digunakan bersama-sama di perpustakaan sehingga menciptakan kolaborasi yang menghasilkan hal-hal positif. Selain itu, pustakawan juga perlu melakukan learning user untuk mengetahui selera dari pengguna perpustakaan,”Kita tahu generasi sekarang ada yang suka visual dan gerak, ada  yang suka mempraktikkan, ada juga yang sukanya menyendiri saat berada di perpustkaan, semuanya perlu difasilitasi. Dengan semangat dan tekad yang kuat, dengan modal penguasaan teknologi informasi serta kemauan untuk mengaplikasikannya bagi kepentingan pengguna perpustakaan sebagai generasi Millenial, diyakini bahwa perpustakaan akan mampu mengikuti dan mewujudkan selera generasi milenial.   Daftar Pustaka: https://ugm.ac.id/id/news/15855-layanan.perpustakaan.perlu.mengikuti.selera.generasi.milenial (diakses januari 2019) https://medium.com/@HIMAJIP/perpustakaan-dan-generasi-millenial-49fe781c91ee (Diakses januari 2019) Supriyanto Eko dan Sri Sugiyanti. 2001. Operasionalisasi Layanan Prima. Bahan Ajar Diklatpim Tingkat IV. Lembaga Administrasi Negara–Republik Indonesia

Uliarta Simanjuntak Baca Selengkapnya
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN DIGITAL DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
19 Mar 2019

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN DIGITAL DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Dalam perkembangannya, dunia perpustakaan mempunyai kaitan yang sangat erat dengan dunia teknologi informasi. Untuk itu, diperlukan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan dalam pencarian data dan informasi secara cepat dan akurat. Dalam menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0 dengan memanfaatkan teknologi informasi, perpustakaan pun harus beradaptasi atas perkembangan zaman. Sebab perpustakaan memiliki peran penting antara lain sebagai sumber informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan yang tadinya masih konvensional mau tidak mau harus berubah menjadi perpustakaan digital. Pada dasarnya perkembangan tersebut lebih merupakan perwujudan keinginan pemustaka perpustakaan dalam memperoleh informasi yang lebih cepat dan akurat untuk memperlancar kegiatan aktifitas mereka. Oleh karena itu apabila perpustakaan tidak ingin ditinggalkan oleh pemustakanya, perpustakaan perlu melakukan berbagai inovasi dengan memanfaatkan teknologi infomasi dalam memberikan pelayanan yang prima.   Kata kunci : Teknologi informasi, perpustakaan digital, Era Revolusi Industri 4.0, inovasi.   PENDAHULUAN Perpustakaan mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Negara, karena perpustakaan adalah gudang ilmu dan merupakan salah satu sarana penting dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Seiring perkembangan zaman, perpustakaan saat ini dipergunakan tidak hanya sebagai salah satu pusat informasi atau sumber ilmu pengetahuan melainkan juga untuk penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa serta berbagai jasa lainnya. Untuk mengoptimalkan peran tersebut, pengorganisasian informasi perlu dilakukan untuk memudahkan pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, layanan yang dilakukan selalu berorientasi pada masyarakat sebagai pengguna informasi dengan basis teknologi yang tepat guna. Pada akhirnya semua itu berujung pada tuntutan pemustaka agar perpustakaan tidak hanya sekedar tempat mencari buku atau membaca majalah, tetapi menjadi semacam one-stop station bagi mereka. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau Information and Comunication Technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. Jika dulu pemakai perpustakaan sudah puas dengan layanan baca di tempat dan peminjaman buku perpustakaan saja, saat ini layanan perpustakaan tidak cukup lagi hanya dua macam layanan tersebut. Pemustaka perpustakaan sekarang sudah menuntut jenis-jenis layanan berbasis digital antara lain, seperti layanan kartu keanggotaan dan layanan penelusuran buku secara online yang seharusnya telah diterapkan. Selain tuntutan terhadap jumlah layanan yang makin banyak, mutu layanan pun dituntut lebih baik. Dalam rangka peningkatan mutu dan jumlah layanan inilah, peran teknologi informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan. Pemanfaatan teknologi informasi dapat meningkatkan citra dan kinerja sebuah perpustakaan apabila penerapannya benar dan tepat. Namun karena sistem teknologi informasi tersebut cepat sekali mengalami perubahan dan memerlukan biaya yang relatif banyak. Maka jika perpustakaan ingin beradapatasi dan menggunakan sistem tersebut semestinya mempersiapkan segala sesuatunya, agar dapat menyesuaikan dan mengaplikasikannya dengan baik, dan tidak menghadapi hambatan. Dengan kata lain, aplikasi teknologi informasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Sekarang ini, perpustakaan yang masih dikelola secara manual hanya cocok untuk perpustakaan yang kecil, baik dalam koleksi, tenaga, maupun pemakai, sementara perpustakaan yang asset dan kegiatannya relatif besar dan tersedia sarana yang memadai, sudah saatnya untuk memulai menggunakan teknologi informasi tersebut. Bagaimana memanfaatkan kelebihan dan sekaligus menghindarkan dari unsur kekurangan dan kelemahan, membutuhkan pengalaman dan proses yang kadang-kadang tidak sederhana. Berkat perkembangan teknologi informasi kini telah berkembang perpustakaan digital (digital library), perpustakaan maya, layanan terpasang (on line), dan akses informasi melalui internet, yang memungkinkan orang memperoleh banyak kemudahan. Kita harus pandai-pandai memanfaatkan teknologi informasi tersebut untuk hal-hal yang positif. Sebab jika tidak dikelola dengan baik, maka kemungkinan untuk dipergunakan dalam hal-hal yang kurang atau tidak produktif sehingga menjadi kurang efisien. Jadi aplikasi teknologi informasi untuk perpustakaan semestinya disertai oleh tuntutan kebutuhan yang mendesak, tenaga operasional yang profesional, dan dimanfaatkan secara optimal. Dunia saat ini menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan digitalisasi, ‘artificial intellegence’, ‘internet of things’ serta ‘big data’ memainkan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Perpustakaan pun mau tak mau harus beradaptasi serta berevolusi sehingga tidak terlindas perubahan zaman. Saat ini perpustakaan tidak bisa lagi dikelola secara konvensional. Perpustakaan harus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam karya ilmiah ini akan dijelaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan digital akan siap menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0 apabila dalam pengelolaan perpustakaan dilakukan berbagai inovasi- inovasi yang berorientasi pada kepentingan pemustaka. PENGERTIAN DAN CAKUPAN TEKNOLOGI INFORMASI Teknologi informasi merupakan sebuah istilah baru yang merupakan terjemahan dari Information Technology Bagi kebanyakan orang teknologi informasi merupakan sinonim dari “Teknologi Baru”, karena kaitannya yang erat dengan mesin-mesin microprosesor. Seperti mikro-komputer, alat-alat yang bekerja secara otomatis, seperti alat pengolah kata, dan lain sebagainya. Pengertian Teknologi Informasi berdasarkan British Advisory Council for Applied Research and Development (Dalam Zorkoczy, (1990: 12) adalah meliputi bidang-bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan perekayasaan serta teknik-teknik pengelolaan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan informasi, penerapan bidang dan teknik tersebut, komputer dan interaksinya dengan manusia dan mesin, masalah sosial ekonomi serta budaya yang berkaitan. Memang banyak definisi-definisi tentang Teknologi Informasi, sehingga dalam “Macmillan Dictionary of Personal Computing and Communication” terdapat empat halaman yang menjelaskan tentang Teknologi Informasi. Khusus di bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi Sulistyo-Basuki (1991) menyatakan bahwa Teknologi Informasi adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan, mengolah, menghasilkan, dan menyebar- luaskan informasi.             Akar dari teknologi informasi pada masa sebelum ada komputer digital adalah telekomunikasi dan sistem audio-video. Kemudian dengan adanya komputer digital telah membentuk beberapa cabang baru.               Dengan adanya kemajuan-kemajuan teknologi, saat ini cakupan Teknologi informasi meliputi: 1)  Telekomunikasi. Contoh penerapannya yaitu : adanya Teleconference atau yang sekarang dikenal dengan nama Trimitra; Telkom Memo; Lacak, dll. 2) Komputer, termasuk mikrobentuk. Contohnya yaitu, perlindungan data, sistem pakar, komunikasi suara dengan bantuan komputer. 3) Jaringan digital, contohnya antara lain adanya surat elektronik, sistem informasi, jaringan informasi. 4) Audio dan video, termasuk sistem komunikasi optik. Contoh : Video Conference, Video-teks ,dll.   Pemanfaatan Teknologi informasi Aplikasi teknologi informasi yang tercakup dalam ruang lingkup suatu sistem informasi, baik itu perpustakaan maupun pusat-pusat dokumentasi dan informasi, secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 4 bidang utama, yaitu : 1. Library housekeeping ( Perawatan /pengelolaan perpustakaan) 2. Information retrieval (Temu kembali informasi / Penelusuran Informasi) 3. General purpose software (Perangkat lunak untuk berbagai macam keperluan) 4. Library networking (Jaringan kerjasama perpustakaan )   Library Housekeeping Library housekeeping atau pengelolaan perpustakaan, merupakan istilah umum yang mengacu pada berbagai macam kegiatan rutin yang perlu dilakukan agar supaya perpustakaan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dapat dilakukan dengan menggunakan sistem yang terpadu yang terdiri dari beberapa sub sistem, yaitu akuisisi atau pengadaan, pengatalogan, sirkulasi, pengaksesan katalog oleh umum atau yang dikenal dengan nama OPAC (Online Public Akses Catalog), dan peminjaman antar perpustakaan. Konsep integrasi akhir-akhir ini telah diterapkan secara luas pada sistem housekeping perpustakaan. Istilah Sistem Perpustakaan yang Terintegrasi (Integrated Library System) sering digunakan sebagai indikasi bahwa sub-sistem atau modul-modul yang ada diintegrasikan semuanya membentuk Sistem Informasi Tunggal yang berbasis komputer yang mampu melakukan tukar menukar informasi dari satu modul ke modul lain, serentak oleh beberapa modul yang berbeda sehingga memungkinkan penggunaan dan pemanfaatan data oleh sistem akan lebih efisien. Sebagai contoh: informasi pengarang / judul akan digunakan bersama oleh modul: Akuisisi, Pengatalogan, Sirkulasi, OPAC (Online Public Acces Catalog), dan Informasi pengelolaan. Dari semua modul atau sub sistem ini yang paling penting bagi pemakai adalah sub sistem OPAC, yang memungkinkan pengaksesan Online ke katalog. Sistem Perpustakaan yang Terintegrasi ini kemudian dikenal secara luas dengan nama Otomasi Perpustakaan. Secara umum ada tiga generasi Otomasi Perpustakaan, yaitu: Generasi I : Otomasi aktivitas-aktivitas pemrosesan, seperti akuisisi dan pengatalogan ditambah dengan pengendalian sirkulasi. Generasi II   : Pengembangan dan pemasangan sistem yang terintegrasi termasuk OPAC Generasi III : Dibangun Local Area Network dengan kemampuan komputasi dan komunikasi pada stasiun kerja individu.    Information Retrieval Sistem informasi untuk temu kembali informasi secara elektronis pertama kali digunakan untuk pencarian data lokal dilakukan dengan menggunakan katalog. Kemudian dengan adanya kemajuan teknologi informasi temu kembali informasi atau yang dikenal dengan penelusuran informasi juga mengalami kemajuan, yaitu dengan penggunaan sarana-saran elektronis. Ada tiga macam sarana dalam Penelusuran informasi atau temu kembali informasi secara elektronis, yaitu : a) menggunakan Pangkalan Data Lokal b) menggunakan CD-ROM c) menggunakan jaringan Wide Area Network, atau yang banyak dikenal melalui Internet.   General Purpose Software. Yang termasuk dalam general purpose software yang dapat digunakan di lembaga-lembaga yang bergerak di bidang dokumentasi dan informasi adalah : - Word Processing : untuk pengolah teks dan pencetakan. - Spreadsheets : untuk kalkulasi keuangan - Graphics : untuk presentasi statistik - Desktop Publishing : untuk penerbitan dan percetakan yang profesional - Electronic mail : untuk pendistribusian pesan Library networking Istilah Library networking mempunyai cakupan yang luas, tetapi biasanya meliputi: a. Kerjasama antar perpustakaan atau jaringan informasi antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang informasi yang sama atau relevan, atau Pengkaitan komputer perpustakaan atau lembaga informasi (Pusdokinfo) dengan lembaga lainnya di dalam institusi untuk membentuk LAN (Local Area Network). b. Pengkaitan komputer lembaga Pusdokinfo ke komputer lain yang jauh jaraknya untuk membentuk Wide Area Network atau yang sering dikenal dapat berhubungan melalui internet. LAN dan WAN adalah jenis-jenis jaringan yang digunakan untuk automasi perpustakaan yang dilihat dari lingkup geografisnya. LAN adalah suatu jaringan komputer dengan daerah kerja relatif kecil, dalam satu lokal; dan WAN adalah jaringan komputer yang daerah kerjanya mencakup radius antar kota, antar pulau, dan bahkan antar benua. Sebenarnya masih ada jenis lain, yang disebut Metropolitat Area Network (MAN ), dengan daerah kerja antara 30 sampai 50 km, yang merupakan alternatif pilihan untuk membangun jaringan komputer kantor-kantor dalam satu kota.   PERPUSTAKAAN DIGITAL Perpustakaan digital seringkali dipahami dalam arti yang sangat sempit, yaitu perpustakaan yang menggunakan fasilitas computer sebagai alat untuk memberikan pelayanan. Perpustakaan telah didefinisikan antara lain oleh Lesk (1997), Arms (2000) dan Digital Libraries Federation. Menurut Lesk (1997) : “Digital libraries are organized collections of digital information. They combine the structuring and gathering of information, which libraries and archives have always done, with the digital representation that computers have made possible.” Sedangkan menurut Arms (2000), perpustakaan digital adalah sebagai berikut: “Digital library is a managed Collection of Information, with associated services, where information is stores in digital formats and accessible over a network.” Menurut Digital Libraries Federation di Amerika Serikat, Perpustakaan Digital didefinisikan sebagai berikut: “Digital libraries are organization that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by a defined community or set of communities.” Dari ketiga definisi di atas, dapat dimengerti bahwa perpustakaan digital lebih menekankan adanya koleksi digital dan perpustakaan tersebut dapat diakses selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu baik di dalam perpustakaan maupun jarak jauh tanpa harus dating ke perpustakaan secara fisik. Tidak kalah penting adalah jaringan antar perpustakaan. Dalam perpustakaan konvensional, pemakai harus datang ke perpustakaan untuk mendapatkan sumber informasi yang dibutuhkan. Tetapi dalam perpustakaan berbasis digital, justru perpustakaan yang datang ke pemakai melalui jaringan internet. Selain itu, dengan adanya jaringan perpustakaan (secara maya) maka lebih banyak perpustakaan yang dapat dimanfaatkan. Membangun perpustakaan berbasis digital dapat menghemat biaya yang besar pada akhirnya. Namun perlu diingat bahwa untuk membangun perpustakaan digital dibutuhkan biaya yang cukup besar terutama untuk penyediaan sarana dan prasarana perpustakaan digital. Apakah ini bisa dilakukan? Tentu saja jawabannya tergantung dari stakeholder. Perpustakaan digital melibatkan berbagai objek tak kasad mata. Semua koleksi perpustakaan digital tidak dapat dibaca tanpa adanya alat bantu (komputer). Hal inilah mungkin yang kadang jadi kendala dalam masa transisi dari full-paper ke paperless. Perpustakaan digital sebetulnya merubah paradigma dari pengadaan koleksi yang kasad mata, menjadi penyediaan akses. Seperti layaknya orang membeli pulsa, dimana orang tidak pernah melihat pulsanya tetapi dapat menggunakan pulsa tersebut untuk digunakan sebagai alat komunikasi. Demikian pula halnya dengan langganan database jurnal yang tidak dapat diliat dan dipegang tetapi dapat dibaca secara online dan koleksi tersebut secara fisik memang tidak ada di perpustakaan. Dengan adanya perpustakaan digital maka sumber informasi yang hanya satu kopi dapat dibaca secara bersama- sama dalam waktu yang sama pula sehingga tidak ada kata ‘antri pinjam judul buku tertentu di perpustakaan lagi’, tidak ada kata ‘menunggu’ sampai koleksi tersebut dikembalikan ke perpustakaan dan baru bisa dipinjam. Intinya, perpustakaan digital telah merubah dari bentuk cetak ke digital, koleksi yang semula lokal (hanya ada di perpustakaan setempat) kini dapat menjadi internasional karena adanya jaringan perpustakaan dan karena adanya link dengan sumber informasi yang berada di kota atau negara lain. Perpustakaan digital telah merubah paradigma perpustakaan dari layanan oleh petugas menjadi pemberdayaan pustakawan dalam membantu pemustaka yang membutuhkan sumber informasi secara cepat dan dengan jumlah sumber informasi yang tidak terbatas tersebut, maka beban penelusuran pustakawan (maupun pemustaka) semakin besar. TAHAPAN PERKEMBANGAN REVOLUSI INDUSTRI DUNIA Revolusi Industri Pertama (1.0) Revolusi industri dimulai di pertengahan abad ke 18 tepatnya di tahun 1750 –1850. Saat itu mulai terjadi revolusi besar-besaran di berbagai bidang seperti pertanian, manufaktur, pertambangan, dan transportasi. Munculnya mesin seakan menggantikan peran manusia atau hewan seutuhnya yang masih terbatas. Walaupun pada awalnya sedikit ditentang oleh kasta pekerja, namun mereka lebih terbantu dalam efisiensi jumlah beban pekerjaan. Revolusi Industri Kedua (2.0) Setelah dirasa bidang-bidang tersebut berjalan dengan optimal, segala industri semakin berkembang dengan pesat. Ini mendorong proses energi yang menunjang setiap mesin berjalan dengan semestinya. Permasalahan listrik, gas, air dan telegraf jadi awal setelah industri tahap pertama. Revolusi model ini lahir setelahnya yaitu di awal abad 20 yaitu rentang tahun 1850 – 1940. Saat itu listrik mulai ditemukan, perkembangan pipa gas, air dan alat komunikasi. Revolusi Industri Ketiga (3.0) Pasca perang kedua terjadi revolusi industri lanjutan yang sering disebut revolusi teknologi. Manusia mulai sadar muncul era baru setelah mesin yakni era teknologi. Semua itu dimuai dengan ditemukannya ponsel genggam, mesin kontrol, dan tentu saja Komputer. Tanda itu semakin jelas memudahkan pekerjaan manusia yang bersinggungan dengan data. Bila dahulunya manusia harus menulis di mesin ketik, kini bisa menulis di komputer. Atau bila dahulu manusia harus ke telepon umum untuk menelepon, kini cukup dari ponsel pribadinya. Kemunculannya mulai lahir di akhir abad 20, saat ini era tersebut terjadi perubahan besar yang mengarahkan manusia ke arah digital. Revolusi Industri Keempat (4.0) Saat ini kita hidup di era industri keempat, itu semua diawali dari revolusi internet yang bukan hanya sebagai mesin pencari, namun lebih dari itu semua bisa terhubung dengan cerdas. Mulai dari penyimpanan awan (cloud), perangkat yang terhubung dengan cerdas, sistem fisik fiber, dan robotik. Semua itu adalah dasar dari kecerdasan buatan yang ada di sekitar kita dan sedang berlangsung saat ini. Ada tiga bidang jadi dasarnya yaitu: fisikal, digital, dan biologikal. Untuk bidang fisikal terdiri atas autonomasi kendaraan, 3D Printing, dan perkembangan robotik. Bidang digital ada kemajuan dari Internet of Things (IoT) dan bidang biologik yaitu proses rekayasa genetik buatan. Semua itu sudah berlangsung dan setiap saat ada saja kemajuan yang didapatkan. Dengan kita belajar dan melek akan industri digital saat ini, membuat kita tidak kelabakan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tantangan yang dihadapi di Era Revolusi Industri 4.0 Menghadapi revolusi industri 4.0 dengan era digitalisasi, perpustakaan pun harus beradaptasi atas perkembangan zaman. Sebab perpustakaan memiliki peran penting sebagai sumber informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan era revolusi industri 4.0 membawa dampak positif dan negatif di bidang perpustakaan. Dampak positif antara lain: a) Informasi yang dibutuhkan dapat lebih cepat dan lebih mudah dalam mengaksesnya. b) Tumbuhnya inovasi di bidang pengembangan perpustakaan yang berorentasi pada teknologi digital  yang memudahkan proses dalam pekerjaan kita. c) Meningkatnya kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. d) Munculnya berbagai sumber belajar seperti perpustakaan online, media pembelajaran online,diskusi online yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan.             Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan antara lain: Ancaman pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karena akses data yang  mudah dan menyebabkan orang plagiatis akan melakukan kecurangan. Ancaman terjadinya pikiran pintas dimana anak-anak seperti terlatih untuk berpikir pendek dan kurang konsentrasi. Tidak mengefektifkan teknologi informasi sebagai media atau sarana belajar, misalnya seperti selain men-download e-book, tetapi juga mencetaknya, tidak hanya mengunjungi perpustakaan digital, tetapi juga masih mengunjungi gedung perpustakaan, dan lain-lain. Dalam bidang teknologi informasi sendiri, tantangan nyata pada era digital semakin kompleks karena berbagai bidang kehidupan membawa pengaruh-pengaruh yang bisa membuat perubahan di setiap sisi. Teknologi informasi  merupakan bidang pengelolaan teknologi dan mencakup berbagai bidang (tetapi tidak terbatas) seperti proses, perangkat lunak komputer, sistem informasi, perangkat keras komputer, bahasa program, dan data konstruksi. Setiap data, informasi atau pengetahuan yang dirasakan dalam format visual apapun, melalui setiap mekanisme distribusi multimedia, dianggap bagian dari teknologi informasi. Era revolusi industri 4.0 yang serba digital harus disikapi dengan serius, menguasai, dan mengendalikan peran teknologi dengan baik agar era digital membawa manfaat bagi kehidupan. Pendidikan harus menjadi media utama untuk memahami, menguasai, dan memperlakukan teknologi dengan baik dan benar. Anak-anak dan remaja harus diberikan pemahaman dengan era digital ini baik manfaat maupun madharatnya. Orang tua juga harus diberikan pemahaman agar dapat mengontrol sikap anak- anaknya terhadap teknologi dan memperlakukannya atau menggunakannya dengan baik dan benar. Pengenalan tentang pemanfaatan berbagai aplikasi yang dapat membantu pekerjaan manusia perlu dikaji agar diketahui manfaat dan kegunaannya serta dapat memanfaatkannya secara efektif dan efisien terhindar dari dampak negatif dan berlebihan.   BERBAGAI INOVASI YANG DILAKUKAN DI PERPUSTAKAAN DIGITAL DALAM HAL PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0   Ledakan informasi karena kemajuan teknologi informasi telah terjadi dan ke depan percepatan baik kualitas maupun kuantitasnya akan semakin meningkat. Dampak yang diakibatkan hampir pada semua sektor kehidupan dan lapisan masyarakat, tidak terkecuali institusi perpustakaan. Perubahan dalam institusi perpustakaan yang ditimbulkan oleh kehadiran teknologi informasi bukan saja terbatas pada perubahan struktur, misi maupun definisinya, tetapi bahkan menyangkut paradigm dalam Kardi (2007:10-16). Konsekuensi dari terjadinya perubahan dalam paradigma perpustakaan, mengharuskan perlunya keberanian dari para pengelola perpustakaan untuk melakukan inovasi dan pembaruan-pembaruan dalam mengelola perpustakaannya, pada berbagai kegiatan dan operasinya. Pemanfaatan teknologi informasi secara kreatif dan konstruktif, untuk tidak sekedar memberi perhatian tentang organisasi buku, tetapi juga penyediaan akses terhadap informasi digital dan elektronis yang semakin terbuka luas. Siregar (2004 : 152), dengan perkembangan teknologi informasi, pustakawan dapat tersisih jika mereka tidak membarukan visi mereka tentang kepustakawanan dan menyesuaikan praktek kepustakawanan dengan perkembangan teknologi informasi. Menurut Qalyubi, dkk. (2007 : 441) bahwa kesadaran dari dalam (internal) perpustakaan harus dibangun kembali untuk menunjukkan bahwa perpustakaan adalah sumber primer bagi setiap pencari informasi. Perpustakaan adalah bangunan utama untuk melahirkan suatu komunitas ilmiah dan masyarakat informasi. Perpustakaan juga merupakan jalan untuk menuju masyarakat modern yang berperadaban. Namun demikian, untuk merealisasikan semua impian itu bukanlah sesuatu yang mudah. Secara terus menerus dilakukan inovasi untuk menciptakan perpustakaan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Tingkat perkembangan mutakhir (state of the art) di bidang teknologi informasi menawarkan banyak peluang baru bagi perpustakaan untuk mengembangkannya. Banyak pekerjaan yang sebelumnya sulit untuk dilakukan bahkan tidak mungkin bagi ukuran perpustakaan di negara berkembang, sekarang semuanya menjadi lebih mungkin dan lebih mudah. Perluasan jangkauan sistem otomasi perpustakaan dan sekaligus penanganan sumber daya elektronik yang tersebar di seluruh dunia barangkali akan menjadi salah satu faktor penentu apakah perpustakaan kita masih diminati atau akan ditinggalkan (Siregar, 2004 : 1). Berdasarkan penjelasan diatas, maka uraian tentang pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan digital harus selalu memiliki inovasi atau perubahan- perubahan yang bisa mengikuti perkembangan zaman. Kegiatan utama yang dilakukan di perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi informasi yaitu: pengumpulan (pengadaan) koleksi, pengorganisasian (pengolahan) koleksi, penyediaan akses terhadap sumber daya informasi (palayanan) pemustaka.   Pengumpulan (Pengadaan) Koleksi Pengumpulan (pengadaan) koleksi atau disebut juga acquisition, yaitu semua kegiatan yang berkaitan dengan pemerolehan bahan pustaka, baik yang dilakukan melalui pembelian, pertukaran, terbitan internal, maupun hadiah. Dalam kegiatan ini juga termasuk kegiatan pengecekan bibliografis yang dilakukan sebelum pemesanan dan penerimaan bahan pustaka, pemrosesan faktur, dan pemeliharaan arsip yang berhubungan dengan pengadaan. Dengan tanpa mengabaikan pengadaan koleksi secara manual yang juga masih sering dilakukan, berikut akan dicoba dijelaskan pengadaan koleksi dengan memanfaatkan teknologi informasi, melalui berbagai pemerolehan yang memanfaatkan teknologi informasi antara lain sebagai berikut :     - Pengumpulan (pengadaan) melalui proses pembelian Pembelian bahan pustaka dengan memanfaatkan teknologi informasi bisa dilakukan dengan melakukan kontak-kotak elektronis, melalui HP, telepon, faxcimile, e-mail, dan tentunya jaringan internet. Kita tahu bahwa para penerbit/jobber, distributor, agen, penyalur, bahkan toko buku, dari tingkat lokal hingga tingkat dunia, kini telah banyak yang mempunyai homepage sendiri dengan menempatkannya pada situs-situs WEB. Mereka menyediakan katalog penerbit dalam bentuk elektronik (e-catalog), yang memuat informasi tentang terbitan-terbitan dan kekayaan koleksinya, baik yang dalam bentuk tercetak maupun elektronik, seperti e-book, e-journal, dan sebagainya; lengkap disertai dengan harga, cara pemesanan, pengiriman dan pembayarannya; termasuk menunjukkan nomor rekening untuk mentransfer sejumlah dana tertentu, bila terjadi kesepakan transaksi bisnis informasi dan perbukuan ini. Dengan cara ini pengadaan buku dapat dilakukan dengan lebih cepat, efektif dan efisien. Dalam proses pengadaan yang semi-elektronik, e-catalog dapat dimanfaatkan dalam proses seleksi atau pemilihan terhadap judul-judul yang akan kita adakan. Judul-judul yang akan kita adakan dapat kita browsing lewat e-catalog, kemudian kita unduh (download) dan kita kumpulkan dalam sebuah daftar sebagai bahan untuk pengadaan koleksi. - Pengadaan melalui hadiah/hibah Tidak berbeda jauh dengan pengadaan melalui proses pembelian, pengadaan melalui hibah/hadiah inipun dengan memanfaatkan teknologi informasi dari yang paling sederhana sampai dengan melalui jaringan internet, dapat dilakukan dengan lebih mudah, efektif dan efisien. Kontak- kontak perseorangan, antar lembaga, antar organisasi, kontak dengan toko buku, distributor/agen, penyalur dan penerbit/jobber dari tingkat lokal sampai dunia, dapat dilakukan dalam rangka berburu hadiah/hibah koleksi, baik hadiah/hibah secara sukarela maupun melalui diminta. Lebih mudah, hemat dan bermanfaat lagi adalah, kini banyak koleksi, baik dalam bentuk artikel-artikel ilmiah, buku, jurnal dalam bentuk elektronik yang free, artinya dengan bebas dapat di download (diunduh), yang kemudian dapat di print-out atau dikemas dalam bentuk digital atau elektronik dan kemudian bisa disajikan kepada para pengguna perpustakaan kita. Di sini dapat diartikan sebagai hibah atau hadiah tidak langsung dalam bentuk yang kreatif, karena perlu kreativitas dari pustakawan untuk memperolehnya. - Pengumpulan (pengadaan) melalui produksi/penerbitan internal Pengadaan melalui produksi/penerbitan koleksi setempat (internal) kebanyakan dilakukan terhadap koleksi-koleksi skripsi, tesis dan disertasi, disamping karya-karya ilmiah para dosen/peneliti, termasuk prosiding seminar, lokakarya, dan sejenisnya. Koleksi ini biasa disebut dengan gray literature, yaitu koleksi yang tidak diterbitkan secara masal, tetapi hanya diterbitkan dalam lingkup atau kalangan sendiri dengan jumlah dan skala edar yang terbatas. Teknologi yang digunakan adalah scanner, kemudian di masukkan dalam CD-ROM. Selain dalam CD-ROM, koleksi ini juga bisa disimpan dalam server dengan kapasitas besar di perpustakaan yang terhubung dengan homepage perpustakaan sebagai koleksi elektronik.   Pengorganisasian (Pengolahan) Koleksi Pengorganisasian (pengolahan) koleksi adalah semua kegiatan untuk mengelola/mengolah bahan pustaka yang telah ada, yang meliputi kegiatan verifikasi data bibliografis, katalogisasi, klasifikasi, penentuan kata kunci, penentuan tajuk subyek, pengalihan data bibliografis, mengelola data entri bibliografis (penjajaran kartu/filing), membuat anotasi, sari karangan/abstrak, menyusun daftar tambahan koleksi, bibliografi, indeks dan sejenisnya, serta melakukan penyuntingan bibliografis. Selain itu, kegiatan pengolahan juga meliputi inventarisasi, pemberian stempel dan dan pemberian kelengkapan lainnya melalui proses finishing. Kegiatan pengorganisasian (pengolahan) koleksi yang memanfaatkan teknologi Informasi, misalnya dapat diakomodasi pada Modul Pengolahan, yang merupakan bagian dari Sistem Otomasi Perpustakaan Terpadu (Integrated Library System) yang dibangun untuk menyatukan semua fungsi (pengadaan, pengolahan dan pelayanan), dimana semua modul dapat saling berinteraksi satu sama lain. Sebagai bagian dari suatu sistem otomasi, modul pengolahan dapat dikatakan sebagai dapur atau kokinya yang memberikan isi (content) perpustakaan. Berfungsinya dengan baik kegiatan pengolahan yang merupakan pelayanan teknis sebagai dapur perpustakaan, pada akhirnya akan menyajikan pelayanan pengguna yang berkualitas baik. Kelancaran sirkulasi bahan pustaka dan kemudahan mendapatkan informasi yang diinginkan, banyak tergantung pada kegiatan pengadaan bahan pustaka dan kegiatan pengolahan di bagian teknis ini. Apakah otomasi perpustakaan? Otomasi perpustakaan adalah komputerisasi kegiatan rutin dan operasi sistem kerumahtanggaan perpustakaan (library housekeeping) yang mencakup pengadaan, pengatalogan, termasuk penyedian katalog on-line (OPAC), pengawasan sirkulasi dan serial. Dengan kata lain, perpustakaan terotomasi adalah suatu perpustakaan yang menggunakan sistem terotomasi untuk penanganan sebagian atau seluruh kegiatan rutinnya.   Pada sub sistem atau modul pengolahan dilakukan kegiatan-kegiatan : - input terhadap koleksi yang baru diperoleh, baik melalui pembelian, tukar menukar, produksi internal, maupun hadiah atau hibah. - penambahan eksemplar atas judul-judul yang pernah ada - penyuntingan atau koreksi-koreksi yang diperlukan terhadap sebuah rekor atau    cantuman - penghapusan atas rekor atau cantuman yang tidak diperlukan lagi, seperti karena buku telah hilang, rusak, di-weeding, atau oleh sebab lainnya.   Apa yang dilakukan dalam modul pengolahan, akan terkait langsung dengan modul pelayanan, seperti dalam hal : - kesiapan koleksi untuk dipinjam - OPAC sebagai media penelusuran - informasi keadaan atau jumlah koleksi, dan sebagainya. Pengolahan juga melakukan kegiatan digitalisasi koleksi, terutama terhadap koleksi-koleksi internal yang tidak diterbitkan secara masal dan jumlahnya sangat terbatas, seperti: hasil penelitian dosen, skripsi, tesis, disertasi, makalah-makalah seminar, baik sendiri-sendiri atau dalam bentuk prosiding, koleksi-koleksi langka setempat, juga artikel-artikel atau koleksi-koleksi penting lainnya dari hasil unduhan (download) dari internet. Pemanfaatan teknologi informasi yang digunakan dalam proses ini antara lain mesin scanner, kemudian komputer dengan segala software pendukungnya, CD atau media lainnya. Selanjutnya untuk dapat diakses oleh pengguna perpustakaan, data digital atau elektronik ini dapat di letakkan pada WEB atau homepage perpustakaan, bersama data-data elektronik lainnya, seperti e-catalog, e-journal, dll. Dengan kata lain, pustakawan bisa melakukan publikasi elektronik, yaitu kegiatan untuk memublikasikan berbagai informasi tentang dan oleh perpustakaan. Dalam hal ini, perpustakaan memiliki dan memelihara sendiri suatu situs WEB. Penerbitan Web bertujuan untuk mempublikasikan berbagai informasi tentang perpustakaan dan kegiatannya. Kegiatan ini pada dasarnya sama dengan publikasi berbagai selebaran, brosur, pamflet, panduan perpustakaan, daftar tambahan pustaka, katalog dalam berbagai jenis, dan kegiatan publikasi lainnya. Akan tetapi, publikasi yang lebih banyak manfaatnya bagi para pengguna adalah yang menyangkut konten utama perpustakaan, termasuk juga koleksi-koleksi dari terbitan internal yang tergolong gray literature sebagaimana dijelaskan di atas, yang terhadapnya juga perlu dilakukan proses digitalisasi.   Penyediaan Akses terhadap Sumber Daya Informasi (Pelayanan) Pemustaka Penyediaan akses terhadap sumber daya informasi (pelayanan) pemakai adalah bagian di perpustakaan yang berhadapan langsung dengan masyarakat pengguna untuk memberikan layanan informasi dan bahan pustaka yang mereka butuhkan menurut sistem atau aturan yang telah ditentukan. Salah satu hal yang terpenting dalam pelayanan perpustakaan adalah menekan sekecil mungkin ketidaknyamanan pengguna dalam menggunakan koleksi perpustakaan. Peningkatan mutu pelayanan menjadi upaya yang seharusnya dilakukan secara berkelanjutan, antara lain dengan memperluas akses tidak saja terbatas pada koleksi cetak, tetapi juga menghubungkan pengguna kepada belantara informasi yang banyak tersedia di WEB atau internet. Penyediaan layanan internet adalah merupakan layanan yang sudah umum dilakukan oleh perpustakaan. Dalam hal ini perpustakaan menyediakan sejumlah komputer sebagai terminal yang terhubung ke internet. Penyediaan layanan internet ini bertujuan untuk memungkinkan pengguna dapat memperoleh informasi yang bersumber dari WEB. Kegiatan ini pada dasarnya sama dengan menyediakan bahan pustaka cetak yang merupakan kegiatan rutin pada perpustakaan tradisional. Disamping penyediaan layanan internet dengan menyediakan komputer yang terhubung langsung ke internet, kini yang tengah menjadi trend dan banyak dilakukan oleh perpustakaan adalah dengan menyediakan hotspot area. Yang dimaksud dengan hotspot area di sini adalah ruang atau area khusus yang disediakan untuk para pengguna perpustakaan, dimana para pengguna perpustakaan dengan membawa laptop sendiri mereka dapat mengakses internet. Pengguna dapat melakukan sendiri penelusuran, atau dengan memesan bahan yang mereka perlukan kepada pustakawan. Dalam hal ini pengetahuan dan pengalaman pustakawan dalam penelusuran menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan efisiensi pustakawan dan pengguna. Pustakawan sesuai dengan peran dasarnya, dalam menyediakan akses internet dapat bertindak sebagai pembimbing? terutama bagi pengguna baru, dalam bentuk kegiatan bimbingan pemakai atau pendidikan pemakai? Berkaitan dengan masalah penyediaan akses dalam pelayanan pengguna, masih terdapat satu hal lagi yang perlu diingat dan untuk dijadikan pedoman, yaitu model penyediaan:  kepemilikan atau akses. Hal ini terutama berkaitan dengan keadaan perpustakaan yang akhir akhir ini dipengaruhi oleh dua perubahan utama yaitu ekonomi dan teknologi. Perubahan ekonomi menyangkut bentuk pelayanan perpustakaan yang berbasis tradisional yaitu koleksi cetak yang harganya semakin meningkat. Bandingannya adalah potensi besar yang saat ini ditawarkan oleh teknologi informasi di perpustakaan digital. Kedua faktor tersebut mengharuskan perpustakaan untuk mampu menilai dengan cermat model penyediaan perpustakaan apakah dalam bentuk kepemilikan (holdings) atau akses. Disamping itu masih ada persepsi tentang besar kecilnya perpustakaan dari dimensi fisik dapat membuat pustakawan mengagungkan kepemilikan bahan pustaka. Pada era perpustakaan digital kini, memiliki sendiri sumber informasi belum tentu lebih menguntungkan dibandingkan memiliki akses ke sumber informasi. Memiliki sendiri sumber informasi dapat lebih mahal daripada menyediakan akses online. Dengan kata lain, pada tingkat tertentu memiliki sendiri sumber informasi bisa lebih mahal daripada menyediakan akses. Dalam hal ini mungkin kombinasi keduanya merupakan pilihan terbaik saat ini, dimana buku-buku lebih banyak dalam bentuk memiliki (cetak), dan jurnal lebih dominan dalam bentuk akses (elektronik).   PENUTUP Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan memang sudah merupakan keharusan, agar perpustakaan tetap diminati dan menjadi suatu kebutuhan yang penting. Pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara positif, kreatif dan konstruktif menjadikan kegiatan dan operasi perpustakaan berjalan lebih sinergi, harapan masyarakat pengguna perpustakaan atau pemustaka terpenuhi dan efektivitas layanan perpustakaan dapat dicapai. Perkembangan teknologi informasi memang memberi peluang yang sangat luas kepada perpustakaan untuk melakukan inovasi dan pembaruan-pembaruan dalam berbagai kegiatan perpustakaan. Nilai-nilai yang menjadi dasar profesi pustakawan tetap sama, tetapi cara nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan yang mengalami perubahan secara mendasar. Misi perpustakaan untuk mengumpulkan, mengorganisasikan dan menyediakan akses terhadap sumber daya informasi tetap relevan, tetapi teknologi dan cara untuk melakukannya mengalami perubahan. Penyediaan sumber daya informasi berbasis cetak tidak lagi cukup memadai, tetapi harus dilengkapi dengan sumber daya berbasis digital yang jumlah dan kecepatan penyebarannya terus meningkat. Oleh karena itu, usaha-usaha untuk melakukan pengumpulan, pengolahan/pengorganisasian dan pelayanan atau penyediaan akses terhadap sumber daya informasi berbasis digital yang jumlah dan kecepatan penyebarannya terus meningkat untuk melengkapi koleksi cetak, harus terus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi, antara lain melalui pelaksanaan otomasi, digitalisasi koleksi, penyediaan dan pelayanan koleksi elektronis, seperti: e-book, e-journal untuk penelusuran on-line dengan dilengkapi sarana penelusurannya, yaitu e-catalog. Di samping itu sudah saatnya kini perpustakaan menyediakaan hotspot area, untuk mendampingi layanan internet dengan terminal komputer yang terbatas. Walaupun demikian, karena pemanfaatan teknologi informasi  pada berbagai kegiatan atau operasinya di perpustakaan, nilai efisiensi dan efektivitas adalah tujuannya, maka pertimbangan, pemikiran, dan perhitungan secara cermat harus dilakukan sebelum memutuskan pemanfaatan teknologi informasi. Dengan melihat perubahan yang terjadi dari perpustakaan yang semula konvensional berubah menjadi perpustakaan digital, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa: Perpustakaan yang semula berperan sebagai Housing resources menjadi Connecting resources :  Artinya bahwa di perpustakaan tesedia berbagai fasilitas dimana orang bisa saling berinteraksi di perpustakaan. Print centric  menjadi user centric : artinya pada masa lalu ketika perangkat teknologi belum semaju dewasa ini keberadaan  koleksi tercetak atau buku sangat dominan di perpustakaan, dewasa ini keberadaannya menjadi salah satu bagian koleksi perpustakaan yang harus disediakan bagi kebutuhan pemustaka.  Solitary and silence menjadi solitary and collaborative : artinya bahwa  sebelumnya perpustakaan dikenal sebagai sebuah ruangan yang penghuninya harus diam dan tidak boleh menciptakan berbagai kebisingan tetapi sekarang berubah menjadi tempat yang membuat pemustaka asyik untuk bekerja secara kolaboratif dengan pemustaka lainnya Monotask menjadi multitask : keberadaan perpustakaan yang pada era sebelumnya hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi kini tugasnya menjadi sangat kompleks dengan berbagai pengelolaan informasi yang semakin bervariasi dan penyediaan fasilitas serta menjalin komunikasi afektif dengan pemustaka  Introvert menjadi extrovert :  penulis berpendapat bahwa perpustakaan diharapkan mampu menempatkan dirinya sebagai lembaga yang terbuka dan menjalin komunikasi yang hangat dengan pemustakanya.  Fixed menjadi adaptable : pendapat penulis perpustakaan diharapkan mampu menyesuaikan dengan berbagai perkembangan teknologi dan perilaku pemustakanya pustakawan diharapkan mampu mengembangkan kompetensinya dalam berbagai kemampuan multidisiplin.        7. Self service menjadi concierge : penulis mengartikan bahwa perpustakaan sebagai penyedian sumber informasi dan tempat untuk bebagai fasilitas layanan         8. No food and drink menjadi cafes : pendapat penulis bahwa perpustakaan menyediakan sebuah ruangan yang dipergunakan sebagai tempat untuk beristirahat untuk makan dan minum    Harapan kita semua bahwa perpustakaan siap menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan memanfaatkan teknologi informasi di perpustakaan digital. Pemustaka bisa mendapatkan data dan informasi secara cepat dan akurat, dengan begitu perpustakaan bisa memberikan pelayanan yang prima.     DAFTAR PUSTAKA   Hermawan, Rachman dan Zulfikar. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto, 2006. Perpustakaan Nasional RI. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2007. Suprianto, Wahyu. dkk. Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius. 2008. Laxman Pendit, Putu. Perpustakaan Dijital. Kesinambungan dan Dinamika. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri. 2009. Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka, 2009. Tanjung, Nur Bahdin dan Ardial. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana, 2010. Sasmito, Priyo. 1995. Sistem komputer, Jaringan kerja komputer, sumber daya manusia dalam automasi perpustakaan. Makalah disampaian dalam Pemasyarakatan standar perencanaan automasi perpustakaan, pada kegiatan Persiapan jaringan kerjasama dengan sistem automasi perpustakaan. Jakarta: Proyek Pembinaan Perpustaklaan Nasional.. Wimbarti, Supra. 1997. Pengaruh psikis teknologi informasi terhadap sumber daya perpustakaan . Makalah disampaikan pada Seminar nasional “Pemberdayaan SDM Perpustakaan dalam era internet” Yogyakarta, UPT Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Penerapan Teknologi Informasi di Perpustakaan, diakses dari: https://aprilianilia74.wordpress.com/2014/12/23/penerapan-teknologi-informasi-di perpustakaan (accessed jun 18 2018) Teknologi Informasi Untuk Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi dan Informasi , diakses dari :https://www.researchgate.net/publication/267224638_Teknologi Informasi Untuk Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi dan Informasi (accessed Jun 19 2018) Mengenal 4 Tahap Perkembangan Revolusi Industri Dunia, diakses dari: https://steemit.com/indonesia/@iqbalsweden/mengenal-4-tahap-perkembangan-revolusi industri-dunia (accessed Jun 19 2018).

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
PERSONAL BRANDING PROFESI PUSTAKAWAN
13 Mar 2019

PERSONAL BRANDING PROFESI PUSTAKAWAN

What is personal branding? Menurut Schawbel (2009), personal branding menggambarkan proses dimana individu dan pengusaha membedakan diri mereka dan berdiri keluar dari keramaian dengan mengidentifikasi dan mengartikulasikan nilai unik mereka, apakah profesional dan kemudian memanfaatkannya di seluruh platform dengan konsisten pesan dan gambar untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan cara ini, individu dapat meningkatkan pengakuan mereka sebagai ahli di bidangnya, membangun reputasi dan kredibilitas, memajukan karir mereka dan membangun diri sendiri kepercayaan. Menurut Montaya (2002) dalam personal branding the phenomenon bahwa “librarians’ personal branding is a personal identity that stimulates precise, meaningful preceptions in its audience about the value and qualities that person or librarian stands for” untuk menciptakan layanan perpustakaan yang unggul diperlukan pustakawan yang berkualitas, bukan hanya label pustakawan saja. Di perlukan pustakawan dengan kepribadian dan bertutur kata yang baik dalam melayani yang mencerminkan bahwa pustakawan tersebut layak untuk sebagai sumber informasi. Selama ini kesan pustakawan adalah orang yang serius, rumit, sulit untuk didekati dan tidak ramah. Apakah benar branding pustakawan sebenarnya seperti itu? Branding itu terjadi karena pustakawan hanya menjalani profesi mereka tanpa rasa bangga dan cinta terhadap profesinya sehingga orang lain membuat kesan dan penilaian terhadap mereka. Ini adalah masalah dan tantangan bagi pustakawan saat ini, di mana penilaian masyarakat terhadap profesi pustakawan yang kurang baik ini merupakan dampak yang panjang. Ketika masyarakat atau pengguna perpustakaan mulai menciptakan persepsi mereka yang tidak seharusnya untuk pustakawan, itu akan mempengaruhi citra pustakawan. Personal branding berkaitan dengan hubungan, reputasi dan tanggung jawab profesi. Personal branding bukan hanya berkaitan tentang diri secara pribadi melainkan sesuatu yang lebih luas yaitu mengenai hubungan sosial seseorang atau komunitas bagaimana seseorang bertingkah laku dan bertindak dalam kehidupan sosial dan komunitas seseorang. Basically, a librarian is an information professional trained in library and information science, which is the organization and management of information services or materials for those with information needs (Kumar, 2010). Menurut Kumar pada dasarnya, seorang pustakawan adalah seorang profesional informasi yang dilatih perpustakaan dan ilmu informasi, yang merupakan organisasi dan manajemen layanan informasi atau bahan untuk mereka yang membutuhkan informasi. Dari pengertian tersebut kita bisa menyimpulkan saharusnya citra pustakawan adalah orang yang aktif dalam memberikan informasi dan memiliki peranan penting dalam peyebaran informasi. Bukankah ini kebalikan dengan citra pustakawan selama ini serius, rumit, yang sulit didekati dan tidak ramah seharusnya sebagai sumber informasi pustakawan memiliki branding yang ramah siap membantu orang yang mebutuhkan informasi. Disini Branding sangat penting dan dibutukan untuk pustakawan. Pustakawan harus bisa membangun kepribadian khusus untuk menarik pengguna perpustakaan dan mau menggunakan jasa mereka. Selama ini kita berpikir branding hanya diperuntukkan untuk produk dan dikaitkan dengan merek perusahaan. Tetapi pustakawan juga harus memiliki branding positif agar dapat digunakan untuk mempromosikan perpustakaan. Many librarians do not use this concept and they do not do their own branding (Kumar, 2010).  Bagaimana cara pustakawan untuk menaikan nilai profesinya dimata publik atau masyarakat tetapi bukan hanya secara tampilan luar tapi bagaimana juga kita menaikan kualitas pribadi dalam mengembangkan profesi. Memiliki merek atau branding pribadi yang positif dapat mewakili tingkat pengetahuan dan profesionalisme pustakawan. Pustakawan harus memiliki sesuatu inovasi yang signifikan untuk membuat perubahan. Sehingga pengguna perpustakaan sacara umum, profesor, peneliti, kolega maupun calon atasan akan mencari nya (pustakawan). Untuk mendapatkan pengakuan keahlian, reputasi dan kredibilitas pustakawan harus membangun kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan: 1.    Pendidikan Pustakawan dituntut memiliki pendidikan formal ilmu perpustakaan, pustakawan dituntut gemar membaca, terampil, kreatif, cerdas, tanggap, berwawasan luas, berorientasi kedepan, mampu menyerap ilmu, obyektif (berorientasi pada data), tetapi memerlukan disiplin ilmu tertentu di pihak lain, berwawasan lingkungan, mentaati etika profesi pustakawan, mempunyai motivasi tinggi, berkarya di bidang kepustakawanan dan mampu melaksanakan penelitian dan penyuluhan di bidangnya. Disamping itu pustakawan juga harus aktif dalam mengikuti seminar, pelatihan maupun diklat untuk memperbarui pengetahuan mereka di bidang perpustakaan. 2.    Kompetensi Sebagai pustakawan kita harus memperbaiki kinerja kita dari kemampuan dan daya dukung yang kita miliki untuk membantu dalam perkembangan perpustakaan dan memberikan dampak positif dalam perkembangan literasi informasi dalam masyarakat. Dan ini harus dilakukan dalam bentuk tindakan nyata bukan hanya dalam visi dan misi. 3.    Profesional dalam bekerja. Pustakawan dikatakan profesional jika memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar agar bisa menguasi pekerjaan yang dilakukan. Seorang pustakawan juga harus memiliki loyalitas dan integritas yang tinggi terhadap lembaga beserta kebijakan-kebijakannya. Selain itu seorang pustakawan harus mampu bekerja keras dan bekerjasama dalam sebuah teamwork,  memiliki visi dan sasaran yang jelas dalam bekerja, serta komitmen tinggi terhadap nilai-nilai pekerjaan. Dan yang utama lainnya seorang pustakawan adalah seseorang yang  memiliki daya kompetitif, inovatif, penuh motivasi, bangga terhadap profesinya, dan terlibat secara aktif dalam organisasi profesinya.   Kemampuan dan keahlian pustakawan diukur melalui Sertifikasi Pustawan yang merujuk dari SKKNI ( Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) Bidang Perpustakaan. Tujuan sertifikasi pustakawan adalah: a.    Mengakui secara formal kompetensi seorang pustakawan sesuai dengan standar nasional.  b.    Meningkatkan profesionalisme pustakawan dan menentukan kelayakan kesiapan seorang pustakawan dalam memberikan layanan layanan prima perpustakaan. c.    Menghilangkan pembedaan pustakawan PNS dan pustakawan swasta.   d.    Pustakawan yang telah tersertifikasi akan memiliki kedudukan yang sama terhadap pengakuan kemampuan yang dimiliki, karena sudah ada lembaga penjamin mutu (quality assurance).  Diharapkan dengan sertifikasi pustakawan dapat membentuk pustakawan yang memiliki daya saing dan memotivasi pustakawan untuk lebih profesional dalam bekerja tentunya ini akan memberikan rasa bangga terhadap profesinya. 4.    Berpenampilan Menarik atau Good Looking Dengan memperbaiki penampilan dan tersenyum, kesan pustakawan yang tidak menarik dan tidak rapi harus dihilangkan pustakawan harus bisa berpenampilan menarik dan meyakinkan. Kenapa harus berpenampilan rapi dan menarik karena kebanyakan orang menilai seseorang dari first impression atau kesan pandangan pertama, orang beranggapan seseorang yang berpenampilan menarik dianggap pintar. Dengan berpenampilan menarik dan murah senyum juga akan membuat pustakawan lebih percaya diri untuk bertemu dengan orang banyak, karena membuat orang yang melihat senang dan tidak bosan. Untuk membentuk personal branding pustakawan diperlukan komitmen yang kuat dari pustakawan secara umum. Pustakawan harus memiliki kepercayaan diri yang kuat dan kebanggan terhadap profesinya. Selain itu Pustakawan juga harus memiliki kompetensi daya saing, aktif dalam organisasi profesi, up to date dengan informasi terbaru dan saling bekerjasama antar pustakawan.   Sumber : http://www.ala.org/rt/nmrt/news/footnotes/february2011/personal_branding_for_new_librarians_yelton digilib.undip.ac.id/v2/2012/05/11/rebranding-perpustakaan-peningkatan-kualitas-layanan-dan-kompetensi-sdm/ https://pustakapusdokinfo.wordpress.com/2010/10/04/rebranding-perpustakaan-peningkatan-kualitas-layanan-dan-kompetensi-sdm/ Vision 2020: Sustainable Growth, Economic Development, and Global Competitiveness. From Word Wide Web: https://www.researchgate.net/publication/281481121_Conceptualizing_Personal_Branding_for_Librarians Kumar, S. A. (2010). Knowledge management and new generation of libraries information services: A concepts. International Journal of Library and Information Science, 1(2), 024-030. from World Wide Web: http://www.academicjournals.org/ijlis  

Utami Wisnu Wardhani Baca Selengkapnya