Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

MENGATASI KENDALA YANG TERJADI DENGAN MENCARI SOLUSI YANG TEPAT DALAM PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
12 Mar 2019

MENGATASI KENDALA YANG TERJADI DENGAN MENCARI SOLUSI YANG TEPAT DALAM PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Kita semua menyadari bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya manusia suatu bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dalam pengesahan RUU perpustakaan, Bambang Sudibyo  selaku Mendiknas kala itu mengatakan bahwa’’ Perpustakaan merupakan pilar penting  dalam mewujudkan tujuan  nasional seperti yang tercantum dalam UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa’’ Beliau juga berkata’’Perpustakaan juga merupakan salah satu upaya untuk memajukan serta menjadi wahana pelestarian kebudayaan nasional’’ Perpustakaan sekolah merupakan semua  perpustakaan yang ada di sekolah, baik itu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas sampai sekolah lanjutan, seperti perguruan tinggi. Tujuan dari perpustakaan sekolah selain  sebagai proses penunjang belajar dan  mengajar di sekolah,juga untuk menanamkan minat baca pada anak. Begitu pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai bagian dari sistem nasional, sehingga pemerintah secara khusus membuat Undang– Undang No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Kendala – kendala yang sering terjadi pada perpustakaan sekolah Secara umum keadaan perpustakaan sekolah dasar lebih memprihatinkan dan sering menghadapi kendala, bila dibandingkan dengan perpustakaan sekolah lanjutan. Kendala- kendala tersebut diantaranya : Kurangnya dana untuk melengkapi sarana dan prasarana perpustakaan . Tenaga perpustakaan hendaknya lebih dari satu orang, sehingga pengelolaan dan pelayanan perpustakaan lebih maksimal. Namun di sebagian sekolah tenaga pengelola perpustakaan masih tumpang tindih tugasnya dengan guru. Perpustakaan sekolah sering diartikan hanya sebagai gudang buku yang keberadaannya dirasakan kurang penting, sehingga di beberapa sekolah perpustakaan masih disatukan dengan ruangan lain. Media informasinya masih berupa buku, sehingga  tidak merupakan sesuatu yang aneh bagi siswa. Kurangnya perhatian pihak sekolah akan pengembangan perpustakaan. Masih banyak lagi kendala – kendala perpustakaan  yang sering terjadi pada perpustakaan sekolah. Apakah pihak sekolah mengetahui bahwa 5% dari dana anggaran sekolah dipergunakan untuk pengembangan sekolah ? Keberadaan perpustakaan di negara kita memang baru mulai tumbuh, begitu juga dengan perpustakaan sekolah. Pertanyaannya adalah sejauh manakah keberadaan perpustakaan sekolah saat ini ? Apakah sudah mendekati kondisi ideal seperti yang  dinyatakan dalam UU Perpustakaan No. 43 tahun  2007? Pada kenyataan di lapangan, keberadaan perpustakaan sekolah masih jauh dari kondisi ideal. Masalah klasik yang selalu ada adalah mengenai minimnya dana. Bahkan pihak sekolah tidak mengetahui bahwa 5% dari dana anggaran sekolah dipergunakan untuk pengembangan perpustakaan. Padahal ini secara jelas dan tegas sudah diatur dalam UU tentang Perpustakaan No. 43 tahun 2007, dalam hal ini selanjutnya bagaimana kebijakan sekolah merealisasikannya. Solusi yang di harapkan bisa mengatasi kendala -  kendala pada perpustakaan. Mengenai sarana dan prasarana hendaknya pihak sekolah segara membenahi dan melengkapi apa saja yang dibutuhkan perpustakaan, sehingga mempermudah pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Hal ini tentu saja berdasarkan dari dana yang 5% tersebut. Diharapkan tiap sekolah mempunyai petugas khusus pengelola perpustakaan, tidak lagi tumpang tindih pengelolaannya dengan guru, dan orang yang ditunjuk sebagai pengelola perpustakaan setidaknya orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan serta berlatar belakang pendidikan perpustakaan. Pihak sekolah hendaknya mulai berpikir positif, tidak menganggap perpustakaan hanya sebagai ruangan penuh tumpukan buku, yang tidak begitu penting. Ruangannya pun hendaknya mulai dipisahkan dengan ruangan lain. Dengan membanjirnya informasi dalam skala global, hendaknya koleksi perpustakaan tidak hanya berupa buku tapi perlu bahan lain seperti audio visual dan multimedia, serta diharapkan adanya akses internet untuk menambah dan melengkapi pengetahuan anak dari sumber lain, bila informasi yang dibutuhkan tidak dimiliki oleh perpustakaan. Namun dalam hal ini, pustakawan dan guru hendaknya mengajarkan kepada siswa untuk dapat memilih dan mengenali jenis informasi apa saja yang diperlukan. Sangat diharapkan sekali dukungan dari pihak sekolah. Pustakawan sangat memerlukan dukungan dari kepala sekolah berupa kebijakan dan dana. Sedangkan dari para guru agar dapat membantu mempromosikan kepada siswa tentang pentingnya perpustakaan dan menekankan agar siswa rajin membaca dan meminjam buku,serta menyarankan perpustakaan  sebagai tempat pertama dalam mencari sumber informasi untuk mengerjakan tugas sekolah. Begitu juga  orang tua hendaknya memberikan motivasi agar anaknya rajin  meminjam buku, sebagai bacaan untuk di rumah.Begitu juga dengan pustakawan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perpustakaan dengan baik, agar perpustakaan berjalan sesuai dengan peran dan fungsinya. Bila peran pihak sekolah berjalan dengan efektif dan efisien, diharapkan segala kendala yang sering terjadi pada perpustakaan dapat teratasi sehingga pada akhirnya upaya mencerdaskan bangsa dapat terwujud.     DAFTAR PUSTAKA   Lasa.HS.2010. ”Pendidikan dan Profesi Pustakawan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html   Zulaikha, Sri Rohyanti.2010. Materi Perkuliahan “Ketrampilan Sosial dalam Konteks Kepustakawanan” Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html  

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
Perpustakaan bagi Generasi Millennial
12 Mar 2019

Perpustakaan bagi Generasi Millennial

Paradigma Perpustakaan saat ini telah bergeser ke arah generasi millennial. Millennials yaitu sebuah generasi dimana pemustaka berperilaku sebagai seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Paradigma perpustakaan generasi millennial ini dicirikan adanya masyarakat pembelajar yang selalu berinteraksi dengan internet dimanapun dan kapanpun membutuhkan informasi. Adanya kemajuan iptek, maka perpustakaan harus selalu mencari jalan dengan pemanfaatan inovasi teknologi informasi terbaru agar kualitas layanan menjadi semakin terus meningkat. Pemustaka yang dalam kehidupannya selalu bersinggungan dengan peralatan teknologi sering diistilahkan dengan generasi gadget. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang begitu cepat jelas berdampak secara signifikan terhadap eksistensi perpustakaan. Sebuah perpustakaan harus tanggap mengenai trend TIK (Teknologi Informatika dan Komunikasi) tersebut. Tuntutan kemudahan akses informasi yang serba instan, tepat, dan adanya ketersediaan fasilitas yang diaplikasikan akan merepresentasikan sistem layanan informasi yang dilayankan perpustakaan. Untuk merubah paradigma dalam wajah baru perpustakaan era millennial. Bentuk aplikasinya antara lain adalah ; Perpustakaan harus menyediakan wifi area atau hotspot area, sehingga memungkinkan pemustaka mudah untuk berselancar mencari informasi melalui internet. Perpustakaan sudah saatnya mulai mengubah atmosfer perpustakaan agar menjadi pusat belajar bagi masyarakatnya.   Perpustakaan sebaiknya tidak hanya nampak dengan paradigma lama yang terkesan kaku dengan fasilitas gedung megah, perabot, rak, meja, ataup lebih mengedepankan nilai seni/artistik desain interiornya. Bentuk rak yang unik dipadu dengan furnitur serta perpaduan cat warna ruangan yang mengandung nilai seni akan membuat pemustaka merasa nyaman berada di dalam corner tersebut menimbulkan kesan bahwa berada di ruang perpustakaan sangat menyenangkan seperi layaknya berada di rumah. Perpustakaan seharusya juga menyediakan fasilitas untuk belanja makanan, minuman. Misalnya: soft drink, pop mie, roti, permen, dan makanan ringan lainnya. Pasti Pemustaka akan merasa senang, karena jika lapar sementara posisi sedang browsing informasi di perpustakaan, maka tidak perlu repot keluar dari area perpustakaan. Syukur perpustakaan juga menyediakan air minum (galon) yang gratis untuk pemustaka. Seharusnya sudah tidak ada lagi sistem aturan perpustakaan yang terlalu birokratis, misalnya prosedur foto kopi, prosedur jadi anggota, prosedur membuat kartu, dan prosedur lainnya yang banyak persyaratan dan berbelit-belit. Aturan sistem perpustakaan yang sederhana akan memudahkan pemustaka dan bisa mempersuasif orang lain untuk akses ke perpustakaan. Selain itu, diera Milenial ini Perpustakaan harus terus mengembangkan dengan inovasi teknologi informasi terbaru, baik meliputi infrastuktur dan fasilitasnya. Perpustakaan harus membangun link dan jejaring dengan perpustakaan lainnya, serta memperbanyak melanggan e-journal dan e-books. Perpustakaan harus adaptable with change, friendly dengan pemustakanya, mampu “jemput bola’ dengan mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pemustakanya. Menjadi tugas berat bagi para pustakawan, karena untuk melayani pemustaka di era generasi millennial ini dibutuhkan suatu kompetensi dan keprofesionalan dalam menguasai teknologi  informasi. Agar tidak terjadi kesenjangan antara pustakawan dan pemustaka, maka pustakawan tidak  boleh ‘gaptek’. Pustakawan harus mampu menerapkan kompetensinya, yang meliputi pengetahuan ketrampilan dan sikap dalam melayani pemustakanya. Karena bagaimanapun ujung tombak perpustakaan di generasi millennial ini adalah di bagian layanan perpustakaannya. Era generasi millennial saat ini berprinsip bahwa mengakses informasi bisa dilakukan dengan mudah dengan berselancar internet kapan dan dimana saja, tidak harus ke perpustakaan. Jadi agar perpustakaan tidak ditinggal pemustakanya, maka perpustakaan harus berbenah dalam penyediaan berbagai sarana prasarana, fasilitas, infrastuktur, dan aspek kebijakan organisasi perpustakaan yang mendukung generasi millennial. Selain itu, yang tidak boleh ketinggalan pengelola perpustakaan dan pustakawannya juga harus information literate terhadap adanya pergeseran perubahan generasi millennial dalam kajian informasi saat ini.   DAFTAR PUSTAKA Kamil, Harkrisyati & Sonda, Endang Wiwik. Makalah yang disampaikan dalam Seminar “Menghadirkan Perpustakaan Untuk Generasi Millennial (Presenting a Library for Millennial Generation)” tanggal 19 Februari 2019” di DKPUS PANGKALPINANG.

Anggya Dwie Permatasari Baca Selengkapnya
Menjadikan Membaca Sebagai Kebiasaan di Masyarakat
5 Mar 2019

Menjadikan Membaca Sebagai Kebiasaan di Masyarakat

Membaca merupakan suatu kegiatan untuk memperkaya khasanah keilmuan. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang kita dapatkan. Selain mendapatkan informasi, membaca juga dapat membuka wawasan yang sangat luas. Membaca juga merupakan kunci utama untuk membuka pintu gerbang kesuksesan. Tiada orang yang sukses tanpa membaca. Selain itu membaca merupakan sarana untuk menuntut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan di dunia ini sangat banyak dan beragam. Maka membaca perlu dibiasakan sejak dini. Semakin sering kita membaca akan semakin sulit bagi kita untuk tidak membaca. Membaca  merupakan salah satu  perilaku yang senantiasa menjadi persoalan. Hampir setiap saat muncul kesan getir terkait budaya membaca masyarakat. Perilaku membaca belum menjadi tradisi positif masyarakat yang dijalankan dan dihayati. Budaya lisan lebih kentara ketimbang bergelut dengan teks-teks bacaan. Padahal membaca itu sendiri tidak harus membaca buku ilmiah seperti Fisika, Biologi, Sejarah, Ekonomi dan lain sebagainya. Buku cerita, cerpen, novel, artikel dan majalah pun boleh boleh saja. Buku-buku tersebut juga memiliki manfaat dan informasi seperti halnya buku-buku ilmiah.  Namun bagi sebagian orang menganggap membaca menjadi sebuah hal yang membosankan. Mengapa demikian? karena mereka kurang mengerti teknik membaca. Tetapi apabila kita mengerti teknik membaca yang benar maka kegiatan membaca akan menjadi suatu kegiatan yang mengasyikkan. Agar membaca dapat menjadi kebiasaan di masyarakat, maka harus adanya langkah-langkah sehingga membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan, yaitu : 1. Bahan-bahan bacaan yang menarik Kita sebaiknya harus selektif apabila mencari bahan bacaan. Buku yang kita baca seharusnya menarik, menarik dalam hal ini bukan berarti sampulnya warna-warni ataupun banyak gambar yang lucu, tapi menarik disini adalah sesuai dengan kesukaan atau isi hati kita. Apabila kita melihat suatu bahan bacaan hanya karena ketenarannya namun tidak sesuai dengan isi hati kita, maka kita sebentar akan jenuh dan bosan. 2. Luangkan sedikit waktu Untuk memulai suatu hal yang baik biasanya berawal dari sebuah keterpaksaan, hal itulah yang harus kita terapkan dalam menjalani kehidupan. Kita sebaiknya meluangkan sedikit waktu  untuk membaca. Misalnya pada pagi hari atau saat santai sore hari. Bila kebiasaan membaca ini kita lakukan terus menerus maka kita akan menjadi orang yang cerdas. 3. Tempat Yang Sesuai Kegiatan membaca adalah suatu kegiatan yang membutuhkan rasa tenang dan tentram, bila kedua hal itu terpenuhi maka kita akan lebih cepat meresapi dan mengambil ilmu dari bahan bacaan yang kita baca. Tempat adalah salah satu faktor untuk mewujudkan dua hal itu, apabila kita membaca sebaiknya kita mencari tempat yang senyaman mungkin. Seperti di tempat sepi, taman, kamar, teras rumah atau tempat lain yang sesuai. 4. Waktu Yang Tepat Suatu hal yang tidak kalah penting adalah mengenai waktu membaca, sebagai seorang pembaca pemula sebaiknya kita mencari waktu yang tidak bersamaan dengan rutinitas kita, misalnya saat sebelum tidur malam. Dan setelah itu kita lakukan terus menerus. 5. Ayo! Mulai Membaca Membiasakan hal yang baik kadang kala sulit untuk dilakukan begitu juga   dengan membaca. Mulailah kebiasaan membaca dengan bahan bacaan yang ringan seperti koran, majalah ataupun buletin. Hal itu sangat berpengaruh terhadap ketahanan kita dalam membaca bacaan yang berat dan panjang seperti karya-karya ilmiah.   Berdasarkan uraian di atas, dapat meningkatkan motivasi masyarakat dalam kegiatan membaca. Ingat saja, bahwa dengan banyak membaca, peluang untuk maju itu sangat jelas dan membawa kita kearah kesuksesan. Membaca berarti banyak ilmu yang kita peroleh, yang bisa kita manfaatkan untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain.   DAFTAR PUSTAKA https://www.kompasiana.com/guslitera/54ffa331a33311194d5109e1/menciptakan-rasa-cinta-pada-perpustakaan https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/05/26/noyj6v-menumbuhkan-minat-baca-masyarakat

Mencintai Perpustakaan, Buku, Serta Dunia Membaca dan Menulis Sejak Usia Dini Melalui Storytelling
20 Feb 2019

Mencintai Perpustakaan, Buku, Serta Dunia Membaca dan Menulis Sejak Usia Dini Melalui Storytelling

Storytelling merupakan sebuah seni bercerita yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai pada anak yang dilakukan tanpa perlu menggurui sang anak. Storytelling merupakan suatu proses kreatif anak-anak yang dalam perkembangannya, senantiasa mengaktifkan bukan hanya aspek intelektual saja tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, daya berfantasi, dan imajinasi anak yang tidak hanya mengutamakan kemampuan otak kiri tetapi juga otak kanan. Berbicara mengenai kegiatan storytelling, secara umum semua anak-anak senang mendengarkannya, baik anak balita, usia sekolah dasar, maupun yang telah beranjak remaja bahkan orang dewasa. Dalam kegiatan storytelling, proses bercerita menjadi sangat penting karena dari proses inilah nilai atau pesan dari cerita tersebut dapat sampai pada anak. Pada saat proses storytelling berlangsung terjadi sebuah penyerapan pengetahuan yang disampaikan pencerita kepada audience. Proses inilah yang menjadi pengalaman seorang anak dan menjadi tugas si pencerita untuk menampilkan kesan menyenangkan pada saat bercerita. Storytelling dengan media buku, dapat digunakan pencerita untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan terhadap buku tersebut. Pengalaman yang diperoleh anak saat mulai belajar membaca, akan melekat pada ingatannya. Kebanyakan anak merasa dipaksa saat ia belajar membaca. Namun dengan storytelling pengalaman berbeda akan dirasakan oleh seorang anak. Melalui storytelling juga, seorang anak akan belajar membaca tanpa perlu merasa dipaksa untuk melakukannya. Bunanta (2009: 5) menyatakan ada berbagai konsep storytelling yang dapat digunakan untuk mengajak anak membaca yaitu konsep storytelling dan bermain, storytelling sambil bermain musik, mengadakan festival storytelling dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, dan lain sebagainya. Dengan banyaknya konsep yang dapat diusung, pencerita dapat menampilkan cerita secara menarik dan kreatif sehingga aanak tidak merasa bosan. Belajar sambil bermain adalah suatu hal yang tidak pernah lepas dari seorang anak, hal inilah yang harus diingat oleh pencerita. Di masa sekarang, bercerita memang merupakan hal yang jarang dilakukan. Peran dan fungsinya sudah banyak tergantikan oleh tayangan televisi dan bermain game di komputer. Zaman memang dinamis, meski tidak selalu menimbulkan dampak yang harmonis. Terlepas dari semua itu, cerita memiliki kekuatan, fungsi dan manfaat sebagai media komunikasi, sekaligus metode dalam membangun kepribadian anak. Cara bercerita merupakan unsur yang membuat cerita itu menarik dan disukai anak-anak (Fakhrudin, 2009: 10). Layanan storytelling di perpustakaan biasanya digunakan untuk promosi perpustakaan. Seperti halnya  yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah kegiatan Storytelling atau Bercerita. Kegiatan ini rutin dilaksanakan seminggu sekali tiap hari kamis atau jum’at pagi dengan mengundang anak-anak TK. Layanan anak ini diberi ruang tersendiri yang terpisah dengan layanan remaja dan dewasa. Ruang layanan anak dapat disulap menjadi dunia anak yang tidak jauh dari bermain. Dunia, dimana semua anak memiliki peluang cukup besar untuk mengembangkan kapasitas individual mereka dalam lingkungan yang mendukung. Dunia yang mendorong perkembangan fisik, psikologis, spiritual, sosial, emosional, kognitif dan budaya anak-anak. Dengan memberikan layanan storytelling ini berarti Perpustakaan Provinsi telah ikut mendukung dan berupaya untuk menumbuhkan minat baca pada anak sedini mungkin. Menyajikan storytelling yang menarik bagi anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi anak-anak hanya dapat berkonsentrasi mendengarkan cerita hanya dalam waktu singkat, jika waktu bercerita terlalu lama akan membuat anak merasa cepat bosan dan tidak antusias lagi. Dengan adanya kegiatan storytelling tentu dapat memberikan pengaruh pada anak. Pengaruh tersebut dapat berupa pertumbuhan minat baca, hal inilah yang menarik untuk dievaluasi. Diharapkan kehadiran storytelling dapat menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa kegiatan ini bisa memotivasi anak- anak kita sejak usia dini agar mencintai perpustakaan, mencintai buku, mencintai dunia membaca dan siapa tahu nantinya bisa menjadi seorang penulis handal. Salam Literasi!!!   DAFTAR PUSTAKA   Fakhrudin, 2009. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosda Karya, Bunanta.  2009. Pendidikan Bagi anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
Harus adanya kerjasama yang baik Pejabat Struktural  dengan Fungsional Pustakawan
19 Feb 2019

Harus adanya kerjasama yang baik Pejabat Struktural dengan Fungsional Pustakawan

Hubungan kerja harus secara terus-menerus ditingkatkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara optimal. Sebagaimana diketahui bahwa dalam suatu organisasi memiliki tujuan. Untuk mencapai tujuan itu, orang-orang atau bagian-bagian yang terkandung di dalam organisasi dan pihak-pihak yang terkait dengan pencapaian tujuan, harus melakukan hubungan kerja dengan sebaik-baiknya. Hubungan kerja juga, timbul karena masing-masing yang tergabung dalam organisasi mengadakan pembagian kerja untuk memperoleh efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan. Setiap bagian mempunyai fungsi. Setiap bagian mempunyai sasaran dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Untuk dapat mencapai tujuan organisasi maupun sasaran dari masing-masing bagian organisasi pada dasarnya harus ada hubungan kerja antara individu-individu. Dalam sebuah Dinas Kearsipan dan Pepustakaan pada sebuah Provinsi atau Daerah terdapat  Jabatan Struktural dan Jabatan Fungsional. Jabatan struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang pegawai negri sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi negara. (Peraturan Kaperpusnas RI No.36 Tahun 2005). Jabatan fungsional pegawai negeri sipil bertujuan untuk pengembangan profesionalisme dan pembinaan karier pegawai negeri sipil serta peningkatan mutu pelaksanaan tugas. Kriteria yang pertama adalah mempunyai metodologi, teknik analisis, teknik dan prosedur kerja yang didasarkan atas disiplin ilmu pengetahuan dan/atau pelatihan teknis tertentu dengan sertifikasi, kedua, memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. Ketiga, dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan tingkat keahlian dan atau ketrampilan. Keempat, pelaksanaan tugas bersifat mandiri dan yang terakhir yang kelima adalah Jabatan tersebut diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi. Disini yang akan kita bahas adalah Jabatan Fungsional Pustakawan, Dalam PERMENPAN No. 09 Tahun 2014 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya, Jabatan Fungsional Pustakawan adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan. Pustakawan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan. Sebagian besar PNS lebih mendambakan jabatan struktural daripada jabatan fungsional pustakawan. Selain tunjangan jabatan struktural lebih besar, faktor “gengsi” atau prestise juga turut berperan. Sedangkan tunjangan jabatan fungsional pustakawan tidak berbeda jauh dengan tunjangan staf umum. Padahal, beban pekerjaan seorang pustakawan jelas lebih tinggi dari pada staf umum. Hal inilah yang sering dirasa kan kurang adil oleh teman–teman pustakawan. Tugas pokok pustakawan adalah kegiatan di bidang kepustakawanan yang meliputi pengelolaan perpustakaan yang terdiri dari perencanaan penyelenggaraan kegiatan perpustakaan dan monitoring serta evaluasi penyelenggaraan kegiatan perpustakaan. Pelayanan perpustakaan, terdiri atas pelayanan teknis dan pelayanan pemustaka. Pengembangan sistem kepustakawanan, terdiri atas pengkajian kepustakawanan, pengembangan kepustakawanan, serta penganalisisan/pengkritisian karya kepustakawanan dan penelaahan pengembangan sistem kepustakawanan. Saat ini pejabat struktural masih beranggapan bahwa pustakawan adalah bagian dari stafnya, sehingga wajib bagi mereka melaksanakan kegiatan unit kerjanya tanpa mempertimbangkan kebutuhan jejang jabatan fungsional pustakawannya. Di sisi lain, pustakawan yang telah terkondisikan dalam tatanan kerja sebagai staf bidang, bekerja atas dasar perintah atasan, tidak ada keinginan untuk berkarya, berkreasi menciptakan kegiatan untuk memenuhi tuntutan profesi. Dampak dari kondisi yang demikian adalah pustakawan tidak dapat mengumpulkan angka kredit dalam jangka waktu yang ditetapkan. Sehingga terlihat jelas bahwa tanpa adanya hubungan kerja yang baik  antar berbagai pihak di dalam organisasi maka proses administrasi dari organisasi tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan efektifitas serta efisiensi organisasi yang bersangkutan akan terganggu. Semua pihak baik itu pejabat fungsional maupun struktural hendaknya sadar bahwa semua unit merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung untuk mencapai tujuan organisasi. Adanya rasa solidaritas, toleransi dan saling pengertian akan menciptakan kerjasama yang baik dalam suatu organisasi sehingga suasana kerja semakin harmonis.

Anggya Dwie Permatasari Baca Selengkapnya
ILMU PERPUS?
7 Feb 2019

ILMU PERPUS?

“Kuliah dimana? Universitas blablabla…., ngambil apa? Ilmu perpus.” Dan kemudian hening seketika. Penggalan obrolan tersebut merupakan obrolan mainstream yang pasti dialami semua rekan yang kebetulan kecemplung ataupun yang memang merencanakan mengabdikan dirinya menempuh pendidikan ilmu perpustakaan. Hal ini berlaku umum untuk seluruh jurusan ilmu perpustakaan, baik itu ditambahkan kata informasi, komunikasi dan teknologi-pun pada nama jurusannya. Jika ingin melanjutkan dialog diatas pastinya diikuti kalimat ”hah?” dengan ekspresi mengernyitkan dahi, dan disambung dengan pertanyaan yang mengarah pada penghinaan ala netizen yang menohok “jurusan apa tuh?”, “belajar apaan?”, “jadi apa ntar?”, jagain buku gitu?” dan yang paling sadis adalah “hah, emang ada ya jurusan itu?”. Sedih aku tuh. Memang tidak ada salahnya pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena orang bertanya menandakan ketidaktahuan mereka terhadap jurusan atau program studi (prodi) yang termasuk langka ini. Karenanya ada baiknya mahasiswa maupun alumni jurusan ilmu perpustakaan bisa menjadi kader-kader yang dapat mengemban tugas menjelaskan perihal jurusan terhadap kaum awam. Jurusan ini dianggap langka bukanlah karena usianya, karena jika melihat fakta yang ada usianya sudah mencapai 60 tahun lebih. Pendidikan pustakawan di Indonesia dimulai pada tahun 1952 dengan dibukanya Kursus Pendidikan Pegawai Perpustakaan yang dikelola oleh Biro Perpustakaan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan (Sulistyo Basuki: 2013). Namun pendirian jurusan ilmu perpustakaan melalui Lembaga pendidikan yang dikelola Universitas berlangsung antara 1961 s.d. 1969, Universitas Indonesia (UI) merupakan lembaga pendidikan yang pertama kali membuka jurusan ilmu perpustakaan. Kini, Di Indonesia sudah ada sekitar 32 instansi yang menyelanggarakan pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi, mulai dari program diploma 2, diploma 3, sarjana 1, dan sarjana 2 Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang tersebar di berbagai universitas atau perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Pada tahun ajaran 2012/2013, Universitas Gajah Mada Yogyakarta merupakan satu-satunya universitas di Indonesia yang sudah membuka Jurusan Ilmu Perpustakaan jenjang Sarjana 3 (doktor) pada Program Studi Culture Media, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Sementara itu, sudah ada lima universitas yang membuka jenjang Sarjana 2 (magister) ilmu perpustakaan, yaitu: Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (Wahid Nashihuddin: 2014). Selanjutnya cakupan apa saja yang dipelajari pada jurusan ini? jurusan ilmu perpustakaan adalah satu-satunya program studi yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja profesional dalam bidang pengelola perpustakaan yang menjadikan perpustakaan sebagai objek kajiannya mulai dari kegiatan teknisi perpustakaan, manajemen perpustakaan, bahkan aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Belajar ilmu perpustakaan berarti belajar perpustakaan, dokumentasi, dan informasi (pusdokinfo). Selain mengarahkan peserta didik menjadi tenaga ahli bagi semua jenis perpustakaan, lembaga informasi, dan dokumentasi, jurusan ini juga mengarahkan ke lembaga arsip dan lembaga manajemen rekod. Tau apa artinya itu? Peluang kerjanya menjanjikan. Contoh kecil adalah coba kalian buka seluruh lowongan PNS, di semua lembaga kementerian, pemerintah daerah dari Sabang sampai Merauke, hampir pasti terdapat penerimaan bagi pustakawan atau arsiparis dan posisi sesuai keahlian lulusan Ilmu Perpustakaan. Perumpaan sederhana lainnya adalah setiap perusahaan baik negeri maupun swasta bergerak pada bidang apapun dan dimanapun itu pasti mengeluarkan dokumen, nah itu peluangnya. Karenanya kompetensi mengorganisasikan, memproses, mengolah, menyebarkan, melayankan, serta melestarikan segala macam sumber informasi yang diperoleh dari pendidikan ilmu perpustakaan ini akan sangat membantu pengembangan karir dan banyak dicari. Trust me, it works. DAFTAR PUSTAKA Sulistyo Basuki. 2013. Ilmu Perpustakaan dan Informasi : Perkembangan dan Tantangannya di Indonesia. https://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/03/25/ilmu-perpustakaan-dan-informasi-perkembangan-dan-tantangannya-di-indonesia/. Wahid Nashihuddin. 2014. “Perkembangan Pendidikan Ilmu Perpustakaan Indonesia: Dari Masa Ke Masa” . Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 13 No. 1

Cahya Tri Wulan Baca Selengkapnya
MEMBENTUK PUSTAKAWAN PROFESIONAL  MENUJU PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN IDEAL
5 Feb 2019

MEMBENTUK PUSTAKAWAN PROFESIONAL MENUJU PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN IDEAL

Ideal merupakan kata yang akan memiliki banyak arti dikarenakan ini sangat berhubungan dengan pandangan pribadi seseorang. Akan sangat sulit untuk mengatakan bahwa sesuatu itu sudah ideal atau belum. Mungkin ideal bagi pemahaman satu orang akan sangat berbeda dengan pemahaman orang lain. Begitu juga halnya dengan sebuah perpustakaan ideal. Perpustakaan ideal akan memiliki pengertian bahwa perpustakaan itu mendekati atau hampir memenuhi keinginan semua orang dan harapan orang-orang terhadap sebuah perpustakaan. Walaupun pada akhirnya ideal ini tidak akan tercapai dikarenakan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Selalu saja ada hal-hal yang harus diperbaiki atau diperbaharui setiap hari bahkan setiap detiknya. Sudah tidak terbantahkan lagi arti penting kehadiran perpustakaan karena manfaatnya yang sangat besar bagi upaya mencerdaskan masyarakat baik yang tinggal di perkotaan, pedesaan, dan tidak mengenal status sosial, semua memerlukan perpustakaan. Ada beberapa hal yang harus dicapai atau dimiliki oleh sebuah perpustakaan yang bisa disebut ideal, antara lain gedung yang nyaman dan letaknya strategis serta didukung oleh teknologi informasi yang up to date, administrasi perpustakaan dikelola sesuai dengan prosedur, Jaringan sosial dan informasi antar perpustakaan terjalin dengan baik, adanya sumber dana yang cukup, dan yang tidak boleh dilupakan adalah memiliki SDM yang berkompeten di bidang perpustakaan. Perpustakaan yang selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat informasi erat hubungannya dengan SDM atau orang yang bekerja mengelola perpustakaan (pustakawan), bagi masyarakat awam profesi pustakawan merupakan pekerjaan most unpopular job (pekerjaan paling tidak menyenangkan) tetapi tidak semua orang tahu bahwa pekerjaan pustakawan sangatlah kompleks, bergengsi dan intelek karena pekerjaannya bersentuhan dengan ilmu pengetahuan dan memerlukan keahlian khusus. Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi yang menghimpun para pustakawan (dalam Rachman, 2006: 45-46) menyatakan bahwa “pustakawan” adalah seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara professional di bidang perpustakaan dan informasi. Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah profesi bagi orang yang bekerja di perpustakaan dan pusat informasi. Profesi pustakawan tidak membedakan antara pustakawan pemerintah (PNS) atau pustakawan swasta (NON- PNS).  Dari uraian diatas menimbulkan beberapa pertanyaan, bagaimana dengan kondisi profesionalisme pustakawan saat ini, apakah pustakawan sudah melaksanakan tugasnya dengan profesional? Karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada pustakawan yang belum profesional dalam pekerjaannya, berikut ini merupakan faktor pemicu ketidakprofesionalan pustakawan dalam pekerjaan antara lain: 1.    Latar belakang pendidikan pustakawan. Latar belakang pendidikan pustakawan yang non-perpustakaan sedikit banyak dapat menghambat lancarnya kegiatan kerja sehingga profesionalisme pustakawan sebagai tenaga fungsional diragukan. Pernyataan pustakawan merupakan tenaga profesional yang menuntut keahlian khusus, sesuai dengan pernyataan Lasa HS dalam Blog Cerita Ning (http://ceritaning.blogspot.com)  bahwa “pendidikan profesional diarahkan terutama untuk penguasaan keahlian tertentu”. Pengelola yang berpendidikan Ilmu Perpustakaan diharapkan selain dapat menguasai dan mengembangkan Ilmu Perpustakaan, juga dapat mengembangkan profesi kepustakawanan. Dengan begitu seorang pustakawan bisa menduduki dan melaksanakan jabatan fungsional dengan baik. Saat ini, untuk membentuk pustakawan yang profesional di bidangnya selain melalui pendidikan formal, bisa juga didapat dari pendidikan non formal yaitu berupa training dan pelatihan secara continue di bidang perpustakaan. 2.    Ketidakmampuan pustakawan dalam berkomunikasi dengan baik. Penyebab ketidakmampuan pustakawan dalam berkomunikasi diantaranya pustakawan tidak percaya diri atau tidak yakin dengan kemampuannya, pustakawan tidak menguasai bahasa dan yang lainnya. Komunikasi merupakan salah satu soft competency pustakawan, Sri Rohyanti Zulaikha dalam Blog Cerita Ning (http://ceritaning.blogspot.com) mengatakan “..bahwa salah satu soft competency diantaranya adalah kemampuan komunikasi dan bagaimana berkomunikasi yang efektif karena pustakawan adalah  mitra intelektual yang memberikan jasa kepada pemakai’’. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang baik merupakan modal utama untuk mendukung kelancaran interaksi yang baik pula antar sesama pustakawan dan pustakawan dengan pemustaka sehingga pekerjaan sebagai penyedia jasa informasi dan penerima jasa informasi berjalan lancar. Selain itu, dapat dilakukan kegiatan pelatihan dan lomba menulis artikel, pidato, story telling dengan tujuan pustakawan terlatih dan termotivasi untuk menulis sehingga masalah komunikasi dapat diatasi.  3.    Belum adanya kesiapan pustakawan sebagai penyedia jasa informasi.  Dalam arti pustakawan masih menganggap dirinya hanya duduk diam menjaga koleksi. Ini disebabkan kurangnya rasa ingin tahu dan rasa empati terhadap pekerjaan dan pengguna. Untuk itu, perlu diadakannya suatu pelatihan yang mengasah emotional intelligence pustakawan. Pelatihan ini bertujuan untuk memahami perasaan sendiri dan orang lain sekaligus dapat memotivasi diri untuk lebih peka terhadap lingkungannya. Terwujudnya perpustakaan ideal tergantung kepada peran nyata seluruh pihak terkait, baik masyarakat, pemerintah, swasta, dan pengelola perpustakaan itu sendiri. Karena perpustakaan ideal tidak akan pernah memiliki makna jika hanya sebatas gambaran dan tulisan yang tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, aksi nyata seluruh pihak menjadi penentu terbangun atau tidaknya serta berhasil atau gagalnya perpustakaan ideal itu. Dengan memiliki SDM yang profesional di bidang perpustakaan akan mendukung pengembangan perpustakaan ideal yang dapat memenuhi keinginan dan harapan orang banyak, sehingga perpustakaan ideal yang diidamkan mudah-mudahan dapat menjadi kenyataan.       DAFTAR PUSTAKA   Rachman, Hermawan.2006. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik  Pustakawan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto.   Lasa.HS.2010. ”Pendidikan dan Profesi Pustakawan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html   Zulaikha, Sri Rohyanti.2010. Materi Perkuliahan “Ketrampilan Sosial dalam Konteks Kepustakawanan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html.  

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
KETERAMPILAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF SEBAGAI BENTUK PENGEMBANGAN POTENSI DIRI SEORANG PUSTAKAWAN
28 Jan 2019

KETERAMPILAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF SEBAGAI BENTUK PENGEMBANGAN POTENSI DIRI SEORANG PUSTAKAWAN

Dalam lingkup perpustakaan, peran seorang pustakawan sangat besar pengaruhnya. Seorang pustakawan sebagai individu memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan secara optimal. Pengembangan diri ini dapat terlaksana dengan baik apabila pustakawan itu mampu menjalin komunikasi yang efektif. Melalui berbagai media komunikasi, pustakawan dapat mengekspresikan diri, mempengaruhi orang lain, menjalin kerjasama, dan meningkatkan potensi diri. Dalam hal ini, pustakawan memiliki peran strategis karena pustakawan bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan informasi. Bidang-bidang ini sangat diperlukan oleh profesi dan fungsional. Pustakawan adalah pelaku langsung kegiatan layanan, sehingga kualitas pustakawan akan berpengaruh pada kualitas layanan perpustakaan. Kualitas pustakawan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain latar belakang pendidikan yang akan menentukan keahliannya, kepribadiannya, dan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi dalam hal ini komunikasi yang efektif sangat penting, karena dalam pekerjaannya pustakawan akan berhadapan langsung dengan para pengguna perpustakaan. Keterampilan pustakawan dalam melakukan komunikasi yang efektif akan menentukan keberhasilan pustakawan tersebut dalam melaksanakan tugasnya. Dengan adanya kemampuan komunikasi ini, seorang pustakawan akan mampu membangun konsep diri, mengaktualisasikan diri, memperoleh kebahagiaan, dan memupuk silaturrahim dengan sesama. Pengertian komunikasi yang efektif dapat dikutip dari paradigma  yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut : Who Says What in Which Chancel to Whom With what Effect?. Paradigma Lasswell tersebut menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni: Komunikator (Communicator, source, sender) Pesan (Message) Media (Channel, media) Komunika (communicant, communicate, receiver, recipient) Efek (effect, impact, influence).   Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. ( dalam Effendy, 10 : 2009). Agar komunikasi yang efektif menjadi berhasil, seorang pustakawan haruslah memahami maknanya secara mendalam. Kelima unsur diatas haruslah ada, sehingga apabila komunikasi yang efektif sudah dilakukan maka potensi diri seorang pustakawan pun menjadi berkembang. Potensi diri dalam ilmu psikologi adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik, sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik, prilaku dan psikologis yang dimiliki. Kekhasan potensi diri yang dimiliki seseorang pustakawan berpengaruh besar pada pembentukan pemahaman diri dan konsep diri. Ini juga terkait erat dengan prestasi yang hendak diraih didalam hidupnya. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dalam konteks potensi diri adalah jika terolah dengan baik akan memperkembangkan baik secara fisik maupun mental. Dalam hubungannya dengan dunia kepustakawanan, potensi diri yang berkembang dengan baik dalam bidang komunikasi yang efektif akan memperlancar hubungan yang erat dengan pengguna atau user di perpustakaan. Pustakawan tersebut akan dianggap mampu, ahli di bidangnya dan bisa dipercaya karena dari komunikasi yang baik akan dapat mencerminkan penguasaan informasi di segala bidang. Mudah-mudahan keinginan untuk mengembangkan potensi diri lewat ketrampilan komunikasi yang efekif bisa diwujudkan dan itu diawali dari kesadaran diri dari pustakawan tersebut.         DAFTAR PUSTAKA   Rachman, Hermawan.2006. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik  Pustakawan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto.   Lasa.HS.2010. ”Pendidikan dan Profesi Pustakawan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
Menarik Minat Baca Anak dengan Perpustakaan Mini di Rumah
25 Jan 2019

Menarik Minat Baca Anak dengan Perpustakaan Mini di Rumah

Membaca adalah kegiatan yang amat menyenangkan, terlebih jika ditunjang dengan tempat membaca yang nyaman. Memiliki perpustakaan pribadi di rumah adalah impian yang amat wajar. Manfaat perpustakaan bukan hanya untuk menyimpan buku, tetapi juga bisa menjadi ruang rekreasi yang membuat tenang.  Apalagi saat dapat melakukannya di dalam rumah atau kamar sendiri, tentu akan  benar-benar membahagiakan.  Kita dapat menghadirkan budaya membaca di rumah sendiri, salah satu caranya adalah dengan membuat perpustakaan mini di rumah. Buku memiliki peran penting dalam perpustakaan. Tentu saja, karena buku merupakan sumber utama sebuah perpustakaan. Dari waktu ke waktu, tanpa kita sadari koleksi buku yang kita miliki sudah menumpuk di pojok-pojok ruangan, sebagian terselip di antara furnitur atau perabot. Ketika sudah mengetahui berapa banyak buku yang kita miliki, hal yang akan dilakukan selanjutnya adalah menentukan bagian mana yang akan dijadikan sebagai perpustakaan. Strategi mengatur buku berdasarkan warna memiliki potensi untuk menghindari terlalu banyak barang yang tidak beraturan, sekaligus membuat buku-buku tertata secara dekoratif. Kita dapat menyediakan satu ruangan khusus dengan besaran yang cukup untuk dijadikan perpustakaan, tidak perlu ruangan yang terlalu besar, karena ruang yang berukuran sedangpun bisa kita sulap menjadi sebuah Perpustakaan Mini di rumah. Carilah rak buku yang kuat dan menonjolkan buku-buku itu sendiri. Sebenarnya tidak ada salahnya menggunakan lemari. Tetapi, jika kita mempunyai ruang yang kecil, lemari akan memakan luasan lebih banyak. Selain itu, penyimpanan buku di dalam lemari tidak praktis dan harganya cukup mahal. Agar ruangan tidak membosankan dan anak-anak anda betah di perpustakaan, kita dapat mempercantik ruangan dengan menambah beberapa furniture tambahan serta bermain dengan warna dinding pada ruangan agar terlihat lebih menarik dan dapat menjadi daya tarik bagi pemilik rumah bahkan bagi para tamu atau kerabat kita yang berkunjung kerumah kita.Jika hendak menata ulang koleksi buku kita, ada baiknya menyortir terlebih dahulu buku-buku yang akan diletakkan pada lemari atau rak. Memilih lokasi untuk membuat ruang pustaka itu gampang-gampang susah. Ruangan dengan penerangan alami yang berlimpah tentu bagus untuk bersantai dan membaca. Bila memungkinkan, buatlah rak buku di setiap ruangan. Hal ini adalah cara untuk memanfaatkan kembali ruangan-ruangan yang tidak terpakai. Sebuah dinding pemisah antara ruangan yang satu dengan ruangan yang lainnya dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan buku-buku. Dinding Anda tak akan terlihat sepi dan membosankan lagi, sedangkan buku-buku Anda dapat tersimpan rapi di sana. Ini juga merupakan salah satu cara untuk menarik dan menumbuhkembangkan minat baca anak-anak sejak dini dimulai dari dalam rumah dan dilingkungan keluarga. Membiasakan anak-anak gemar membaca menjadi cara yang baik bagi tumbuh kembang mereka. Anak akan memiliki pengetahuan lebih dari buku yang dibaca.

Anggya Dwie Permatasari Baca Selengkapnya