Eksistensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Di Era Digital
Pendahuluan
Perpustakaan dan informasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, menurut Darmono (2001) perpustakaan pada hakekatnya adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya, sedangkan Pengertian Informasi Menurut Gordon B. Davis (1991: 28) adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan saat ini atau mendatang. Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perpustakaan dan informasi harus saling berhubungan agar data yang diolah untuk pemakainya dapat dijadikan sumber belajar atau sumber informasi. Semakin meningkatnya kebutuhan seseorang terhadap informasi, membuat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin cepat sehingga dapat membawa perubahan dari berbagai sector, termasuk pada dunia perpustakaan.
Perpustakaaan yang dulunya hanya sebatas koleksi tercetak baik itu buku, majalah dan jurnal dengan perkembangan teknologi semakin berubah dan berbenah, ledakan informasi yang semakin cepat memiliki dampak yang kompleks terhadap pendidikan dan perpustakaan sebagai pengolah informasi. Informasi menjadi semakin beragam serta pengemasan informasi menjadi lebih beragam pula. Saat ini, zaman telah menuntut yang lebih praktis, koleksi perpustakaan dituntut dalam bentuk digital dan bisa diakses dengan mudah supaya perpustakaan lebih menarik dan untuk memberikan pemustaka kepuasan dalam menggunakan layanan perpustakaan.
Era digital atau yang saat ini disebut era internet membuat perubahan dalam proses pencarian informasi. Berdasarkan data yang telah dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan Survei yang dilakukan sepanjang 2016 menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang. Data survei juga mengungkap bahwa rata-rata pengakses internet di Indonesia menggunakan perangkat genggam. Statistiknya yaitu 67,2 juta orang atau 50,7 persen mengakses melalui perangkat genggam dan computer, 63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari smartphone dan 2,2 juta orang atau 1,7 persen mengakses hanya dari computer. Ini menunjukkan bahwa era internet memberikan dampak perubahan dalam menemukan informasi, perpustakaan yang seharusnya tempat yang nyaman dalam pencarian informasi kini berubah dengan adanya internet pengguna perpustakaan dengan mudah menemukan informasi tanpa harus keperpustakaan, dengan kata lain perpustakaan dalam genggamanmu.
Era digital menjadi peluang maupun tantangan bagi sektor perpustakaan, terutama peran perpustakaan perguruan tinggi dalam meningkatkan pelayanan. perpustakaan perguruan tinggi harus berbenah dalam hal pelayanan dan pengemasan informasi serta persebaran informasi ilmu pengetahuan. Perpustakaan harus menjadi sasaran utama buat civitas akademik dalam memperoleh informasi, untuk itu perpustakaan harus selalu memperbaharui koleksi baik itu tercetak maupun non cetak. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi sudah bergerak kearah perpustakaan digital dan ada juga yang hybrid. Menurut ahli Perpustakaan hybrid atau sering disebut perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang menggunakan dua cara yaitu cara elektronik dan tercetak, dipadukan untuk saling menunjang satu dengan yang lainnya. Perpustakaan hybrid sering juga disebut perpustakaan campuran, yaitu bercampurnya koleksi elektronik dengan koleksi non elektronik.
PEMBAHASAN
A. Peluang Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital
Perpustakaan yang dulu hanya sebagai sarana pinjam dan kembali koleksi, dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan ledakan informasi membuat pustakawan yang bertugas menjadi aktif memberikan sosialisasi dan promosi yang menarik bagi civitas akademik. Pustakawan sebagai pelayan informasi memiliki tugas yang kompleks disamping sebagai pelayan informasi juga berperan sebagai pengolah informasi. pustakawan dituntut juga dapat memberikan pelayanan kepada civitas akademik yang memiliki kebutuhan yang beragam. Disamping layanan yang ada, perpustakaan juga harus dapat melakukan kegiatan layanan seperti
1. Layanan internet, dimana pengguna dapat mengakses berbagai judul buku yang dibutuhkan.
2. Layanan penelusuran e-jurnal, dalam hal ini banyak pengguna informasi tidak mengetahui bagaimana mencari jurnal pada database, baik itu yang dilanggan maupun yang ditemukan dimesin pencari.
3. Membuka website tentang pengetahuan kepustakaan, dalam hal ini setiap informasi yang terbaru tentang kegiatan inovatif dari perpustakaan, Jika perpustakaan dapat melakukan kegiatan-kegiatan tersebut secara aktual dan inovatif, mungkin respon pengguna terhadap perpustakaan akan bertambah dan akhirnya pengguna akan menggunakan informasi yang ada di perpustakaan tersebut.
Perpustakaan yang dibutuhkan itu adalah dimana pemakai perpustakaan dapat memberikan pelayanan jasa informasi yang cepat dan canggih. Layanan jasa informasi inilah yang memiliki nilai jual. Layanan jasa yang diberikan perpustakaan kepada civitas akademika akan membangun kepercayaan pengguna untuk mau ke perpustakaan.
Perpustakaan dikatakan berhasil jika, pelayanan kepada pengguna atau civitas akademik dalam pencarian sumber informasi berjalan dengan baik. Perpustakaan harus mengikuti atau harus memiliki informasi yang uptodate melalui berbagai media di internet untuk keperluan pengguna.
Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu perpustakaan harus mempunyai kekuatan dalam bidang sebagai berikut:
1. Sumber daya manusia. dalam hal ini sumber daya manusia yang ada pada perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan TI sehingga mampu memberikan pelayanan dengan baik kepada civitas akademik.
2. Pustakawan harus mampu dalam menangani kasus-kasus terutama dalam hal penelusuran informasi.
3. Koleksi bahan pustaka. Koleksi adalah kekuatan dari perpustakaan baik itu buku, majalah, dan jurnal harus selalu mutakhir. Pengelolaan koleksi secara sistematis sehingga mudah ditemukan kembali informasi. Kekuatan koleksi perpustakaan merupakan daya tarik bagi pemakai, apabila koleksinya lengkap dan pemakainya banyak maka intensitas sirkulasi akan meningkat dan perpusakaan tersebut akan selalu dicari oleh penggunanya.
4. Sarana dan prasarana. Dengan sumber daya manusia dan koleksi yang baik, apabila tidak ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai maka perpustakaan tersebut tetap tidak akan berkembang, maupun kurang diminati penggunanya sehingga kelengkapan sarana dan prasarana penujang kegiatan pokok perpustakaan harus selalu tersedia.
5. Pengunjung, anggota dan masyarakat pemakai. Sasaran utama penyelenggaraan suatu perpustakaan adalah pengunjung atau pemakai perpustakaan.
B. Tantangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital
Hal yang nyata dan tidak disadari oleh perpustakaan dalam rangka pengembangan perpustakaan di era perkembangan teknologi informatika yang semakin pesat adalah ketidak pedulian pustakawan dengan dunia luar. Pustakawan kurang bergaul dengan pustakawan lain dalam hal berbagi informasi, sehingga komunikasi antara pengguna dan pustakawan tidak berjalan dengan lancar.
Dari kelemahan di atas dapatlah dikemukakan bahwa dalam rangka pengembangan perpustakaan di era digital terdapat kelemahan-kelemahan pada perpustakaan. Kelemahan tersebut dapat dirasakan perpustakaan sebagai penghambat perkembangan perpustakaan yaitu Sumber daya, dalam hal ini mencakup segala sesuatu yang menjadi bagian atau unsur penyelenggaraan kegiatan perpustakaan, seperti gedung, sumber daya manusia, koleksi bahan pustaka, sarana prasarana dan dana. Khususnya sumber daya manusia selama ini orang selalu memberikan stigma negatif pada perpustakaan sehingga sering kali perpustakaan merupakan tempat orang-orang bermasalah. Bagaimana perpustakaan akan berkembang dengan baik jika stigma itu masih melekat. Agar perpustakaan dapat berkembang atau eksis di dunia luar dan dicari pengguna maka sumber daya yang ada harus memiliki kualifikasi tertentu khususnya kualifikasi di bidang perpustakaan.
Sebuah perpustakaan semestinya menjadi sumber informasi, namun sampai saat ini perpustakaan belum bisa berperan secara maksimal, perpustakaan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna untuk mempersempit jarak antara perpustakaan dengan pengguna informasi. kriteria pelayanan perpustakaan diera digital saat ini tidak terlepas dari peran pustakawan menjadi penting dikarenakan pustakawan menjadi aktor dalam setiap pengguna dan pengendalian sebuah informasi di perpustakaan, era digital mendorong pustakawan dapat bekerja dimana dan kapanpun artinya dunia digital dapat menambah produktifitas seorang pustakawan.
Era digital juga menciptakan generasi digital untuk itu perpustakaan dalam hal menyediakan pelayanan dan jenis layanan juga harus menyesuaikan agar tidak ditinggalkan oleh pengguna. Penyesuaian tersebut merupakan salah satu tantangan dalam meningkatkan layanan, adapun beberapa aspek untuk menigkatkan kualitas pelayanan terhadap generasi digital yaitu jenis pelayanan pada perpustakaan dalam hal ini menyediakan koleksi digital, layanan belajar yang nyaman, layanan perpustakaan keliling, layanan penelusuran temu kembali informasi satu pintu, layanan berbasis web agar pemustaka dapat beinteraksi dengan pemustaka lain.
C. Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital
Perpustakaan terus berkembang sesuai perkembangan zaman, namun peran, tugas dan fungsi utama perpustakaan tetap mengutamakan kepuasan pengguna. Dalam bukunya Sutarno mengatakan bahwa peran perpustakaan akan terlihat dan dirasakan oleh masyarakat manakala perpustakaan dapat melaksanakan semua kegiatannya dengan baik dan memberi manfaat /nilai guna. Berperan atau tidaknya perpustakaan tergantung kepada kemampuan, kredibilitas, dan kompetensinya sebagai salah satu sumber informasi dan institusi pendidikan dalam arti luas. (Sutarno NS, 2005 :59). Peran perpustakaan yang dimaksud disini adalah kedudukan, posisi, dan tempat yang dimainkan. Apakah penting, strategis, sangat menentukan, berpengaruh, atau hanya sebagai pelengkap dan lain sebagainya.
Dari sisi pandang yang lebih luas peran perpustakaan merupakan agen perubahan, pembangunan, dan agen budaya dan pengembangann ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan selalu terjadi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan zaman seiring dengan sifat manusia yang selalu ingin tahu, eksplorer, dan berbudaya. Dalam hal ini termasuk perubahan nilai-nilai, pengayaan dan pencerahan kehidupan umat manusia agar tetap seimbang antara hal-hal yang bersifat fisik jasmaniah dan kejiwaan rohaniyah dan tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat materi belaka dan terhindar dari kehancuran karena tindakan orang-orang yang kurang bertanggung jawab. (Sutarno NS: 2005:61).
Generasi saat ini semakin modern dan untuk kebutuhan informasinya juga semakin beragam, terutama civitas akademik. Masyarakat perguruan tinggi saat ini harus diberikan informasi yang terbaru dan mutahir, informasi yang tersedia di internet memberikan peluang yang baik buat perpustakaan untuk berubah pada layanan maupun perannya. Perpustakaan perguruan tinggi harus menjadi fasilitator, mediator informasi maupun pendamping dalam pendidikan.
Perpustakaan menjadi fasilisator ataupun pendamping dalam pendidikan bagi civitas akademik untuk berlatih berpikir kritis dan belajar secara mandiri. Menyediakan ruang-ruang diskusi, berkolaborasi dalam mengerjakan proyek bersama, menyediakan publikasi artikel-artikel yang layak diterbitkan, membuat seminar-seminar dalam menunjang kegiatan penelitian dan penulisan, ini merupakan peranan baru dalam kegiatan perpustakaan. Untuk melakukan peranan perpustakaan ini, pustakawan dapat dibantu oleh teknologi informasi yang tersedia di perpustakaan. Teknologi informasi membantu pustakawan dalam melakukan penelusuran dengan efektif dan efisien. Pustakawan juga harus membekali pengetahuannya mengenai teknologi informasi.
Dalam peranannya sebagai mediator, perpustakaan dituntut untuk menyediakan hubungan hubungan dengan para ahli ataupun pusat-pusat informasi dengan cara mencari, mengumpulkan, bekerjasama, baik secara gratis maupun berlangganan pangkalan data yang sesuai. Penyediaan sarana jaringan maupun terminal komputer menjadi suatu kebutuhan dalam memberikan layanan pada suatu institusi secara fleksibel. Peranan perpustakaan sebagai penunjuk jalan dalam hal menunjukkan cara yang benar dalam memilih informasi, mencari alat penelusuran yang tepat, membuat ringkasan ataupun ulasan artikel serta membimbing dalam memakai dan memahami cara bekerja alat penelusuran maupun teknologi informasi tersebut.
Perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya masyarakat intelektual yang berpikir secara sistematis. Bagi masyarakat perguruan tinggi, perpustakaan merupakan tempat yang sangat produktif untuk mengembangkan dan menggali pengetahuannya. Masyarakat perguruan tinggi lebih banyak membutuhkan dan mencari informasi dibandingkan masyarakat umum lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perpustakaan perguruan tinggi di tuntut untuk melengkapi fasilitas dan layanannya. Peranan perpustakaan sudah di bahas diatas dan untuk mengaplikasikannya di perguruan tinggi dibutuhkan kerjasama dari perbagai pihak. Baik dari pihak Rektorat, kepala perpustakaan, Dekan di fakultas, pegawai dan dosen serta mahasiswanya. Kerjasama yang baik ini akan memberikan citra yang baik untuk perpustakaan terutama perpustakaan perguruan tinggi.
PENUTUP
Perkembangan informasi di era digital memiliki dampak yang besar terhadap perpustakaan, perpustakaan yang dulunya hanya menyediakan informasi tercetak mau tidak mau harus mengikuti perkembangan yang terjadi. Hal ini juga berdampak pada pustakawan yang senantiasa berkecimpung di dalam dunia informasi, pustakawan sebagai aktor harus ikut andil dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Eksistensi perpustakaan di era digital membuat pustakawan harus menguasai teknologi informasi, pustakawan harus mau belajar tanpa henti untuk tidak ketinggalan dalam teknologi informasi. Era digital harus menjadi patokan agar perpustakaan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pemustaka dalam pemenuhan informasi, hal ini membuat peran perpustakaan menjadi sangat penting dalam meningkatkan pelayanan, perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan pemustaka, perpustakaan dituntut dapat bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan pengguna agar pengguna mau menggunakan layanan perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Nusantari, 2012. Strategi Pengembangan Perpustakaan. Jakarta: prestasi Pustaka Publisher
Eko Sugiarto, 2015. Menyusun proposal penelitian Kualitatif skripsi dan tesis. Yogyakarta: Suaka Media.
Eri Maryani, 2016. Peningkatan kualitas layanan perpustakaan untuk digital native generation ( Perspektif perubahan karakter pemustaka di Era Digital). Lampung: Prosiding Seminar Nasional Komunikasi. 212-220.
Gordon B. Davis, 1991. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian 1, Jakarta: PT Pustaka Binamas Pressindo.
Hutasoit, Hidayati Roudah. 2008. Peran Teknologi Informasi di Perpustakaan Perguruan tinggi. Lampung: Jurnal Iqra Vol. 02 No 01 : 53-61
Junaeti dan Agus Arwani, 2016. Peran perpustakaan dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi (Konstruksi pelayanan, Stategi, dan Citra Perpustakaan). Pekalongan : Jurnal Libraria Vol. 4, No 1: 27-54.
Laura Wendell, 2001. Cara memulai dan mengelola sebuah perpustakaan dasar. Jakarta : coca-cola Foundation Indonesia.
Lasa H.S. 2014. Makalah Workhosp :Standardisasi Perpustakaan Perguruan tinggi Surakarta: 11 Juni
Merdansah, 2017. Peluang dan tantangan Pustakawa di Era TI untuk meningkatkan Mutu Layanan: Jurnal Al-Kuttab Vol. 4 :86-100
Misdar Piliang, 2015. Pengembangan dan inovasi untuk peningkatan layanan perpustakaan. Lampung: Jurnal Iqra Vol. 09, No 2 : 26-36.
Muryati dan Irwan Sulistyawan, 2014. Peluang dan Tantangan Pustakawan Dalam Menghadapi Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Jawa timur: Pustakaloka Vol. 6 No 1: 1-12.
Nuning Kurniasih, 2014. Era Digital ciptakan Hybrid Library. Jakarta : BISKOM mitra komunitas telematika ed. November. Hal 50-51.
Sutarno NS, 2005. Tanggung jawab perpustakaan : dalam mengembangkan Masyarakat informasi. Jakarta: Penata Rei
__________. 2005. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: yayasan Obor Indonesia
Supsiloani. 2006. Perpustakaan Digital sebagai Wujud Penerapan Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi. Medan : Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.2, No.1, Juni 2006: 32-36.
Sapril, H. 2017. Perpustakaan sebagai media pembelajaran mahasiswa. Lampung: Jurnal Iqra Vol. 1 No 1 : 66-76.
Triana Santi, 2016. Peran social perpustakaan di era digital native. Lampung: jurnal Iqra Vol. 10 No 2: 1-10
Wahyu supriyanto dan ahmad muhsin, 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan: strategi perancangan perpustakaan digital. Yogyakarta: Kanisius