Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

LIBRARY IS LIFESTYLE
7 Nov 2018

LIBRARY IS LIFESTYLE

Lifestlye bila diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah gaya hidup. Namun menurut  seorang  ahli  psikologi  Alfred  Adler  (1929),  gaya  hidup  adalah sekumpulan  perilaku  yang  mempunyai  arti  bagi  individu  maupun  orang  lain pada suatu saat di suatu tempat, termasuk didalam hubungan sosial, konsumsi barang, entertainment dan berbusana.  Gaya hidup dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek salah satunya teknologi informasi. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh pada perpustakaan. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang ini menjadikan perpustakaan memiliki tantangan yang besar sebagai penyedia sumber informasi. Perpustakaan sebagai pemilik dan pengolah informasi harus memahami kebutuhan penggunanya dengan menjalin komunikasi yang baik atau berinteraksi dengan penggunanya. Perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan suatu kenyataan dan fenomena yang baru, yaitu keharusan berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari pengguna, khususnya pengguna pelajar dan pemuda, yang menghendaki isi yang dinamis, interaktif dan bisa diberi sentuhan pribadi, isi yang dapat diambil tanpa harus datang keperpustakaan. Dalam membangun perpustakaan yang sesuai dengan gaya hidup pengguna dibutuhkan peran pustakawan. Menurut Qalyubi (2007:4) pustakawan yaitu orang yang bekerja di perpustakaan atau lembaga sejenisnya dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal. Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan harus dapat membangun perpustakaan yang mengkuti selera dan gaya hidup jaman sekarang diantaranya dengan membuat perpustakaan digital. Perpustakaan digital adalah organisasi yang melakukan kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital. Perpustakaan digital menjadi sebuah keniscayaan yang patut untuk dipikirkaan dan diwujudkan dalam waktu yang akan datang sehingga perpustakaan yang selama ini menjadi tempat yang ’wajib’ disinggahi untuk mencari buku yang berkualitas tetap menjadi alternatif pilihan utama oleh kalangan pelajar dan pemuda karena wajah dan layanan perpustakaan yang beradaptasi dengan perkembangan zamannya. Perpustakaan dapat mengambil peran yang lebih dari sekedar tempat membaca, tetapi melalui berbagai kegiatan kreatif dan inovatif sehingga menarik pengguna untuk datang ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan semaksimalnya. Kegiatan perpustakaan bisa berupa lomba dance, nyanyi, atau bentuk kegiatan lain yang diminati oleh pelajar. Pustakawan tidak hanya bekerja sendiri tetapi juga harus kerjasama dengan berbagai pihak untuk membangun opini publik bahwa berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan merupakan sebuah kebutuhan. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya harus disertai dengan berbagai perbaikan di internal perpustakaan sendiri. Tidak hanya fisik perpustakaan dan fasilitas yang lengkap dari perpustakaan tersebut, tapi juga harus ditingkatkan adalah kemampuan dan kreatifitas pustakawan untuk memanjakan pengunjung perpustakaan. Dengan adanya aspek tersebut maka pengguna menjadikan perpustakaan sebagai gaya hidupnya. Daftar Pustaka: Adler, Alfred. 1930. Individual Psychology. Worcester Mass: Clark Univ Press. http://omi-library.blogspot.com/2013/10/jadikan-budaya-baca-dan-berkunjung-ke.html (Diakses 01 November 2018)       Qolyubi, Syihabuddin Dkk. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.    

Uliarta Simanjuntak Baca Selengkapnya
Eksistensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Di Era Digital
7 Nov 2018

Eksistensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Di Era Digital

Pendahuluan Perpustakaan dan informasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, menurut Darmono (2001)  perpustakaan pada hakekatnya adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya, sedangkan Pengertian Informasi Menurut Gordon B. Davis (1991: 28) adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan saat ini atau mendatang.  Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perpustakaan dan informasi harus saling berhubungan agar data yang diolah untuk pemakainya dapat dijadikan sumber belajar atau sumber informasi. Semakin meningkatnya kebutuhan seseorang terhadap informasi, membuat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin cepat sehingga dapat membawa perubahan dari berbagai sector, termasuk pada dunia perpustakaan. Perpustakaaan yang dulunya hanya sebatas koleksi tercetak baik itu buku, majalah dan jurnal dengan perkembangan teknologi semakin berubah dan berbenah, ledakan informasi yang semakin cepat memiliki dampak yang kompleks terhadap pendidikan dan perpustakaan sebagai pengolah informasi. Informasi menjadi semakin beragam serta pengemasan informasi menjadi lebih beragam pula. Saat ini, zaman telah menuntut yang lebih praktis, koleksi perpustakaan dituntut dalam bentuk digital dan bisa diakses dengan mudah supaya perpustakaan lebih menarik dan untuk memberikan pemustaka kepuasan dalam menggunakan layanan perpustakaan.   Era digital atau yang saat ini disebut era internet membuat perubahan dalam proses pencarian informasi. Berdasarkan data yang telah dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan Survei yang dilakukan sepanjang 2016 menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang. Data survei juga mengungkap bahwa rata-rata pengakses internet di Indonesia menggunakan perangkat genggam. Statistiknya yaitu 67,2 juta orang atau 50,7 persen mengakses melalui perangkat genggam dan computer, 63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari smartphone dan 2,2 juta orang atau 1,7 persen mengakses hanya dari computer. Ini menunjukkan bahwa era internet memberikan dampak perubahan dalam menemukan informasi, perpustakaan yang seharusnya tempat yang nyaman dalam pencarian informasi kini berubah dengan adanya internet pengguna perpustakaan dengan mudah menemukan informasi tanpa harus keperpustakaan, dengan kata lain perpustakaan dalam genggamanmu. Era digital menjadi peluang maupun tantangan bagi sektor perpustakaan, terutama peran perpustakaan perguruan tinggi dalam meningkatkan pelayanan. perpustakaan perguruan tinggi harus berbenah dalam hal pelayanan dan pengemasan informasi serta persebaran informasi ilmu pengetahuan. Perpustakaan harus menjadi sasaran utama buat civitas akademik dalam memperoleh informasi, untuk itu perpustakaan harus selalu memperbaharui koleksi baik itu tercetak maupun non cetak. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi sudah bergerak kearah perpustakaan digital dan ada juga yang hybrid. Menurut ahli Perpustakaan hybrid atau sering disebut perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang menggunakan dua cara yaitu cara elektronik dan tercetak, dipadukan untuk saling menunjang satu dengan yang lainnya. Perpustakaan hybrid sering juga disebut perpustakaan campuran, yaitu bercampurnya koleksi elektronik dengan koleksi non elektronik. PEMBAHASAN A. Peluang Perpustakaan Perguruan Tinggi di  Era Digital Perpustakaan yang dulu hanya sebagai sarana pinjam dan kembali koleksi, dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan ledakan informasi membuat pustakawan yang bertugas menjadi aktif memberikan sosialisasi dan promosi yang menarik bagi civitas akademik. Pustakawan sebagai pelayan informasi memiliki tugas yang kompleks disamping sebagai pelayan informasi juga berperan sebagai pengolah informasi. pustakawan dituntut juga dapat memberikan pelayanan kepada civitas akademik yang memiliki kebutuhan yang beragam. Disamping layanan yang ada, perpustakaan juga harus dapat melakukan kegiatan layanan seperti 1. Layanan internet, dimana pengguna dapat mengakses berbagai judul buku yang dibutuhkan. 2. Layanan penelusuran e-jurnal, dalam hal ini banyak pengguna informasi tidak mengetahui bagaimana mencari jurnal pada database, baik itu yang dilanggan maupun yang ditemukan dimesin pencari. 3. Membuka website tentang pengetahuan kepustakaan, dalam hal ini setiap informasi yang terbaru tentang kegiatan inovatif dari perpustakaan, Jika perpustakaan dapat melakukan kegiatan-kegiatan tersebut secara aktual dan inovatif, mungkin respon pengguna terhadap perpustakaan akan bertambah dan akhirnya pengguna akan menggunakan informasi yang ada di perpustakaan tersebut. Perpustakaan yang dibutuhkan itu adalah dimana pemakai perpustakaan dapat memberikan pelayanan jasa informasi yang cepat dan canggih. Layanan jasa informasi inilah yang memiliki nilai jual. Layanan jasa yang diberikan perpustakaan kepada civitas akademika akan membangun kepercayaan pengguna untuk mau ke perpustakaan. Perpustakaan dikatakan berhasil jika, pelayanan kepada pengguna atau civitas akademik  dalam pencarian sumber informasi berjalan dengan baik. Perpustakaan harus mengikuti atau harus memiliki informasi yang uptodate melalui berbagai media di internet untuk keperluan pengguna. Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu perpustakaan harus mempunyai kekuatan dalam bidang sebagai berikut: 1. Sumber daya manusia. dalam hal ini sumber daya manusia yang ada pada perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan TI sehingga mampu memberikan pelayanan dengan baik kepada civitas akademik. 2. Pustakawan harus mampu dalam menangani kasus-kasus terutama dalam hal penelusuran informasi. 3. Koleksi bahan pustaka. Koleksi adalah kekuatan dari perpustakaan baik itu buku, majalah, dan jurnal harus selalu mutakhir. Pengelolaan koleksi secara sistematis sehingga mudah ditemukan kembali informasi. Kekuatan koleksi perpustakaan merupakan daya tarik bagi pemakai, apabila koleksinya lengkap dan pemakainya banyak maka intensitas sirkulasi akan meningkat dan perpusakaan tersebut akan selalu dicari oleh penggunanya. 4. Sarana dan prasarana. Dengan sumber daya manusia dan koleksi yang baik, apabila tidak ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai maka perpustakaan tersebut tetap tidak akan berkembang, maupun kurang diminati penggunanya sehingga kelengkapan sarana dan prasarana penujang kegiatan pokok perpustakaan harus selalu tersedia. 5. Pengunjung, anggota dan masyarakat pemakai. Sasaran utama penyelenggaraan suatu perpustakaan adalah pengunjung atau pemakai perpustakaan. B. Tantangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Hal yang nyata dan tidak disadari oleh perpustakaan dalam rangka pengembangan perpustakaan di era perkembangan teknologi informatika yang semakin pesat adalah ketidak pedulian pustakawan dengan dunia luar. Pustakawan kurang bergaul dengan pustakawan lain dalam hal berbagi informasi, sehingga komunikasi antara pengguna dan pustakawan tidak berjalan dengan lancar. Dari kelemahan di atas dapatlah dikemukakan bahwa dalam rangka pengembangan perpustakaan di era digital terdapat kelemahan-kelemahan pada perpustakaan. Kelemahan tersebut dapat dirasakan perpustakaan sebagai penghambat perkembangan perpustakaan yaitu Sumber daya, dalam hal ini mencakup segala sesuatu yang menjadi bagian atau unsur penyelenggaraan kegiatan perpustakaan, seperti gedung, sumber daya manusia, koleksi bahan pustaka, sarana prasarana dan dana. Khususnya sumber daya manusia selama ini orang selalu memberikan stigma negatif pada perpustakaan sehingga sering kali perpustakaan merupakan tempat orang-orang bermasalah. Bagaimana perpustakaan akan berkembang dengan baik jika stigma itu masih melekat. Agar perpustakaan dapat berkembang atau eksis di dunia luar dan dicari pengguna maka sumber daya yang ada harus memiliki kualifikasi tertentu khususnya kualifikasi di bidang perpustakaan. Sebuah perpustakaan semestinya menjadi sumber informasi, namun sampai saat ini perpustakaan belum bisa berperan secara maksimal, perpustakaan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna untuk mempersempit jarak antara perpustakaan dengan pengguna informasi. kriteria pelayanan perpustakaan diera digital saat ini  tidak terlepas dari peran pustakawan menjadi penting dikarenakan pustakawan menjadi aktor dalam setiap pengguna dan pengendalian sebuah informasi di perpustakaan, era digital mendorong pustakawan dapat bekerja dimana dan kapanpun artinya dunia digital dapat menambah produktifitas seorang pustakawan. Era digital juga menciptakan generasi digital untuk itu perpustakaan dalam hal menyediakan pelayanan dan jenis layanan juga harus menyesuaikan agar tidak ditinggalkan oleh pengguna. Penyesuaian tersebut merupakan salah satu tantangan dalam meningkatkan layanan, adapun beberapa aspek untuk menigkatkan kualitas pelayanan terhadap generasi digital yaitu jenis pelayanan pada perpustakaan dalam hal ini menyediakan koleksi digital, layanan belajar yang nyaman, layanan perpustakaan keliling, layanan penelusuran temu kembali informasi satu pintu, layanan berbasis web agar pemustaka dapat beinteraksi dengan pemustaka lain.   C. Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Digital Perpustakaan terus berkembang sesuai perkembangan zaman, namun peran, tugas dan fungsi utama perpustakaan tetap mengutamakan kepuasan pengguna. Dalam bukunya Sutarno mengatakan bahwa peran perpustakaan akan terlihat dan dirasakan oleh masyarakat manakala perpustakaan dapat melaksanakan semua kegiatannya dengan baik dan memberi manfaat /nilai guna. Berperan atau tidaknya perpustakaan tergantung kepada kemampuan, kredibilitas, dan kompetensinya sebagai salah satu sumber informasi dan institusi pendidikan dalam arti luas. (Sutarno NS, 2005 :59). Peran perpustakaan yang dimaksud disini adalah kedudukan, posisi, dan tempat yang dimainkan. Apakah penting, strategis, sangat menentukan, berpengaruh, atau hanya sebagai pelengkap dan lain sebagainya. Dari sisi pandang yang lebih luas peran perpustakaan merupakan agen perubahan, pembangunan, dan agen budaya dan pengembangann ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan selalu terjadi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan zaman seiring dengan sifat manusia yang selalu ingin tahu, eksplorer, dan berbudaya. Dalam hal ini termasuk perubahan nilai-nilai, pengayaan dan pencerahan kehidupan umat manusia agar tetap seimbang antara hal-hal yang bersifat fisik jasmaniah dan kejiwaan rohaniyah dan tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat materi belaka dan terhindar dari kehancuran karena tindakan orang-orang yang kurang bertanggung jawab. (Sutarno NS: 2005:61). Generasi saat ini semakin modern dan untuk kebutuhan informasinya juga semakin beragam, terutama civitas akademik. Masyarakat perguruan tinggi saat ini harus diberikan informasi yang terbaru dan mutahir, informasi yang tersedia di internet memberikan peluang yang baik buat perpustakaan untuk berubah pada layanan maupun perannya. Perpustakaan perguruan tinggi harus menjadi fasilitator, mediator informasi maupun pendamping dalam pendidikan. Perpustakaan menjadi fasilisator ataupun pendamping dalam pendidikan bagi civitas akademik  untuk berlatih berpikir kritis dan belajar secara mandiri. Menyediakan ruang-ruang diskusi, berkolaborasi dalam mengerjakan proyek bersama, menyediakan publikasi artikel-artikel yang layak diterbitkan, membuat seminar-seminar dalam menunjang kegiatan penelitian dan penulisan, ini merupakan peranan baru dalam kegiatan perpustakaan. Untuk melakukan peranan perpustakaan ini, pustakawan dapat dibantu oleh teknologi informasi yang tersedia di perpustakaan. Teknologi informasi membantu pustakawan dalam melakukan penelusuran dengan efektif dan efisien. Pustakawan juga harus membekali pengetahuannya mengenai teknologi informasi. Dalam peranannya sebagai mediator, perpustakaan dituntut untuk menyediakan hubungan hubungan dengan para ahli ataupun pusat-pusat informasi dengan cara mencari, mengumpulkan, bekerjasama, baik secara gratis maupun berlangganan pangkalan data yang sesuai. Penyediaan sarana jaringan maupun terminal komputer menjadi suatu kebutuhan dalam memberikan layanan pada suatu institusi secara fleksibel. Peranan perpustakaan sebagai penunjuk jalan dalam hal menunjukkan cara yang benar dalam memilih informasi, mencari alat penelusuran yang tepat, membuat ringkasan ataupun ulasan artikel serta membimbing dalam memakai dan memahami cara bekerja alat penelusuran maupun teknologi informasi tersebut. Perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya masyarakat intelektual yang berpikir secara sistematis. Bagi masyarakat perguruan tinggi, perpustakaan merupakan tempat yang sangat produktif untuk mengembangkan dan menggali pengetahuannya. Masyarakat perguruan tinggi lebih banyak membutuhkan dan mencari informasi dibandingkan masyarakat umum lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perpustakaan perguruan tinggi di tuntut untuk melengkapi fasilitas dan layanannya. Peranan perpustakaan sudah di bahas diatas dan untuk mengaplikasikannya di perguruan tinggi dibutuhkan kerjasama dari perbagai pihak. Baik dari pihak Rektorat, kepala perpustakaan, Dekan di fakultas, pegawai dan dosen serta mahasiswanya. Kerjasama yang baik ini akan memberikan citra yang baik untuk perpustakaan terutama perpustakaan perguruan tinggi.   PENUTUP Perkembangan informasi di era digital memiliki dampak yang besar terhadap perpustakaan, perpustakaan yang dulunya hanya menyediakan informasi tercetak mau tidak mau harus mengikuti perkembangan yang terjadi. Hal ini juga berdampak pada pustakawan yang senantiasa berkecimpung di dalam dunia informasi, pustakawan sebagai aktor harus ikut andil dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Eksistensi perpustakaan di era digital membuat pustakawan harus menguasai teknologi informasi, pustakawan harus mau belajar tanpa henti untuk tidak ketinggalan dalam teknologi informasi. Era digital harus menjadi patokan agar perpustakaan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pemustaka dalam pemenuhan informasi, hal ini membuat peran perpustakaan menjadi sangat penting dalam meningkatkan pelayanan, perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan pemustaka, perpustakaan dituntut dapat bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan pengguna agar pengguna mau menggunakan layanan perpustakaan.   DAFTAR PUSTAKA   Anita Nusantari, 2012. Strategi Pengembangan Perpustakaan. Jakarta:  prestasi Pustaka Publisher Eko Sugiarto,  2015. Menyusun proposal penelitian Kualitatif skripsi dan tesis. Yogyakarta: Suaka Media. Eri Maryani, 2016. Peningkatan kualitas layanan perpustakaan untuk digital native generation ( Perspektif perubahan karakter pemustaka di Era Digital). Lampung: Prosiding Seminar Nasional Komunikasi. 212-220. Gordon B. Davis, 1991. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian 1, Jakarta: PT Pustaka Binamas Pressindo. Hutasoit, Hidayati Roudah. 2008. Peran Teknologi Informasi di Perpustakaan Perguruan tinggi. Lampung: Jurnal Iqra Vol. 02 No 01 : 53-61 Junaeti dan Agus Arwani, 2016. Peran perpustakaan dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi (Konstruksi pelayanan, Stategi, dan Citra Perpustakaan). Pekalongan : Jurnal Libraria Vol. 4, No 1: 27-54. Laura Wendell, 2001. Cara memulai dan mengelola sebuah perpustakaan dasar. Jakarta : coca-cola Foundation Indonesia. Lasa H.S. 2014. Makalah Workhosp :Standardisasi Perpustakaan Perguruan tinggi Surakarta: 11 Juni Merdansah, 2017. Peluang dan tantangan Pustakawa di Era TI untuk meningkatkan Mutu Layanan: Jurnal Al-Kuttab Vol. 4 :86-100 Misdar Piliang, 2015. Pengembangan dan inovasi untuk peningkatan layanan perpustakaan. Lampung: Jurnal Iqra Vol. 09, No 2 : 26-36. Muryati dan Irwan Sulistyawan, 2014. Peluang dan Tantangan Pustakawan Dalam Menghadapi Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Jawa timur: Pustakaloka Vol. 6 No 1: 1-12. Nuning Kurniasih, 2014. Era Digital ciptakan Hybrid Library. Jakarta : BISKOM mitra komunitas telematika ed. November. Hal 50-51. Sutarno NS,  2005. Tanggung jawab perpustakaan : dalam mengembangkan Masyarakat informasi. Jakarta: Penata Rei __________. 2005.  Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: yayasan Obor Indonesia Supsiloani. 2006. Perpustakaan Digital sebagai Wujud Penerapan Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi. Medan : Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.2, No.1, Juni 2006: 32-36. Sapril, H. 2017. Perpustakaan sebagai media pembelajaran mahasiswa. Lampung: Jurnal Iqra Vol. 1 No 1 : 66-76. Triana Santi, 2016. Peran social perpustakaan di era digital native. Lampung: jurnal Iqra Vol. 10 No 2: 1-10 Wahyu supriyanto dan ahmad muhsin, 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan: strategi perancangan perpustakaan digital. Yogyakarta: Kanisius  

Janfrist P.Purba Baca Selengkapnya
POLEMICS AND REGULATING DILEMMA IN THE FRAMEWORK OF REGIONAL FIELD COLLECTION
1 Nov 2018

POLEMICS AND REGULATING DILEMMA IN THE FRAMEWORK OF REGIONAL FIELD COLLECTION

The word of local publication is very close for the one who are involved in the world of PUSDOKINFO (Documentation and Information Center) especially for the relevant agency/department in each Provincial Government that performing Deposit function. What is a Deposit? For common people, it only a saving deposits. Actually, it has different meaning for the literacy information fighters especially in library field that run its function. According to Panjaitan (2003), the function of library Deposit is as a place to keep the library materials about a certain region which published in local or outside. Beside, Law Number 43 of 2007 is also explained that the collection is all informations in the form of papers, prints and recording works in various media that have the value of education which collected, processed, and served. We can conclude that each Provincial Library is responsible to collect all publications which issued by a region. The Agency of Archives and Library of Bangka Belitung Islands Province is annually implementate this task through the activities of Collection of Regional Issues and Bibliography Preparation Activities of Regional Central and Catalog of Regional Central. Later on, the result of the activities will be printed in form of the Catalog Book Central Area of Bangka Belitung and Bibliography Central of Bangka Belitung Region which subsequently forwarded to National Library. In addition, the formation of deposit collection at Provincial library will help peoples who need special information about Bangka Belitung area. To run this function, the Agency of archive and Library Office need support and cooperative attitude from writers and publishers both (private and government) within the Province of Bangka Belitung Islands. The existence of awareness based on Law no. 4 of 1990 concerning the Delivery of Printed Works and Record Article 2 said that every publisher in the territory of the Republic of Indonesia shall submit 2 (two) copies of each title of the printed work to the National Library and one copy to the Regional Library at the provincial capital no later than 3 (three) months after the issuance. the fact in the field found that nor to submit the printed work voluntary, to be visited to each publishers, most of them are refuse it or even refuse to do cooperate. When each region is struggling to promote and show its existence out there, on the other hand Bangka Belitung refused to do it. The last fact show that in 2016, the acceptance of the Work Print Record from Bangka Belitung in the National Library are only 2 titles, 4 copies of a total of 17 publishers who had asked for an ISBN number. However, what ever the circumstances and the conditions, the Agency of Archives and Libraries always do its best and hoped  publishers will grow more in Bangka Belitung as well as their awareness to hand over their works. It can started from the goverment environment itself. For the agencies/department that publish issues in form of books, magazines, bulletins and etc are encouraged to overprint their printed then submit it to the provincial library. For the publishers who are not able to submit their physical collections, they can only submit the bibliography data to the library as it will help society to know more about its own region and for the progress of Bangka Belitung itsself. The existence of Deposit collection in Provincial Library is expected will be a one-stop information for the public especially for Bangka Belitung peoples. In addition, they will get all the information needed in one place.   DAFTAR PUSTAKA Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang No. 4 Tahun 1990 tentang Serah-Simpan Karya Cetak Dan Karya Rekam. Sekretariat Negara. Jakarta. Republik Indonesia. 2007. Undang Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Sekretariat Negara. Jakarta.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
KONTRIBUSI POSITIF PERPUSTAKAAN KOMUNITAS  SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN KREATIFITAS MASYARAKAT
31 Okt 2018

KONTRIBUSI POSITIF PERPUSTAKAAN KOMUNITAS SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN KREATIFITAS MASYARAKAT

Pemerintah saat ini telah memfasilitasi didirikannya berbagai macam perpustakaan, dimulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan tingkat provinsi. Di tingkat desa/kelurahan didirikan perpustakaan yang bisa mengembangkan kreatifitas masyarakat yaitu perpustakaan komunitas. Pada umumnya perpustakaan ini didirikan di tempat yang strategis, ramai dan dekat dengan pusat aktivitas masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Sutarno NS bahwa keberadaan sebuah perpustakaan di dalam komunitas masyarakat sering muncul karena hal-hal berikut : pertama, adanya keinginan yang datang dari kalangan masyarakat luas untuk terselenggaranya perpustakaan karena mereka membutuhkan; kedua, adanya keinginan dari suatu organisasi, lembaga, atau pemimpin selaku penanggung jawab institusi di suatu wilayah untuk membangun perpustakaan; ketiga, adanya kebutuhan yang dirasakan oleh kelompok masyarakat tertentu tentang pentingnya sebuah perpustakaan; keempat, diperlukan wadah atau tempat yang bisa untuk menampung, mengolah, memelihara dan memberdayakan berbagai hasil karya umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan, sejarah penemuan, budaya dan lain sebagainya. Dalam perkembangannya, perpustakaan komunitas mempunyai beberapa nama atau istilah seperti Pondok Baca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Rumah Baca dan lain sebagainya. Beberapa istilah tersebut mengacu pada lembaga atau unit layanan yang menyediakan bahan bacaan untuk sekelompok masyarakat di suatu wilayah dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan komunitas layaknya berdayaguna dan berhasilguna di masyarakat yang dapat menjadi pusat kegiatan belajar dan mengajar serta pengembangan bakat dan minat dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada. Perpustakaan komunitas juga dapat memberikan warna baru dalam upaya mencegah, menanggulangi dan melakukan perbaikan dari hal negatif menjadi positif kepada masyarakat serta memenuhi rasa keingintahuan dan kegemaran mereka dalam upaya mencari informasi dan menggali informasi yang dibutuhkan. Sebagai media pengembangan kreatifitas masyarakat, perpustakaan komunitas dapat berperan aktif dalam memberikan kontribusi positif melalui pengembangan minat baca dengan menggunakan bantuan buku tercetak maupun e-book sehingga tercapai minat dan bakat belajar melalui buku bacaan yang bermutu. Selain itu perpustakaan komunitas juga dapat menjadi ajang yang menjembatani terlaksananya kegiatan-kegiatan positif dan kreatif masyarakat, diantaranya: Kegiatan story telling, yang ditujukan untuk anak-anak. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan kegemaran membaca di kalangan anak-anak, Kegiatan movie screening, yaitu pemutaran film. Film yang diputar tidak hanya berisikan unsur hiburan saja, tetapi juga mengandung nilai-nilai edukatif dan informatif, Kegiatan kreatif dan inovatif yang dapat menarik minat masyarakat agar lebih intensif dalam mengikuti kegiatan di perpustakaan komunitas seperti perlombaan menggambar, lomba membuat grafiti, lomba membuat sinopsis buku dan lain sebagainya, Mengadakan kegiatan olahraga seperti beladiri karate yang dapat menciptakan jiwa-jiwa bermental kuat, Bekerja sama dengan lembaga pemerintah seperti puskesmas untuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat mengenai isu yang sedang berkembang sebagai contoh sosialisasi imunisasi MR agar anak-anak tidak terjangkit penyakit rubella, Mengadakan pelatihan yang dapat menambah keterampilan masyarakat seperti mengenai tata cara merajut yang bersumber dari buku yang ada, Perpustakaan komunitas juga dapat menarik kemauan kelompok pemuda usia produktif untuk mengadakan kegiatan-kegiatan kreatif dengan memanfaatkan lahan yang ada menjadi bernilai ekonomi. Selain sebagai wadah yang memfasilitasi potensi masyarakat melalui pengembangan minat dan bakat masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada, perpustakaan komunitas juga bisa menjadi media pengembangan kreatifitas masyarakat yang dapat menciptakan kesadaran masyarakat untuk mampu membuka wawasan baru terhadap perkembangan diri melalui berbagai aspek kehidupan.   Referensi : Sutarno NS. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia 

DIAH WIDYASTUTI Baca Selengkapnya
Inovasi Perpustakaan Zaman Now
25 Okt 2018

Inovasi Perpustakaan Zaman Now

Perpustakaan menurut Sutarno adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung / bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca. Pengertian perpustakaan diatas semakin hari semakin bergeser dan telah mengalami perubahan dalam perkembangannya kearah inovasi dan evolusi, ini terlihat dari berbagai inovasi dan evolusi dibidang perpustakaan. Oleh karenanya perpustakaan sangat diperlukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan perkembangan kebutuhan pengguna perpustakaan. Penyesuaian yang banyak terjadi di bidang perpustakaan diharapkaan menjadi penopang dan pemberi harapan terhadap perkembangan dalam dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri perpustakaan harus dapat mengikuti perkembangan informasi yang setiap hari semakin mudah dimanfaatkan, bisa dibayangkan jika semua kebutuhan informasi dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Saat ini perkembangan revolusi industri 4.0 yang digaungkan oleh pemerintah memiliki dampak besar terhadap dunia pendidikan, ketika awalnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, internet of things (loT), layanan berbasis cloud, dan alat-alat cerdas  sebagai ciri dari revolusi industri 4.0 akan membuat banyak perubahan dunia pendidikan (Grewal, Motyka, & Levy, 2018). Perpustakaan juga berdampak pada perubahan tersebut, dimana jika berbicara perpustakaan tidak lagi tentang koleksi yang bersifat konvensional melainkan koleksi digital, perpustakaan harus mampu berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan penguna. Kemudahan dalam mengakses informasi menjadi sebuah tanggang jawab yang harus diambil oleh perpustakaan agar perpustakaan mampu menghadapi era perpustakaan 4.0 dimana akses dan layanan digital menjadi point penting yang harus di capai. Namum berbicara tentang layanan digital yang banyak berkembang saat ini, tidak terlepas dari peran pustakawan yang menjadi tumpuan kemajuan perpustakaan dalam melayani pengguna informasi. di beberapa perpustakaan, pengguna tidak lagi direpotkan untuk datang keperpustakaan untuk melakukan transaksi peminjaman, tetapi melalui perpustakaan digital pengguna dapat melakukan peminjaman maupun pengembalian mandiri. Aplikasi yang banyak dimanfaatkan antara lain ipusnas milik perpustakaan nasional, ijakarta, ijogja, imagelang dan masih banyak lagi layanan digital sejenis yang dapat memanjakan pengguna informasi. Perpustakaan Zaman Now Ledakan informasi dan teknologi yang semakin cepat saat ini haruslah dimanfaatkan sebaiknya oleh perpustakaan, ledakan informasi menuntut perpustakaan dapat menyediakan informasi yang cepat, akurat dan didukung akses internet yang memadai. pada saat ini perpustakaan tidak terlepas dari akses internet, ini dapat didukung dari data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada tahun 2017, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa. Angka tersebut meningkat dibandingkan pada tahun sebelumnya, yakni tahun 2016 yang tercatat mencapai 132,7 juta jiwa. Jika dilihat dari tahun ketahun pengguna internet di Indonesia semakin berkembang, Ini menjadi gambaran betapa berpengaruhnya internet dalam kehidupan sehari hari. Begitu juga perpustakaan jika hanya mengandalkan koleksi konvensional, lama kelamaan dapat ditinggalkan oleh penggunanya. Perpustakaan saat ini harus melakukan inovasi dalam hal penggunaan teknologi baik dalam pelayanan maupun dari segi koleksi, banyaknya aplikasi yang sangat mendukung dalam mengelolah perpustakaan, menjadi tanda bahwa perpustakaan semakin berkembang sesuai perkembangan teknologi informasi. Sebagai contoh aplikasi perpustakaan yang banyak dikenal yaitu Slims, Koha, Athenaeum light, inlislite dan masih banyak lagi aplikasi Sumber terbuka (Opensource) yang dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan. Keberlangsungan perpustakaan tidak terlepas dari peran pustakawan, pustakawan yang handal merupakan ujung tombak yang menjadi nilai tambah perpustakaan. Apalagi ditengah perkembangan koleksi digital saat ini, pustakawan memiliki peran pendayagunaan koleksi, yaitu mengolah informasi sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan pengguna informasi. Pustakawan juga menjadi tempat bertanya yang baik mengenai koleksi yang berkualitas, rujukan dalam penulisan agar pemustaka terhindar dari plagiat. Jika kegiatan seperti ini berjalan dengan baik kedepannya, maka eksistensi perpustakaan dan pustakawan akan terjaga, apalagi saat ini banyak perpustakaan telah mengembangkan koleksi internal (konten lokal) dalam bentuk digital, baik itu buku, jurnal, maupun majalah. yang dapat dinikmati secara gratis. Penyediaan konten lokal yang mudah diakses dan gratis, diharapkan menjadi inovasi dan evolusi perpustakaan zaman now, agar kebutuhan pemustaka dalam mencari informasi terpenuhi. kepuasan pengguna dalam mencari dan memanfaatkan koleksi diperpustakaan adalah yang terpenting. Intinya perpustakaan tidak lepas dari inovasi dan evolusi, agar kedepannya perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dalam mencari informasi. Dengan selalu melakukan inovasi dan evolusi perpustakaan akan semakin digemari untuk dikunjungi, dikarenakan perpustakaan menciptakan pengalaman baru bagi penggunanya.   Referensi Agus Rifai (2014). “Pengembangan Perpustakan Akademik Berbasis Library 3.0” Jurnal Iqra’ Volume 08 No.02 Anton Risparyanto, (2017). “pengaruh motivasi  dan kompetensi terhadap kualitas layanan pustakawan” Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi,  Vol. 13 No. 1. Dhruv Grewal, Scott Motyka, and Michael Levy (2018).“The Evolution and Future of Retailing and Retailing Education” Journal of Marketing Education, Vol. 40(1) 85 –93. Younghee Noh, (2015). “Imagining Library 4.0: Creating a Model for Future Libraries” The Journal of Academic Librarianship, pages: 12; 4C. https://bisnis.tempo.co/read/1034056/big-data-pemicu-revolusi-digital/full&view=ok https://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/19/161115126/tahun-2017-pengguna-internet-di- indonesia-mencapai-14326-juta-orang

Janfrist P.Purba Baca Selengkapnya
Perpustakaan Desa Sebagai Sumber Informasi
23 Okt 2018

Perpustakaan Desa Sebagai Sumber Informasi

Perpustakaan desa adalah lembaga layanan publik yang berada di desa. Sebuah unit yang dikembangkan dari, oleh dan untuk masyarakat tersebut. Sumber informasi memiliki tugas ganda, yaitu: Menjamin setiap anggota masyarakat sebagai pemakai informasi untuk kepentingannya. Menjamin informasi sampai kepada pemakai dengan cepat dan dapat dipercaya. Pada dasarnya manusia membutuhkan informasi, namun kadang dirinya tidak menyadari hal itu. Kebutuhan informasi didorong oleh apa yang disebut a problematic situation hal ini terjadi dalam diri manusia yang dirasakan tidak memadai untuk mencapai satu tujuan tertentu dalam hidupnya. Dengan keadaan demikian manusia membutuhkan  input di luar dirinya (external resource). Dan pendapat lain mengatakan bahwa kebutuhan manusia akan informasi didorong oleh anomalous state of knowledge, jika seseorang datang ke suatu sumber informasi (perpustakaan) untuk meminta atau mencari informasi, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut merasa tingkat pengetahuannya tidak cukup untuk menghadapi situasi tertentu pada saat itu. Tiga hal penting dalam proses masuknya informasi ke dalam diri manusia, yaitu: Kebutuhan informasi merupakan suatu kebutuhan untuk mengisi kekosongan tertentu dalam diri manusia. Informasi merupakan sesuatu diantara sumber eksternaldan “tempat kosong” di dalam pikiran manusia. Dengan demikian, informasi terjadi pada saat manusia memindahkan sesuatu dari sumber eksternal ke dalam pikirannya; informasi bukan berada di dalam sumber eksternal. Perpustakaan akan memainkan perannya jika didalamnya terdapat pustakawan yang sangat penting keberadaan dan perannya, karena tugas pustakawan adalah menyediakan media dan data bibliografi serta memahami sejelas mungkin kebutuhan pemakainya, lalu menciptakan fasilitas semudah mungkin bagi pemakai agar ia dapat memenuhi kebutuhannya. Data bibliografi, sebagai bagian tak terpisahkan dari media koleksi perpustakaan, menyediakan kesempatan bagi pemakai perpustakaan untuk menggali informasi sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang didapat oleh pemakai perpustakaan dengan bantuan data bibliografi, dan dengan memakai fasilitas temu kembali informasi yang tersedia, akan menjadi bagian dari pengetahuan pribadinya. Walaupun pada kenyataanya pemerataan perpustakaan desa sebagai salah satu sarana untuk mencerdaskan anak bangsa, belum merata di semua wilayah kesatuan Republik Indonesia, namun tuntutan akan kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan dalam diri manusia semakin kompleks seiring perkembangan IPTEK dan ledakan informasi. Kelambanan pemerataan hanya akan menciptakan masyarakat tertinggal dan bodoh, selanjutnya tujuan untuk menciptakan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan tidak akan pernah tercapai. Kandungan UU Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan sampai saat ini telah berusia 4 tahun.

FUNGSI-FUNGSI PERPUSTAKAAN DALAM MASYARAKAT
23 Okt 2018

FUNGSI-FUNGSI PERPUSTAKAAN DALAM MASYARAKAT

Banyak yang mengatakan bahwa perpustakaan adalah gudang atau sumber ilmu. Hal ini sangat benar, perpustakaan menyimpan banyak sekali referensi dari seluruh bidang ilmu. Jika seseorang membutuhkan referensi atau informasi mengenai suatu hal maka perpustakaan bisa menjadi sumber utama informasi tersebut. Perpustakaan banyak dikenal hanya sebagai tempat penyimpanan buku-buku, jurnal, maupun sumber referensi cetak lain namun yang sebenarnya bahwa perpustakaan bukan hanya menyimpan tapi juga menyajikan kepada khalayak umum agar apa yang disimpan di perpustakaan tersebut dapat diakses dan digunakan dengan leluasa. Pada perkembangannya, perpustakaan bukan hanya berisi referensi-referensi ilmiah dan sumber cetak lainnya saja, namun juga dipergunakan untuk menyimpan hasil karya lain yang diciptakan masyarakat. Perpustakaan juga bermanfaat untuk merekam kebudayaan dan berbagai manfaat lain. Perkembangan teknologi juga membuat perpustakaan tidak hanya menyajikan informasi cetak saja, namun juga yang berupa digital sehingga perpustakaan semakin memudahkan masyarakat. Keberadaan perpustakaan memang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Banyak sekali fungsi adanya perpustakaan ditengah masyarakat. Sulistyo-Basuki (1991) menyebutkan terdapat 5 fungsi perpustakaan dalam masyarakat yaitu: Fungsi Simpan Karya Perpustakaan berfungsi untuk menyimpan hasil karya yang dicipttakan masyarakat. Adapun hasil karya yang dapat disimpan diperpustakaan umumnya adalah karya cetak dan karya yang dapat direkam lainnya. Fungsi Informasi Perpustakaan harus dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Masyarakat yang datang ke perpustakaan dapat mencari dan mendapatkan informasi sesuai apa yang dibutuhkannya secara lengkap. Perpustakaan juga hendaknya mampu menyajikan informasi yang layak dikonsumsi masyarakat. Masyarakat bisa juga memberikan informasi kepada perpustakaan sehingga informasi tersebut dapat dibagikan kepada masyarakat lainnya. Fungsi Pendidikan Keberadaan perpustakaan selaras dengan tujuan pendidikan. Perpustakaan sangat bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran. Perpustakaan menyediakan sumber-sumber belajar dan materi-materi pembelajaran. Fungsi Rekreasi Perpustakaan juga mampu menyajikan informasi yang menyenangkan dan menghibur bagi penggunanya. Masyarakat yang datang ke perpustakaan dapat merasakan suasana yang nyaman dan situasi yang kondusif untuk menerima informasi yang dicari. Fungsi Kultural Merupakan fungsi perpustakaan sebagai media untuk melestarikan kebudayaan yang ada di masyarakat. Perpustakaan juga dapat digunakan sebagai tempat mengembangkan kebudayaan itu sendiri. Informasi yang didapat dari perpustakaan dapat digunakan untuk memberi nilai tambah pada tatanan sosial budaya yang sudah ada. Sejalan dengan perkembangan zaman, menurut Suwarno (2011: 27) fungsi-fungsi perpustakaan diatas juga mengalami perubahan namun tidak meninggalkan esensi dari fungsi yang lama. Perubahan fungsi-fungsi tersebut adalah seperti dalam tabel berikut: FUNGSI LAMA FUNGSI BARU Simpan Karya Simpan Saji Karya Informasi Pusat Sumber Daya Informasi Pendidikan Pusat Belajar dan Penelitian Rekreasi Rekreasi dan Re-Kreasi Kultural Pengembangan Kultural Dengan fungsi-fungsi vital tersebut menjadikan perpustakaan merupakan sesuatu yang harus ada. Akan sangat sulit sekali mencari referensi dan informasi pengganti perpustakaan, memang sekarang sudah ada internet sebagai sumber informasi lainnya, namun perpustakaan merupakan wujud nyata adanya kebenaran informasi dan referensi dari seluruh bidang. Referensi : Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

PERPUSTAKAAN SARANA PINTAR BUAT PINTAR
23 Okt 2018

PERPUSTAKAAN SARANA PINTAR BUAT PINTAR

Perpustakaan merupakan bagian penting yang menyediakan segala sumber informasi dan teknologi di berbagai bidang. Keberadaan perpustakaan dianggap menentukan keberhasilan generasi muda. Hal ini dikarenakan perpustakaan menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar dan pemahaman akan pentingnya ilmu pengetahuan. Begitu pentingnya sebuah perpustakaan menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya pengetahuan. Sarana pintar buat pintar merupakan sebuah kalimat guna mempertegas maksud keberadaan perpustakaan. Sebagai sarana buat pintar, perpustakaan harus menyediakan berbagai informasi yang kelak akan menjadi penghubung untuk memperoleh informasi ilmu pengetahuan sehingga mampu merubah pola pikir, wawasan, sikap seseorang ke arah yang lebih baik. Perpustakaan harus dikembangkan keseluruh penjuru dan masuk keseluruh lapisan masyarakat sehingga mereka mendapat kesempatan untuk terus belajar. Perpustakaan sendiri merupakan sebuah ruangan atau yang digunakan untuk menyimpan berbagai macam koleksi baik cetak mau non-cetak serta terbitan lainnya yang penyusunannya berdasarkan subjek koleksi tersebut untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Penyusunan berdasarkan subjek dimaksudkan memudahkan pengguna dalam menemukan bahan informasi yang dibutuhkan. Dalam pengertian buku dan terbitan lainnya termasuk di dalamnya semua bahan cetak, buku, majalah, laporan, pamflet, prosiding, manuskrip (naskah), lembaran musik, berbagai karya musik, berbagai karya media audiovisual seperti filem, slid (slide), kaset, piringan hitam, bentuk mikro seperti mikrofilm, mikrofis, dan mikroburam (microopaque). Webster menyatakan bahwa perpustakaan merupakan kumpulan buku, manuskrip, dan bahan pustaka lainnya yang digunakan untuk keperluan studi `atau bacaan, kenyamanan, atau kesenangan ( Sulistyo-Basuki, 1991:3 ). Sedangkan menurut Ibrahim Bafadal, perpustakaan adalah suatu unit kerja dari satu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. Dua pendapat ahli tersebut sudah jelas bahwa keberadaan perpustakaan sangatlah penting dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi bagi penggunanya.   Dengan memaksimalkan keberadaan perpustakaan, diharapkan menumbuhkan kebiasaan membaca pada masyarakat dengan sebaik-baiknya. Masyarakat yang memanfaatkan keberadaan perpustakaan dengan maksimal tentu akan memperoleh ilmu pengetahuan sebagai dampaknya. Siapapun yang ingin pintar pasti berusaha menambah ilmu pengetahuan, ketrampilan dan wawasan. Hal tersebut dapat tercapai dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Karena di perpustakaan lah sumber belajar berada. Kegiatan ke perpustakaan harus dijadikan aktivitas rutin setiap hari. Perpustakaan harus dicintai dan dijadikan kebutuhan pokok. Apabila hal itu sudah tertanam dibenak masyarakat maka perpustakaan sarana pintar buat pintar benar adanya.     Daftar Pustaka Ibrahim Bafadal, 1992. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara. Sulistio Basuki, 1991. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Uliartha Simanjuntak Baca Selengkapnya
PELAYANAN SEBAGAI CERMIN KINERJA
23 Okt 2018

PELAYANAN SEBAGAI CERMIN KINERJA

 Perpustakaan sebagai lembaga yang berorientasi kepada kegiatan pelayanan dituntut untuk dikelola lebih professional. Pelayanan dapat diartikan sebagai proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung (Munir, 1992: 160). Memberikan pelayanan terbaik dan sepenuh hati menjadi  hal yang sangat penting guna menilai seberapa jauh layanan yang diberikan kepada pengguna memenuhi kepuasan penggunanya. Penyelenggaraan pelayanan perpustakaan yang selama ini berlangsung belum berorientasi kepada pengguna perpustakaan dan masih memiliki kualitas kinerja yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari ketidaksesuaian penyediaan kebutuhan pengguna sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pengguna, fasilitas perpustakaan yang kurang nyaman, serta petugas perpustakaan yang kurang responsif terhadap keluhan pengguna. Sebagai pelayanan publik, sudah seharusnya perpustakaan memberikan kemudahan bagi pengguna perpustakaan dengan peningkatan kualitas kinerja pelayanan. Berkaitan dengan kinerja pelayanan, menurut Partini dan Bambang (2004) mengemukakan bahwa kinerja pelayanan birokrasi yang belum mampu menerapkan prinsip-prinsip pelayanan publik berwawasan good govermance, yakni penyelenggaraan pelayanan publik yang diantaranya menjunjung tinggi nilai-nilai transparansi, partisipasi, efensiensi, akuntabilitas, serta menghargai martabat pengguna. Model pelayanan seperti ini lebih berorientasi pada kepuasan layanan masyarakat (customer service).   Kesadaran akan kinerja dan tanggungjawab terhadap pekerjaan akan menjadi komitmen jika dijalankan secara konsisten. Melayani berarti memberi, bukan menerima. Mendedikasikan diri untuk memberikan layanan informasi, memberi tips menemukan buku yang dicari, membantu mencari refrensi yang cocok, dan membantu pencarian data penelitian hanya sebagian kecil perwujudan dari melayani. Hal ini sudah seharusnya diberikan oleh pelayan publik. Berdasarkan prinsip pelayanan sebagaimana telah ditetapkan dalam keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003, yang kemudian dikembangkan menjadi 14 unsur yang “relevan, valid dan reliable”, sebagai unsur minimal yang harus ada untuk dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat adalah sebagai berikut; Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanannya; Persyarakatan pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administrative yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya; Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas memberikan pelayanan (nama, jabatan serta kewenangan dan tanggung jawabnya); Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku; Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan; Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat; Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan; Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani; Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati; Kewajiban biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan; Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan; Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan; Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapid an teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan; Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit penyelenggaraan pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.   Secara umum dapat dikatakan bahwa kinerja pelayanan merupakan tingkat pencapaian hasil atau tingkat pencapaian tujuan organisasi. Semakin tinggi kinerja organisasi, semakin tinggi tingkat pencapaian tujuan organisasi. Jadi suatu organisasi dikatakan memiliki kinerja pelayanan yang optimal, jika menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan tujuan organisasi dan dalam penyelenggaraan pelayanan public selalu berorientasi pada kepuasan layanan masyarakat.   Daftar Pustaka Indonesia. Kantor Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. 2003. Kepmenpan No.63/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang Pelayanan Publik. Partini dan Bambang Wicaksono. 2006. Citizens’ charter : Terobosan baru penyelenggaraan pelayanan public di Indonesia. Yogyakarta : Pusat Studi Kependudukan dan kebijakan. Diambil dari http://72.14.203.104/search?q=cache:X09LQCynHLEJ:www.cpps.or.id/seminar/S331.pdf. (akses 02 Juni 2018)

Uliartha Simanjuntak Baca Selengkapnya