Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON OCTOBER, 2018
4 Des 2018

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON OCTOBER, 2018

Mobile library service is one of services organized by provincial library of Bangka Belitung Province regularly. This service is intended to overcome the information gap of local communities who are difficult to reach library. Besides, the local governments are trying to provide information services proactively to achieve one mission of the Agency of Archives and Library:   fostering and developing a culture of reading. The targets of this mobile library service are Elementary School / MI, Junior High School / MTS, Senior High School/ Vocational High School / MA (both public and private schools) and village libraries in the regencies: Bangka, Central Bangka, West Bangka and South Bangka. Here are the list of mobile library services on October, 2018: NO TARGET DAY, DATE NUMBER OF VISITORS OFFICERS 1 SMPN 3 Simpang Katis Kab. Bangka Tengah Wednesday, 17 Oktober 2018 125 Runi Alcitra Amalia dan Bagus Prambudi 2 SMPN 3 Sungai Selan Kab. Bangka Tengah Thursday, 18 Oktober 2018 50 Diah Widyastuti dan Agi Destari 3 SDN 2 Puding Besar Kab. Bangka Tuesday, 23 Oktober 2018 164 Aima, A.Md dan Riri Budiarti 4 SDN 16 Koba Kab. Bangka Tengah Wednesday, 24 Oktober 2018 99 Anggya Dwie Permatasari, A.Md dan Reny Angreini 5 SDN 12 Tempilang Kab. Bangka Barat Thursday, 25 Oktober 2018 100  Ema Riskika, A.Md dan  Donta Gustina 6 SDN 6 Simpang Rimba Kab. Bangka Selatan Wednesday, 31 Oktober 2018 269 Cahya Tri Wulan, S.IP dan Nofa Oktavia   In July 2018, the main targets of mobile library services are Elementary school library and Junior High school library. In this month, it has success to carry out 6 time mobile library services. Less number of visitors but quiet good compare with 6 times visiting as it can reach 807 students and expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, build a good cooperation among social, educational, and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON SEPTEMBER, 2018
4 Des 2018

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON SEPTEMBER, 2018

Mobile library service organized by the Agency of Archives and Library re-operated on this September after a short break on August. Mobile library service is a routine service to overcome the information gap of local communities who are difficult to reach library. Beside, the local governments are trying to provide information services proactively to achieve one mission of the Agency of Archives and Library:   fostering and developing a culture of reading. The targets of this mobile library service are Elementary School / MI, Junior High School / MTS, Senior High School/ Vocational High School / MA (both public and private schools) and village libraries in the regencies: Bangka, Central Bangka, West Bangka and South Bangka. Here are the list of mobile library services on September, 2018: NO TARGET DAY, DATE NUMBER OF VISITORS OFFICERS 1 SMPN1 Kelapa Kab. Bangka Barat Tuesday, 18 September 2018 187 Ema Riskika dan Riri Budiarti 2 SMAN 1 Simpang Rimba  Kab. Bangka Selatan Wednesday,  19 September 2018 102 Anggya Dwie Permatasari dan Donta Gustina 3 SMA Setia Budi Kab. Bangka Thursday, 20 September 2018 170 Fatmawati dan Arieyadi 4 SMPN 2 Simpang Katis Kab. Bangka Tengah Tuesday, 25 September 2018 145 Yulidar dan Agi Destari 5 SMKN 1 Air Gegas Kab. Bangka Selatan Wednesday, 26 September 2018 128 Cahya Tri Wulan dan Bagus Prambudi 6 SMKN 1 Mendo Barat Kab. Bangka Thursday, 27 September 2018 110 Nurul Saparita dan Reny Angreini   In September, 2018, the main targets of mobile library services are Senior High School Library and Junior High school library. In this month, it has success to carry out 6 time mobile library services. Less number of visitors but quiet good compare with 6 time visiting, it can reach 842 students and expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, build a good cooperation among social, educational, and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE  IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON JULY, 2018
4 Des 2018

THE IMPLEMENTATION OF MOBILE LIBRARY SERVICE IN THE AGENCY OF ARCHIVE AND LIBRARY OF BANGKA BELITUNG PROVINCE ON JULY, 2018

Mobile library service is one of services organized by provincial library of Bangka Belitung Province regularly. This service is intended to overcome the information gap of local communities who are difficult to reach library. Besides, the local governments are trying to provide information services proactively to achieve one mission of the Agency of Archives and Library:   fostering and developing a culture of reading. The targets of this mobile library service are Elementary School / MI, Junior High School / MTS, Senior High School/ Vocational High School / MA (both public and private schools) and village libraries in the regencies: Bangka, Central Bangka, West Bangka and South Bangka. The procedures of mobile library service are:  selected the duty officers who are a librarian and a staff from the agency of archive and library. After that, the in charge officers will come to the location of mobile library service based on the Letter of Duty signed by the Head of the Agency of Archives and Library. At last, the officers are required to make a report of their output activities after they completed their duty. Here are the list of mobile library services on July, 2018: NO TARGET DAY, DATE NUMBER OF VISITORS OFFICERS 1 Perpustakaan Desa Pemali Kab. Bangka Monday, 23 Juli 2018 37 Anggya Dwie Permatasari dan Riri Budiarti 2 Perpustakaan Desa Namang Kab. Bangka Tengah Tuesday, 24 Juli 2018 41 Nurul Saparita dan Reny Angreini 3 Perpustakaan Desa Rukam Kab. Bangka Barat Wednesday, 25 Juli 2018 31 Fatmawati dan Bagus Prambudi 4 SDN 2 Payung Kab. Bangka Selatan Thursday, 26 Juli 2018 92 Ema Riskika dan Cahya Tri Wulan   In July 2018, the main targets of mobile library services are village library and Elementary school library. In this month, it has success to carry out 4 time mobile library services after having a break of Ramadhan, Eid Mubarak and school holiday. The visitors are about 201 students and expected will be continue to increase. This mobile library service is expected can help society in obtaining information, spreading information and reading services until the remote areas, build a good cooperation among social, educational, and local government institutions to improve the intellectual and cultural society.

Cahya Tri Wulan (Penerjemah: Maria Ulfah) Baca Selengkapnya
PELAKSANAAN AMANAT UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 1990  DI PERPUSTAKAAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
26 Nov 2018

PELAKSANAAN AMANAT UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 1990 DI PERPUSTAKAAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dalam melaksankan tugas Perpustakaan untuk menghimpun, menyimpan, melestarikan dan mendayagunakan semua karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan oleh daerah. Perpustakaan provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaksanakan layanan deposit yang sudah diatur dalam undang-undang nomor 4 tahun 1990 untuk mengoptimalkan layanan dan melestarikan khasanah budaya lokal daerah. Koleksi deposit yang berdasarkan undang-undang nomor 4 tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan  karya rekam adalah koleksi yang terdiri dari karya cetak dan karya rekam yang diserah simpankan kepada Perpustakaan Nasional di Ibukota Negara dan Perpustakaan Daerah di Ibukota Provinsi. Pada pasal 2 peraturan pemerintah Nomor 70 Tahun 1991 para wajib serah karya cetak dan karya rekam terdiri dari penerbit, pengusaha rekaman, warga Negara Indonesia yang hasil karyanya ditebitkan / direkam di luar negeri, dan orang atau badan usaha yang memasukan karya cetak dan atau karya rekam mengenai Indonesia. Dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1990, Perpustakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan dengan langkah nyata antara lain: 1. Pengumpulan karya cetak dan karya rekam. Pengumpulan karya cetak dan karya rekam yang pertama dilakukan dengan mengdentifikasi penerbit, pengusaha rekaman dan lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah di wilayah kepulauan Bangka Belitung. Data tersebut dijadikan acuan dalam langkah selanjutnya untuk meningkatkan penerbit dan perusahaan rekaman dalam mengumpulkan koleksi deposit daerah. 2. Sosialisasi Sosialisasi dilaksanakan setiap tahun mengingat semakin berkembangnya penerbit  dan pengusaha rekaman baru, pergantian manajemen wajib serah dan jumlah wajib serah semakin bertambah. 3. Koordinasi Kegiatan koordinasi dilakukan oleh Perpustakaan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berinteraksi dengan penerbit, pengusaha rekaman, pemerintah daerah, untuk mencarikan solusi kendala yang terjadi di lapangan baik oleh pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1990  maupun penerbit dan pengusaha rekaman. 4. Pelacakan/ Hunting Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 dalam Bab II Pasal 2 dan 3 secara ringkas menyatakan “setiap penerbit dan pengusaha rekaman yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia, wajib menyerahkan 2 (dua) buah cetakan dan rekaman dari setiap judul karya cetak dan rekaman dari setiap judul karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan kepada Perpustakaan Nasional, dan sebuah kepada Perpustakaan Daerah di ibukota provinsi yang bersangkutan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah diterbitkan atau setelah proses rekaman selesai.” Berdasarkan hal tersebut maka Perpustakaan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam hal ini sub bidang deposit berkewajiban melakukan pelacakan/ hunting. Pelacakan/ hunting dilakukan untuk melacak koleksi karya cetak maupun karya rekam yang sudah diterbitkan dan beredar namun belum diserahkan kepada Perpustakaan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Koleksi deposit dari pengadaan kemudian di terima oleh perpustakaan provinsi. proses peneriamaan melalui dua tahapan antara lain: - Langsung Merupakan proses penerimaan karya cetak dan karya rekam / koleksi deposit yang diantar langsung ke Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung oleh penerbit dan pengusaha rekaman (para wajib serah-simpan) yang berada di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. - Tidak langsung Merupakan proses penerimaan karya cetak dan karya rekam / koleksi deposit yang dikirim oleh penerbit dan pengusaha rekaman (para wajib serah-simpan). Koleksi yang sudah diterima dikelompokan berdasarkan jenis karyanya yaitu karya cetak dan karya rekam. Untuk kode karya cetak ( C ) dan  kode karya rekam ( R ). Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang karya cetak dan karya rekam yang diserahkan kepada Perpustakaan Nasional dan atau Perpustakaan Daerah Provinsi, hakikatnya bukan hanya untuk disimpan saja oleh perpustakaan tapi untuk di dayagunakan atau dimanfaatkan oleh pemustaka untuk kepentingan dalam pengembangan  ilmu pengetahuan, kebudayaan maupun penyeberan informasi secara terbatas karena hanya bisa di baca di perpustakaan. Selain itu Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 sebagai bentuk perlindungan terhadap karya bangsa dari kepunahan, dengan penyimpanan koleksi deposit dimaksudkan untuk mewujudkan koleksi karya-karya hasil budaya bangsa, sehingga terciptalah suatu koleksi nasional yang lengkap dan dapat memenuhi keperluan dalam rangka pembangunan Bangsa dan Negara, khususnya dalam usaha meningkatkan kecerdasan kehidupan Bangsa.     DAFTAR PUSTAKA Indonesia. (Undang-Undang, Peraturan, dsb). 2005. Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1990tentang Serah simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Indonesia. Presiden (Soeharto). 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 70 Tahun 1991 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.4 Tahun 1990 tentang Serah simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan Nasional RI. 1993. Pedoman Teknis Pengelolaan Karya Cetak dan Karya Rekam. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Sutarno NS. 2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta, Sagung Seto. Ardyawin, Iwin, Rohanda dan Tati Sumiati. 2012. Persepsi Pemustaka Mengenai Layanan Deposit di Badan Perpustakaan dan Kearsipan daerah Provinsi Jawa Barat. Ejurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran Vol.1 No.1 (2012). Diambil dari http://journals.unpad.ac.id (14 Maret 2018) Bashar, Emir Fadhli dan Yeni Budi Rachman (2014) . Strategi Pengadaan Koleksi Deposit di Perpustakaan Nasional RI. Diambil dari http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-10//S55327-Emir%20Fadhil%20Bashar (15 Maret 2018)

Utami Wisnu Wardhani Baca Selengkapnya
PUSTAKAWAN DI ERA DISRUPTION
26 Nov 2018

PUSTAKAWAN DI ERA DISRUPTION

Saya membaca beberapa headline news di surat kabar tentang Disruption atau dalam bahasa indonesianya distrubsi pekerjaan. Dari salah satu artikel yang saya baca yaitu kompas edisi 18/10/2017 dengan judul Inilah Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat "Disruption" oleh Rhenald Kasali, disebutkan beberapa profesi yang mungkin akan disruption salah satu diantaranya adalah profesi pustakawan. Sebelum saya membahas tentang disruption profesi pustakawan sebenarnya apakah itu  disruption? dari berbagai informasi yang saya cari pengertian disruption antara lain: Menurut New Oxford Dictionary mengartikan disruption sebagai “…. or problems that interrupt an event“. Sementara  istilah disrupsi dari KBBI artinya hal tercabut dari akarnya. Arti lainnya, misalnya, yang tercantum pada buku Disruption tulisan Rhenald Kasali (2017), disruption diartikan sebagai inovasi (hal. 34), yang menggantikan sistem lama dengan cara baru. Dari berbagai sumber pengertian disruption diatas saya menyimpulkan, disruption merupakan suatu inovasi perkembangan zaman dan peradaban manusia dengan menggantikan pekerjaan tenaga manusia dengan mesin atau teknologi informasi agar lebih cepat, efisien, efektif dan menghemat biaya. Karena semakin pesatnya perkembangan teknologi. Disruption dianggap sebagai ancaman untuk manusia dalam berbagai pekerjaan karena takut tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi informasi dan ditinggalkan, tenaganya tidak digunakan lagi. Contoh pekerjaan-pekerjaan yang sekarang digantikan oleh mesin antara lain kuli angkut pelabuhan yang kini diganti crane dan forklift, tenaga-tenaga kerja yang bertugas di pintu tol akan diganti dengan mesin, ojek konfensional yang digeser dengan ojek online,bahkan sekarang google memliki fitur penerjemah bahasa secara langsung, memesan makan dan berbelanja bisa secara online di rumah tanpa datang langsung ke toko, dan masih banyak lagi pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin. Lalu bagaimana disruption bagi profesi pustakawan, kabar disruption profesi pustakawan sudah lama dibicarakan. Ketika dahulu perpustakaan melakukan pelayanan secara manual dengan mencatat kunjungan pelayanan secara manual, maka kemunculan komputer untuk mencatat koleksi agar pencariannya lebih mudah, menjadi gangguan pertama bagi para pustakawan incumbent yang belum menguasai komputer. Kemudian, ketika muncul katalog terpasang, dan pencatatan sirkulasi secara elektronik, menjadikan gangguan bagi pustakawan yang kurang bisa menggunakan komputer dan aplikasi perpustakaan. Dan pada saat ini Ketika Google begitu mudah dan praktis  memberikan jawaban atas pencarian yang dibutuhkan manusia, lalu bagaimana posisi katalog perpustakaan? Ketika e-book dan e-jurnal akses terbuka begitu mudah diakses dari internet, lalu apa peran pustakawan?  Apakah peran pustakawan kan digantikan oleh mesin pencari? Bagaimanakah pustakawan dalam menghadapi kompetitor tak kelihatan ini? Pustakawan merupakan perantara literasi pada referensi terpercaya, saat pencari informasi mengakses informasi secara online belum tentu informasi yang mereka cari sesuai dengan kebutuhan dan valid. Kondisi seperti ini peran pustakawan masih dibutuhkan sebagai rujukan mencari referensi namun pustakawan dituntut selalu berinovasi dalam menguasai berbagai referensi dan selalu mengembangkan koleksi perpustakaan yang up to date sesuai dengan perkembangan informasi. Seperti inovasi dibidang perpustakaan yang dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi seperti UGM misalnya sudah memasuki kedalam dunia aplikasi mobile smartphone. Dalam artikel berita perpustakaan UGM yang berjudul “Perpustakaan UGM Pengguna e-Journal Tertinggi di Indonesia” dikatakan dari catatan Ebsco, pengguna Perpustakaan UGM juga mulai memanfaatkan fasilitas perpustakaan digital secara mobile. Inovasi ini merupakan salah satu cara perpustakaan sebagai sumber infomasi untuk lebih dekat dengan pencari informasi. Selain revolusi yang dilakukan perpustakaan, pustakawan sebagai elemen penting dari perpustakaan juga seharusnya ikut ambil bagian dalam perubahan penting ini. Lankes, menyebut pustakawan memiliki payung besar terkait perannya ditengah kehidupan manusia. Memfasilitasi komunitas untuk meningkatkan kualitas mereka, dengan cara membentuk pengetahuan baru, “the mission of librarian is to improve society through facilitating knowledge creation in their communities”. Konsep ini mungkin dapat dijadikan panduan re-shape peran pustakawan. Dalam perannya, pustakawan dituntut siap untuk menerima tantangan perkembangan teknologi informasi. Misalkan pustakawan harus berinovasi dalam memberikan layanan secara mobile. Jadi perkembangan teknologi informasi bukanlah momok yang menakutkan bagi profesi pustakawan tetapi merupakan motivasi pustakawan untuk lebih berinovasi, kreatif dan bersinergi dengan teknologi informasi dalam menghadapi perkembangan zaman. Pustakawan dituntut untuk bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam mempermudah pekerjaan bukan untuk menggantikan pekerjaannya. Sumber : Sekilas The New Librarianshio Field Guide, karya David Lankes http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disruption- https://www.kompasiana.com/srirumani/5a90dfa5f13344690749dfc2/melayani-dengan-hati-bukan-emosi http://seranganperpustakaan.blogspot.com/2017/09/resiko-melangkah-bersama-digital.html http://www.purwo.co/2017/10/disrupsion-bagi-pustakawan-ujian.html

Utami Wisnu Wardhani Baca Selengkapnya
“Disruptif Pada Perpustakaan”
26 Nov 2018

“Disruptif Pada Perpustakaan”

Saat ini perkembang dunia teknologi informasi sudah merambah disegala bidang, ini menjadi pertanda akan adanya era baru yang harus dihadapi. Era yang sangat sering dibicarakan saat diberbagai profesi dan berdampak besar terhadap kemajuan dan perubahan disegala aspek profesi. Tidak terkecuali profesi pustakawan, pustakawan yang bernaung di perpustakaan juga berdampak terhadap perubahan dan harus menyesuaikan diri. Pada perpustakaan disadari atau tidak, telah terjadi perubahan dari segala aspek baik itu pemustaka maupun teknologi pengolahan perpustakaan, jika dahulu perpustakaan merupakan ujung tombak sebuah informasi, dan menjadi terminal akhir dari sebuah proses yang berlangsung dalam industri informasi. Saat ini Perkembangan perpustakaan di era teknologi informasi menjadi tolak ukur keberhasilan perpustakaan dalam bertrasnformasi menjadi perpustakaan yang lebih baik. Informasi yang mengalir begitu cepat dan perilaku pemustaka yang berubah menuntut perpustakaan beradaptasi dengan cepat dan merespon dengan cepat pula. Transformasi digital kemudian menjadi solusi yang tepat menjawab tantangan ini. Banyak mengira dengan melakukan transformasi digital pada perpustakaan dapat menyelesaikan kebutuhan pemustaka, hal ini tidak salah, tapi transformasi digital memiliki ruang lingkup yang lebih luas termaksud perubahan model dan strategi perpustakaan untuk menarik pemustaka. Perubahan model (inovasi) yang dilakukan perpustakaan harus merepresentasikan kebutuhan pemustaka, hal ini dilakukan sebagai contoh strategi dalam menghadapi disruptif di era digital.  Sebelum berbicara distruptif lebih jauh sebaiknya kita mengetahui apa itu disruptif dan pengertiannya, Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain pemain lama dengan yang baru. Distruptif menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar benar baru dan lebih efisien dan lebih bermanfaat (Kasali, 2017: 34).  Dan Istilah “disruption” dicetuskan pertama sekali  oleh Clayton Christensen 1997, The Innovator’s Dilemma. Di dalamnya, Christensen memperkenalkan gagasan “disruptif innovation” di dalam dunia bisnis. Ia menggunakan ungkapan ini sebagai cara untuk memikirkan perusahaan yang sukses tidak hanya memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini, namun mengantisipasi kebutuhan mereka di masa depan. Berdasarkan pengertian diatas jika di tarik kedalam dunia perpustakaan maka, perpustakaan dengan segala keterkaitannya harus mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan pemustaka dimasa kini dan masa depan.   DISTRUPTIF PADA PERPUSTAKAAN Disruptif pada perpustakaan telah terjadi sejak beberapa tahun lalu dimana berbagai teknologi memunculkan kemudahan dalam mencari, menemukan sesuatu yang merupakan kebutuhan pemustaka. Kemunculan teknologi informasi diperpustakaan merubah pandangan apakah perpustakaan mampu berinovasi dan keluar dari zona nyaman sebagai perpustakaan konvensional. Era disruptif jika diterapkan pada perpustakaan, setidaknya ada 3 hal yang harus dipahami, ketiga hal ini berkaitan satu sama lain, yang pertama berkaitan dengan pemustaka, pemustaka zaman now lebih menginginkan bahwa informasi tidak dalam bentuk cetak melainkan harus berubah dalam bentuk digital yang dapat dimanfaatkan kapan dan dimana saja dapat diakses. Yang kedua perpustakaan itu sendiri mengapa? karena dalam menghadapi pertarungan kompetitif akan selalu ada akhir yang berbeda, perpustakaan harus dituntut berinovasi, tanpa inovasi sangat tidak mungkin bertahan. Dan yang ketiga bersaing dengan bisnis model, perpustakaan ketika dihadapkan dengan era disruptif harus mampu merubah strategi pemasaran baik itu dalam hal konten yang dulunya tidak dapat diakses secara digital harus merubah dan mengikuti kemauan dari pemustaka.   Pemustaka sebagai pengguna perpustakaan, secara umum mengharapkan ide baru yang berkembang di perpustakaan dapat memberikan manfaat pada pemustaka, agar  perpustakaan tidak ketinggalan dalam melakukan pelayanan informasi. Persaingan dengan e-commerce merupakan tantangan tersendiri di dunia perpustakaan bagaimana tidak, beberapa e-commerce juga menjual buku,jurnal maupun bahan pustaka lain yang menjadi konsumsi pemustaka. sebut saja Amazon, Alibaba, eBay, Shopie dan masih banyak lagi. Hal ini yang menjadi tolak ukur apakah perpustakaan mampu bertahan ditengah gempuran e-commerce. Bahkan dibeberapa perpustakaan umum di Amerika dan Inggris nyaris tutup dan ada yang dengan terpaksa ditutup dikarena perkembangan e-commerce. Bisa dibayangkan hanya dengan jari dan jaringan internet pengguna dapat membeli sebuah buku, jurnal dan bahan pustaka lainnya. Perpustakaan yang inovatif merupakan perpustakaan yang dapat mengatasi gempuran ditengah maraknya disruptif yang terjadi, konsep perpustakaan dengan melayani secara tuntas dapat menjadi kesan tersendiri terhadap pemustaka. Ditengah maraknya persaingan e-commerce saat ini perpustakaan mampu bertahan dan dapat merebut hati penggunanya, sentuhan perpustakaan dan segala karakteristiknya menjadi pengalaman yang mungkin menjadi kesan tersendiri bagi pengguna perpustakaan. Pemustaka bahkan tidak terpengaruh dengan gangguan yang terjadi didunia perpustakaan, pustakawan dan perpustakaan menjadi peran penting pemustaka.     DAFTAR PUSTAKA Hangsing,P (2016), Application of Innovative Services in the Library. Jurnal Planner. Fatmawati, Endang (2018). Disruptif diri pustakawan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Jurnal  Iqra’  Volume 12 No.01 Kasali, Rhenald. (2017). Disruption. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Richard J. Gilbert. (2015). E-books: A Tale of Digital Disruption. Journal of Economic Perspectives Volume 29, Number 3 Summer 2015.

Jan Frist Pagendo Purba Baca Selengkapnya
Antara Jembatan dan Perpustakaan
23 Nov 2018

Antara Jembatan dan Perpustakaan

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan segera meresmikan hari jadi yang ke 18 pada tanggal 21 November ini. Sejauh ini, sudah banyak perkembangan secara fisik yang bisa kita saksikan. Pembangunan gedung kantor, jalan-jalan, hingga yang termegah saat ini adalah Jembatan EMAS. Membentang di Sungai Batu Rusa yang dibangun sejak tahun 2010 hingga resmi dioperasikan pada tahun 2017 lalu hingga sekarang. Dengan dana yang telah dihabiskan senilai Rp 420 milyar. Ditambah dengan biaya operasional yang juga turut menyedot anggaran daerah senilai Rp 60 juta perbulan. Dengan hadirnya jembatan ini, masyarakat Bangka Belitung memiliki salah satu icon wisata yang baru. Menyaingi wisata pantai yang selama ini biasa dikunjungi masyarakat Bangka Belitung. Banyak warga antusias untuk melihat secara langsung jembatan ini. Hanya untuk sekedar mengisi waktu luang, untuk santai, melihat pemandangan indahnya garis pantai yang dimiliki provinsi ini, hingga melepas penat dengan bercengkarama bersama keluarga. Suksesnya jembatan ini dioperasionalkan sangat menggembirakan, karena banyak waktu tenaga dan anggaran yang dihabiskan untuk menghubungkan dua wilayah yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini yaitu Kabupaten Bangka dengan Kota Pangkalpinang. Akses alternatif baru untuk menuju ke Sungailiat. Dimana saat ini lalu lintas Pangkalpinang – Sungailiat atau sebaliknya adalah salah satu rute perjalanan yang padat. Alasan yang logis untuk menciptakan jalur lingkar dan perekonomian baru bagi masyarakat di Bumi Serumpun Sebalai ini. Tetapi dibalik kemegahannya Jembatan EMAS ini terselip juga kritikan yang disampaikan. Salah satunya adalah dari Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Bambang Haryo Soekartono Politisi Gerindra Menurut dia, pembangunan jembatan tersebut hanya menghabiskan anggaran saja. Keberadaan jembatan tersebut, menghambat lalu lintas kapal bermuatan besar yang akan sandar di pelabuhan. Bagaimanapun juga jembatan telah rampung, tak perlu lagi pro kontra tentang itu, tinggal bagaimana penataan jembatan dan penataan fasilitas lainnya agar dapat difungsikan secara optimal. Sehingga diharapkan keberadaan jembatan bisa menarik wisatawan untuk berkunjung ke provinsi ini. Jembatan telah selesai, tinggal fokus untuk mengembangkan masyarakat ini menuju kegemilangan sejati. Menata masyarakat yang merupakan sumber daya yang harus bisa didayaguna. Dan diharapkan masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi masyarakat cerdas agar mampu mengelola negeri ini menjadi lebih baik. Bagaimana kalau kita melirik sedikit saja ke salah satu fasilitas milik pemerintah yang khusus untuk menyediakan jasa layanan literasi kepada pemustaka yang ada di lingkungannya yaitu Perpustakaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Beliung. Menilik sejarahnya, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah dibentuk melalui Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor 7 Tahun 2008 tertanggal 21 Februari. Maka dikalkulasi hingga saat ini telah berumur 10 tahun sejak tanggal ditetapkan. 10 tahun dan sampai saat ini belum memiliki gedung perpustakaan yang layak. Cobalah datang berkunjung ke perpustakaan umum milik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini. Bandingkan dengan perpustakaan umum sebelahnya yaitu milik Kota Pangkalpinang. Sangat terasa perbedaan yang ditampilkan. Gedung perpustakaan provinsi terkesan kumuh, sumpek dan lapuk, tetapi gedung perpustakaan milik pemkot sangat bersahaja, bersih, dan nyaman. Wajar jika Perpustakaan Umum Kota Pangkalpinang bisa menggaet kira-kira 100 pemustaka setiap harinya, bila dibandingkan dengan Perpustakaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang hanya mampu menarik minat kira-kira 40 pemustaka setiap harinya. Pernah terlintas dilamunanku seandainya perpustakaan dikucurkan dana, sedikit saja dari dana jembatan yang ada untuk membuat gedung baru yang representatif agar pemustaka dapat bergairah untuk berkunjung ke perpustakaan maka tentu saja akan banyak masyarakat yang berkunjung kesana. Semangat para pustakawan untuk kembali menggemakan literasi kepada masyarakat pemustaka akan terangkat kembali. Tanpa harus berpikir apakah tahun depan tetap digedung ini, atau pindah ke gedung lainnya. Terbayang para pengelola perpustakaan untuk dapat membuat alamat di suratnya, atau di halaman webnya karena gedung perpustakaan telah ditetapkan secara pasti lokasi keberadaannya dan tak pindah lagi. Tentu alamat palsu yang dipopulerkan Ayu Ting-Ting tidak berlaku lagi bagi gedung perpustakaan kebanggaan kaum literasi di negeri ini. Iya itulah sekelumit harapan dari kami para pustakawan, agar di alam nyata, keberadaan gedung perpustakaan yang representatif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dapat segera terealisasi. Agar Bumi Serumpun Sebalai yang kita cintai dapat bertahan di derasnya arus globalisasi saat ini dan dimasa yang akan datang. Salam literasi.   Daftar pustaka https://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_27_Tahun_2000 http://jembatanemas.com/ http://babelpos.co/dprd-pertanyakan-realisasi-anggaran-jembatan-emas/ http://babelpos.co/hasil-kunjungan-komisi-vi-dpr-ri-pasar-tak-layak-jembatan-mubazir/2/ Lembaran Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2008

 PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
22 Nov 2018

PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

Peranan perpustakaan sekolah didalam dunia pendidikan amatlah penting yaitu untuk membantu terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Karena perpustakaan sekolah merupakan salah satu sumber belajar yang ada di sekolah, oleh karena itu, perpustakaan harus menjalankan fungsinya dengan baik untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh siswa dan guru. Perpustakaan sebagai sumber belajar merupakan tahap awal dalam proses belajar yaitu tahap mencari informasi yang bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisir, menumbuhkan kemampuan menikmati pengalaman   imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir, mendidik siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien  serta memberikan dasar kearah pembelajaran mandiri. Perlu diingat bahwa pengaruh perpustakaan sekolah dalam proses belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam menjalankan fungsinya serta adanya usaha siswa untuk memperoleh informasi melalui perpustakaan karena disinilah adanya hubungan timbal balik antara siswa dan perpustakaan tersebut yaitu siswa mempunyai kebutuhan dalam memperoleh informasi dan informasi itu dapat diperoleh dan dipenuhi oleh perpustakaan,  selain itu perlunya perhatian sekolah  untuk memberdayakan perpustakaan perpustakaan sekolah dengan segala penunjang yang dibutuhkan, serta kerja sama dengan guru untuk memotivasi siswa menggunakan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, baik dengan memberikan tugas terstruktur yang datanya didapat dari buku referensi yang ada di perpustakaan, maupun dengan menggunakan pelajaran Bahasa Indonesia  dengan kegiatan Visit Library akan membuat anak menjadi terampil membaca dan menuliskan sinopsis sederhana dari buku yang dibacanya. Dengan demikian akan menumbuhkan minat baca siswa sehinggah mereka dapat bekerja menjadi individu yang gemar menggali informasi dari buku sebagai jendela dunia. Untuk menunjang hal tersebut harus adanya perpustakaan yang efektif, yaitu perpustakaan yang mempunyai koleksi bahan pustaka yang memadai bagi siswa untuk mencari informasi, yang sesuai dengan kurikulum sekolah dan  bacaan yang sesuai dengan selera para pembaca yaitu para siswa yang ada di sekolah tersebut.  Sesuai dengan UU Perpustakaan No 43 Tahun 2007 menjelaskan bahwa koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan,  dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, selain koleksi yang harus diperhatikan adalah suasana perpustakaan yang menarik perhatian siswa, nyaman, mempunyai tempat yang cukup untuk siswa dalam membaca, menulis dan jika memungkinkan ada juga fasilitas komputer. Perpustakaan juga harus berada pada lokasi yang tenang dan jauh dari kebisingan. Luas ruang perpustakaan juga harus memadai dengan penerangan yang bagus, tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Buku – buku hendaknya tersusun dengan rapi  dan terpajang di rak buku. Untuk itu diperlukan pustakawan yang benar– benar seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan atau pernah mengikuti pelatihan dalam perpustakaan. Pustakawan mempunyai hak otonom dalam hal mengatur, mengolah koleksi cetak dan elektronik.  Pustakawan juga harus bersikap ramah dan luwes dalam memberikan pelayanan kepada pembaca dan memberikan informasi berkaitan dengan koleksi perpustakaan. Dengan pelayanan yang baik itu maka siswa pun akan merasa senang dan rajin untuk mengunjungi perpustakaan tersebut dengan demikian minat baca pada siswa pun menjadi meningkat. Sehingga perpustakaan juga bisa berfungsi sebagai perlengkapan pendidikan yang memiliki kemampuan dalam menjembatani proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Secara terperinci manfaat perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut: dapat menimbulkan kecintaan, kesadaran dan kebiasaan siswa terhadap membaca, dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dapat menambah kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya membuat siswa mampu untuk belajar mandiri, dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca ,dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu, dapat membantu siswa dan guru dan anggota staf sekolah menemukan sumber – sumber pengajaran. Dengan demikian perpustakaan sekolah berperan dalam proses pendidikan sepanjang hayat, diharapkan perpustakaan sekolah mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan upaya menumbuhkan minat baca siswa berimbas pada kemajuan pendidikan di Indonesia serta mampu mengarahkan pada tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu diperlukan kerja sama antara Pemerintah, Kepala Sekolah, Guru, Pustakawan serta Komite Sekolah dalam membuat program kerja untuk memberikan layanan yang maksimal kepada pemustaka agar perpustakaan sekolah dapat memberikan peranan sebagai penunjang proses belajar mengajar dan juga dapat meningkatkan mutu bagi pendidikan di Indonesia.   DAFTAR PUSTAKA   Lasa.HS.2010. ”Pendidikan dan Profesi Pustakawan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html pada tanggal 18 Februari 2015. Rabu. 15.35 wib.   Zulaikha, Sri Rohyanti.2010. Materi Perkuliahan “Ketrampilan Sosial dalam Konteks Kepustakawanan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html. pada tanggal 18 Februari 2015.Rabu.15.45 wib.

Runi Alcitra amalia Baca Selengkapnya
Tips – Tips Menumbuhkan Kebiasaan Membaca
19 Nov 2018

Tips – Tips Menumbuhkan Kebiasaan Membaca

Kebiasaan adalah kegiatan yang secara rutin dilakukan. Saat sebuah kegiatan menjadi kebiasaan maka kita melakukannya secara otomatis. Kita tidak perlu memaksa diri kita untuk melakukan kegiatan tersebut. Begitupun dengan membaca. Apabila membaca sudah menjadi kebiasaan, maka kita pasti dengan senang hati akan melakukannya. Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak membaca semakin banyak pula informasi yang kita dapatkan. Membaca merupakan aspek penting di dalam kehidupan manusia. Dengan membaca pandangan kita menjadi terbuka terhadap hal-hal baru yang tidak kita ketahui sebelumnya. Inilah alasan mengapa membaca dikatakan sebagai jendela dunia. Kebiasaan membaca masyarakat kita tergolong masih rendah. Rendahnya minat baca masyarakat menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia cenderung mundur. Rendahnya budaya baca ini  karena masyarakat lebih suka menonton televisi, bergelut dengan dunia maya, istilahnya masyarakat lebih suka mengirim sms, BBM-an, whats app, FB-an dibanding membaca buku. Padahal tanpa kita sadari manfaat membaca sangat besar sekali. Inilah tips-tips untuk membiasakan diri agar rajin membaca buku : 1. Pergi ke perpustakaan Perpustakaan adalah tempat gudangnya buku. Kita bisa pergi ke perpustakaan umum untuk membaca buku. Karena di perpustakaan memiliki lebih banyak koleksi buku untuk kita baca secara gratis. 2. Saat jalan-jalan ke mall sempatkan ke toko buku lebih dahulu. Saat ini banyak bookstore atau toko buku yang berada di mall, contohnya saja Gramedia, Gunung Agung, dan lainnya. Di sana sangat banyak buku bagus yang bisa menarik minat baca. 3.  Bawalah buku kemanapun anda pergi Jadikan  buku sebagai teman terbaik, maka bawalah buku yang sedang dibaca bersama anda, sehingga ketika ada waktu luang setidaknya anda bisa membuka buku dan membacanya. 4. Mulailah bertanya kepada teman Anda jika mereka sudah selesai membaca buku Apabila teman kita telah selesai membaca buku, mungkin Anda bisa meminjamnya. Sebab salah satu alasan orang malas membaca buku adalah karena harganya yang cukup mahal. Dengan saling meminjam buku, Anda bisa membaca buku lebih banyak, bukan? Jangan lupa untuk meminjami teman buku yang Anda punya juga. 5. Simpan buku di tempat strategis atau tempat kita sering berada. Hal ini kita lakukan, agar setiap saat kita bisa menjangkau buku dan membacanya. Misalnya saja dengan meletakkan atau menyimpan buku di pinggir tempat tidur, sehingga saat bangun atau menjelang tidur, kita bisa dengan mudah meraih dan membacanya. 6. Membuat daftar buku wajib baca Buatlah sebuah daftar buku apa saja yang wajib kita baca dan target selesainya. 7.  Targetkan diri Anda Jika Anda seseorang yang menganggap target adalah sesuatu yang bisa memicu semangat, maka targetkanlah halaman buku yang harus Anda baca per harinya. Ini akan membantu untuk menjadikan membaca sebuah rutinitas. 8. Taruh ponsel Anda Terkadang ponsel bisa membuat seseorang melupakan apa yang seharusnya akan dilakukan karena asyiknya bermain ponsel. Maka taruhlah dulu ponsel selagi anda membaca buku. 9.  Jangan khawatir membaca akan kurangi produktivitas Jika Anda terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan berpikir membaca akan mengurangi produktivitas, Anda salah. Karena membaca adalah kegiatan yang mampu membuat anda rileks. Sehingga itu akan meningkatkan produktivitas. Jadi mulai sekarang tentukan tempat favorit Anda dan jadwal Anda untuk membaca. Itulah beberapa tips untuk membiasakan diri agar rajin membaca buku kapan dan di mana pun kita berada. Semoga dapat  bermanfaat. DAFTAR PUSTAKA https://shiq4.wordpress.com/2017/04/28/cara-menumbuhkan-minat-baca/