“Disruptif Pada Perpustakaan”
Saat ini perkembang dunia teknologi informasi sudah merambah disegala bidang, ini menjadi pertanda akan adanya era baru yang harus dihadapi. Era yang sangat sering dibicarakan saat diberbagai profesi dan berdampak besar terhadap kemajuan dan perubahan disegala aspek profesi. Tidak terkecuali profesi pustakawan, pustakawan yang bernaung di perpustakaan juga berdampak terhadap perubahan dan harus menyesuaikan diri.
Pada perpustakaan disadari atau tidak, telah terjadi perubahan dari segala aspek baik itu pemustaka maupun teknologi pengolahan perpustakaan, jika dahulu perpustakaan merupakan ujung tombak sebuah informasi, dan menjadi terminal akhir dari sebuah proses yang berlangsung dalam industri informasi. Saat ini Perkembangan perpustakaan di era teknologi informasi menjadi tolak ukur keberhasilan perpustakaan dalam bertrasnformasi menjadi perpustakaan yang lebih baik.
Informasi yang mengalir begitu cepat dan perilaku pemustaka yang berubah menuntut perpustakaan beradaptasi dengan cepat dan merespon dengan cepat pula. Transformasi digital kemudian menjadi solusi yang tepat menjawab tantangan ini. Banyak mengira dengan melakukan transformasi digital pada perpustakaan dapat menyelesaikan kebutuhan pemustaka, hal ini tidak salah, tapi transformasi digital memiliki ruang lingkup yang lebih luas termaksud perubahan model dan strategi perpustakaan untuk menarik pemustaka. Perubahan model (inovasi) yang dilakukan perpustakaan harus merepresentasikan kebutuhan pemustaka, hal ini dilakukan sebagai contoh strategi dalam menghadapi disruptif di era digital.
Sebelum berbicara distruptif lebih jauh sebaiknya kita mengetahui apa itu disruptif dan pengertiannya, Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain pemain lama dengan yang baru. Distruptif menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar benar baru dan lebih efisien dan lebih bermanfaat (Kasali, 2017: 34). Dan Istilah “disruption” dicetuskan pertama sekali oleh Clayton Christensen 1997, The Innovator’s Dilemma. Di dalamnya, Christensen memperkenalkan gagasan “disruptif innovation” di dalam dunia bisnis. Ia menggunakan ungkapan ini sebagai cara untuk memikirkan perusahaan yang sukses tidak hanya memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini, namun mengantisipasi kebutuhan mereka di masa depan. Berdasarkan pengertian diatas jika di tarik kedalam dunia perpustakaan maka, perpustakaan dengan segala keterkaitannya harus mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan pemustaka dimasa kini dan masa depan.
DISTRUPTIF PADA PERPUSTAKAAN
Disruptif pada perpustakaan telah terjadi sejak beberapa tahun lalu dimana berbagai teknologi memunculkan kemudahan dalam mencari, menemukan sesuatu yang merupakan kebutuhan pemustaka. Kemunculan teknologi informasi diperpustakaan merubah pandangan apakah perpustakaan mampu berinovasi dan keluar dari zona nyaman sebagai perpustakaan konvensional. Era disruptif jika diterapkan pada perpustakaan, setidaknya ada 3 hal yang harus dipahami, ketiga hal ini berkaitan satu sama lain, yang pertama berkaitan dengan pemustaka, pemustaka zaman now lebih menginginkan bahwa informasi tidak dalam bentuk cetak melainkan harus berubah dalam bentuk digital yang dapat dimanfaatkan kapan dan dimana saja dapat diakses. Yang kedua perpustakaan itu sendiri mengapa? karena dalam menghadapi pertarungan kompetitif akan selalu ada akhir yang berbeda, perpustakaan harus dituntut berinovasi, tanpa inovasi sangat tidak mungkin bertahan. Dan yang ketiga bersaing dengan bisnis model, perpustakaan ketika dihadapkan dengan era disruptif harus mampu merubah strategi pemasaran baik itu dalam hal konten yang dulunya tidak dapat diakses secara digital harus merubah dan mengikuti kemauan dari pemustaka.
Pemustaka sebagai pengguna perpustakaan, secara umum mengharapkan ide baru yang berkembang di perpustakaan dapat memberikan manfaat pada pemustaka, agar perpustakaan tidak ketinggalan dalam melakukan pelayanan informasi. Persaingan dengan e-commerce merupakan tantangan tersendiri di dunia perpustakaan bagaimana tidak, beberapa e-commerce juga menjual buku,jurnal maupun bahan pustaka lain yang menjadi konsumsi pemustaka. sebut saja Amazon, Alibaba, eBay, Shopie dan masih banyak lagi. Hal ini yang menjadi tolak ukur apakah perpustakaan mampu bertahan ditengah gempuran e-commerce. Bahkan dibeberapa perpustakaan umum di Amerika dan Inggris nyaris tutup dan ada yang dengan terpaksa ditutup dikarena perkembangan e-commerce. Bisa dibayangkan hanya dengan jari dan jaringan internet pengguna dapat membeli sebuah buku, jurnal dan bahan pustaka lainnya.
Perpustakaan yang inovatif merupakan perpustakaan yang dapat mengatasi gempuran ditengah maraknya disruptif yang terjadi, konsep perpustakaan dengan melayani secara tuntas dapat menjadi kesan tersendiri terhadap pemustaka. Ditengah maraknya persaingan e-commerce saat ini perpustakaan mampu bertahan dan dapat merebut hati penggunanya, sentuhan perpustakaan dan segala karakteristiknya menjadi pengalaman yang mungkin menjadi kesan tersendiri bagi pengguna perpustakaan. Pemustaka bahkan tidak terpengaruh dengan gangguan yang terjadi didunia perpustakaan, pustakawan dan perpustakaan menjadi peran penting pemustaka.
DAFTAR PUSTAKA
Hangsing,P (2016), Application of Innovative Services in the Library. Jurnal Planner.
Fatmawati, Endang (2018). Disruptif diri pustakawan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Jurnal Iqra’ Volume 12 No.01
Kasali, Rhenald. (2017). Disruption. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Richard J. Gilbert. (2015). E-books: A Tale of Digital Disruption. Journal of Economic Perspectives Volume 29, Number 3 Summer 2015.