Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Manfaat Layanan Perpustakaan Keliling
19 Nov 2018

Manfaat Layanan Perpustakaan Keliling

Perpustakaan terus berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Perpustakaan ada di tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang informasi dan ilmu pengetahuan. Perpustakaan sebagai salah satu sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan ilmu pengetahuan ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di pusat kota maupun yang berada di daerah terpencil.    Perkembangan dan kemajuan teknologi yang pesat dan meningkatnya kebutuhan informasi di era globalisasi ini,  pada umumnya masyarakat perkotaan dan pedesaan makin haus akan informasi yang akurat, tepat dan cepat, baik cetak maupun elektronik. Namun demikian, mengingat keterbatasan sarana dan prasarana, masyarakat pedesaan agak lamban dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.  Maka diadakan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan pembaharuan yang dapat menunjang kinerja perpustakaan Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menghadirkan perpustakaan keliling. Sutarno (2006:18) menjelaskan perpustakaan keliling merupakan perpustakaan yang melayani penduduk dengan cara langsung hadir atau mendatangi tempat tinggal atau tempat masyarakat beraktivitas. Untuk mengatasi kesenjangan informasi ini, pemerintah daerah berusaha memberikan layanan informasi tertulis kepada masyarakat pedesaan antara lain  dengan menyediakan layanan perpustakaan keliling (mobile library). Layanan  jenis ini perlu dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat, agar mereka  dapat memanfaatkan perpustakaan keliling sebagai suatu sarana pengembangan pribadi dalam pendidikan nonformal. Perpustakaan keliling merupakan salah satu perangkat penyelenggaraan pendidikan nonformal yang berupaya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945. Jadi perpustakaan keliling merupakan perpustakaan umum untuk melayani masyarakat yang tidak terjangkau atau sulit dijangkau oleh pelayanan perpustakaan umum mengingat keterbatasan dan kelemahan perpustakkaan umum. Layanan perpustakaan keliling pada dasarnya bersifat terbuka karena perpustakaan keliling melayani semua lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kepercayaan maupun status- status lainnya. Semua warga masyarakat tanpa mengenal batas usia bebas dalam memanfaatkan layanan jasa perpustakaan kelilling. Penyelenggaraan perpustakaan keliling bertujuan untuk : 1. Meratakan layanan informasi dan bacaan kepada masyarakat sampai ke daerah terpencil yang belum/tidak memungkinkan adanya perpustakaan permanen 2. Membantu perpustakaan umum dalam mengembangkan pendidikan nonformal kepada publik luas 3. Memperkenalkan buku-buku dan bahan pustaka lainnya kepada publik 4. Memperkenalkan jasa perpustakaan kepada publik 5. Meningkatkan minat baca dan mengembangkan cinta buku pada masyarakat 6. Mengadakan kerjasama dengan lemabaga masyarakat sosial, pendidikan, dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan intelektual dan cultural masyarakat Tujuan perpustakaan keliling perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan zaman dan tuntutan masyarakat. Banyaknya keuntungan yang didapat dari adanya perpustakaan keliling ini baik untuk individu maupun kelompok, maka dari itu manfaatkanlah sebaik-baiknya layanan dari perpustakaan keliling ini dan jadikan sebagai motivasi untuk menggalakan kembali minat baca masyarakat.             DAFTAR PUSTAKA               Sutarno, 2006. Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta : Sagung Seto             Sutarno NS. 2006. Mengenal Perpustakaan. Jakarta : Jala Permata

Peran Perpustakaan Masjid Dalam Mencerdaskan Masyarakat
19 Nov 2018

Peran Perpustakaan Masjid Dalam Mencerdaskan Masyarakat

Masjid memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah sebagai lembaga pendidikan. Agar fungsi ini dapat menunjang kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tata kehidupan umat dan berjalan dengan baik dan optimal, perlu adanya sarana dan prasarana penunjang. Salah satu sarana dan prasarana penunjang masjid sebagai lembaga pendidikan adalah Perpustakaan, yang mana dengan adanya Perpustakaan masjid, akan tersedia sarana bacaan yang dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan keagamaan bagi umat Islam.Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan dan lembaga penyedia informasi akan memiliki kinerja yang baik, apabila ditunjang dengan sistem manajemen yang memadai, sehingga seluruh aktivitas lembaga akan mengarah pada pencapaian tujuan yang telah diterapkan. Memang sudah seharusnya setiap masjid atau mushola memiliki perpustakaan ataupun pojok baca, untuk dapat memberikan layanan informasi kepada masyarakat dengan baik dan lancar. Perkembangan dunia dewasa ini menuntut umat manusia untuk senantiasa meng-update diri dengan informasi terbaru. Inilah tantangan terberat yang dihadapi manusia diabad-21 ini. Perubahan di berbagai bidang kehidupan berlangsung dengan sangat cepat, sehingga jika kita tidak mampu mengimbanginya dengan kemauan untuk menerima perubahan tersebut, maka kita akan ketinggalan. Sejarah Islam mencatat bahwa masjid merupakan pusat perkembangan peradaban umat Islam. Salah satu kunci keberhasilan masjid sebagai pusat pengembangan peradaban adalah berfungsinya perpustakaan masjid. Perpustakaan masjid memiliki peran penting dalam mencerdaskan umat dan mewujudkan komunitas belajar (learning society). Salah satu ciri masyarakat belajar adalah masyarakat yang sadar informasi dan cerdas dalam memilih informasi, baik itu informasi popular, informasi keagamaan, maupun informasi ilmiah. Untuk itu perpustakaan masjid harus didukung oleh koleksi yang memadai, dalam arti jumlah dan keragaman subyeknya,serta layanan yang mendukung. Pada prinsipnya Perpustakaan memiliki 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Akuisis (pengadaan) Koleksi, Preservasi (penyimpanan atau pelestarian), dan diseminasi informasi (layanan). Ketiga fungsi ini menempatkan Perpustakaan berada ditengah-tengah antara koleksi dan pengguna. Jadi, jika ingin mengundang partisipasi aktif masyarakat untuk memperkaya dan memanfaatkan koleksi perpustakaan masjid, maka penting untuk memperhatikan keragaman koleksi. Sebagai pusat kegiatan umat, masjid memiliki dua peran penting yakni : sebagai tempat aktivitas sosial, dan pendidikan serta memiliki fungsi antara lain sebagai berikut;   Membantu menyukseskan program-program yang diletakan di masjid yaitu menanamkan sendi-sendi   dasar ajaran islam menanamkan kecintaan dan kesadaran akan ajaran islam memupuk kebiasaan membaca sejak dini memperluas sumber-sumber pengetahuan islam membantu mengembangkan ketrampilan berbahasa, baik bahasa sendiri maupun bahasa lainnya membimbing anak didik dan jamaah masjid mengembangkan minat, bakat serta kegemaran membaca membimbing anak didik dan jamaah masjid untuk belajar tentang bagaimana menggunakan dan memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien terutama dalam menelusur bahan pustaka yang diinginkan menyediakan bahan bacaan yang menyangkut ilmu pengetahuan, ketrampilan serta akhlak yang menunjang program pendidikan islam umumnya dan pendidikan masjid khususnya. Seperti halnya dengan sekolah, masjid juga tak bisa dipisahkan dari keberadaan perpustakaan. Aktivitas pendidikan di masjid tentu membutuhkan banyak buku sebagai referensi. Hal ini mendorong masyarakat di dunia Islam secara rela menyumbangkan dan mewakafkan koleksi buku yang dimilikinya disimpan di Perpustakaan masjid. Perpustakaan masjid berfungsi sebagai pusat dakwah karena dakwah bukan hanya dakwah bil lisan, tetapi juga bil kitab melalui buku-buku atau media cetak dan rekaman. Dengan adanya Perpustakaan, masjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan karena lewat perpustakaan para jamaah masjid dan umat Islam umumnya mempelajari apa-apa yang telah dihasilkan terlebih dahulu dan senantiasa dapat mengikuti dan menyesuaikan diri terhadap informasi-informasi yang baru secara positif. Kemudian, di samping itu perpustakaan masjid merupakan tempat kegiatan kemasyarakatan karena dengan adanya perpustakaan, masjid yang semula hanya sebagai tempat ibadah (sholat) diharapkan masyarakat yang terlibat di dalamnya (jamaah masjid dan masyarakat umum) dapat berperan secara aktif untuk memakmurkan masjid.   DAFTAR PUSTAKA : Lasa HS : Manajemen Perpustakaan ; Yogyakarta : Gama Media, 2005. QALYUBI, Syihabuddin : Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi ; Yogyakarta : IAIN Suka, 2003. Adjat, Sakir dkk. Kamus Kecil Perpustakaan. Bandung: Penerbit ITB, 1983.

Anggya Dwie Permatasari Baca Selengkapnya
Memasyarakatkan Buku Dikalangan Pedesaan
19 Nov 2018

Memasyarakatkan Buku Dikalangan Pedesaan

“Buku tak hanya sekedar jendelanya dunia, namun lebih dari itu. Karena dalam setiap untaian kata dalam buku memiliki kekuatan magis yang dapat merubah peradaban dunia”. (Anonim) Membaca buku memerlukan imajinasi, keintiman,  kesabaran, ketelitian, ketekunan, dan konsentrasi. Itulah beberapa hal yang akan kita alami saat “membaca buku”. Buku merupakan candu bagi mereka yang haus akan pengetahuan. Membaca buku hanya salah satu dari syarat memuaskan rasa haus akan ilmu.Dengan membaca kita akan disuguhi berjubel pengetahuan yang siap dipetik. Buku-buku menawarkan perspektif baru dan membuka cakrawala kita, ia memungkinakan kita melihat dunia tidak hanya dari satu sisi. Kekuatan magis Buku kata demi kata, kalimat demi kalimat tersusun secara rapi dalam buku bukanlah seonggok kertas yang tak bernyawa. Dalam setiap huruf yang digoreskan penulis mempunyai sejuta makna yang sarat akan kepentingan. Dari manifestasi pemikiran yang tertuang dalam akumulasi kertas tersebut mempunyai kekuatan tesembunyi. Dan kekuatan tersebut siap mempengaruhi  atau merasuki pikiran pembacanya secara tak sadar. Mari kita telisik kembali bagaimana kekuatan magis yang terkandung dalam buku membuat majunya peradaban islam dengan melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar. Sudah seharusnya sedari sekarang kita menghadirkan buku ditengah-tengah kehidupan kita. Dengan hadirnya buku ditengah-tengah masyarakat diharapkan dapat mempermudah akses mereka untuk mendapatkan buku. Sebagai Pustakawan, kita yang memang berkecimpung dengan buku-buku setidaknya kita percaya, apa yang kita lakukan adalah sebuah upaya dan kampanye menghadirkan  buku di tengah masyarakat kita. Salah satu contohnya adalah dengan menjalankan kegiatan  Layanan Perpustakaan Keliling,serta kegiatan Pembinaan Pengelolaan Perpustakaan ke Desa dalam setiap kabupaten yang ada di Provinsi Kita. Nampaknya usaha mempopulerkan buku ditengah kehidupan masyarakat Desa saat ini begitu sulit dan membutuhkan tenaga ekstra. Apalagi tanpa menghadirkan buku ditengah-tengah mereka. Itulah gambaran betapa sulitnya memasyarakatkan buku. Memasyarakatkan buku memang sulit adanya. Meski demikian, bagaimanapun caranya Pustakawan haruslah membantu masyarakat agar tidak asing terhadap buku. Dengan hadirnya buku ditengah-tengah masyarakat diharapkan dapat mempermudah akses mereka untuk mendapatkan buku serta dapat menumbuhkan minat baca masyarakat. Minat baca masyarakat perlu ditingkatkan melalui pengembangan Perpustakaan Desa. Perlunya membangkitkan  dan  meningkatkan  minat  baca  masyarakat  secara merata di berbagai daerah sehingga tercapai masyarakat yang cerdas yang selalu megikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perpustakaan desa menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat terutama yang keluarganya kekurangan ekonomi dan mendukung    peningkatan    kemampuan     aksarawan    baru     dalam pemberantasan buta aksara sehingga tidak menjadi buta aksara kembali.   DAFTAR PUSTAKA Lasa HS : Manajemen Perpustakaan ; Yogyakarta : Gama Media, 2005. QALYUBI, Syihabuddin : Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi ; Yogyakarta : IAIN Suka, 2003.

Anggya Dwie Permatasari Baca Selengkapnya
TIDAK BI(A)SA MEMBACA
19 Nov 2018

TIDAK BI(A)SA MEMBACA

Literasi sebagai dasar ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi maju mundurnya peradaban suatu bangsa. Merupakan hal yang nyata bahwa semakin tinggi budaya melek huruf dan baca tulis suatu bangsa, maka semakin tinggi pula kemungkinan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sebagai contoh untuk perenungan sejenak berikut adalah peringkat literasi negara berdasarkan  studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, disebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 60, Malaysia 53, Singapura 36 dan Jepang 32 dari total 61 negara yang diteliti. Bukankah sudah terbayang bagaimana memang Literasi menjadi pengaruh yang sangat tinggi bagi perkembangan pengetahuan dan teknologi suatu bangsa dan negara. Tanpa data valid tersebut juga kita sudah bisa melihat secara nyata bahwa kebiasan membaca masyarakat jepanglah yang mengantarkan mereka menjadi salah satu negara yang masih merajai industri teknologi. Kebiasaan membaca masyarakat menjadi cerminan peradaban masyarakat itu sendiri, hal ini tidak dapat dipungkiri bila melihat fenomena yang disebutkan di atas. Indonesia yang ketertarikan masyarakatnya akan literasi cukup tertinggal diantara tetangganya memang mau tidak mau suka tidak suka harus mengakuinya. Hal ini tidak semata difaktori oleh buta aksara masyarakat Indonesia karena faktanya Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) menyatakankan angka bebas buta aksara di Tanah Air mencapai 97,93 persen sehingga sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga yang masih belum bisa membaca (Liputan6.com:2017), namun hal ini juga difaktori oleh masyarakat yang tidak biasa membaca. Sesuatu yang tidak dibiasakan akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan, begitupun sesuatu yang sangat sulit dilakukan akan menjadi mudah jika biasa dilakukan. Pembiasaan inilah yang harus kita kejar. Dimana mulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga hendaknya membiasakan budaya membaca. Pengenalan kepada anak sedini mungkin tentang literasi yaitu baca tulis, sehingga jika sudah mengenal dapat dibiasakan untuk setiap harinya anak harus ada yang dibaca walaupun satu paragraf. Begitupun di sekolah, hendaknya membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai dapat diterapkan di seluruh sekolah dengan seluruh tingkatan di Indonesia. Hal ini tidak pelak adalah untuk kebaikan mereka dan perkembangan pengetahuan.  Melalui membaca anak dapat memperoleh, mengetahui, dan menciptakan sesuatu, itu yang kita harapkan. DAFTAR PUSTAKA 2016. Valerie Strauss. Most Literate Nation In The World? Not The U.S., New Ranking Says. The Washington Post. 2017. 3,4 Juta Warga Indonesia Belum Bisa Baca Tulis. Liputan6.com  

Cahya Tri Wulan Baca Selengkapnya
MENGENANG KISAH KLASIK MESRANYA ISLAM DAN LITERASI
19 Nov 2018

MENGENANG KISAH KLASIK MESRANYA ISLAM DAN LITERASI

Klise rasanya jika memulai pembahasan tentang Islam dan literasi ini dengan kata pamungkas iqro’ , namun karena klise itulah yang membuat esensi dari kata ini sangat diminati dan menjadi cambuk mujarab khususnya bagi kita umat Islam untuk selalu menggiatkan budaya baca tulis pada kehidupan sehari-hari. “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq QS 96 ayat 1-5)” Ya, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tersebut memang menjadi cambuk keras bagi umat Islam. Karena berdasar perspektif penulis bahwa pengamalan dari ayat tersebut sudah mulai memudar yang mana selanjutnya diikuti dengan memudarnya kejayaan literasi dan Islam yang pernah membumi dulunya. Jika mengenang masa lalu, sesungguhnya wahyu tersebut telah membawa Islam menguasai peradaban. Tingkat melek huruf umat Islam berada pada puncaknya pada abad 11-12 Masehi. Tingginya semangat keilmuan pada masa itu diindikasikan salah satunya dari karya optik Shihab al-Din al-Qirafi yang merupakan ulama fiqih dan juga hakim di Kairo yang menangani 50 macam masalah penglihatan (Sinta : 2017). Namun jauh sebelumnya banyak pula ahli sejarah berpendapat bahwa Islamic Golden Age atau Masa Keemasan Islam tersebut telah mulai pada rentang antara abad 8-13 Masehi yang mulai ditandai dengan berdirinya Bait al-Hikmah pada masa Khalifah Harun al Rasyid yang mana berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam, baik ilmu-ilmu keagamaan, seni  kesusasteraan, filsafat, Astronomi, Kimia, Al-Jabar dan yang lainnya tengah mencapai perkembangannya yang pesat. Bait al-Hikmah adalah perpustakaan terbesar di Iraq dan di dunia pada masanya, yang kemudian berhasil dikembangkan oleh Khalifah al-Ma’mun, putra Khalifah Harun al-Rasyid, selain sebagai perpustakaan juga pusat kajian keilmuan dan sebuah akademi (Nurul Hak : 2010). Perkembangan selanjutnya dengan adanya Perpustakaan Cordova pada abad 10 M di Andalusia yang memiliki koleksi sebanyak 400.000 judul semakin mendorong semangat para ilmuan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebut saja ilmuwan-ilmuwan besar Muslim dalam berbagai bidang, seperti al-Farabi dalam bidang Filsafat, Ibn Sina (Avecina) dan al-Razi dalam bidang filsafat dan kedokteran, al-Khawarizmi dalam bidang Matematika dan ilmuwan yang lainnya. Sejarah mencatat bahwa kontribusi masyarakat muslim dan peradaban Islam sangat mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Penekanan yang diberikan Islam terhadap pentingnya ilmu pengetahuan adalah dalam usaha memenuhi keperluan spiritual dan meraih kebahagiaan dalam kehidupan sekarang dan akan datang (Farid Hasyim: 2013). Sungguh indahnya jika kemesraan semangat literasi dan Islam tersebut tidak pernah luntur dan tetap bersama diri kita hingga saat ini. Mengetahui kenyataan bahwa pendahulu-pendahulu kita dengan keterbatasan yang ada namun luar biasa berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan seharusnya menjadi tolak ukur bagi kita untu menjadi lebih baik dengan berkah yang kita miliki sekarang.   DAFTAR PUSTAKA Nurul Hak . 2010. “Penyebarluasan Buku, Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Dan Dakwah Dalam ProsesPeradaban Islam Klasik”. Jurnal Dakwah, Vol. XI No. 2. Farid Hasyim. 2013. Ilmu Pengetahuan Dan Perkembangannya: Tantangan Kemajuan Dan Kemunduran Dunia Muslim. Faisal Aslim. 2014. https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-peradaban-islam-ilmu pengetahuan diakses pada 08 November 2018 Sinta. 2017. https://ceritasinta.com/jejak-literasi-di-masa-kejayaan-islam/ diakses pada 08 November 2018.  

Cahya Tri Wulan Baca Selengkapnya
PEJUANG LITERASI
14 Nov 2018

PEJUANG LITERASI

Geliat masyarakat untuk meningkatkan literasi di Indonesia sudah nampak bermunculan ke permukaan. Tidak hanya menunggu bantuan dari pemerintah, mereka mulai bergerak secara mandiri. Mereka sadar bahwa untuk membentuk masyarakat maju dan siap menghadapi tantangan di masa depan harus memulai ketertarikan dengan kata-kata, literasi serta budaya membaca. Berbeda di masaku sewaktu kecil. Untuk mengenal para pejuang literasi sangat susah. Jangankan orang-orang yang mengabdikan hidupnya di bidang literasi, lembaga yang bergerak di bidang inipun susah ditemui. Paling perpustakaan umum kepunyaan Pangkalpinang yang ada, itupun letaknya jauh dari kampung ku hingga jarang ku kunjungi. Tapi saat ini, bertebaran taman bacaan baik tingkat desa dan kelurahan. Milik pemerintah maupun yang dibentuk secara individu. Perkembangan yang sangat menggembirakan karena menjamurnya taman bacaan mengindikasikan peluang mendapatkan kemudahan akses bahan bacaan. Sehingga pencapaian yang dicanangkan oleh pemerintah melalui Perpustakaan Nasional tahun 2019 dapat terlaksana, yaitu Indonesia Gemar Membaca tahun 2019. Yang tentu saja tujuan akhirnya adalah Terwujudnya Indonesia Cerdas Melalui Gemar Membaca dengan Memberdayakan Perpustakaan. Seperti Atap Langit, perpustakaan desa asal Air Mesu Timur yang sudah memenangkan berbagai penghargaan baik di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, dengan dicanangkannya sebagai kampung literasi semakin menguatkan citra mereka sebagai pejuang dan kecintaan mereka di bidang ini. Tidak hanya menyediakan sarana literasi dan bahan bacaan, Perpustakaan Desa Atap Langit yang digawangi oleh Poni Auri ini juga bergerak di bidang sosial, pendidikan dan ekonomi.  Karena selain membuka akses literasi, disini juga dijadikan tempat untuk belajar bagi siswa-siswa yang mengikuti kelas kejar paket A, dan B. Hingga kegiatan mengajipun ada di perpustakaan ini. Bidang ekonomi sebagai penggerak perekonomian di wilayahnya, yaitu dengan membuka usaha cetak batako dengan mempekerjakan masyarakat di sekitar wilayahnya. Untuk bidang sosial, pernah juga mendengar bahwa si pemilk memboyong seorang yang tak dikenal yang datang ke Bangka Belitung dan sekarang menjadi bagian dari Perpustakaan Atap Langit. Bukan untuk mengecilkan pejuang-pejuang literasi yang lain, tetapi memang selama saya menjadi pustakawan, saya hanya berkenalan dengan sosok Poni Auri. Selain perpustakaan Atap Langit, bermunculan pula taman bacaan di daerah-daerah lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Memang kemunculan mereka hanya dapat di pantau di media sosial berupa facebook. Karena letak mereka yang sangat jauh dari Pangkalpinang sehingga saya belum dapat melihat kegiatan mereka secara langsung. Tetapi dengan begini sudah memberikan secercah harapan baru bagi kemajuan provinsi ini. Karena bekal terbaik bagi putra-putri negeri serumpun sebalai ini salah satunya adalah dengan terus mendorong semangat literasi. Semangat membaca. Karena dengan semakin banyak membaca, maka dapat membuka pemahaman serta ide-ide baru. Seperti taman bacaan yang ada di desa Ranggung yang bernama Umah Baco Kite. Walau terkesan sederhana, tetapi dengan gencarnya promosi literasi, diharapkan gaungnya dapat merambah seluruh lapisan masyarakat agar mencintai tulisan. Karena bagaimanapun jua zaman berlalu, tulisan, bahasa, literasi tetap akan bertahan. Semakin menjamurnya taman bacaan diharapkan generasi penerus kita akan mencintai kata, dan literasi. Dengan cinta literasi, maka kemampuan generasi selanjutnya dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Telah banyak penelitian hingga orang-orang hebat terlahir dengan kecintaan mereka pada buku. Banyak pula petuah-petuah yang diberikan kepada kita betapa pentingnya membaca. Tetapi insan-insan yang bergerak turun langsung untuk memberikan bahan bacaan kepada kita sangat sedikit. Bahkan mereka yang benar-benar turun langsung untuk mendekatkan dunia literasi kepada masyarakat sangat sedikit. Bahkan sangat susah untuk mencari orang-orang yang hidup hanya untuk menyemangati masyarakat agar mencintai buku dan literasi. Jadi semangatlah pejuang literasi. Karena hadirmu dapat mengubah masa depan negeri ini agar mampu bersaing dengan negeri-negeri lain. Dan tentu saja supaya generasi selanjutnya tidak menjadi penonton di rumah sendiri pada era yang semakin menggila ini. 

“Perpustakaan di Masa Depan”
9 Nov 2018

“Perpustakaan di Masa Depan”

Banyak yang meragukan eksistensi perpustakaan di masa depan. Apakah buku cetak masih akan dibutuhkan dalam perpustakaan?  Apakah cetak akan sepenuhnya tergantikan dengan buku elektronik? Apakah perpustakaan tidak akan lagi dipenuhi koleksi buku tercetak? Manusia pada dasarnya selalu mencari cara yang termudah untuk melakukan berbagai hal dalam hidupnya atau untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi dalam memenuhi kebutuhan informasi. Itu sebabnya peradaban manusia terus berkembang, meski ada beberapa masa peradaban manusia terlihat seperti mandeg atau tidak berkembang.  Namun manusia terus membuat berbagai terobosan untuk menyingkirkan berbagai hambatan dan menjadikan segalanya lebih mudah dan berguna. Keberadaan buku elektronik dalam peradaban digital juga dalam kerangka membuat terobosan baru dalam saling bertukar informasi atau ilmu pengetahuan. Perpustakaan sebagai institusi pengumpul, pengolah dan penyebar ilmu pengetahuan memegang peran penting akan kelestarian buku tercetak dan pemanfaatan buku elektronik. Perpustakaan harus berinisiatif untuk mengenalkan buku elektronik kepada masyarakat karena tidak dapat dipungkiri buku elektronik dapat mempermudah akses terhadap buku tanpa harus mengunjungi perpustakaan.  Dan buku elektronik juga lebih mudah dan ringan karena tidak perlu membaca buku seberat 2 kg, jika membaca buku sebanyak 300 halaman. Semuanya ada dalam genggaman sebuah tablet, layar komputer atau telepon selular. Hal ini memang tak dapat dipungkiri kehadirannya membawa manfaat besar bagi masyarakat. Di luar kemudahan dalam membaca buku ratusan halaman, membaca buku elektronik memerlukan keahlian tersendiri karena tidak semua orang bisa berlama-lama membaca di layar. Cahaya dipantulkan monitor atau layar telepon seluler menyebabkan mata lelah, hal ini menjadi salah satu kekurangan dalam membaca buku elektronik. Bagi yang sudah menggemari buku elektronik mungkin sudah tahu, bahwa ebenarnya sekarang sudah ada banyak reader yang layarnya dibuat seperti kertas. Artinya tidak mengeluarkan cahaya seperti layar komputer atau layar telepon genggam. Layar hitam-putih ini membutuhkan cahaya seperti saat kita membaca selembar kertas.  Sebagaimana selembar kertas putih, layar reader ini juga berwarna putih dan butuh cahaya dari luar agar kita bisa melihatnya. Salah satu merek yang mengeluarkan produk seperti ini adalah Kindle dari Amazon.com. Reader ini biasanya dijual dalam ukuran buku yang normal dan sangat ringan. Hebatnya lagi ia bisa menyimpan ribuan buku di dalamnya. Itu belum termasuk kemampuannya menukar-nukar koleksi bukunya dengan menggunakan wifi. Perpustakaan di masa depan bukan lagi hanya tempat untuk meminjam dan mengembalikan buku. Perpustakaan menjadi tempat yang didatangi masyarakat untuk melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial yang dimaksud adalah diskusi, workshop, pertemuan komunitas dan pengembangan kreativitas, dll.  Perpustakaan pada masa depan lebih mengutamakan ruangan yang nyaman dan menfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Konsep yang dikembangkan adalah mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat dengan cara memberikan faslitias tempat dan berbagai sumber daya untuk menfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Membuka pintu terhadap semua kegiatan masyarakat yang bersifat positif dan membangun. Secara ringkas, "apapapun kegiatannya tidak menjadi soal, selama dilaksanakan di perpustakaan". Mewujudkan konsep tersebut, perpustakaan dituntut untuk melakukan jejaring atau kerjasama antara perpustakaan yang komitmen dan berkelanjutan. Perpustakaan akan berlomba-lomba membangun sebanyak-banyaknya jejaring dengan perpustakaan sejenis atau perpustakaan lain di luar lingkungan atau zona nyamannya.  Tidak ada lagi pemikiran bahwa koleksi perpustakaan hanya bisa dimanfaatkan oleh anggota perpustakaan tersebut. Jaringan perpustakaan, memungkinkan untuk setiap anggota perpustakaan dapat mengakses koleksi perpustakaan lain yang telah berjejaring. Tidak diperlukan kartu tambahan untuk meminjam koleksi perpustakaan lain, karena dengan jaringan perpustakaan memungkingkan satu kartu berlaku untuk banyak perpustakaan. Pemustaka yang akan memanfaatkan perpustakaan tidak perlu menelusur di dalam perpustakaan, mereka dapat melakukannya di mana pun dengan menggunakan akses internet. Tanpa menunggu lama, koleksi yang diinginkan dapat dengan mudah dipesan dan diantar sesuai keinginan pemustaka. Tentu saja untuk mewujudkan pesan antar koleksi perpustakaan akan dikenakan biaya tertentu. Mewujudkan ini harus dibarengi dengan keikhlasan tiap perpustakaan untuk saling memberikan akses koleksi perpustakaannya kepada mitranya. Semua itu bisa terwujud dengan terlebih dahulu dibuat keseragaman sistem yang digunakan. Sistem yang digunakan pada masa depan harus memungkinkan perpustakaan untuk berbagi data dan metadata tanpa harus memindah fisik koleksi. Katalog harus berbasis web dan saling terintegrasi, perpustakaan yang bersikukuh dengan prinsip dan idelismenya untuk tidak memberikan akses kepada perpustakaan lain untuk bisa memanfaatkan, lambat laun akan ditinggalkan pemustaka. Daftar Pustaka: http://lisaraqiqta.blogspot.com/2014/01/perpustakaan-modern-tanpa-buku-yang.html  

Sistem Layanan Perpustakaan
9 Nov 2018

Sistem Layanan Perpustakaan

Kebanyakan orang pasti tahu apa itu perpustakaan. Apabila mendengar kata perpustakaan semua orang pasti langsung berpikiran tentang tumpukan buku-buku. Pengertian perpustakaan secara umum diartikan sebagai tempat koleksi buku atau pun majalah dan koran. Namun, sekarang ini perpustakaan tidak hanya sebagai tempat koleksi buku saja. Menurut Lasa (2005), perpustakaan adalah kumpulan atau bangunan fisik sebagai tempat buku dikumpulkan  dan disusun menurut sistem tertentu atau keperluan pemakai. Sedangkan menurut Sulistyo Basuki (1993), perpustakaan adalah sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual. Dari dua pendapat para ahli tentang perpustakaan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa dalam suatu perpustakaan itu harus ada bangunan yaitu gedung, koleksi yang berupa buku, majalah, koran dan koleksi lainnya. Selain itu  hal yang tidak kalah pentingnya dalam suatu perpustakaan adalah layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan suatu perpustakaan. Dengan adanya layanan perpustakaan dapat membantu pemakai perpustakaan untuk memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhannya. Suatu perpustakaan memiliki berbagai macam pelayanan sesuai dengan kondisi perpustakaan tersebut. Ada tiga macam sistem layanan yang biasa dilakukan oleh perpustakaan, yaitu sistem layanan terbuka, sistem layanan tertutup, dan sistem layanan campuran. Ketiga sistem layanan akan dibahas pada uraian di bawah ini. 1. Sistem Layanan Terbuka (open access) Pada sistem layanan terbuka, perpustakaan memberikan kebebasan kepada pemakai perpustakaan untuk dapat masuk, dan memilih sendiri bahan pustaka yang diinginkan. Tujuan dari sistem ini adalah memberikan kesempatan kepada pemakai perpustakaan untuk mendapatkan dan mencari sendiri koleksi tanpa bantuan petugas perpustakaan. Sistem layanan terbuka dalam pelaksanaannya memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Ada beberapa kelebihan yang diperoleh dengan menerapkan sistem layanan terbuka antara lain: •    Pemakai perpustakaan bebas memilih bahan pustaka di rak •    Pemakai dilatih untuk dapat dipercaya dan diberi tanggung jawab terhadap terpeliharanya koleksi yang dimiliki perpustakaan •    Pemakai dapat mengganti bahan pustaka yang isinya mirip, jika bahan pustaka yang dicari tidak ada •    Pemakai akan merasa lebih puas karena ada kemudahan dalam menemukan bahan pustaka •    Bahan pustaka lebih bermanfaat dan lebih didayagunakan •    Dalam sistem ini dapat menghemat tenaga perpustakaan Walaupun banyak kelebihan yang diperoleh dari sistem terbuka, namun ada kekurangan juga, yaitu : •    Pemakai cenderung mengembalikan bahan pustaka seenaknya sehingga susunan buku di rak menjadi tidak teratur •    Ada kemungkinan buku yang hilang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan sistem yang bersifat tertutup. •    Memerlukan ruangan yang lebih luas untuk jajaran koleksi •    Terjadi perubahan susunan bahan pustaka di rak sehingga perlu pembenahan secara terus menerus •    Membutuhkan keamanan yang lebih baik agar kebebasan untuk mengambil sendiri bahan pustaka dari jenjang koleksi tidak menimbulkan berbagai akses seperti peningkatan kehilangan atau perobekan bahan pustaka 2. Sistem Layanan Tertutup (close access) Pada sistem layanan tertutup pemakai tidak boleh langsung mencari dan mengambil bahan pustaka di rak, tetapi pemakai boleh memilih bahan pustaka yang ingin dipinjam melalui katalog perpustakaan. Selanjutnya barulah petugas yang akan mengambil bahan pustaka di rak sesuai dengan katalog buku yang ingin dipinjam oleh pemakai perpustakaan. Sistem layanan tertutup dalam pelaksanaannya memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Ada beberapa kelebihan yang diperoleh dengan menerapkan sistem layanan tertutup antara lain: •    Bahan pustaka tersusun rapi di rak dikarenakan hanya petugas saja yang mengambil •    Kemungkinan kehilangan bahan pustaka sangat kecil •    Bahan pustaka tidak cepat rusak •    Penempatan kembali bahan pustaka yang telah digunakan ke rak cepat •    Pengawasan dapat dilakukan secara longgar •    Proses temu kembali bahan pustaka lebih mudah Walaupun banyak kelebihan yang diperoleh dari sistem tertutup, namun ada kekurangan dari sistem tertutup, yaitu : •    Pemakai kurang puas dalam menemukan bahan pustaka •    Bahan pustaka yang didapat terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan pemakai •    Katalog cepat rusak •    Tidak semua pemakai mengerti dalam menggunakan teknik mencari bahan pustaka melalui katalog •    Tidak semua koleksi dimanfaatkan dan didayagunkan oleh pemakai •    Perpustakaan lebih sibuk   3. Sistem layanan campuran (mixed access) Pada sistem layanan campuran merupakan gabungan dari sistem layanan terbuka dan sistem layanan tertutup. Perpustakaan yang menerapkan sistem layanan campuran biasanya perpustakaan Perguruan Tinggi. Untuk koleksi referensi seperti skripsi, thesis, atlas, kamus, ensiklopedia dan lain-lain dilayani secara tertutup, sedangkan untuk koleksi yang bersifat umum menggunakan sistem layanan terbuka. Ada beberapa kelebihan yang diperoleh dengan menerapkan sistem layanan campuran antara lain: •    Pemakai dapat langsung menggunakan koleksi referensi dan koleksi umum secara bersamaan •    Tidak memerlukan ruang baca khusus untuk koleksi referensi •    Menghemat tenaga layanan Kekurangan dari sistem layanan campuran : •    Pemakai sulit mengontrol pemakai yang menggunakan koleksi referensi dan koleksi umum •    Ruang koleksi referensi dan koleksi umum menjadi satu dan perlu pengawasan yang lebih ketat Berdasarkan uraian-uraian dari ketiga sistem layanan di atas  dapat disimpulkan bahwa masing-masing dari sistem layanan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jadi perpustakaan harus bisa memilih sistem layanan mana yang harus diterapkan untuk perpustakaannya. Kebanyakan  sistem layanan terbuka yang banyak diterapkan di perpustakaan sekolah. Di perpustakaan umum dan perguruan tinggi biasanya menerapkan ketiga sistem layanan yaitu sistem layanan terbuka, sistem layanan tertutup dan sistem layanan campuran. DAFTAR PUSTAKA H.S. Lasa, manajemen perpustakaan (Yogyakarta : Gama Media, 2005) Sulistyo Basuki, pengantar ilmu perpustakaan (Jakarta : Universitas Terbuka, 1993)       

Banggalah Menjadi Pustakawan
9 Nov 2018

Banggalah Menjadi Pustakawan

Pustakawan? Jika mendengar kata “pustakawan” apa yang terbesit dalam pikiran anda? Mungkin tidak banyak orang yang tahu apa itu pustakawan. Padahal pustakawan adalah sebuah profesi. Selama ini pandangan masyarakat kepada seorang pustakawan adalah profesi yang kurang familiar, bahkan dianggap asing. Ada juga yang menganggap bahwa profesi pustakawan hanyalah seorang penjaga perpustakaan yang mempunyai tugas menunggu buku-buku yang ada di perpustakaan. Profesi pustakawan seringkali dipandang hanya dengan sebelah mata. Kebanyakan orang menganggap bahwa profesi pustakawan ini adalah profesi yang sangat membosankan.  Mungkin dulu apabila kita ditanya oleh seseorang apa cita-cita mu? Maka dengan lantang kita langsung menjawab ingin menjadi dokter, pilot, polisi, guru dan lain sebagainya. Tetapi jarang sekali dan hampir tidak ada orang yang ingin menjadi pustakawan. Karena sejak kita memasuki bangku sekolah, perpustakaan yang ada di sekolah belum memiliki pustakawan. Pengelola perpustakaan di sekolah diberikan tanggung jawab hanya  kepada guru atau pegawai Tata Usaha. Oleh karena itu profesi pustakawan merupakan profesi yang belum terlalu familiar dan diperhitungkan, karena kebanyakan orang menilai sebuah profesi itu tergantung dari ketenaran nya seperti dokter, polisi, pilot, hakim, jaksa dan profesi lainnya. Profesi-profesi tersebut merupakan profesi yang sudah sering didengar oleh masyarakat dan menjadi prioritas utama dibandingkan dengan profesi pustakawan yang asing bagi mereka.  Padahal kuliah dengan mengambil jurusan ilmu perpustakaan merupakan pilihan yang tepat pada era globalisasi saat ini. Selain itu jika dilihat dari peluang untuk mendapatkan pekerjaan profesi pustakawan banyak dibutuhkan terutama di perpustakaan sekolah. Apabila kita sudah mengenal dengan profesi pustakawan, kita akan jatuh cinta dengan profesi ini. Dilihat dari pekerjaannya profesi pustakawan tidak kalah menarik dengan profesi lainnya. Seorang pustakawan tidak hanya mengurusi buku-buku tetapi pustakawan harus memiliki banyak informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, berwawasan luas, sehingga pustakawan dapat memajukan sebuah perpustakaan.  Sebagai seorang pustakawan tentunya selalu berurusan dengan kegiatan pokoknya yaitu bekerja di perpustakaan dan pastinya selalu berhubungan dengan orang lain yaitu para pengunjung atau pemustaka. Selain itu, pustakawan harus mempersenjatai diri dengan banyak pengetahuan di luar ilmu perpustakaan, baik itu ilmu manajemen, psikologi, sejarah, bahkan kalau bisa harus menguasai segala ilmu, harus serba tahu, harus serba bisa karena itu yang diminta oleh pengunjung, atau pemustaka kita. Jadi kesimpulannya seorang pustakawan harus memiliki banyak ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi serta berwawasan luas sehingga ilmu yang dimiliki dapat digunakan dalam mengelola perpustakaan maupun dalam melayani pengguna atau pemustaka. Dari ulasan- ulasan di atas masih berpikir bahwa pustakawan itu hanyalah penjaga buku di perpustakaan? Maka dari itu penulis sangat mengharapkan profesi pustakawan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sebagai mahasiswa D3 Ilmu Manajemen Informasi dan Perpustakaan, apabila ditanya mengapa memilih jurusan ilmu perpustakaan? Jawaban saya sangat jelas karena bangga dengan profesi pustakawan dan ingin menjadi pustakawan profesional.     DAFTAR PUSTAKA http://librarysatudinia.blogspot.com/2011/12/bangga-menjadi-pustakawan-